Chapter 8 Misi Penyamaran
Reno membawa Pak Arya yang tak sadarkan diri kembali ke gua suci di bawah Air Terjun Kaca Langit. Ia merasa hancur.
Bukan hanya karena ia telah kalah, tetapi juga karena pengkhianatan Raka. Ia tidak menyangka bahwa saudaranya sendiri akan mengkhianati ayahnya dan klannya. Reno merawat Pak Arya, mengobati luka-lukanya, dan menunggu pria tua itu sadar.
Ketika Pak Arya membuka matanya, ia melihat tatapan putus asa di mata Reno. "Aku gagal, Pak," bisik Reno, "Aku tidak bisa melindungi siapa pun."
"Kau tidak gagal, Nak," kata Pak Arya, suaranya lemah, "Kau telah belajar sesuatu yang lebih penting dari sekadar pertarungan. Kau belajar bahwa tidak semua pertarungan bisa dimenangkan dengan kekuatan. Kau juga telah belajar tentang pengkhianatan."
Reno terdiam. Ia tidak bisa melupakan tatapan mata Raka. Tatapan mata yang sama dengan yang ia lihat pada perampok, tatapan mata yang dipenuhi keserakahan dan kebencian.
"Raka adalah bayangan dari dirimu, Nak," kata Pak Arya, seolah bisa membaca pikiran Reno, "Dia memilih jalan kegelapan, sedangkan ayahmu memilih jalan cahaya. Sekarang, kamu yang harus memilih jalanmu sendiri."
Reno mengepalkan tinjunya. Ia tahu apa yang harus di lakukan. Ia tidak akan menyerah, dan membiarkan Raka dan Malkar menang.
"Aku akan kembali ke markas klan, Pak," kata Reno, matanya memancarkan tekad, "Aku akan membebaskan mereka dari Raka dan Malkar. Aku akan mengembalikan kehormatan ayahku."
Pak Arya tersenyum, "Ayahmu akan bangga padamu, Nak. Tapi kau tidak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh sekutu."
Reno bingung, "Siapa?"
"Ingat Maleya?" jawab Pak Arya, "Dia tidak berpihak pada Raka dan Malkar. Dia melihat belas kasihanmu. Aku yakin dia akan membantumu. Dan ada satu orang lagi. Seorang anggota klan yang setia pada ayahmu, namanya Linza. Dia berhasil lolos dari pengkhianatan Raka. Dia adalah seorang ahli strategi. Dia bisa membantumu."
Reno merasa lega. Ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki Pak Arya, Maleya, dan Linza. Ia tidak tahu di mana mereka, tetapi ia harus menemukan mereka.
Reno memegang Pedang Penguasa Elemen di tangannya. Ia tahu bahwa ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Ia berjuang untuk klannya, ayahnya, dan dunia. Ia akan menjadi seorang pemimpin, seorang pahlawan yang akan membawa keadilan kembali.
Perjalanan Reno kini dimulai. Ini adalah perjalanan menuju keadilan, membalas dendam ayahnya, dan mengembalikan kehormatan klan yang telah dikhianati.
****
Reno dan Pak Arya kini memiliki misi baru: menemukan Linza dan Maleya. Peta kristal dari Maleya menunjukkan sebuah kota pelabuhan kecil yang jauh di sebelah barat. Reno memutuskan untuk pergi ke sana terlebih dahulu, berharap Maleya akan pergi ke tempat netral untuk menyembuhkan lukanya. Mereka berjalan berhari-hari, menyusuri jalan setapak dan menghindari kota-kota besar untuk tidak menarik perhatian Sangkar Malam.
Selama perjalanan, Reno dan Pak Arya berdiskusi tentang strategi. "Kita tidak bisa melawan Malkar dan Raka secara langsung," kata Pak Arya, "Kekuatan mereka terlalu besar. Kita butuh rencana yang matang. Kita butuh informasi."
"Tapi bagaimana kita bisa mendapatkan informasi?" tanya Reno.
"Kita akan menyusup," jawab Pak Arya, "Markas Sangkar Malam ada di bawah tanah, tersembunyi. Kita tidak bisa masuk tanpa pengenal. Tapi aku tahu ada seorang ahli strategi yang bisa membantu kita. Dia adalah Linza, anggota klan yang sangat setia pada ayahmu. Dia berhasil lolos dari pengkhianatan Raka, dan dia pasti menyembunyikan dirinya."
Reno mengangguk, ia merasa sedikit lega. Setidaknya, mereka punya harapan. Setelah beberapa hari perjalanan, mereka akhirnya tiba di sebuah kota pelabuhan kecil yang ramai.
Kota itu dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai ras dan latar belakang. Reno merasa terkesan belum pernah melihat dunia yang begitu luas.
Mereka mulai mencari Linza dan Maleya. Mereka bertanya pada orang-orang di pelabuhan, tetapi tidak ada yang tahu. Mereka mencari di kedai-kedai, tetapi tidak ada yang pernah mendengar nama mereka. Reno merasa putus asa.
"Bagaimana jika mereka tidak ada di sini?" tanya Reno, suaranya dipenuhi kekecewaan.
"Kita tidak boleh menyerah," jawab Pak Arya, menenangkan, "Kita akan mencarinya lagi."
Saat mereka berjalan di gang-gang sempit, mereka mendengar suara perkelahian dari sebuah bar. Reno dan Pak Arya melihat ke dalam, dan melihat seorang wanita muda yang dikelilingi oleh sekelompok pria. Wanita itu sangat lincah melawan mereka dengan belati kecil, melumpuhkan mereka satu per satu. Ia bertarung dengan gaya yang sama dengan yang Reno lihat dari Maleya.
"Itu dia," bisik Reno, "Itu pasti Maleya."
Mereka berdua masuk ke dalam bar, dan Reno segera maju untuk membantu Maleya. Ia menggunakan kekuatannya untuk melumpuhkan sisa-sisa pria itu. Maleya yang terkejut, menatap Reno dengan tatapan tidak percaya, "Pewaris? Kenapa kau di sini?"
"Aku di sini untuk membantumu," jawab Reno, "Dan aku butuh bantuanmu."
Maleya ragu-ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Ikut aku," bisiknya, "Ada orang lain yang ingin bertemu denganmu."
Maleya membawa Reno dan Pak Arya ke sebuah ruangan kecil di belakang bar.
Di sana, seorang wanita tua dengan rambut perak dan mata yang tajam sedang duduk di meja, menatap sebuah peta. Wajahnya dipenuhi dengan kebijaksanaan dan ketenangan.
"Kau datang juga, Nak," kata wanita itu, "Namaku Linza. Aku sudah menunggumu."
Reno merasa terkejut, sekaligus lega. Ia telah menemukan sekutunya. Ia tidak lagi sendiri. Ia memiliki Maleya, seorang pejuang yang setia, dan memiliki Linza, seorang ahli strategi. Ia siap untuk kembali ke markas klan, menghadapi Malkar dan Raka, dan membalaskan dendam ayahnya.
****
Reno dan Pak Arya kini berada di ruangan kecil yang sama dengan Maleya dan Linza. Reno merasa lega. Setelah berhari-hari merasa sendirian dan putus asa, akhirnya menemukan sekutu. Linza, seorang wanita tua dengan mata yang tajam dan bijaksana, adalah seorang ahli strategi yang dihormati di klan. Maleya, seorang pejuang yang kuat, adalah orang yang mengkhianati Malkar untuk membantu Reno.
Linza menatap Reno dengan ekspresi penuh harap, "Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku tahu kau adalah pewaris yang sesungguhnya. Dan aku tahu kau datang untuk membalas dendam ayahmu."
Reno mengangguk, "Aku ingin menghentikan Raka dan Malkar. Mereka telah mengambil alih klan, dan mereka akan mengambil alih dunia."
"Aku setuju," kata Linza, menunjuk ke peta di atas meja, "Tapi kita tidak bisa melawan mereka secara langsung. Mereka terlalu kuat. Kita butuh rencana yang matang."
Linza kemudian menjelaskan rencananya, "Markas Sangkar Malam ada di bawah tanah, sebuah gunung berapi yang aktif. Mereka menggunakan panas dari gunung berapi itu untuk membuat senjata dan melatih prajurit. Kita tidak bisa menyerang dari depan."
"Lalu, bagaimana kita akan masuk?" tanya Reno.
"Ada sebuah terowongan rahasia yang hanya diketahui oleh beberapa anggota klan. Itu adalah jalur yang dibuat oleh ayahmu. Terowongan itu akan membawa kita langsung ke jantung markas mereka," jelas Linza.
"Tapi bagaimana kita akan melewati mereka?" tanya Maleya.
"Kita akan menyusup," jawab Linza, "Kita akan menggunakan penyamaran. Kita akan menyelinap ke dalam markas, dan menyerang saat mereka lengah. Reno, kau akan menggunakan pedangmu untuk menghancurkan inti energi mereka. Setelah inti energi mereka hancur, kekuatan mereka akan melemah, dan kita bisa mengalahkan mereka."
Reno mengangguk, ia setuju. Rencana itu terdengar berbahaya, tetapi itu adalah satu-satunya cara untuk menang.
"Tapi bagaimana jika mereka tahu kita ada di sana?" tanya Reno. "Raka dan Malkar pasti bisa merasakan kekuatanku."
"Mereka memang akan merasakannya," jawab Linza, "Itulah kenapa kita harus bergerak cepat. Kita hanya punya satu kesempatan. Kita harus menyerang mereka saat tidak siap. Kita akan menunggu sampai mereka mengadakan upacara, dan semua berkumpul. Itulah saat yang tepat untuk menyerang."
Reno menatap Pak Arya, Maleya, dan Linza. Ia merasa bersemangat, tetapi juga takut. Ia tahu bahwa ini adalah pertarungan yang paling berbahaya dalam hidupnya. Ia tidak lagi berjuang sendirian. Ia berjuang untuk klannya, ayahnya, dan dunia. Dan ia tidak akan menyerah.
****
Reno, Pak Arya, Maleya, dan Linza kini berada di sebuah perbatasan, di mana markas Sangkar Malam berada. Markas itu terletak di dalam sebuah gunung berapi yang tidak aktif. Peta dari kristal menunjukkan terowongan rahasia yang Reno harus temukan untuk menyusup.
Linza memberikan Reno jubah hitam yang sama dengan yang dipakai anggota Sangkar Malam. "Ini adalah penyamaranmu," kata Lina, "Dengan jubah ini, kau akan terlihat seperti anggota mereka. Tapi kau harus hati-hati. Mereka bisa merasakan kekuatanmu."
"Aku akan mencoba mengendalikan kekuatanku," jawab Reno.
"Kita akan menyusup saat matahari terbenam," kata Linza, "Itu adalah waktu yang tepat untuk kita masuk."
Saat matahari mulai terbenam, Reno dan Maleya berjalan menuju gunung. Reno merasa gugup. Ia tidak tahu apa yang menantinya di dalam. Ia tahu bahwa harus siap menghadapi apa pun.
Mereka menemukan terowongan rahasia yang ditunjukkan Linza.
Terowongan itu gelap dan berbau belerang. Mereka berjalan perlahan, mencoba tidak membuat suara. Reno merasakan energi yang kuat dan gelap dari dalam terowongan. Ia tahu bahwa semakin dekat dengan markas Sangkar Malam.
Ketika mereka sampai di ujung terowongan, mereka melihat sebuah ruang besar yang dipenuhi dengan lava yang mengalir. Di sana ada ratusan anggota Sangkar Malam sedang berlatih. Mereka semua mengenakan jubah hitam, mata mereka bersinar merah. Mereka adalah pasukan yang siap untuk perang.
Reno dan Maleya berhasil menyusup, mereka berjalan di antara para anggota Sangkar Malam. Mereka melihat ke arah pusat ruangan, dan melihat Malkar dan Raka berdiri di atas sebuah singgasana sedang mengawasi para anggota mereka.
Reno merasakan amarah membara di dalam dirinya. Ia melihat Raka, saudara ayahnya sendiri yang telah mengkhianatinya. Ia melihat Malkar yang kini menguasai klan. Reno ingin menyerang, tetapi Maleya menghentikannya.
"Jangan," bisik Maleya, "Kita belum siap. Kita harus menunggu sampai upacara dimulai."
Reno menuruti Maleya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tahu bahwa ini adalah pertarungan yang paling penting. Ia harus bersabar. Ia harus menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Reno menuruti Maleya. Mereka menyusup, bersembunyi di balik pilar-pilar batu yang besar, mengawasi setiap pergerakan anggota Sangkar Malam. Ia merasakan kebencian dan kejahatan di sekitar mereka. Ia tahu bahwa Malkar dan Raka adalah ancaman bagi dunia.
"Ini dia," bisik Maleya, "upacara akan dimulai."
Malkar berdiri, mengangkat tangannya, dan semua anggota Sangkar Malam berlutut. Raka, di sisinya, tersenyum sinis, "Saudaraku, jika kau melihat ini, ketahuilah bahwa kau telah gagal. Kekuatan yang kau miliki, kini menjadi milikku."
Reno mencengkeram erat cincinnya. Amarahnya kembali membara. Ia tahu bahwa tidak bisa menunggu lebih lama. Ia harus bertindak.
Namun, saat ia bersiap untuk menyerang, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasakan energi yang sama dengan energinya sendiri. Energi yang kuat dan murni, bukan energi yang gelap dari Sangkar Malam. Ia menoleh ke belakang, dan melihat dua sosok lain yang mengenakan jubah hitam sedang berdiri di belakang pilar.
"Aku tahu kau di sini, Reno," bisik salah satu sosok itu, "Dan aku tahu kau datang untuk membalas dendam."
Reno tidak tahu siapa mereka, tetapi ia tahu bahwa mereka bukan dari Sangkar Malam. Ia merasakan energi yang sama dengan yang ia rasakan dari ayahnya. Ia tahu bahwa mereka adalah sekutu.
"Siapa kalian?" bisik Reno.
"Kami adalah teman ayahmu," jawab salah satu sosok itu, "Dan kami akan membantumu. Kami akan menyerang dari belakang, sementara kau dan Maleya menyerang dari depan. Kita akan mengalahkan Malkar dan Raka bersama."
Reno merasa lega. Ia tidak lagi sendiri. Ia memiliki Maleya, Linza, Pak Arya, dan sekarang, ia memiliki sekutu baru. Ia siap untuk bertarung. Ia siap untuk mengakhiri kejahatan Malkar dan Raka.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
O
o ...