Chapter 6 Operasi Bakso Urat
Mahera dan Maizena duduk di teras kosan, keesokan harinya. Maizena masih terlihat waspada, sementara Mahera sudah memasang tampang serius, seperti seorang jenderal yang sedang merencanakan operasi militer. "Gue enggak mau lagi ke dapur," Maizena berbisik, memecah keheningan, "Terus gimana nasib kita kalau kelaparan?"
Mahera menepuk pundak Maizena, "Tenang. Kita butuh aliansi."
"Aliansi? Dengan hantu? Lo gila?" Maizena menatapnya horor, seolah Mahera baru saja mengusulkan untuk menjadi pengikut sekte sesat.
"Gue curiga," Mahera menimbang kata-katanya, "Hantu-hantu di sini punya semacam perjanjian sama Bu Haji. Mereka minta bakso urat, kan? Itu aneh. Hantu enggak makan. Jadi, mereka butuh bakso itu untuk sesuatu. Mungkin itu semacam ritual? Atausumber energi?"
Mahera mengeluarkan ponselnya, mencari-cari warung bakso terdekat. Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan, Maizena bersedia ikut, tapi ia bersikeras harus ada senjata. Mahera mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah toples berisi kerupuk dari tasnya, "Ini senjata kita. Kerupuk. Dijamin hantu mana pun bakal teralihkan perhatiannya." Maizena menatapnya bingung, tapi tidak protes.
Di warung bakso, Mahera membeli semangkuk bakso urat paling besar. Mereka membawanya kembali ke kosan berjalan dengan sangat hati-hati, seperti membawa bom. Di bawah pohon mangga, tempat Hantu Jemuran meninggalkan pesan, mereka meletakkan mangkuk bakso itu di tanah.
"Kami bawa bakso uratnya!" Mahera berseru, suaranya lantang, "Tunjukkan diri kalian, Hantu Jemuran!"
Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul Hantu Jemuran dan teman-temannya. Mereka terlihat gembira. Mereka tidak memakan bakso itu. Sebaliknya, mereka mulai meletakkan mangkuk bakso itu di bawah tanah. Mereka melakukannya dengan hati-hati, seolah-olah mengubur harta karun.
"Mereka mengubur baksonya! Kenapa?!" Maizena berbisik, tidak mengerti.
Hantu-hantu itu hanya tertawa tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba, Bu Haji Romlah muncul. Ia menatap mangkuk bakso yang dikubur itu, lalu mengangguk, "Bagus. Kalian sudah mengerti," katanya.
Mahera dan Maizena saling pandang. Mereka masih tidak mengerti. Bu Haji menoleh ke arah mereka, "Bakso itu bukan untuk dimakan. Itu adalah energi. Energi dari bakso urat akan mengikat mereka ke dunia ini. Energi itu yang membuat mereka bisa tetap ada di sini."
Mahera terdiam. Jadi, selama ini, mereka bukan diganggu, melainkan tanpa sadar telah berpartisipasi dalam operasi bakso urat bagi kelangsungan hidup para hantu. Mereka bukanlah penghuni kosan, melainkan penjaga kosan.
Mahera menepuk pundak Maizena, "Tenang. Kita butuh aliansi."
"Aliansi? Dengan hantu? Lo gila?" Maizena menatapnya horor, seolah Mahera baru saja mengusulkan untuk menjadi pengikut sekte sesat.
"Gue curiga," Mahera menimbang kata-katanya, "Hantu-hantu di sini punya semacam perjanjian sama Bu Haji. Mereka minta bakso urat, kan? Itu aneh. Hantu enggak makan. Jadi, mereka butuh bakso itu untuk sesuatu. Mungkin itu semacam ritual? Atausumber energi?"
Mahera mengeluarkan ponselnya, mencari-cari warung bakso terdekat. Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan, Maizena bersedia ikut, tapi ia bersikeras harus ada senjata. Mahera mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah toples berisi kerupuk dari tasnya, "Ini senjata kita. Kerupuk. Dijamin hantu mana pun bakal teralihkan perhatiannya." Maizena menatapnya bingung, tapi tidak protes.
Di warung bakso, Mahera membeli semangkuk bakso urat paling besar. Mereka membawanya kembali ke kosan berjalan dengan sangat hati-hati, seperti membawa bom. Di bawah pohon mangga, tempat Hantu Jemuran meninggalkan pesan, mereka meletakkan mangkuk bakso itu di tanah.
"Kami bawa bakso uratnya!" Mahera berseru, suaranya lantang, "Tunjukkan diri kalian, Hantu Jemuran!"
Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul Hantu Jemuran dan teman-temannya. Mereka terlihat gembira. Mereka tidak memakan bakso itu. Sebaliknya, mereka mulai meletakkan mangkuk bakso itu di bawah tanah. Mereka melakukannya dengan hati-hati, seolah-olah mengubur harta karun.
"Mereka mengubur baksonya! Kenapa?!" Maizena berbisik, tidak mengerti.
Hantu-hantu itu hanya tertawa tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba, Bu Haji Romlah muncul. Ia menatap mangkuk bakso yang dikubur itu, lalu mengangguk, "Bagus. Kalian sudah mengerti," katanya.
Mahera dan Maizena saling pandang. Mereka masih tidak mengerti. Bu Haji menoleh ke arah mereka, "Bakso itu bukan untuk dimakan. Itu adalah energi. Energi dari bakso urat akan mengikat mereka ke dunia ini. Energi itu yang membuat mereka bisa tetap ada di sini."
Mahera terdiam. Jadi, selama ini, mereka bukan diganggu, melainkan tanpa sadar telah berpartisipasi dalam operasi bakso urat bagi kelangsungan hidup para hantu. Mereka bukanlah penghuni kosan, melainkan penjaga kosan.
Other Stories
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...