5. Penjara Peri Oght
Dante menunduk lesu, sayapnya terkulai lemah, belum lama ia memilikinya, ia sudah tidak bisa lagi menggunakannya. Dante terduduk di lantai hitam dingin di penjara bawah tanah Agra. Fen memutuskan itulah hal yang terbaik yang bisa dilakukan, Dante tidak mau menjelaskan asalnya, Fen tidak bisa mengambil resiko terhadap Dante dalam suasana seperti ini. Di sinilah dia akhirnya, setelah diseret dengan paksa oleh Ork, si rambut merah dan penjaga lain yang berambut kuning kehijauan yang dia ketahui bernama Gis. Dan dengan rendengan protes Nue kepada Fen atas keputusannya, Dante tetap meringkuk dalam sel Agra. Nue dilarang mengunjungi Dante di penjara. Dan ini membuat segalanya menjadi lebih buruk bagi Dante, karena hanya Nue-lah yang ia rasa teman satu-satunya di dunia peri yang tidak dia kenal ini.
Suasana penjara bawah tanah Agra sangat berbeda dengan bangunan di atasnya. Mereka menyebutnya Penjara Peri Oght. Penjara itu tampak seperti lubang panjang yang tiada ujungnya, baik itu ke atas maupun ke bawah, Dante juga tak bisa melihat ujungnya. Di kiri kanannya terdapat ruangan-ruangan sempit tanpa pintu, Dante tidak bisa melihat di mana terdapat ruangan terakhir dari sudut pandang manapun. Di sebelah kanan, kiri, atas dan bawah ruangan selnya, ada sel-sel lain yang juga dihuni peri-peri. Ia hanya bisa melihat sel-sel di depannya layaknya kotak-kotak yang ditumpuk rapi, tanpa pintu, hanya selapis selubung hijau yang menggelegak bila disentuh. Selubung itu menguarkan aura tak tampak yang membuat perasaan Dante menjadi aneh tak karuan. Inilah sihir peri, pikir Dante. Sihir itu melumpuhkan sayap peri yang berada di dekatnya. Sehingga tak satupun peri yang akan bisa terbang, baik di dalam maupun di luar sel, karena aura selubung itu. Dan hal itu membuat mustahil segala cara yang siapapun tempuh untuk melarikan diri. Jika akhirnya satu peri tahanan bisa melewati selubung itu, meskipun itu sangat tidak mungkin terjadi, ia toh akan jatuh ke bawah yang entah di mana dasarnya, karena sayapnya lumpuh tak berguna.
Namun para penjaga bisa terbang berpatroli di luar ruangan sel, mereka memakai gelembung bola besar yang melindungi mereka dari sihir selubung. Mereka bebas terbang dengan gelembung bola menyelubungi mereka. Gelembung bola itu tampak seperti cahaya tipis yang agak lebih padat dari sinar matahari yang biasa kita lihat. Warnanya kuning cerah transparan, sangat indah sebetulnya, jika di dalamnya tidak ada peri penjaga yang bertampang seram dan melotot marah pada setiap peri tahanan yang dilihatnya. Cahaya yang menerangi sel hanya berasal dari pijar selubung penutup sel yang berwarna hijau transparan itu, membuat kepala Dante berdenyut. Meskipun sejauh yang Dante lihat jumlah sel di sini tak terhitung banyaknya, tak sedikit satu sel yang ditempati oleh dua atau bahkan tiga peri. Dan dia sendiri mendapat teman satu sel yang sampai saat ini belum mengucapkan kata sapaan apapun padanya, ramah sekali. Ia adalah peri tua berambut ungu gelap dan berjenggot tebal. Matanya terpancang pada Dante sejak Dante tiba.
Dante sudah mencoba tersenyum dan mengucapkan ‘hai’ seramah mungkin, tapi tidak ada respons dari Pak Tua ini, bahkan Dante sempat melambai-lambaikan tangannya, mengira si Pak Tua ini buta, tapi tetap saja tak ada reaksi. Akhirnya ia menyerah, ia akan tampak seperti orang tolol jika meneruskan usahanya. Ia terpaksa membiarkan si Pak Tua itu duduk di pojok yang lain dengan mata masih terpancang padanya, sangat tidak nyaman. Ia berhenti memikirkan keanehan teman satu selnya, beralih memikirkan nasibnya yang tak jelas tujuannya di dunia peri ini.
“Aku ingin kembali…” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Dante tanpa sempat ia berpikir sebelumnya, air matanya menetes dan ia pun tersadar, ia telah melakukan tindakan bodoh dengan menjadi orang lain. Ia akan baik dan bahagia jika menerima keadaan dirinya dan berusaha memperbaiki apa yang salah dari dirinya. Mungkin ia hanya perlu memohon pada ayah dan ibunya untuk sedikit merubah jadwal hariannya agar tidak bosan. Atau ia bisa mendaftar di klub tertentu yang menarik minatnya. Seharusnya itu cukup. Bukannya malah melarikan diri dan berpura-pura menjadi orang lain. Bahkan dalam kasusnya, ia melarikan diri ke dunia yang lain dan menjadi makhluk lain. Pada akhirnya ia pun harus jujur pada dirinya sendiri, ia adalah Dante, seorang anak berumur 9 tahun dan ia anak yang beruntung masih memiliki kedua orang tuanya dan Ami. Kepala Dante semakin tertunduk. Tapi bagaimana ia bisa kembali?
“Kamu bukan peri. Dan karena itu ada jalan kembali untukmu, meskipun untuk menuju ke sana kamu akan mempertaruhkan nyawamu.”
Suara itu membuat Dante tersentak. Ia menoleh ke satu-satunya sumber suara lain dalam ruangan selnya yang sempit. Pak Tua itu telah memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan. Ia menutup matanya kemudian mengangguk pasti.
“Kamu bisa kembali,” katanya yakin.
Untuk sejenak Dante hanya bisa terdiam bingung menatapnya.
“A-apa maksud Anda?” tanyanya mencoba-coba.
“Kamu bukan peri, aku tahu,” katanya lagi. Ia kembali menatap Dante.
“Aku tidak mengerti perkataan Anda,” sahut Dante gugup. Bagaimana mungkin seorang asing yang tidak pernah ia temui mengetahui asal usulnya? Meski ia takut akan benar-benar ketahuan, ia penasaran dengan apa yang Pak Tua itu ucapkan, bahwa ia bisa kembali dan harus mempertaruhkan nyawanya untuk itu.
Pak Tua itu tersenyum merasakan kegugupan Dante. Tapi bukannya menenangkan, senyum itu malah memperseram penampilannya.
Aku tak boleh gentar. Ia hanya seorang tua. Hei… dan aku adalah orang dewasa, maksudku peri dewasa, pikir Dante.
“Perkenalkan, aku Ogu. Aku tidak berbahaya, tenang saja. Aku sudah berada di sini selama puluhan musim semi. Dan aku dipenjara karena kemampuanku, kamu tahu. Begitu juga dengan beberapa peri lain di sini. Kami tak layak diperlakukan seperti ini. Mereka hanya takut. Takut akan bangsa kami. Takut hal itu akan memengaruhi kami untuk mendukungnya, Si Peri Durhaka. Dia salah sangka dan bahkan tidak percaya pada peri tua ini,” ujar Si Pak Tua Ogu panjang lebar, namun menggantung di akhir kalimatnya.
Dante tidak menyangka akan mendengar hal itu, dan bingung bagaimana menanggapi cerita Ogu, teman satu selnya itu. Akhirnya Dante memutuskan untuk bertanya, “Apa maksud Anda dengan ‘bangsa kami’?”
Ogu memandang Dante penuh arti, dengan sedikit menegakkan kepalanya ia berkata, “Kami istimewa. Bangsa kami lebih tinggi derajatnya. Kami peri yang istimewa.”
Dante mengernyitkan kening sesaat, “Saya tidak… begitu mengerti,” ucapnya jujur.
“Tentu, tentu. Kamu memang tidak mungkin mengerti semuanya dalam perjalanan pertamamu, bukan?”
Dante tersentak. Ogu tersenyum tipis, kemudian melanjutkan, “Peri adalah makhluk istimewa yang memiliki sayap dan tinggal di dalam bunga, kecil untuk ukuranmu tentunya. Peri memiliki tongkat untuk melakukan sihirnya, tapi kamu harus menunggu sampai berumur 300 tahun untuk mendapatkannya. Kamu juga akan memiliki nama di usia ini,” dengan santainya Ogu memberi penjelasan pada Dante.
“Apa?!” sahut Dante kaget, ”Tiga ratus tahun??” sebutnya tidak bisa percaya.
Ogu ikut terkejut sesaat dengan reaksi Dante, kemudian menjawab ketidakpercayaan Dante, “Ya, 300 tahun. Aku tahu, aku tahu. Bagi bangsamu hal itu sangat sulit dipercaya. Tapi 300 tahun adalah usia yang cukup muda, kamu tahu? Nah, setelah memiliki tongkat, kamu adalah peri dewasa yang memiliki nama dan bertanggung jawab atas sihirmu, itu naluriah. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, hanya tinggal menyalurkannya lewat tongkatmu. Bangsa peri yang baru aku ceritakan adalah bangsa Alp. Sedangkan kami, kami adalah peri yang lebih istimewa dari mereka,” ucap Ogu bangga. Dia menghentikan ceritanya sejenak karena peri penjaga Agra sedang berpatroli di luar sel-sel. Menyinari mereka dengan cahaya kuning menyilaukan. Ogu menatapnya tajam tanpa berkedip.
“Kami tak perlu tongkat bodoh untuk menyihir sesuatu. Kami berbeda. Bangsa Ebn memiliki kemampuan sihir langsung. Dan beberapa dari kami memiliki intelegensia yang sangat tinggi, sehingga bisa dikatakan tahu segalanya, hanya dengan... merasa,” bisik Ogu pada kata terakhirnya, membuat bulu kuduk Dante meremang. Tidak usah dikatakan untuk mengetahui bahwa Ogu adalah salah satu dari yang ‘beberapa’ itu. Dante sadar ia tak akan bisa menyembunyikan sesuatu dari Ogu, termasuk asal usulnya, sekeras apapun ia berusaha. Ogu telah membuktikan identitasnya sebagai peri istimewa dari bangsa Ebn yang bisa tahu segalanya hanya dengan merasa.
Dante terdiam setelah mendengar penjelasan panjang tentang keberadaan dua bangsa peri itu. Dan tiba-tiba saja ia teringat Zha. Pasti ia adalah bangsa Ebn. Dante masih ingat bagaimana Zha dengan angkuhnya berkata bahwa kekuatannya telah melampaui kegunaan tongkat bagi peri.
“Aku adalah manusia. Kamu tahu itu kan?” kata Dante pasrah. Ogu mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Aku tahu aku telah berbuat kesalahan dengan pergi ke sini dan menjadi peri. Zha, dialah yang mengubahku, mengabulkan keinginanku. Aku tidak tahu bagaimana bisa kembali, aku tidak berpikir akan kembali saat pertama kali ingin ke sini. Tapi aku tahu sekarang, aku tak akan bertahan selamanya di sini. Aku benar-benar ingin kembali. Hah, padahal belum sehari penuh aku di sini…” sesal Dante dengan sedikit menertawakan kebodohannya.
Ogu mengernyit, “Kamu telah berada di sini selama hampir 4 hari, Nak,” tandasnya.
“Apa?! Mana mungkin? Bahkan aku tidak melihat satu malam pun terlewati!” elak Dante, mungkin Pak Tua ini kehilangan intelegensianya untuk sesaat, ejek Dante dalam benaknya.
“Kami tidak mengenal malam. Hari selalu cerah akan sinar di sini,” Ogu memberitahunya seakan hal itu sudah sangat wajar untuk diketahui oleh siapapun, bahkan oleh Dante.
“Ohh, sungguh di luar akal sehatku.” gumam Dante, itupun kalau saat ini akalku masih sehat, pikirnya. “Kalau begitu, bagaimana aku bisa kembali ke duniaku?” tanya Dante akhirnya.
“Mudah saja. Kamu harus menemui peri yang mengabulkan keinginanmu. Hm… tapi ada masalah besar di sini…” ujar Ogu dramatis. Tampaknya Ogu sangat menikmati ketakutan Dante akan segala sesuatu yang baru diketahuinya. Ia menikmati efek drama yang tercipta setiap ia mengeluarkan ucapan-ucapan yang membuat Dante kehabisan kata-kata. Sementara Dante bertahan agar tidak terkena serangan jantung setiap saat ia mendengar hal-hal ajaib di sini.
“A-apa maksudmu dengan masalah besar? Berarti hanya tinggal menemui Zha lagi, bukan?” tanya Dante ragu.
“Masalah. Sihir permintaan tidak boleh dicabut kembali, meski itu bisa dilakukan. Tidak pernah boleh dan tidak akan dilakukan oleh peri manapun yang masih ingin meneruskan hidupnya,” kata Ogu serius.
“Peri itu akan mati?” Dante ngeri.
“Mati adalah kata yang cukup menyenangkan di sini. Lebih dari itu. Peri yang mencabut sihir permintaan akan binasa tanpa bekas, tanpa jasad, hilang dalam pengingkaran atas sihir yang dikeluarkannya untuk mengabulkan harapan dan permintaan. Mereka akan mengalami kesakitan yang luar biasa karena semua kekuatan dalam dirinya akan mengalir keluar meninggalkan si empunya.”
Dante merasakan semua harapannya melayang pergi, entah bagaimana nasibnya sekarang. Hidup di Penjara Peri Oght selamanya? Ia tak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya ia terkurung dalam ruang sempit kehijauan ini.
“Tapi kamu berkata aku bisa kembali! Kamu bilang kamu tahu bahwa aku bisa kembali!” teriak Dante tiba-tiba, hilang kesabaran menghadapi kebingungan dalam pikirannya.
“Kamu memang bisa kembali. Karena kamu dan Zha telah saling melakukan sihir permintaan. Dan itu mengubah sesuatu di sini…” Ogu terlihat sedikit bergairah membicarakan kasus Dante dan Zha. Namun betapa kesalnya Dante karena tiba-tiba saja cahaya kuning menyilaukan datang dan menghentikan pembicaraan mereka.
“Ada apa?!” gertak peri penjaga Agra. Ia mengeluarkan tongkat dari jas seragamnya. Meskipun Dante kagum bahwa penjaga itu telah melewati usia 300 tahunnya, ia tak takut untuk balas menggertak, “Apa maksudmu dengan ‘ada apa’?! Tidak ada apa-apa di sini! Teruskan berpatroli dan jangan ganggu kami!” sergah Dante kesal.
Si Penjaga menggeram marah, “Aku tahu. Aku salah menempatkanmu di sini. Aku mendengarmu berteriak-teriak. Kurasa kamu mulai meracuni pikirannya, begitu Pak Tua?!” si penjaga menatap Ogu curiga. Ogu hanya memandang tajam dari balik tirai kehijauan dan kuning menyilaukan di antara mereka. Dengan gerakan cepat, penjaga melakukan sesuatu dengan tongkatnya. Ia membuat lubang cukup besar untuk dilewati pada selubung hijau yang mengurung Dante dan Ogu. Untuk sesaat Dante bingung apa yang sedang penjaga itu lakukan, kemudian rasa panas menjalar di sekitar lengannya, seakan tali panas tak kelihatan sedang berusaha membelitnya. Ia menggeliat dan berteriak kesakitan. Dante melayang keluar dari selnya, sementara selubung hijau menutup kembali di belakangnya. Ogu menatap diam terhadap apa yang terjadi di depannya. Ia geram tak bisa melakukan sesuatu, selain sayapnya, kekuatannya juga ikut lumpuh karena sihir selubung hijau tolol itu.
Peri penjaga mengarahkan tongkatnya pada Dante yang masih menggeliat-geliat dan berteriak, rasa panasnya tak tertahankan, kulitnya seakan melepuh hingga ke tulang. Peri penjaga melayang ke atas dengan Dante mengikutinya di luar gelembung bola bercahaya, masih menggeliat dan merintih karena tak sanggup berteriak lagi. Dante menutup matanya rapat-rapat, berharap sakitnya mereda, kemudian tiba-tiba saja rasa sakitnya benar-benar berhenti, tidak ada tali panas tak kelihatan yang membelitnya lagi. Ia jatuh dengan bunyi ‘BUK!!’ keras menghantam lantai hitam dingin kehijauan. Dante membuka matanya, ternyata ia telah berada di sel lain, kali ini kosong, hanya ia sendiri yang menempatinya, selubung hijau di depannya telah rapat kembali. Si penjaga menggeram sebentar kemudian berlalu pergi sambil mengedarkan pandangan pada sel-sel lain di sekitarnya.
Dante terpuruk dalam kesakitannya, ia melirik lengannya, memar kemerahan membekas di sana. Ia kesal, marah dan putus asa. Air matanya menetes pelan-pelan.
Ogu tahu! Dia tahu bagaimana caranya aku kembali ke duniaku! Dan sekarang aku malah terpisah darinya! Bodoh! Bodoh! rutuknya dalam hati.
Dante benar-benar tidak habis pikir betapa sial nasibnya, dan itupun terjadi berawal dari permintaannya sendiri. Dante duduk terpekur dalam selnya yang sempit. Entah berapa lama ia hanya duduk dan mengutuk dirinya sendiri dalam diam. Bayangan orang tuanya dan Ami terlintas di benaknya, ia terperdaya oleh kilau keperakan bola milik Ayah, ia meninggalkan rumahnya saat keinginannya untuk melihat Ayah dan Ibunya bersama-sama terkabul. Ya, keinginan Dante yang sebenarnya adalah berkumpul bersama orang tuanya. Ia ingin bebas hanya karena merasa terkurung dalam kesendiriannya di rumah besarnya itu. Betapa bodohnya, pikir Dante. Semuanya karena Zha, pasti bola itu mengandung sihir yang memperdayaiku hingga aku tidak bisa menggunakan akal sehatku, lanjut Dante dalam benaknya. Pikiran ini menenangkannya, bahwa salah Zha dan bukan salahnya sehingga ia berada di sana, bahwa semua itu adalah sihir Zha dan bukan permintaannya sehingga ia bisa berubah menjadi peri dan tersesat di Ladang Peri.
***
Beberapa jam menurut Dante atau mungkin beberapa hari telah Dante lewati dalam sel kehijauannya yang sempit. Dan entah kenapa ia tidak merasa lapar atau haus sedikitpun, “Mungkin memang peri tidak perlu makan!” ujar Dante menyimpulkan sekenanya. Ia stres dalam kebingungan dan ketidaktahuannya. Dante berdiri dan berjalan memutari ruangan selnya untuk sekedar melemaskan kaki, berusaha tidak dekat-dekat selubung hijau transparan di depannya. Kemudian ia bersandar di dinding yang dingin, menunduk sedih untuk ke sekian kalinya.
“Dante…?”
Dante tersentak kaget mendengar namanya disebut. Refleks ia mendongak dan ia mendapati Nue di luar selnya, di dalam gelembung bola bercahaya, pucat saking cemasnya dan dengan mantap memegang tongkat di tangan kanannya.
“Nue?!” seru Dante akhirnya, senang bercampur bingung.
“Sst…!! Kita harus pelan-pelan, dan cepat. Aku tak tahu apa masih ada penjaga di sini,” bisik Nue cepat.
“Baiklah, baiklah,” sahut Dante ikut berbisik. “Tapi bagaimana bisa kamu…”
“Tunggu, diam, aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kita harus mengeluarkanmu dulu,” ujar Nue gugup. Kemudian ia melambaikan tongkatnya dan berkonsentrasi pada selubung hijau, membuat lubang cukup lebar. Dante tersenyum cerah melihat jalan keluarnya dari sel sempit itu.
“Sekarang bagaimana? Aku tak bisa memasukkanmu ke dalam sini juga,” tanya Nue semakin cemas.
“Kamu harus membuatku melayang mengikutimu. Itu yang mereka lakukan. Kurasa ini perjalanan pertamamu ke Penjara Peri Oght?” tebak Dante. Nue hanya mengangguk. Semakin lama wajah Nue semakin pucat saja.
“Baiklah, cobalah membuatku melayang. Jangan melepasku, oke? Aku percaya padamu,” tegas Dante yang juga mulai gugup. Nue memang mantap memegang tongkatnya, tapi ia tampak seperti baru pertama kali menggunakannya dan dilihat dari wajahnya yang pucat, seakan Nue bisa pingsan kapan saja. Dante tidak mau berpikiran buruk, ia mengusir jauh-jauh pikirannya yang meragukan Nue, ia yakin Nue bisa melakukannya.
Kemudian Dante merasakan dirinya melayang perlahan, keluar melewati selubung hijau yang tetap berlubang setelah ia berada di samping gelembung bola. Nue menatap Dante lekat-lekat, Dante mengangguk memberi semangat, dan keduanya pun melayang menuju titik cahaya di ujung lorong raksasa itu.
Setelah cukup panjang mereka melewati sel di kanan kiri lorong, akhirnya sampai juga mereka di ujung tempat pintu keluar dari penjara bawah tanah ini. Dante sempat berpikir titik cahaya yang ia lihat berada di ujung lorong ini hanya ilusi, saking lamanya ia sampai ke tempat itu. Dante mendapati lubang terbingkai dengan dinding tanaman sulur yang menuju ke atas. Ia tak pernah tahu jalan keluar masuk Penjara Peri Oght sebelumnya karena ia diseret paksa dengan penutup mata ketika dimasukkan ke dalam sel.
Selanjutnya Dante mendapati dirinya menyusuri lubang itu menuju ke atas. Lubang ini pun membentuk lorong yang panjangnya tak terkira, sampai pada titik-titik cahaya kemerahan yang berenang di udara membendung lorong itu, menutup jalan keluar mereka.
“Kamu akan bisa terbang setelah melewati itu,” jelas Nue di belakangnya yang melihat keraguan Dante.
Dante melayang melewati titik-titik cahaya kemerahan, sekujur tubuhnya terasa seperti kesemutan, dan ia mulai merasakan kembali sayapnya sebagai bagian dari tubuhnya. Setelah pergelangan kakinya keluar dari titik-titik cahaya kemerahan itu, Dante mampu menggerakkan sayapnya dan terbang ringan dalam sebuah ruangan yang tampaknya digunakan oleh para penjaga Agra jika mereka sedang beristirahat menunggu giliran berpatroli di Penjara Peri Oght. Dante menunduk ke lubang dengan titik-titik cahaya kemerahan di bawahnya, Nue keluar melewatinya kemudian terbang di sisi Dante. Gelembung bola tak lagi menyelubunginya. Lubang di bawahnya juga terbingkai, namun yang ini ada ukiran-ukiran yang tak Dante mengerti. “Artinya Penjara Peri Oght,” Nue berbisik.
Dante melihat ke sekelilingnya, meski ruangan itu kosong, tapi ia tidak merasa aman. Ada beberapa bunga kecil yang Dante yakin adalah kursi mengelilingi meja panjang yang diwakili oleh daun lebar, dan tak jauh dari lubang kemerahan terdapat daun kecil melayang di udara, di atasnya sebuah mangkuk dari mahkota bunga bertengger, berisi gumpalan-gumpalan kecil bola kuning yang bersinar. Dante tidak sempat bertanya benda apakah yang bertumpuk dalam mangkuk itu. Nue segera menarik lengannya untuk terbang pergi menuju satu-satunya pintu di ruangan itu.
“Tunggu!” tahan Dante tetap di posisinya, “Aku lupa untuk membebaskan Ogu juga!” bisik Dante pada Nue.
Nue membelalak ngeri menatap Dante, membayangkan mereka harus kembali ke lorong penjara itu.
Other Stories
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...