Manusia Setengah Siluman

Reads
793
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Manusia setengah siluman
Manusia Setengah Siluman
Penulis Moycha Zia

Chapter 3 Misteri Cincin Dan Di Serang Anggota Sangkar Malam

Reno kembali ke kamar kecilnya di belakang toko antik Pak Arya. Pikirannya dipenuhi oleh informasi yang baru ia dapatkan. Ia adalah setengah siluman.

Ayahnya adalah pemimpin klan yang dilenyapkan. Dan cincin yang selalu ia pakai adalah kunci rahasia yang ia butuhkan untuk mengungkap kebenaran. Ia menatap cincin itu di jarinya yang kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar kenangan, melainkan sebuah tanggung jawab besar.

Malam itu, Reno memutuskan untuk mencoba mengendalikan kekuatannya lagi. Ia memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya. Ia merasakan energi dingin dan tenang mengalir dari cincin itu, lalu merambat ke seluruh tubuhnya.

Kali ini, ia tidak merasakan amarah atau kegelapan. Ia merasakan kekuatan, tetapi kekuatan yang terkendali, seperti sungai yang mengalir dengan lembut.

Tiba-tiba, ia merasakan dorongan aneh dari cincin itu, seperti sebuah pikiran yang bukan miliknya. Reno memusatkan perhatiannya, dan sebuah gambar muncul di benaknya, sebuah simbol kuno yang di kenali dari buku-buku kuno di panti asuhan, tetapi tidak tahu artinya. Ia mengambil pensil dan kertas dan menggambarkannya.

Keesokan paginya, Reno menunjukkan gambar itu kepada Pak Arya. "Aku mendapat ini dari cincin itu. Itu seperti sebuah petunjuk," jelas Reno.

Pak Arya menatap gambar itu dengan mata terbelalak, "Ini adalah lambang kuno klanmu. Simbol ini adalah kunci untuk membaca tulisan kuno di dalam buku-buku rahasia klan. Hanya mereka yang memiliki kekuatan yang diwariskan dari para leluhur yang bisa memahaminya."

Pak Arya kemudian membawa Reno ke ruangan rahasia di bawah toko. Ruangan itu dipenuhi dengan rak buku yang tebal dan kuno. Ia mengeluarkan sebuah buku yang usang dan berdebu dari rak. Sampulnya diukir dengan simbol yang sama dengan yang digambar Reno.

"Ayahmu meninggalkan buku ini untukmu," kata Pak Arya, "Buku ini berisi sejarah, kekuatan, dan rahasia klanmu. Hanya kamu yang bisa membacanya."

Reno menyentuh buku itu, dan saat itu juga cincinnya bersinar. Sinar itu merambat ke buku, dan semua tulisan kuno yang ada di buku itu tiba-tiba berubah menjadi bahasa yang bisa ia mengerti. Reno membaca, lalu matanya terbelalak.

Ia membaca tentang legenda klan, kekuatan mereka untuk menguasai alam, dan seorang pemimpin yang mengorbankan dirinya demi perdamaian.

Namun, ia juga membaca tentang pengkhianatan. Tentang seseorang yang disebut Pemberontak yang ingin merebut kekuatan klan dan menguasai dunia.

Reno tahu bahwa pemberontak ini adalah pemimpin Sangkar Malam yang melenyapkan ayahnya. Ia melihat gambar dari pemberontak itu, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya.
"Pemberontak itu adalah pemimpin Sangkar Malam," bisik Reno, menahan amarahnya, "Dan dia juga memiliki kekuatan siluman. Kekuatan kegelapan."

Reno kini tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak hanya harus belajar mengendalikan kekuatannya. Ia harus mempelajari rahasia klan, menemukan petunjuk yang ditinggalkan ayahnya, dan bersiap untuk melawan musuh yang jauh lebih kuat dari perampok jalanan. Ia harus bersiap untuk menghadapi pemberontak.

Perjalanan Reno baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar anak panti yang berjuang untuk hidup, ia adalah pewaris terakhir dari sebuah klan kuno dengan takdir yang menunggu untuk digenggam. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya.

****

Reno membolak-balik halaman-halaman buku kuno yang kini ia pahami. Setiap tulisan dan ukiran, seolah beresonansi dengan kekuatan dalam dirinya.

Ia membaca tentang bagaimana klan siluman yang dikenal sebagai Klan Penguasa Elemen, menguasai kekuatan alam termasuk elemen bumi, air, api, dan udara.

Ayahnya, sebagai pemimpin adalah seorang master dari elemen air dan bumi. Reno menyadari bahwa kekuatan yang ia rasakan adalah warisan dari elemen-elemen itu.

Namun, di antara sejarah yang membanggakan, Reno menemukan bagian yang lebih gelap. Sejarah tentang Sangkar Malam dan pemimpinnya yang disebutnya Malkar.

Reno membaca bahwa Malkar adalah mantan anggota Klan Penguasa Elemen yang menentang keputusan ayahnya untuk hidup damai bersama manusia.

Malkar ingin menggunakan kekuatan siluman untuk menguasai dunia, bukan melindunginya. Hal itu membuat Malkar dan para pengikutnya diusir dari klan.

Saat membaca, Reno merasakan amarah yang membara di dalam dirinya dengan melihat gambar-gambar pertempuran, gambar ayahnya yang berjuang melawan Malkar dan pasukannya.

Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan ayahnya, dan Malkar mengambil alih kekuasaan.

"Malkar," gumam Reno, nama itu terasa pahit di lidahnya, "Dia adalah pembunuh ayahku."

Reno memfokuskan pikirannya, membiarkan energi siluman mengalir ke dalam tubuhnya. Cincinnya bersinar, dan ia merasakan koneksi yang lebih dalam dengan buku itu.

Sebuah pesan tersembunyi tiba-tiba muncul di sebuah halaman. Itu adalah sebuah teka-teki, petunjuk yang ditinggalkan ayahnya.

Hati air, nafas bumi.

Kunci terletak di bawah langit yang runtuh.

Cari peninggalan leluhur, di mana bulan dan bintang bersatu.

Reno membacanya berkali-kali mencoba memecahkan teka-teki itu. Ia sadar bahwa petunjuk itu mengarah ke suatu tempat rahasia yang mungkin berisi peninggalan penting dari ayahnya, atau bahkan petunjuk tentang kelemahan Malkar.

Pak Arya, yang melihat ekspresi Reno, bertanya, "Apa itu?"

Reno menunjukkan teka-teki itu, "Ini adalah petunjuk dari ayahku. Aku harus menemukan tempat ini."

Pak Arya membaca teka-teki itu, "Hati air, nafas bumi ini adalah petunjuk tentang lokasi. Aku rasa aku tahu di mana tempat itu."

"Di mana?" tanya Reno, tidak sabar.

"Itu adalah Air Terjun Kaca Langit," jawab Pak Arya, "Air terjun itu adalah tempat suci bagi klan kita yang merupakan leluhur kita bersemayam. Hanya keturunan murni klan yang bisa masuk. Dan sepertinya, ayahmu meninggalkan sesuatu untukmu di sana."

Reno mengepalkan tinjunya. Ia tahu apa yang harus di lakukan. Ia tidak akan lari dari takdirnya. Ia akan mencari Air Terjun Kaca Langit, lalu menguak rahasia ayahnya, dan bersiap untuk menghadapi Malkar pemimpin Sangkar Malam.

****

Reno mengepalkan tangannya, matanya terpaku pada teka-teki kuno yang kini ia hafal di luar kepala. "Air Terjun Kaca Langit," gumamnya, nama itu terasa asing sekaligus akrab di telinganya, "Ayahku pasti meninggalkan sesuatu yang penting di sana."

"Benar," jawab Pak Arya, sambil merapikan tumpukan buku di atas meja, "Air Terjun Kaca Langit adalah tempat yang suci yang hanya diketahui oleh beberapa anggota klan. Posisinya tersembunyi, terlindungi oleh energi alam yang hanya bisa dilewati oleh keturunan klan."

Reno menatap Pak Arya, "Kalau begitu, aku harus pergi ke sana. Sekarang."

"Tidak semudah itu, Reno," sahut Pak Arya, nada suaranya tegas, "Kau belum sepenuhnya menguasai kekuatanmu. Perjalanan itu berbahaya. Di luar sana, ada Sangkar Malam yang bisa merasakan kehadiranmu. Jika mereka tahu kau mewarisi kekuatan ayahmu, mereka akan melenyapkan tanpa ampun."

Reno terdiam. Ia tahu Pak Arya benar. Ia baru saja menyentuh permukaan kekuatannya, dan belum siap untuk berhadapan dengan musuh yang jauh lebih kuat, maka butuh waktu untuk berlatih.

"Jadi, apa yang harus kulakukan?" tanya Reno, suaranya sarat akan kekecewaan.

Pak Arya meletakkan tangannya di bahu Reno, "Kita akan melatihmu. Aku akan mengajarimu semua yang ayahmu tinggalkan untukmu. Kau harus menguasai setiap elemen dari kekuatanmu, barulah kau bisa pergi."

Reno mengangguk, ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ia harus bersabar. Ia tidak bisa terburu-buru, karena jika ia gagal, tidak hanya nyawanya yang akan terancam, tetapi juga orang-orang yang ia sayangi, termasuk Ibu Sinta dan adik-adiknya di panti asuhan.

Ia memutuskan untuk tinggal bersama Pak Arya untuk sementara. Setiap hari, ia berlatih di hutan terpencil, mengasah kekuatannya dan mempelajari buku kuno yang ditinggalkan ayahnya.

Reno belajar bagaimana memanipulasi energi bumi dan air, menyembunyikan kehadirannya dari musuh, dan bertarung tanpa harus melukai orang lain.

Latihan itu berat dan melelahkan, tetapi setiap kali ia merasa lelah, kemudian teringat pada surat ayahnya dan tekad yang kini membara di dalam dirinya. Ia harus menjadi lebih kuat. Ia harus membalaskan dendam ayahnya. Dan ia harus melindungi dunia dari kejahatan Sangkar Malam.

Sementara itu, di sebuah tempat yang gelap dan tersembunyi, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, Malkar, duduk di singgasananya yang terbuat dari tulang. Ia merasakan gejolak energi dari jauh, energi yang di kenal dengan baik. Itu adalah energi dari Klan Penguasa Elemen yang seharusnya sudah punah bersamanya.

"Pewaris itu, dia sudah muncul," gumam Malkar, senyum sinisnya terukir di wajahnya, "Dan dia memiliki cincin itu. Cincin yang seharusnya menjadi milikku. Cari dia. Bawa dia kemari hidup-hidup. Aku akan mengambil kekuatannya, dan tidak ada yang bisa menghentikanku."

Reno tidak tahu yang menjadi target buruan. Perjalanan untuk mencari kebenaran, kini telah menjadi perlombaan melawan waktu. Ia harus menjadi lebih kuat, cepat, dan pintar dari musuh-musuhnya jika ingin bertahan hidup.

****

Reno menghabiskan hari-harinya di bawah bimbingan Pak Arya. Ia tidak lagi bekerja sebagai kurir.

Setiap pagi, ia bangun saat matahari belum terbit, bermeditasi untuk mengendalikan energi silumannya. Ia merasakan bagaimana energi yang tadinya terasa liar dan mengancam, kini bisa di kendalikan. Energi itu terasa seperti napasnya sendiri mengalir tenang di dalam tubuhnya.

Pak Arya mengajarkan Reno untuk memanipulasi elemen. Latihan pertama adalah elemen bumi.

Reno harus bisa merasakan getaran tanah, menguatkan tubuhnya hingga sekeras batu, dan bahkan membuat retakan kecil di permukaan tanah.

Latihan ini melelahkan, tetapi Reno tidak menyerah. Ia teringat akan wajah para perampok yang menendangnya, wajah Malkar yang ia lihat dalam buku kuno, dan tekadnya semakin kuat.

Setelah beberapa minggu, Reno mulai menguasai elemen bumi. Pukulannya kini bisa memecahkan batu. Kakinya bisa melesat cepat seperti angin. Ia telah menjadi lebih kuat dari yang di bayangkan.

Suatu malam, saat Reno sedang bermeditasi di hutan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan getaran tanah, melainkan getaran energi. Ia tahu itu adalah energi Sangkar Malam. Mereka telah menemukannya.

"Pak Arya," bisik Reno, berdiri tegak dan waspada.

"Aku merasakannya," jawab Pak Arya, matanya mengawasi kegelapan, "Mereka datang. Ini adalah ujian pertamamu. Kau harus bertahan hidup."

Dari kegelapan, muncul dua sosok. Mereka mengenakan jubah hitam, mata mereka bersinar merah. Mereka adalah anggota Sangkar Malam yang memiliki kekuatan siluman yang lebih gelap dan kejam.

"Berikan cincin itu, anak muda," salah satu dari mereka menggeram, suaranya serak, "Dan kami tidak akan melukaimu."

Reno menolak dan siap bertarung. Ia mengaktifkan kekuatannya, dan tubuhnya mulai memancarkan energi.


Swussh!


Ia bergerak cepat menghindari serangan mereka. Ia menggunakan kekuatannya untuk membuat retakan di tanah, menjebak kaki mereka. Ia memukul menggunakan kekuatan elemen bumi yang di kuasainya.

Pertarungan itu sengit. Reno berhasil mengalahkan salah satu dari mereka, tetapi yang lainnya lebih kuat dan cepat, berhasil melukainya. Darah kembali menetes dari lukanya. Reno merasa sakit, tetapi tidak menyerah. Ia tahu bahwa tidak bisa kalah.

Saat ia jatuh, Reno melihat cincinnya. Ia memejamkan mata dan berfokus, membiarkan energi siluman mengalir ke dalam tubuhnya.

Kekuatan itu tidak lagi liar. Kekuatan itu tenang, terkendali, dan kuat. Ia bangkit, siap untuk bertarung lagi.

"Aku akan mengalahkanmu," bisik Reno, matanya memancarkan kilatan. Ia bukan lagi Reno yang takut dan tidak berdaya. Ia adalah Manusia Setengah Siluman, dan tidak akan pernah menyerah pada takdirnya.

****

Reno bangkit, tubuhnya yang terluka kini terasa kuat kembali dipenuhi dengan energi yang membara.

Ia mengarahkan kekuatannya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat lawannya, anggota Sangkar Malam, kehilangan keseimbangan.

Dengan refleks cepat, Reno melesat maju, mengarahkan tinju yang dilapisi energi bumi ke arah dada musuhnya. Pukulan itu begitu kuat hingga musuhnya terpental, menabrak pohon dengan keras hingga tumbang.

Anggota Sangkar Malam itu terbatuk, darah mengalir dari mulutnya. Ia menatap Reno dengan ketakutan. "Kau adalah pewaris sejati," bisiknya sebelum akhirnya pingsan.

Reno terengah-engah. Ia berhasil mengendalikan kekuatannya dan mengalahkan musuhnya.

Namun, kemenangan itu terasa hampa. Ia melihat musuhnya yang tak sadarkan diri dan merasa bersalah. Ia tidak ingin melukai siapa pun. Ia hanya ingin melindungi dirinya.

Pak Arya mendekat, ia menepuk bahu Reno dengan bangga, "Kerja bagus, Nak. Kau telah lulus ujian pertamamu."

"Aku melukainya, Pak," kata Reno, suaranya dipenuhi rasa bersalah.

"Dia yang memilih jalannya, bukan kamu," jawab Pak Arya dengan bijak, "Dalam dunia ini, kamu harus siap berkorban untuk bertahan hidup. Tapi ingat, kamu tidak boleh kehilangan kemanusiaanmu. Kekuatan ini adalah pedang bermata dua."

Reno mengangguk, ia mengerti. Ia tidak akan membiarkan kekuatan itu menguasai dirinya. Reno akan menggunakannya untuk kebaikan, melindungi orang-orang yang di sayangnya.

Tiba-tiba, Reno merasakan sesuatu yang aneh. Bukan dari dirinya, melainkan dari cincin itu.

Cincin itu terasa dingin, lalu tiba-tiba memancarkan energi yang berbeda. Kali ini, energinya tidak liar dan mengancam, melainkan hangat dan menenangkan.

Reno memfokuskan dirinya, dan sebuah gambar aneh muncul di benaknya, sebuah air terjun raksasa yang airnya terlihat seperti kaca, memantulkan langit dan bintang di atasnya. Dan di bawah air terjun ada sebuah gua rahasia yang tersembunyi.

"Aku melihatnya, Pak Arya," bisik Reno, matanya terbelalak, "Air terjun itu adalah Air Terjun Kaca Langit. Dan ada sebuah gua di sana."

Pak Arya terkejut, "Ayahmu meninggalkan petunjuk yang sangat spesifik untukmu. Dia pasti meninggalkan sesuatu yang sangat penting di sana."

Reno mengepalkan tinjunya. Ia tahu apa yang harus di lakukan. Ia tidak akan menunggu lagi. Ia harus pergi ke Air Terjun Kaca Langit, menguak rahasia ayahnya, dan bersiap untuk menghadapi Malkar, pemimpin Sangkar Malam. Ia akan menemukan kebenaran di balik kematian ayahnya, dan ia akan membalaskan dendamnya.

Reno kini siap. Ia tidak lagi takut. Ia telah mengendalikan kekuatannya dan ia memiliki tujuan. Ia tidak lagi peduli pada perampokan atau gaji pertamanya yang hilang. Semua itu hanyalah awal dari sebuah takdir yang lebih besar.

Pak Arya menatap Reno dengan penuh bangga, melihat bagaimana anak yang dulunya lemah dan tidak berdaya kini telah menjadi seorang pejuang, "Perjalananmu akan sulit, Nak. Tapi aku akan menemanimu."

Reno tersenyum, lalu mengangguk.

Mereka pun memulai perjalanan. Reno melihat kembali ke arah kota, panti asuhan tempat ia tumbuh. Ia akan kembali, tetapi tidak sampai memenuhi takdirnya. Ia akan kembali sebagai Reno, seorang Manusia Setengah Siluman yang akan melindungi dunia ini.



Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Download Titik & Koma