Queen, The Last Dance

Reads
881
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Queen, the last dance
Queen, The Last Dance
Penulis Moycha Zia

Chapter 1 Sepatu Ballet Pink

Di antara ribuan sepatu balet di dunia, milik Queen hanya ada satu. Bukan karena harganya yang mahal, melainkan karena setiap jahitannya adalah saksi bisu dari tetesan keringat dan perjuangan.

Sepatu balet berwarna pink dengan tali yang sudah menipis, di bagian tumitnya disulam dengan benang emas oleh almarhum neneknya. Itu bukan hanya sepasang sepatu, tetapi peninggalan berharga, pengingat janji, dan simbol dari setiap mimpi yang telah ia genggam erat.

Pagi itu, di ruang rias yang hening, Queen memandangi sepatu itu. Ruangan yang seharusnya terasa seperti medan perang, kini terasa sakral. Aroma bedak tabur dan pendingin ruangan bercampur, menciptakan wangi yang khas.

Waktu seakan berhenti. "Kau tahu, kita akan melakukan ini bersama," bisiknya lembut, suaranya dipenuhi gema harapan yang tak tergoyahkan, "Aku dan kau, kita akan terbang sekali lagi."
Ia teringat kata-kata ibunya, "Menarilah bukan hanya dengan kakimu, Queen. Menarilah dengan jiwamu." Nasihat itu bukan sekadar kalimat, melainkan melodi yang mengalir dalam darahnya. Itu adalah pengingat bahwa tarian adalah bagian dari dirinya, bukan hanya gerakan fisik.

Musik mulai mengalun dari panggung. Detak jantung Queen berpacu, mengiringi irama. Panggung yang besar itu terasa begitu intim. Ia melangkah, dan lampu sorot menyinari dirinya, membuat serpihan debu di udara tampak seperti butiran berlian yang menari. Ia adalah Queen, sang ratu panggung, dan malam ini, ia akan membuktikan itu.

Ketika ia berputar, gaun baletnya yang berwarna putih seperti kelopak bunga yang mekar, memikat setiap mata yang memandang.

Sorak-sorai penonton menggema menjadi musik yang mengiringi setiap gerakannya. Di balik senyum yang memukau, ia menahan napas, menikmati setiap detik yang dimilikinya. Ia merasa seperti berada di puncak dunia, piala dan penghargaan di depan mata. Ia yakin, inilah takdirnya. Tak ada keraguan, atau ketakutan hanya ada impian yang menjadi nyata.

Other Stories
Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma