Chapter 1 Gaji Pertama Hilang Dan Cincin Bersinar
Reno menatap amplop cokelat di tangannya. Amplop itu tebal, berisi uang lembaran yang baru saja ia terima. Ini adalah gaji pertamanya sebagai kurir di sebuah restoran cepat saji.
Angka di dalamnya tak banyak, tapi bagi Reno yang hidupnya serba pas-pasan di panti asuhan sejak lahir, jumlah itu terasa seperti gunung emas.
Senyum merekah di bibirnya. Dalam benaknya, ia sudah merencanakan segala hal. Ia akan membeli sepasang sepatu baru untuk adik-adiknya di panti asuhan. Sepatu yang lama sudah robek dan tak layak pakai.
Sisanya, ia akan berikan pada pengelola panti, Ibu Sinta, untuk membantu biaya operasional, sambil melamun. ia mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kota yang ramai. Sore itu, matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, menambah rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Ia bersenandung kecil menikmati momen langka ini.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika ia memasuki gang sempit yang gelap, dua sosok berbadan besar tiba-tiba muncul dari balik tembok. Mereka mengenakan penutup wajah dan salah satunya membawa pisau lipat.
Jantung Reno berdebar kencang. Ia mencoba menghindar, tapi terlambat. Salah satu dari mereka mendorongnya hingga terjatuh dari sepeda.
"Serahkan uangmu, bocah!" geram salah satu perampok.
Reno dengan cepat berpegangan pada amplop gajinya. Ia menolak untuk menyerahkannya. "Ini gaji pertamaku! Aku tidak akan memberikannya!" teriaknya, suaranya bergetar.
Perampok itu tertawa sinis. "Anak nakal," katanya, lalu melayangkan tinjunya tepat ke rahang Reno.
BUGH!
Gelap menyelimuti pandangannya sejenak. Ketika kesadarannya kembali, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Amplop gajinya telah berpindah tangan. Ia berusaha bangkit, tetapi tendangan di perutnya membuatnya kembali jatuh.
Perampok itu menendangnya lagi dan lagi. Dalam kondisi tak berdaya, ia hanya bisa melihat mereka mengambil dompet dan tasnya, lalu menghilang di kegelapan.
Reno terbaring di tanah, napasnya tersengal-sengal. Darah menetes dari luka di dahinya. Ia merasakan dingin, bukan hanya karena malam yang semakin larut, tetapi juga karena hatinya yang hancur. Impian untuk membantu panti asuhan, harapan untuk memiliki sepatu baru, semuanya hancur lebur.
Dalam keputusasaannya, setetes air mata menetes dari matanya, bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. Air mata dan darah itu jatuh mengenai sebuah cincin kuno yang selalu ia pakai di jari manisnya, hadiah dari ayahnya yang telah tiada. Saat itulah sesuatu yang tak terduga mulai terjadi.
****
Tetesan darah Reno mengalir, membasahi cincin kuno yang ia pakai. Cincin itu bergetar memancarkan cahaya merah samar yang tak terlihat oleh mata telanjang. Rasa sakit di tubuh Reno seakan lenyap digantikan oleh sensasi aneh yang mengalir dari jari ke seluruh tubuhnya. Sebuah energi panas, liar, dan kuat merasuk ke dalam setiap pembuluh darahnya.
Mata Reno yang tadinya sayu karena kesakitan, kini menyala. Ia merasakan sesuatu yang asing, sebuah kekuatan primitif yang siap meledak. Tinjunya terkepal erat, kuku-kukunya memanjang dan menajam, kulitnya terasa lebih tebal, dan matanya memancarkan kilatan merah.
Dari ujung gang, terdengar suara langkah kaki. Perampok yang tadi mengambil barang-barang Reno kembali. "Ada apa? Kok gelap?" tanya salah satunya.
Mereka rupanya lupa mengambil tas Reno yang isinya hanya beberapa lembar baju ganti.
Reno berdiri, tubuhnya kini terasa ringan dan bertenaga.
Ia menatap kedua perampok itu dengan tatapan kosong, penuh amarah. "Kembalikan," bisiknya, suaranya terdengar serak, "Gajiku."
Perampok itu tertawa sinis. "Mau apa kau? Mau minta belas kasihan?" ejeknya.
Namun, tawa mereka terhenti saat Reno bergerak. Ia melesat dengan kecepatan yang tak pernah ia bayangkan.
BUGH! BUGH!
Pukulan yang ia layangkan sebelumnya tak memiliki kekuatan, kini menghantam perut perampok itu dengan kekuatan luar biasa. Perampok itu terhuyung, terkejut, dan memuntahkan isi perutnya.
Perampok satunya yang memegang pisau melayangkan serangannya.
Tetapi, dengan refleks yang cepat, Reno menangkap pergelangan tangan perampok itu. Kekuatan mencengkeramnya begitu dahsyat hingga tulang-tulangnya berderak. Pisau itu jatuh ke tanah.
Reno menatap kedua perampok itu. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai manusia, melainkan sebagai mangsa. Insting buas dari dalam dirinya bangkit.
Kedua perampok itu yang tadinya penuh kesombongan, kini gemetar ketakutan. Mereka lari terbirit-birit meninggalkan Reno sendirian di gang yang gelap.
Setelah mereka pergi, kekuatan dalam tubuh Reno perlahan meredup. Ia tersadar, menatap telapak tangannya sendiri yang kembali normal. Ia bingung, "Apa yang baru saja terjadi?"
Ia melihat ke sekeliling, dompetnya dan amplop gajinya tergeletak di tanah. Ia memungutnya, tetapi rasa bahagia yang tadi ia rasakan telah digantikan oleh ketakutan dan kebingungan yang mendalam. Cincin itu, hadiah dari ayahnya, kini terasa berat dan dingin di jarinya, seolah menyimpan sebuah rahasia yang mengerikan.
****
Reno tidak langsung pulang. Ia duduk bersandar di tembok gang, masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh energinya telah terkuras habis. Ia menatap cincin di jarinya.
Cincin kuno itu, yang dulunya ia anggap sebagai kenang-kenangan biasa dari ayahnya, kini terasa berbeda. Permukaannya yang semula halus kini terasa hangat, seolah menyimpan sisa-sisa energi yang baru saja meledak dari dalam dirinya.
Ia mencoba mengingat kembali kejadian barusan. Suara teriakan, pukulan, dan tendangan. Lalu, darahnya menetes.
Kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Kekuatan itu yang membuat tubuhnya bergerak lebih cepat, pukulannya lebih kuat, dan instingnya lebih tajam. Itu bukan dirinya. Ia tidak mungkin memiliki kekuatan seperti itu.
Ketakutan mulai menyelimuti hatinya. Ia takut bahwa ia telah menjadi monster. Ia takut jika kekuatan itu muncul lagi di depan orang lain, terutama di depan adik-adiknya di panti asuhan. Ia tidak ingin mereka takut padanya.
Ia hanya ingin menjadi Reno yang biasa, anak panti yang berjuang untuk hidup.
Dengan gemetar, ia memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya. Ia tidak lagi ingin melihatnya. Ia hanya ingin pulang dan melupakan semua yang terjadi.
Ia memungut kembali sepeda dan mengayuhnya dengan perlahan, lalu meninggalkan gang gelap itu dan segala kenangan buruknya.
Ketika sampai di panti asuhan, Ibu Sinta, pengelola panti, langsung menyambutnya dengan cemas, "Reno! Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali! Ada luka di dahimu!"
Reno berbohong. "Tidak apa-apa, Bu. Saya jatuh dari sepeda," jawabnya, suaranya parau.
Ibu Sinta membawanya masuk dan segera mengobati lukanya. Saat ia beristirahat di kamarnya, Reno tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada kejadian di gang gelap itu. Ia menempelkan tangannya di atas saku celananya, lalu merasakan cincin itu.
Cincin dan kekuatan itu, ia melamun, "Apakah itu hanya khayalannya? Atau itu nyata? Dan jika itu nyata, apa artinya?"
Reno tidak punya jawaban. Ia hanya tahu satu hal, yaitu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Malam itu, ia berbaring dalam kegelisahan menanti datangnya fajar dengan hati yang penuh ketakutan akan dirinya sendiri.
****
Malam itu, Reno berbaring di kasur, tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi bayangan mengerikan tentang kejadian di gang gelap. Ia meraba sakunya, di mana cincin itu terasa dingin dan berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Namun, rasa sakit di tubuhnya kembali. Bukan sakit dari luka fisik, melainkan sakit yang datang dari dalam. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya panas, seolah terbakar dari dalam. Ia merasa mual, dan semua yang ia rasakan adalah energi aneh yang memancar dari cincin itu.
Ia tidak tahan lagi, Reno segera keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi, membasuh mukanya dengan air dingin, tetapi rasa panas di dalam tubuhnya tidak juga hilang.
Ia menatap bayangannya di cermin. Matanya memerah dan urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak mengenali dirinya sendiri.
Saat itulah, suara dari belakangnya mengejutkan Reno, "Apa yang kamu lakukan di sini, nak? Kenapa belum tidur?"
Itu adalah Ibu Sinta. Reno membalikkan badan dengan tergesa-gesa, "Maaf, Bu. Saya hanya merasa tidak enak badan," jawabnya, suaranya bergetar.
Ibu Sinta menempelkan tangannya ke dahi Reno, "Kamu demam! Sudah, kamu kembali ke kamar, Ibu akan membuatkan teh hangat untukmu."
Reno mengangguk, tetapi ia tidak ingin kembali ke kamar. Ia takut jika tertidur, kekuatan aneh itu akan kembali dan mengendalikan dirinya lagi. Ia takut melukai seseorang.
Ibu Sinta mendesaknya kembali ke kamar, dan Reno tidak punya pilihan lain. Ia berbaring di kasurnya mencoba memejamkan mata. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, seolah-olah melihat kilatan-kilatan cahaya merah yang sama seperti saat dirampok. Ia melihat dirinya, bukan sebagai manusia biasa, melainkan sebagai sosok yang penuh amarah.
Ia tidak bisa tidur, dan lari. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Malam itu, Reno merasa lebih takut dari sebelumnya. Ia tidak takut pada perampok, tetapi pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti ada dua orang di dalam dirinya, yaitu Reno, anak panti yang baik, dan sesuatu yang lain, yang gelap dan berbahaya. Dan ia tidak tahu yang mana yang akan menang.
****
Pagi datang, tetapi tidak membawa ketenangan bagi Reno. Ia terbangun dengan tubuh terasa remuk, bukan karena pukulan perampok, melainkan karena energi yang semalaman bergejolak di dalam dirinya. Ia menatap cermin, matanya masih tampak lelah, tapi kini ada kilatan aneh di sana, seolah ada sesuatu yang tersembunyi jauh di dalamnya.
Ia menyentuh cincin di sakunya, sensasi panas itu masih terasa. Reno memutuskan untuk merahasiakan semua yang terjadi. Ia tidak ingin membuat Ibu Sinta atau teman-teman panti asuhan khawatir.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia berbeda. Ia tidak lagi sama seperti Reno yang berangkat kerja kemarin, sambil menyantap sarapan seadanya, Reno merenung. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia harus mengerti apa itu cincin dan kekuatan aneh ini.
Satu-satunya petunjuk yang ia miliki hanyalah cincin ini. Cincin yang diberikan ayahnya, beberapa bulan sebelum sang ayah meninggal.
Ia teringat kata-kata ayahnya, "Reno, jaga cincin ini baik-baik. Ini adalah warisan dari keluarga kita, dan suatu saat cincin ini akan menunjukkan jalanmu."
Dulu, Reno tidak mengerti apa maksud ayahnya. Sekarang, ia mulai menyadari bahwa kata-kata itu bukan sekadar bualan. Ayahnya tahu sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi.
Setelah sarapan, Reno mengambil sepedanya dan kembali ke gang tempat ia dirampok. Ia memeriksa setiap sudut, mencari petunjuk. Di sana, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Di tempat di mana ia mengayunkan tinjunya ke perampok, ada bekas cekungan di tembok, seolah-olah hancur oleh sebuah benda tumpul. Reno meraba cekungan itu, dan ia menyadari bahwa cekungan itu adalah bekas tinjunya.
Reno membelalakkan matanya, ia langsung pergi dari tempat itu. Ia tidak bisa lagi menyangkal bahwa kekuatan itu nyata. Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa hanyalah anak biasa. Ia harus menemukan jawaban.
Dan satu-satunya orang yang mungkin bisa memberikannya adalah Pak Arya, seorang teman lama ayahnya yang sering berkunjung ke panti asuhan.
****
Reno tidak kembali ke panti asuhan. Ia mengayuh sepedanya secepat mungkin menuju tempat kerja ayahnya dulu, sebuah toko antik kecil yang kini dimiliki oleh Pak Arya.
Hatinya berdebar kencang, antara takut dan penuh harap. Ia butuh jawaban, dan Pak Arya yang bisa memberikannya.
Toko itu kecil dan dipenuhi barang-barang antik yang berdebu.
Tring!
Bel di pintu berbunyi saat Reno masuk. Pak Arya, seorang pria paruh baya dengan rambut memutih dan kacamata tebal, sedang duduk di balik meja, membaca koran. Ia mendongak dan terkejut melihat Reno.
"Reno? Ada apa? Kenapa tidak di panti?" tanya Pak Arya, nada suaranya terdengar khawatir.
Reno tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan cincin dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Cincin itu memancarkan cahaya merah samar yang tak terlihat oleh mata telanjang, tetapi Pak Arya bisa merasakannya. Wajahnya berubah pucat.
"Kamu ..." bisiknya, menatap Reno dengan tatapan yang penuh kekhawatiran, "Apa yang terjadi?"
Reno menceritakan semuanya, tentang perampokan, darahnya yang menetes, dan kekuatan aneh yang tiba-tiba muncul. Ia melihat ekspresi Pak Arya berubah dari terkejut menjadi sedih.
Pak Arya menghela napas panjang. "Nak, ayahmu bukan manusia biasa. Dia adalah seorang siluman."
JEDAR!
Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Reno tidak bisa mempercayainya. "Siluman? Itu tidak masuk akal, Pak!"
"Itu memang tidak masuk akal, tapi itu kenyataan," jawab Pak Arya, "Ayahmu berasal dari ras kuno yang bisa berubah menjadi makhluk buas. Cincin itu adalah Lambang Siluman keluarga kalian. Cincin itu akan bereaksi pada saat bahaya atau luka, ia akan memicu kekuatan siluman dalam dirimu."
"Jadi, aku bukan manusia?" tanya Reno, suaranya bergetar.
"Kamu adalah manusia setengah siluman," jawab Pak Arya, "Ibumu manusia biasa, tapi ayahmu adalah siluman. Darah dari ayahmu mengalir di dalam dirimu, dan cincin itu adalah kuncinya."
Reno merasa pusing. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia selalu merasa berbeda, tapi ia tidak pernah membayangkan kalau dirinya adalah seorang monster.
"Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" tanyanya dengan suara serak.
"Ayahmu meminta padaku untuk menjagamu dan melindungimu saat dia tidak ada," jawab Pak Arya, "Dia tahu akan datang saatnya kamu mengetahui rahasia ini. Dan sekarang, saatnya sudah tiba."
Reno menatap Pak Arya, matanya dipenuhi dengan air mata. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu harus belajar untuk mengendalikan kekuatanmu," jawab Pak Arya dengan tatapan serius, "Dunia siluman itu kejam dan berbahaya. Ayahmu dibunuh oleh mereka yang ingin menguasai ras siluman. Dan sekarang, mereka akan memburumu. Karena kamu adalah pewaris dari ayahmu."
****
Ucapan Pak Arya bagai belati yang menusuk hati Reno. Ia tidak punya waktu untuk berduka atas kehilangan gaji pertamanya.
Semua kesedihan dan kekecewaan itu kini terasa kecil dibandingkan dengan kebenaran yang baru saja ia dengar. Ia adalah pewaris seorang pemimpin siluman, dan orang yang telah melenyapkan ayahnya, kini mengincarnya.
"Mereka akan memburuku?" ulang Reno, suaranya tercekat, "Kenapa?"
Pak Arya mengangguk, "Ayahmu adalah pemimpin klan siluman. Klan yang menguasai kekuatan alam, mengendalikan bumi dan air. Ayahmu memilih untuk hidup damai bersama manusia. Tapi tidak semua orang senang dengan keputusannya. Organisasi yang melenyapkan. Sangkar Malam ingin menguasai dunia siluman dan memusnahkan manusia."
Reno mencengkeram tepi meja. Rasanya dunia yang ia kenal runtuh dalam sekejap. Panti asuhan, teman-temannya, bahkan dirinya sendiri semua hanyalah bagian dari sebuah rahasia besar yang kini terungkap.
"Lalu, kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Kenapa aku tidak tahu apa-apa?"
"Ayahmu ingin melindungimu. Ia mengunci kekuatanmu, bahkan dari dirimu sendiri. Hanya saat bahaya besar dan hidupmu terancam barulah cincin itu akan membuka kunci kekuatanmu. Itulah kenapa kau baru merasakannya sekarang," jelas Pak Arya, "Ia meninggalkanku pesan, bahwa suatu saat aku harus melatihmu. Mengajarkanmu cara mengendalikan kekuatan itu."
Reno menatap tangannya yang kini terasa seperti milik orang lain, "Aku harus melatihnya? Kekuatan monster ini?"
"Itu bukan monster, Reno. Itu adalah warisanmu," Pak Arya berkata dengan nada menenangkan, "Ayahmu tidak ingin kau menjadi monster. Ia ingin kau menjadi dirimu sendiri, namun dengan kemampuan untuk melindungi dirimu dan orang-orang yang kau sayangi."
Pak Arya kemudian meletakkan tangannya di bahu Reno, "Hidupmu akan berubah, nak. Kau tidak bisa lagi hidup sebagai Reno yang dulu. Ada banyak bahaya di luar sana. Tapi kau tidak akan sendirian. Aku akan melindungimu, melatihmu, dan membantumu menemukan jalanmu. Ayahmu juga meninggalkan sesuatu untukmu."
Pak Arya berjalan ke rak buku di sudut ruangan, ia menggeser sebuah buku tebal dan di belakangnya, sebuah kotak kayu kecil tersembunyi. Kotak itu diukir dengan simbol yang sama dengan yang ada di cincin Reno. Pak Arya mengambilnya dan memberikannya pada Reno.
"Ini adalah kenang-kenangan dari ayahmu. Dia bilang, berikan ini saat waktunya tiba. Reno akan tahu apa yang harus ia lakukan'," ucap Pak Arya.
Reno membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap elang, dan sebuah surat yang sudah menguning.
Membaca surat itu, Reno menangis. Ia tahu bahwa tidak bisa kembali ke kehidupannya yang lama. Ia harus menghadapi takdirnya sebagai manusia setengah siluman. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi pada ayahnya dan melindungi orang-orang yang ia sayangi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak Arya?" tanya Reno, matanya menunjukkan tekad baru.
Pak Arya tersenyum tipis, mengangguk, "Sekarang, kita harus mulai melatihmu. Dan aku akan menceritakan padamu semua tentang ayahmu."
Angka di dalamnya tak banyak, tapi bagi Reno yang hidupnya serba pas-pasan di panti asuhan sejak lahir, jumlah itu terasa seperti gunung emas.
Senyum merekah di bibirnya. Dalam benaknya, ia sudah merencanakan segala hal. Ia akan membeli sepasang sepatu baru untuk adik-adiknya di panti asuhan. Sepatu yang lama sudah robek dan tak layak pakai.
Sisanya, ia akan berikan pada pengelola panti, Ibu Sinta, untuk membantu biaya operasional, sambil melamun. ia mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kota yang ramai. Sore itu, matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, menambah rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Ia bersenandung kecil menikmati momen langka ini.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika ia memasuki gang sempit yang gelap, dua sosok berbadan besar tiba-tiba muncul dari balik tembok. Mereka mengenakan penutup wajah dan salah satunya membawa pisau lipat.
Jantung Reno berdebar kencang. Ia mencoba menghindar, tapi terlambat. Salah satu dari mereka mendorongnya hingga terjatuh dari sepeda.
"Serahkan uangmu, bocah!" geram salah satu perampok.
Reno dengan cepat berpegangan pada amplop gajinya. Ia menolak untuk menyerahkannya. "Ini gaji pertamaku! Aku tidak akan memberikannya!" teriaknya, suaranya bergetar.
Perampok itu tertawa sinis. "Anak nakal," katanya, lalu melayangkan tinjunya tepat ke rahang Reno.
BUGH!
Gelap menyelimuti pandangannya sejenak. Ketika kesadarannya kembali, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Amplop gajinya telah berpindah tangan. Ia berusaha bangkit, tetapi tendangan di perutnya membuatnya kembali jatuh.
Perampok itu menendangnya lagi dan lagi. Dalam kondisi tak berdaya, ia hanya bisa melihat mereka mengambil dompet dan tasnya, lalu menghilang di kegelapan.
Reno terbaring di tanah, napasnya tersengal-sengal. Darah menetes dari luka di dahinya. Ia merasakan dingin, bukan hanya karena malam yang semakin larut, tetapi juga karena hatinya yang hancur. Impian untuk membantu panti asuhan, harapan untuk memiliki sepatu baru, semuanya hancur lebur.
Dalam keputusasaannya, setetes air mata menetes dari matanya, bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. Air mata dan darah itu jatuh mengenai sebuah cincin kuno yang selalu ia pakai di jari manisnya, hadiah dari ayahnya yang telah tiada. Saat itulah sesuatu yang tak terduga mulai terjadi.
****
Tetesan darah Reno mengalir, membasahi cincin kuno yang ia pakai. Cincin itu bergetar memancarkan cahaya merah samar yang tak terlihat oleh mata telanjang. Rasa sakit di tubuh Reno seakan lenyap digantikan oleh sensasi aneh yang mengalir dari jari ke seluruh tubuhnya. Sebuah energi panas, liar, dan kuat merasuk ke dalam setiap pembuluh darahnya.
Mata Reno yang tadinya sayu karena kesakitan, kini menyala. Ia merasakan sesuatu yang asing, sebuah kekuatan primitif yang siap meledak. Tinjunya terkepal erat, kuku-kukunya memanjang dan menajam, kulitnya terasa lebih tebal, dan matanya memancarkan kilatan merah.
Dari ujung gang, terdengar suara langkah kaki. Perampok yang tadi mengambil barang-barang Reno kembali. "Ada apa? Kok gelap?" tanya salah satunya.
Mereka rupanya lupa mengambil tas Reno yang isinya hanya beberapa lembar baju ganti.
Reno berdiri, tubuhnya kini terasa ringan dan bertenaga.
Ia menatap kedua perampok itu dengan tatapan kosong, penuh amarah. "Kembalikan," bisiknya, suaranya terdengar serak, "Gajiku."
Perampok itu tertawa sinis. "Mau apa kau? Mau minta belas kasihan?" ejeknya.
Namun, tawa mereka terhenti saat Reno bergerak. Ia melesat dengan kecepatan yang tak pernah ia bayangkan.
BUGH! BUGH!
Pukulan yang ia layangkan sebelumnya tak memiliki kekuatan, kini menghantam perut perampok itu dengan kekuatan luar biasa. Perampok itu terhuyung, terkejut, dan memuntahkan isi perutnya.
Perampok satunya yang memegang pisau melayangkan serangannya.
Tetapi, dengan refleks yang cepat, Reno menangkap pergelangan tangan perampok itu. Kekuatan mencengkeramnya begitu dahsyat hingga tulang-tulangnya berderak. Pisau itu jatuh ke tanah.
Reno menatap kedua perampok itu. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai manusia, melainkan sebagai mangsa. Insting buas dari dalam dirinya bangkit.
Kedua perampok itu yang tadinya penuh kesombongan, kini gemetar ketakutan. Mereka lari terbirit-birit meninggalkan Reno sendirian di gang yang gelap.
Setelah mereka pergi, kekuatan dalam tubuh Reno perlahan meredup. Ia tersadar, menatap telapak tangannya sendiri yang kembali normal. Ia bingung, "Apa yang baru saja terjadi?"
Ia melihat ke sekeliling, dompetnya dan amplop gajinya tergeletak di tanah. Ia memungutnya, tetapi rasa bahagia yang tadi ia rasakan telah digantikan oleh ketakutan dan kebingungan yang mendalam. Cincin itu, hadiah dari ayahnya, kini terasa berat dan dingin di jarinya, seolah menyimpan sebuah rahasia yang mengerikan.
****
Reno tidak langsung pulang. Ia duduk bersandar di tembok gang, masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh energinya telah terkuras habis. Ia menatap cincin di jarinya.
Cincin kuno itu, yang dulunya ia anggap sebagai kenang-kenangan biasa dari ayahnya, kini terasa berbeda. Permukaannya yang semula halus kini terasa hangat, seolah menyimpan sisa-sisa energi yang baru saja meledak dari dalam dirinya.
Ia mencoba mengingat kembali kejadian barusan. Suara teriakan, pukulan, dan tendangan. Lalu, darahnya menetes.
Kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Kekuatan itu yang membuat tubuhnya bergerak lebih cepat, pukulannya lebih kuat, dan instingnya lebih tajam. Itu bukan dirinya. Ia tidak mungkin memiliki kekuatan seperti itu.
Ketakutan mulai menyelimuti hatinya. Ia takut bahwa ia telah menjadi monster. Ia takut jika kekuatan itu muncul lagi di depan orang lain, terutama di depan adik-adiknya di panti asuhan. Ia tidak ingin mereka takut padanya.
Ia hanya ingin menjadi Reno yang biasa, anak panti yang berjuang untuk hidup.
Dengan gemetar, ia memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya. Ia tidak lagi ingin melihatnya. Ia hanya ingin pulang dan melupakan semua yang terjadi.
Ia memungut kembali sepeda dan mengayuhnya dengan perlahan, lalu meninggalkan gang gelap itu dan segala kenangan buruknya.
Ketika sampai di panti asuhan, Ibu Sinta, pengelola panti, langsung menyambutnya dengan cemas, "Reno! Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali! Ada luka di dahimu!"
Reno berbohong. "Tidak apa-apa, Bu. Saya jatuh dari sepeda," jawabnya, suaranya parau.
Ibu Sinta membawanya masuk dan segera mengobati lukanya. Saat ia beristirahat di kamarnya, Reno tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada kejadian di gang gelap itu. Ia menempelkan tangannya di atas saku celananya, lalu merasakan cincin itu.
Cincin dan kekuatan itu, ia melamun, "Apakah itu hanya khayalannya? Atau itu nyata? Dan jika itu nyata, apa artinya?"
Reno tidak punya jawaban. Ia hanya tahu satu hal, yaitu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Malam itu, ia berbaring dalam kegelisahan menanti datangnya fajar dengan hati yang penuh ketakutan akan dirinya sendiri.
****
Malam itu, Reno berbaring di kasur, tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi bayangan mengerikan tentang kejadian di gang gelap. Ia meraba sakunya, di mana cincin itu terasa dingin dan berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Namun, rasa sakit di tubuhnya kembali. Bukan sakit dari luka fisik, melainkan sakit yang datang dari dalam. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya panas, seolah terbakar dari dalam. Ia merasa mual, dan semua yang ia rasakan adalah energi aneh yang memancar dari cincin itu.
Ia tidak tahan lagi, Reno segera keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi, membasuh mukanya dengan air dingin, tetapi rasa panas di dalam tubuhnya tidak juga hilang.
Ia menatap bayangannya di cermin. Matanya memerah dan urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak mengenali dirinya sendiri.
Saat itulah, suara dari belakangnya mengejutkan Reno, "Apa yang kamu lakukan di sini, nak? Kenapa belum tidur?"
Itu adalah Ibu Sinta. Reno membalikkan badan dengan tergesa-gesa, "Maaf, Bu. Saya hanya merasa tidak enak badan," jawabnya, suaranya bergetar.
Ibu Sinta menempelkan tangannya ke dahi Reno, "Kamu demam! Sudah, kamu kembali ke kamar, Ibu akan membuatkan teh hangat untukmu."
Reno mengangguk, tetapi ia tidak ingin kembali ke kamar. Ia takut jika tertidur, kekuatan aneh itu akan kembali dan mengendalikan dirinya lagi. Ia takut melukai seseorang.
Ibu Sinta mendesaknya kembali ke kamar, dan Reno tidak punya pilihan lain. Ia berbaring di kasurnya mencoba memejamkan mata. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, seolah-olah melihat kilatan-kilatan cahaya merah yang sama seperti saat dirampok. Ia melihat dirinya, bukan sebagai manusia biasa, melainkan sebagai sosok yang penuh amarah.
Ia tidak bisa tidur, dan lari. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Malam itu, Reno merasa lebih takut dari sebelumnya. Ia tidak takut pada perampok, tetapi pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti ada dua orang di dalam dirinya, yaitu Reno, anak panti yang baik, dan sesuatu yang lain, yang gelap dan berbahaya. Dan ia tidak tahu yang mana yang akan menang.
****
Pagi datang, tetapi tidak membawa ketenangan bagi Reno. Ia terbangun dengan tubuh terasa remuk, bukan karena pukulan perampok, melainkan karena energi yang semalaman bergejolak di dalam dirinya. Ia menatap cermin, matanya masih tampak lelah, tapi kini ada kilatan aneh di sana, seolah ada sesuatu yang tersembunyi jauh di dalamnya.
Ia menyentuh cincin di sakunya, sensasi panas itu masih terasa. Reno memutuskan untuk merahasiakan semua yang terjadi. Ia tidak ingin membuat Ibu Sinta atau teman-teman panti asuhan khawatir.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia berbeda. Ia tidak lagi sama seperti Reno yang berangkat kerja kemarin, sambil menyantap sarapan seadanya, Reno merenung. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia harus mengerti apa itu cincin dan kekuatan aneh ini.
Satu-satunya petunjuk yang ia miliki hanyalah cincin ini. Cincin yang diberikan ayahnya, beberapa bulan sebelum sang ayah meninggal.
Ia teringat kata-kata ayahnya, "Reno, jaga cincin ini baik-baik. Ini adalah warisan dari keluarga kita, dan suatu saat cincin ini akan menunjukkan jalanmu."
Dulu, Reno tidak mengerti apa maksud ayahnya. Sekarang, ia mulai menyadari bahwa kata-kata itu bukan sekadar bualan. Ayahnya tahu sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi.
Setelah sarapan, Reno mengambil sepedanya dan kembali ke gang tempat ia dirampok. Ia memeriksa setiap sudut, mencari petunjuk. Di sana, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Di tempat di mana ia mengayunkan tinjunya ke perampok, ada bekas cekungan di tembok, seolah-olah hancur oleh sebuah benda tumpul. Reno meraba cekungan itu, dan ia menyadari bahwa cekungan itu adalah bekas tinjunya.
Reno membelalakkan matanya, ia langsung pergi dari tempat itu. Ia tidak bisa lagi menyangkal bahwa kekuatan itu nyata. Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa hanyalah anak biasa. Ia harus menemukan jawaban.
Dan satu-satunya orang yang mungkin bisa memberikannya adalah Pak Arya, seorang teman lama ayahnya yang sering berkunjung ke panti asuhan.
****
Reno tidak kembali ke panti asuhan. Ia mengayuh sepedanya secepat mungkin menuju tempat kerja ayahnya dulu, sebuah toko antik kecil yang kini dimiliki oleh Pak Arya.
Hatinya berdebar kencang, antara takut dan penuh harap. Ia butuh jawaban, dan Pak Arya yang bisa memberikannya.
Toko itu kecil dan dipenuhi barang-barang antik yang berdebu.
Tring!
Bel di pintu berbunyi saat Reno masuk. Pak Arya, seorang pria paruh baya dengan rambut memutih dan kacamata tebal, sedang duduk di balik meja, membaca koran. Ia mendongak dan terkejut melihat Reno.
"Reno? Ada apa? Kenapa tidak di panti?" tanya Pak Arya, nada suaranya terdengar khawatir.
Reno tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan cincin dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Cincin itu memancarkan cahaya merah samar yang tak terlihat oleh mata telanjang, tetapi Pak Arya bisa merasakannya. Wajahnya berubah pucat.
"Kamu ..." bisiknya, menatap Reno dengan tatapan yang penuh kekhawatiran, "Apa yang terjadi?"
Reno menceritakan semuanya, tentang perampokan, darahnya yang menetes, dan kekuatan aneh yang tiba-tiba muncul. Ia melihat ekspresi Pak Arya berubah dari terkejut menjadi sedih.
Pak Arya menghela napas panjang. "Nak, ayahmu bukan manusia biasa. Dia adalah seorang siluman."
JEDAR!
Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Reno tidak bisa mempercayainya. "Siluman? Itu tidak masuk akal, Pak!"
"Itu memang tidak masuk akal, tapi itu kenyataan," jawab Pak Arya, "Ayahmu berasal dari ras kuno yang bisa berubah menjadi makhluk buas. Cincin itu adalah Lambang Siluman keluarga kalian. Cincin itu akan bereaksi pada saat bahaya atau luka, ia akan memicu kekuatan siluman dalam dirimu."
"Jadi, aku bukan manusia?" tanya Reno, suaranya bergetar.
"Kamu adalah manusia setengah siluman," jawab Pak Arya, "Ibumu manusia biasa, tapi ayahmu adalah siluman. Darah dari ayahmu mengalir di dalam dirimu, dan cincin itu adalah kuncinya."
Reno merasa pusing. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia selalu merasa berbeda, tapi ia tidak pernah membayangkan kalau dirinya adalah seorang monster.
"Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" tanyanya dengan suara serak.
"Ayahmu meminta padaku untuk menjagamu dan melindungimu saat dia tidak ada," jawab Pak Arya, "Dia tahu akan datang saatnya kamu mengetahui rahasia ini. Dan sekarang, saatnya sudah tiba."
Reno menatap Pak Arya, matanya dipenuhi dengan air mata. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu harus belajar untuk mengendalikan kekuatanmu," jawab Pak Arya dengan tatapan serius, "Dunia siluman itu kejam dan berbahaya. Ayahmu dibunuh oleh mereka yang ingin menguasai ras siluman. Dan sekarang, mereka akan memburumu. Karena kamu adalah pewaris dari ayahmu."
****
Ucapan Pak Arya bagai belati yang menusuk hati Reno. Ia tidak punya waktu untuk berduka atas kehilangan gaji pertamanya.
Semua kesedihan dan kekecewaan itu kini terasa kecil dibandingkan dengan kebenaran yang baru saja ia dengar. Ia adalah pewaris seorang pemimpin siluman, dan orang yang telah melenyapkan ayahnya, kini mengincarnya.
"Mereka akan memburuku?" ulang Reno, suaranya tercekat, "Kenapa?"
Pak Arya mengangguk, "Ayahmu adalah pemimpin klan siluman. Klan yang menguasai kekuatan alam, mengendalikan bumi dan air. Ayahmu memilih untuk hidup damai bersama manusia. Tapi tidak semua orang senang dengan keputusannya. Organisasi yang melenyapkan. Sangkar Malam ingin menguasai dunia siluman dan memusnahkan manusia."
Reno mencengkeram tepi meja. Rasanya dunia yang ia kenal runtuh dalam sekejap. Panti asuhan, teman-temannya, bahkan dirinya sendiri semua hanyalah bagian dari sebuah rahasia besar yang kini terungkap.
"Lalu, kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Kenapa aku tidak tahu apa-apa?"
"Ayahmu ingin melindungimu. Ia mengunci kekuatanmu, bahkan dari dirimu sendiri. Hanya saat bahaya besar dan hidupmu terancam barulah cincin itu akan membuka kunci kekuatanmu. Itulah kenapa kau baru merasakannya sekarang," jelas Pak Arya, "Ia meninggalkanku pesan, bahwa suatu saat aku harus melatihmu. Mengajarkanmu cara mengendalikan kekuatan itu."
Reno menatap tangannya yang kini terasa seperti milik orang lain, "Aku harus melatihnya? Kekuatan monster ini?"
"Itu bukan monster, Reno. Itu adalah warisanmu," Pak Arya berkata dengan nada menenangkan, "Ayahmu tidak ingin kau menjadi monster. Ia ingin kau menjadi dirimu sendiri, namun dengan kemampuan untuk melindungi dirimu dan orang-orang yang kau sayangi."
Pak Arya kemudian meletakkan tangannya di bahu Reno, "Hidupmu akan berubah, nak. Kau tidak bisa lagi hidup sebagai Reno yang dulu. Ada banyak bahaya di luar sana. Tapi kau tidak akan sendirian. Aku akan melindungimu, melatihmu, dan membantumu menemukan jalanmu. Ayahmu juga meninggalkan sesuatu untukmu."
Pak Arya berjalan ke rak buku di sudut ruangan, ia menggeser sebuah buku tebal dan di belakangnya, sebuah kotak kayu kecil tersembunyi. Kotak itu diukir dengan simbol yang sama dengan yang ada di cincin Reno. Pak Arya mengambilnya dan memberikannya pada Reno.
"Ini adalah kenang-kenangan dari ayahmu. Dia bilang, berikan ini saat waktunya tiba. Reno akan tahu apa yang harus ia lakukan'," ucap Pak Arya.
Reno membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap elang, dan sebuah surat yang sudah menguning.
Membaca surat itu, Reno menangis. Ia tahu bahwa tidak bisa kembali ke kehidupannya yang lama. Ia harus menghadapi takdirnya sebagai manusia setengah siluman. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi pada ayahnya dan melindungi orang-orang yang ia sayangi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak Arya?" tanya Reno, matanya menunjukkan tekad baru.
Pak Arya tersenyum tipis, mengangguk, "Sekarang, kita harus mulai melatihmu. Dan aku akan menceritakan padamu semua tentang ayahmu."
Other Stories
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...