Chapter 7 Sebuah Janji Suci
Bertahun-tahun berlalu. Gisel lulus dengan predikat terbaik dari jurusan Komunikasi, dan Satria menjadi fotografer profesional yang karyanya sering dipamerkan.
Mereka tidak lagi hanya mahasiswa yang bertemu di dermaga. Mereka kini adalah dua orang dewasa yang merajut masa depan bersama.
Suatu hari, Satria mengajak Gisel kembali ke tempat awal mereka. Dermaga itu. Pemandangan di sana tidak banyak berubah. Ombak tetap datang dan pergi, dan aroma garam masih tercium kuat.
Gisel menatap Satria yang berdiri di sampingnya. Pria itu kini tampak lebih dewasa dengan senyum yang tetap sama hangatnya. "Rasanya aneh ya," kata Gisel, "Kita udah bukan anak remaja yang galau lagi."
Satria tersenyum, "Iya. Sekarang kita galauin cicilan KPR."
"HA HA HA."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang penuh kenangan dan rasa syukur. Satria lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Kotak yang sama persis dengan yang dulu ia berikan saat memberikan kalung yang berliontin jangkar.
Jantung Gisel berdebar kencang. Kali ini, ia tahu isinya.
Satria berlutut di hadapan Gisel, "Gisel, kamu ingat? Dulu, dermaga ini tempat kita buang sial. Aku, karena modelku kabur. Kamu, karena mantanmu nikah."
Gisel mengangguk, matanya berkaca-kaca.
"Sekarang," lanjut Satria, suaranya bergetar, "Aku mau dermaga ini jadi saksi. Saksi kalau aku mau menghabiskan sisa hidupku sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?"
Gisel tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh. Ini bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan.
Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya, "Ya. Tentu saja. Aku mau."
Satria memasangkan cincin di jari manis Gisel. Cincin itu berkilau, memantulkan cahaya matahari senja.
Gisel memeluk Satria, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pria yang telah menjadi pelabuhannya.
Bertemu jodoh di sebuah dermaga, sesuatu yang mustahil. Awalnya, itu hanya sebuah kalimat. Tapi bagi mereka, itu adalah kenyataan.
Di ujung dermaga itu, mereka berjanji akan selalu bersama, seperti ombak dan pantai. Saling datang dan pergi, tapi tidak pernah benar-benar terpisah.
Karena mereka tahu, cinta sejati, seperti dermaga akan selalu menjadi tempat di mana hati bisa berlabuh. Dan bagi Gisel dan Satria, dermaga itu adalah rumah mereka.
_TAMAT_
Mereka tidak lagi hanya mahasiswa yang bertemu di dermaga. Mereka kini adalah dua orang dewasa yang merajut masa depan bersama.
Suatu hari, Satria mengajak Gisel kembali ke tempat awal mereka. Dermaga itu. Pemandangan di sana tidak banyak berubah. Ombak tetap datang dan pergi, dan aroma garam masih tercium kuat.
Gisel menatap Satria yang berdiri di sampingnya. Pria itu kini tampak lebih dewasa dengan senyum yang tetap sama hangatnya. "Rasanya aneh ya," kata Gisel, "Kita udah bukan anak remaja yang galau lagi."
Satria tersenyum, "Iya. Sekarang kita galauin cicilan KPR."
"HA HA HA."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang penuh kenangan dan rasa syukur. Satria lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Kotak yang sama persis dengan yang dulu ia berikan saat memberikan kalung yang berliontin jangkar.
Jantung Gisel berdebar kencang. Kali ini, ia tahu isinya.
Satria berlutut di hadapan Gisel, "Gisel, kamu ingat? Dulu, dermaga ini tempat kita buang sial. Aku, karena modelku kabur. Kamu, karena mantanmu nikah."
Gisel mengangguk, matanya berkaca-kaca.
"Sekarang," lanjut Satria, suaranya bergetar, "Aku mau dermaga ini jadi saksi. Saksi kalau aku mau menghabiskan sisa hidupku sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?"
Gisel tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh. Ini bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan.
Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya, "Ya. Tentu saja. Aku mau."
Satria memasangkan cincin di jari manis Gisel. Cincin itu berkilau, memantulkan cahaya matahari senja.
Gisel memeluk Satria, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pria yang telah menjadi pelabuhannya.
Bertemu jodoh di sebuah dermaga, sesuatu yang mustahil. Awalnya, itu hanya sebuah kalimat. Tapi bagi mereka, itu adalah kenyataan.
Di ujung dermaga itu, mereka berjanji akan selalu bersama, seperti ombak dan pantai. Saling datang dan pergi, tapi tidak pernah benar-benar terpisah.
Karena mereka tahu, cinta sejati, seperti dermaga akan selalu menjadi tempat di mana hati bisa berlabuh. Dan bagi Gisel dan Satria, dermaga itu adalah rumah mereka.
_TAMAT_
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...