Manusia Setengah Siluman

Reads
793
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Manusia setengah siluman
Manusia Setengah Siluman
Penulis Moycha Zia

Chapter 7 Rahasia Ayah Reno

Reno dan Pak Arya kembali ke toko antik dengan hati yang berat. Pak Arya segera mengobati luka Reno, dan meskipun luka itu kecil berkat kekuatan regenerasinya, kelelahan mentalnya jauh lebih besar. Reno duduk di kursi, memegang kristal yang diberikan Maleya.

Peta holografik dari kristal itu menunjuk ke sebuah gunung terpencil di utara. Namun, bukan peta itu yang mengganggu Reno, melainkan kata-kata terakhir Maleya, "Ada pengkhianat di sana. Dia adalah mata-mata Malkar di klanmu."

"Pak Arya," Reno memulai, suaranya serak, "Siapa pengkhianat itu? Apakah dia ada di klan kita?"

Pak Arya menghela napas panjang. Ia menatap Reno dengan ekspresi yang sulit diartikan, "Reno, ada sesuatu yang belum kukatakan padamu."

Pak Arya kemudian menceritakan sebuah rahasia yang ia simpan selama bertahun-tahun, "Ayahmu, Nareswara, adalah pemimpin Klan Penguasa Elemen. Klan kita berjuang untuk keseimbangan, untuk melindungi alam dan manusia. Tapi, ayahmu memiliki seorang adik laki-laki, saudara kandung yang sangat ia sayangi, namanya Raka."

Reno menatapnya, bingung. Ia tidak pernah tahu ayahnya punya saudara.

"Raka cemburu pada kekuatan ayahmu. Dia percaya bahwa kekuatan harus digunakan untuk menguasai, bukan melindungi. Dia bergabung dengan Malkar dan menjadi tangan kanannya. Dia adalah pengkhianat yang Rina maksud."

Reno terkejut. Saudara kandung ayahnya sendiri, yang melenyapkan ayahnya. Itu adalah pengkhianatan yang paling kejam.

Reno merasa marah, tetapi juga sedih. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ayahnya saat dikhianati oleh saudaranya sendiri.

"Malkar melenyapkan ayahmu, tapi Raka yang membukakan jalan untuknya," jelas Pak Arya, "Raka adalah seorang siluman yang kuat. Dia mengendalikan elemen bayangan. Dia bergerak dalam kegelapan dan tidak meninggalkan jejak. Dia adalah mata-mata yang sempurna untuk Malkar."

"Jadi, kita tidak bisa mempercayai siapa pun?" tanya Reno, suaranya dipenuhi kekecewaan.

"Tidak, Nak. Kamu bisa mempercayaiku," jawab Pak Arya, menatap mata Reno dengan tulus, "Aku adalah pengawal ayahmu, dan bersumpah untuk melindungimu. Aku adalah satu-satunya yang tersisa yang bisa membimbingmu."

Reno menatap Pak Arya, dan ia tahu bahwa pria tua ini adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya. Ia memiliki cincin ayahnya, ia memiliki pedang yang dibuat khusus untuknya, dan memiliki Pak Arya yang setia. Ia tidak lagi sendiri. Ia memiliki takdir yang harus di genggam, dan tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan saudara ayahnya sendiri, menghentikannya.

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Reno.

"Kita akan kembali ke markas klan," jawab Pak Arya, "Kita harus memperingatkan mereka. Dan kita akan bersiap untuk menghadapi Malkar dan pengkhianatnya."

Reno mengangguk. Ia tidak tahu apa yang menantinya di markas klan, tetapi ia harus pergi. Ia harus menghadapi Raka, ia membalas dendam ayahnya, dan melindungi dunia. Perjalanan yang ia mulai sebagai anak yatim piatu yang dirampok, kini menjadi sebuah misi untuk menyelamatkan dunia.

****
Reno dan Pak Arya kini memiliki tujuan yang jelas: kembali ke markas Klan Penguasa Elemen, memperingatkan mereka tentang bahaya yang akan datang, dan mencari tahu apa yang terjadi pada ayahnya.

Peta dari kristal yang diberikan Maleya menunjukkan sebuah rute yang aman, tersembunyi dari jalur yang biasa digunakan oleh Sangkar Malam. Mereka berjalan sepanjang malam dan siang, melewati gunung-gunung dan hutan-hutan lebat.

Selama perjalanan, Pak Arya menceritakan lebih banyak tentang ayahnya dan Raka. "Raka adalah adik yang cemburu," kata Pak Arya, matanya menerawang, "Ia selalu merasa tidak dihargai. Ayahmu, Nareswara selalu mencoba melindunginya, tetapi Raka tidak pernah merasa cukup. Ketika Malkar datang, Raka melihat kesempatan untuk menjadi kuat. Ia meninggalkan klannya, ayahnya, dan bahkan saudaranya sendiri hanya untuk kekuasaan."

Reno mendengarkan dengan hati yang hancur. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ayahnya saat dikhianati oleh saudaranya sendiri, "Jadi, Raka dan Malkar bekerja sama?" tanya Reno.

"Ya. Malkar memiliki kekuatan yang sama dengan Raka, elemen bayangan. Mereka adalah pasangan yang mematikan," jawab Pak Arya, "Itulah kenapa ayahmu sangat berhati-hati. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan mereka adalah dengan kekuatan gabungan dari semua elemen."

Reno mengepalkan tinjunya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus menguasai semua elemen, tidak hanya untuk melindungi dirinya, tetapi juga untuk mengakhiri kejahatan Malkar dan Raka.

Setelah beberapa hari perjalanan, mereka akhirnya tiba di sebuah lembah tersembunyi. Di tengah lembah, tersembunyi di balik kabut, tampak sebuah gerbang batu yang besar.

Gerbang itu diukir dengan simbol yang sama dengan yang ada di cincin Reno. Itu adalah pintu masuk menuju markas Klan Penguasa Elemen.

Pak Arya meletakkan tangannya di gerbang. Cincin Reno bersinar, dan gerbang itu bergetar, lalu terbuka perlahan.

Mereka masuk, dan Reno terperangah. Di dalamnya, ada sebuah desa yang indah, dikelilingi oleh pepohonan raksasa dan sungai yang mengalir deras. Reno bisa merasakan energi yang kuat dari desa itu, dan merasakan dalam dirinya sendiri.

Namun, di tengah keindahan itu, Reno merasakan sesuatu yang salah. Udara terasa tegang. Tidak ada anak-anak yang bermain, dan orang yang berbicara. Semua orang menatap mereka dengan tatapan curiga dan penuh kekhawatiran.

"Pak Arya," bisik Reno, "Apa yang terjadi?"

"Aku tidak tahu," jawab Pak Arya, matanya waspada, "Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sini."

Saat mereka berjalan menuju pusat desa, Reno melihat seorang pria tua dengan jubah hitam, berdiri di depan sebuah patung raksasa yang dibuat dari batu.

Patung itu adalah patung ayahnya. Reno tahu bahwa pria itu adalah Raka. Ia tidak lagi menyembunyikan dirinya. Ia menunggunya.

Reno mengepalkan tinjunya. Ia siap untuk menghadapi Raka dan membalaskan dendam ayahnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya.

****

Reno dan Pak Arya melangkah maju, melewati tatapan dingin para anggota klan. Mereka semua tampak tegang, ketakutan, dan putus asa.

Di tengah alun-alun, di depan patung batu ayahnya berdiri, seorang pria paruh baya berjubah hitam, rambutnya memutih, dan matanya memancarkan aura kegelapan. Itu adalah Raka, adik dari mendiang ayahnya. Di sisinya, seorang wanita muda berdiri diam dengan tatapannya kosong.

"Selamat datang, Reno," sapa Raka, suaranya halus, tetapi penuh ancaman, "Aku sudah menunggumu."

Reno menatapnya, amarahnya membara. "Kau adalah pengkhianat. Kau yang telah melenyapkan ayahku!"

Raka tertawa sinis, "Aku tidak melenyapkannya. Aku hanya menunjukkan padanya bahwa jalannya salah. Kau tahu, Nareswara selalu bodoh. Dia percaya bahwa manusia dan siluman bisa hidup berdampingan. Kekuatan kita seharusnya digunakan untuk menguasai, bukan melayani."

"Kau salah!" balas Reno, "Kekuatan ini adalah anugerah, bukan kutukan."

"Bodoh seperti Nareswara," gumam Raka, matanya memancarkan kebencian, "Kau datang ke sini, membawa cincin yang seharusnya menjadi milikku. Dan kau membawa wanita itu."
Raka menunjuk ke arah Pak Arya, "Pria tua itu juga pengkhianat. Dia menyembunyikanmu. Aku harus menghukumnya."

Raka mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, dari kegelapan di belakang Reno, muncul dua sosok. Mereka adalah anggota Sangkar Malam. Salah satunya maju dan menendang Pak Arya hingga jatuh.

Reno terkejut. Ia tidak menyangka Raka akan menyerang Pak Arya. Ia melangkah maju dan siap untuk bertarung.

Namun, Raka hanya tertawa, "Jangan, Reno. Kau tidak akan bisa melawanku. Aku adalah penguasa bayangan. Kau hanya seorang anak kecil yang baru belajar mengendalikan kekuatanmu."

"Aku tidak takut padamu," kata Reno, tangannya mengepal.

"Bagus," kata Raka, senyumnya semakin lebar, "Aku suka semangatmu. Tapi itu tidak akan membantumu. Kau tahu, aku sudah menguasai tempat ini. Semua anggota klan di sini, mereka sudah berpihak padaku. Mereka tahu bahwa aku akan membawa masa depan yang lebih baik. Masa depan di mana kita menguasai dunia."

Reno melihat ke sekeliling. Wajah-wajah yang tadinya curiga kini terlihat penuh ketakutan. Mereka tidak berani melawan Raka. Reno menyadari bahwa ia sendirian. Ia tidak bisa melawan Raka dan seluruh klan.

"Ini bukan akhir dari pertarungan," bisik Reno, mundur selangkah, "Aku akan kembali."

Raka tertawa terbahak-bahak "Tentu saja. Kami akan menunggumu. Tapi ketika kau kembali, kami akan lebih siap. Dan kami akan mengambil cincin itu darimu."

Reno mengambil Pak Arya yang tidak sadarkan diri, dan ia menghilang di balik gerbang. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia telah dikhianati. Ia telah kalah. Tapi ia tidak akan menyerah.

Reno tahu bahwa harus melarikan diri. Ia harus mempersiapkan dirinya. Ia harus mencari sekutu yang bisa membantunya.

Dan ia bersumpah akan kembali untuk membalas dendam ayahnya, dan untuk mengakhiri kejahatan Raka dan Malkar untuk selamanya.


Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Download Titik & Koma