Chapter 6 Ancaman Pertama
Reno dan Pak Arya berjalan menyusuri jalan setapak yang kembali terlihat setelah kabut tipis menghilang. Reno berjalan di depan, indranya yang kini tajam bisa merasakan kehadiran musuh.
Ia tidak hanya bisa merasakan aura kegelapan Sangkar Malam, tetapi ia juga bisa membedakan jumlah mereka. Ada empat orang, dan tersebar, mencoba mengepung mereka. Reno menghentikan langkahnya, ia mengangkat tangan, lalu memberi isyarat pada Pak Arya untuk bersembunyi.
"Tunggu, mereka datang dari depan, kita harus bersembunyi di balik semak-semak itu," bisik Reno.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, sosok-sosok berjubah hitam muncul dari balik pohon. Mereka tidak lagi menyembunyikan diri. Salah satu dari mereka melangkah maju, tudung jubahnya terangkat, memperlihatkan wajahnya. Itu adalah Maleya wanita yang dikalahkan Reno di tepi danau.
Kali ini, ekspresi di wajahnya berbeda. Tidak ada lagi kebencian, melainkan rasa hormat dan kekhawatiran.
"Pewaris," panggil Maleya, suaranya terdengar lembut, "Tuan Malkar tahu kau sudah tiba. Dia mengirim kami untuk membawamu pulang."
"Kau tidak bisa menghentikanku," jawab Reno, ia siap untuk bertarung.
"Aku tidak datang untuk bertarung," Maleya menimpali, "Aku datang untuk memperingatkanmu."
Tiba-tiba, Maleya jatuh berlutut, memegang perutnya. Seorang pria lain yang mengenakan jubah hitam yang sama muncul di belakangnya.
Di tangannya ada sebuah belati yang meneteskan darah, "Pengkhianat," geramnya, "Beraninya kau mengkhianati Malkar!"
Reno terkejut. Ia tidak menyangka Maleya akan mengkhianati Sangkar Malam untuknya. Maleya menatap Reno, matanya memohon, "Lari, pewaris. Mereka terlalu kuat untukmu."
Namun, Reno menolak untuk lari. Ia tidak akan membiarkan Maleya mati. Reno menarik Pedang Penguasa Elemen dari tasnya. Cincinnya bersinar, dan energi dari pedang itu meresap ke dalam dirinya.
Reno menciptakan perisai dari elemen bumi untuk melindungi Maleya, lalu menyerang musuh dengan kecepatan angin.
"Reno, jangan gegabah!" teriak Pak Arya.
Reno mengabaikannya, ia tidak bisa lari. Ia harus bertarung. Ia mengayunkan pedangnya, menciptakan badai kecil yang melumpuhkan para musuh. Ia bertarung dengan kekuatan yang luar biasa. Ia tidak hanya menggunakan elemen, tetapi ia juga menggunakan belas kasihan. Ia tidak melenyapkan nyawa hanya melumpuhkan musuh-musuhnya.
Namun, di tengah pertarungan, ia merasakan sebuah ledakan energi dari belakang. Itu adalah Pak Arya. Reno menoleh ke belakang dan melihat Pak Arya berhadapan dengan salah satu anggota Sangkar Malam. Anggota itu lebih kuat, ia berhasil mengalahkan Pak Arya dan membuat pria tua itu tak sadarkan diri.
"Sekarang," kata anggota Sangkar Malam itu, sambil menatap Reno dengan senyum sinis, "Kau sendirian. Dan kami akan membawamu ke Malkar."
Reno berdiri diam, menatap Pak Arya yang tak sadarkan diri. Amarahnya membara. Ia mengarahkan pedangnya, dan bersumpah akan membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan.
****
Reno terdiam, menatap tubuh Pak Arya yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah. Amarah yang selama ini ia kendalikan, kini meledak. Ia tidak lagi peduli pada nasihat Pak Arya. Ia tidak peduli pada belas kasihan. Yang ia lihat hanyalah musuh di depannya, dan bersumpah untuk menghancurkan mereka.
Maleya yang masih terhuyung, berteriak, "Jangan, Pewaris! Jangan biarkan amarahmu menguasaimu!"
Namun, suara Maleya tenggelam dalam amarah Reno yang membara. Ia mengayunkan Pedang Penguasa Elemen, dan saat itu juga, energi dari pedang itu tidak lagi berwarna emas. Energi itu berubah menjadi merah darah, dan matanya menyala dengan kilatan yang sama. Reno tidak lagi merasakan dirinya. Ia merasakan kekuatan liar, kekuatan yang sama yang dirasakan saat dirinya dirampok. Ia tidak peduli hanya ingin membalas dendam.
Reno bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Ia melesat di antara musuh-musuhnya, mengayunkan pedangnya. Setiap ayunan menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan pepohonan.
Reno tidak lagi bertarung. Ia mengamuk, lalu melepaskan semua elemen dalam dirinya, api, air, udara, dan bumi, menghantam musuh-musuhnya dengan kekuatan yang luar biasa.
Para anggota Sangkar Malam yang tadinya percaya diri, kini ketakutan. Mereka tidak menyangka Reno bisa sekuat ini. Mereka mencoba kabur, tetapi tidak bisa. Reno tidak memberi mereka kesempatan. Ia mengejar mereka, mengayunkan pedangnya, dan melumpuhkan mereka satu per satu. Ia tidak melenyapkan, tetapi memastikan mereka tidak bisa bergerak.
Tiba-tiba, Reno merasakan nyeri di dadanya. Kekuatan itu terlalu besar untuk ditanggung. Tubuhnya terasa seperti akan meledak.
"Arrrgghh!"
Reno berteriak kesakitan, memegang kepalanya mencoba mengendalikan amarahnya. Tetapi amarah itu tidak bisa dikendalikan.
"Reno, kontrol dirimu!" teriak Maleya, "Kau akan mati jika terus seperti ini!"
Suara Maleya adalah satu-satunya suara yang bisa Reno dengar. Ia memejamkan mata, melihat wajah Ibu Sinta, teman-temannya di panti asuhan, dan Pak Arya yang tak sadarkan diri. Ia tahu bahwa tidak bisa membiarkan amarahnya menguasainya. Ia harus mengendalikan dirinya.
Reno memfokuskan pikirannya, ia mencari ketenangan. Ia mencari belas kasihan. Ia membiarkan kekuatan itu mengalir, tetapi ia tidak membiarkannya menguasai dirinya. Ia merasakan amarah itu mereda, dan kekuatan itu kembali ke warna keemasan. Ia kembali menjadi dirinya sendiri.
Reno menatap musuh-musuhnya yang tergeletak tak berdaya di tanah. Ia merasa lemas, tetapi juga merasa bangga. Ia tidak menyerah pada amarahnya. Ia telah mengendalikan dirinya sendiri.
Reno terhuyung, ia menjatuhkan pedangnya, dan berlari menuju Pak Arya. Ia berlutut di sampingnya, memegang tangan pria tua itu, "Pak Arya, bangun! Bangun, Pak!"
Pak Arya membuka matanya perlahan, melihat Reno dan tersenyum, "Kau berhasil, Nak. Kau telah menguasai amarahmu."
Reno membantu Pak Arya berdiri. Ia melihat Maleya yang masih terhuyung-huyung. Ia menatap Reno dan mengangguk, "Aku tahu sekarang. Kamu berbeda dari Malkar. Kamu adalah pemimpin yang sesungguhnya."
Tiba-tiba, Maleya mengeluarkan sebuah kristal kecil dari sakunya. "Ini adalah peta. Ini akan membawamu ke markas Sangkar Malam. Malkar ada di sana. Tapi hati-hati, ada pengkhianat di sana. Dia adalah mata-mata Malkar di klanmu."
Maleya kemudian menghilang, meninggalkan Reno dan Pak Arya sendirian. Reno menatap kristal itu, lalu menatap Pak Arya, "Pengkhianat? Siapa?"
Pak Arya tidak menjawab. Ia hanya menatap Reno dengan tatapan sedih, "Mari kita kembali ke toko. Kamu perlu istirahat, dan aku harus menyembuhkanmu."
Reno tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Ia telah mengalahkan musuh pertamanya, tetapi akan menghadapi musuh yang lebih kuat. Ia memiliki peta, pedang, dan sebuah tekad. Ia siap untuk menghadapi Malkar, tetapi ada pengkhianat yang menunggu di sana. Dan ia tidak tahu siapa pengkhianat itu.
Ia tidak hanya bisa merasakan aura kegelapan Sangkar Malam, tetapi ia juga bisa membedakan jumlah mereka. Ada empat orang, dan tersebar, mencoba mengepung mereka. Reno menghentikan langkahnya, ia mengangkat tangan, lalu memberi isyarat pada Pak Arya untuk bersembunyi.
"Tunggu, mereka datang dari depan, kita harus bersembunyi di balik semak-semak itu," bisik Reno.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, sosok-sosok berjubah hitam muncul dari balik pohon. Mereka tidak lagi menyembunyikan diri. Salah satu dari mereka melangkah maju, tudung jubahnya terangkat, memperlihatkan wajahnya. Itu adalah Maleya wanita yang dikalahkan Reno di tepi danau.
Kali ini, ekspresi di wajahnya berbeda. Tidak ada lagi kebencian, melainkan rasa hormat dan kekhawatiran.
"Pewaris," panggil Maleya, suaranya terdengar lembut, "Tuan Malkar tahu kau sudah tiba. Dia mengirim kami untuk membawamu pulang."
"Kau tidak bisa menghentikanku," jawab Reno, ia siap untuk bertarung.
"Aku tidak datang untuk bertarung," Maleya menimpali, "Aku datang untuk memperingatkanmu."
Tiba-tiba, Maleya jatuh berlutut, memegang perutnya. Seorang pria lain yang mengenakan jubah hitam yang sama muncul di belakangnya.
Di tangannya ada sebuah belati yang meneteskan darah, "Pengkhianat," geramnya, "Beraninya kau mengkhianati Malkar!"
Reno terkejut. Ia tidak menyangka Maleya akan mengkhianati Sangkar Malam untuknya. Maleya menatap Reno, matanya memohon, "Lari, pewaris. Mereka terlalu kuat untukmu."
Namun, Reno menolak untuk lari. Ia tidak akan membiarkan Maleya mati. Reno menarik Pedang Penguasa Elemen dari tasnya. Cincinnya bersinar, dan energi dari pedang itu meresap ke dalam dirinya.
Reno menciptakan perisai dari elemen bumi untuk melindungi Maleya, lalu menyerang musuh dengan kecepatan angin.
"Reno, jangan gegabah!" teriak Pak Arya.
Reno mengabaikannya, ia tidak bisa lari. Ia harus bertarung. Ia mengayunkan pedangnya, menciptakan badai kecil yang melumpuhkan para musuh. Ia bertarung dengan kekuatan yang luar biasa. Ia tidak hanya menggunakan elemen, tetapi ia juga menggunakan belas kasihan. Ia tidak melenyapkan nyawa hanya melumpuhkan musuh-musuhnya.
Namun, di tengah pertarungan, ia merasakan sebuah ledakan energi dari belakang. Itu adalah Pak Arya. Reno menoleh ke belakang dan melihat Pak Arya berhadapan dengan salah satu anggota Sangkar Malam. Anggota itu lebih kuat, ia berhasil mengalahkan Pak Arya dan membuat pria tua itu tak sadarkan diri.
"Sekarang," kata anggota Sangkar Malam itu, sambil menatap Reno dengan senyum sinis, "Kau sendirian. Dan kami akan membawamu ke Malkar."
Reno berdiri diam, menatap Pak Arya yang tak sadarkan diri. Amarahnya membara. Ia mengarahkan pedangnya, dan bersumpah akan membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan.
****
Reno terdiam, menatap tubuh Pak Arya yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah. Amarah yang selama ini ia kendalikan, kini meledak. Ia tidak lagi peduli pada nasihat Pak Arya. Ia tidak peduli pada belas kasihan. Yang ia lihat hanyalah musuh di depannya, dan bersumpah untuk menghancurkan mereka.
Maleya yang masih terhuyung, berteriak, "Jangan, Pewaris! Jangan biarkan amarahmu menguasaimu!"
Namun, suara Maleya tenggelam dalam amarah Reno yang membara. Ia mengayunkan Pedang Penguasa Elemen, dan saat itu juga, energi dari pedang itu tidak lagi berwarna emas. Energi itu berubah menjadi merah darah, dan matanya menyala dengan kilatan yang sama. Reno tidak lagi merasakan dirinya. Ia merasakan kekuatan liar, kekuatan yang sama yang dirasakan saat dirinya dirampok. Ia tidak peduli hanya ingin membalas dendam.
Reno bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Ia melesat di antara musuh-musuhnya, mengayunkan pedangnya. Setiap ayunan menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan pepohonan.
Reno tidak lagi bertarung. Ia mengamuk, lalu melepaskan semua elemen dalam dirinya, api, air, udara, dan bumi, menghantam musuh-musuhnya dengan kekuatan yang luar biasa.
Para anggota Sangkar Malam yang tadinya percaya diri, kini ketakutan. Mereka tidak menyangka Reno bisa sekuat ini. Mereka mencoba kabur, tetapi tidak bisa. Reno tidak memberi mereka kesempatan. Ia mengejar mereka, mengayunkan pedangnya, dan melumpuhkan mereka satu per satu. Ia tidak melenyapkan, tetapi memastikan mereka tidak bisa bergerak.
Tiba-tiba, Reno merasakan nyeri di dadanya. Kekuatan itu terlalu besar untuk ditanggung. Tubuhnya terasa seperti akan meledak.
"Arrrgghh!"
Reno berteriak kesakitan, memegang kepalanya mencoba mengendalikan amarahnya. Tetapi amarah itu tidak bisa dikendalikan.
"Reno, kontrol dirimu!" teriak Maleya, "Kau akan mati jika terus seperti ini!"
Suara Maleya adalah satu-satunya suara yang bisa Reno dengar. Ia memejamkan mata, melihat wajah Ibu Sinta, teman-temannya di panti asuhan, dan Pak Arya yang tak sadarkan diri. Ia tahu bahwa tidak bisa membiarkan amarahnya menguasainya. Ia harus mengendalikan dirinya.
Reno memfokuskan pikirannya, ia mencari ketenangan. Ia mencari belas kasihan. Ia membiarkan kekuatan itu mengalir, tetapi ia tidak membiarkannya menguasai dirinya. Ia merasakan amarah itu mereda, dan kekuatan itu kembali ke warna keemasan. Ia kembali menjadi dirinya sendiri.
Reno menatap musuh-musuhnya yang tergeletak tak berdaya di tanah. Ia merasa lemas, tetapi juga merasa bangga. Ia tidak menyerah pada amarahnya. Ia telah mengendalikan dirinya sendiri.
Reno terhuyung, ia menjatuhkan pedangnya, dan berlari menuju Pak Arya. Ia berlutut di sampingnya, memegang tangan pria tua itu, "Pak Arya, bangun! Bangun, Pak!"
Pak Arya membuka matanya perlahan, melihat Reno dan tersenyum, "Kau berhasil, Nak. Kau telah menguasai amarahmu."
Reno membantu Pak Arya berdiri. Ia melihat Maleya yang masih terhuyung-huyung. Ia menatap Reno dan mengangguk, "Aku tahu sekarang. Kamu berbeda dari Malkar. Kamu adalah pemimpin yang sesungguhnya."
Tiba-tiba, Maleya mengeluarkan sebuah kristal kecil dari sakunya. "Ini adalah peta. Ini akan membawamu ke markas Sangkar Malam. Malkar ada di sana. Tapi hati-hati, ada pengkhianat di sana. Dia adalah mata-mata Malkar di klanmu."
Maleya kemudian menghilang, meninggalkan Reno dan Pak Arya sendirian. Reno menatap kristal itu, lalu menatap Pak Arya, "Pengkhianat? Siapa?"
Pak Arya tidak menjawab. Ia hanya menatap Reno dengan tatapan sedih, "Mari kita kembali ke toko. Kamu perlu istirahat, dan aku harus menyembuhkanmu."
Reno tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Ia telah mengalahkan musuh pertamanya, tetapi akan menghadapi musuh yang lebih kuat. Ia memiliki peta, pedang, dan sebuah tekad. Ia siap untuk menghadapi Malkar, tetapi ada pengkhianat yang menunggu di sana. Dan ia tidak tahu siapa pengkhianat itu.
Other Stories
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Dentistry Melody
Stella hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter gigi, bermain biola, dan bersama Ron ...