Dari Malioboro Ke Borobudur
“Dev, bangun cepatan!” suara Ivana mengakhiri mimpiku ketemu dengan Adipati Dolken. Cowok ganteng itu hampir saja menciumku kalau saja Ivana nggak mengusik mimpiku. “Dev! Yee, nih orang tidur apa pingsan sih?” Ivana sekali lagi mengoyang-goyangkan badanku.
“Ada apa sih lo? Ganggu gue tidur aja!” teriakku dengan mata yang kriyep-kriyep.
“Melek dulu mata lo. Liat ini udah jam berapa? Lo kan harus ke Bandara!”
“Hah?! Gue kan harus berangkat pagi ini ke Jogja?” aku histeris. Soalnya tadi malam aku SMS Dimas, minta dia datang ke bandara tepat jam 8 pagi, eh malah aku yang telat.
“Lo kenapa nggak bangunin gue sih?” mataku melotot menatap jam dinding di atas meja kerjanya.
“Yee... emang gue dari tadi ngapain teriak-teriak gitu? Lo aja tidurnya kayak orang mati!”
“Minggir, gue mau mandi! Lo anterin gue yah ke bandara!” aku lompat dari tempat tidur sambil tangan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu kamarku. OMG... jangan sampai Dimas lama nunggu di sana. Dia bakal cemberutin aku nanti!
Bak kucing kecebur di selokan, aku dalam beberapa menit sudah keluar lagi dari kamar mandi. Ivana cuma lihat rambut depanku yang setengah basah. Semalam sahabatku itu sengaja aku suruh tidur di rumah karena pagi ini dia harus jadi sopirku untuk antar ke bandara.
“Heh! Lo kok bengong gitu sih?” teriakku sambil melempar handuk yang tepat mengenai muka imut Ivana. Cewek itu gelagapan menyingkirkan handuk dari wajahnya.
“Gue udah siap kale dari tadi. Lo nya aja yang kesiangan!” gerutunya sambil menyisir rambut gimbalnya.
“Kira-kira sampe nggak yah di bandara jam 7.00?” tanyaku agak cemas.
“Sampe deh! Let’s quickly! Ayo, cepetan, jangan lelet gitu dong. Tuh koper masa harus gue yang bawa juga?” Ivana terus ngoceh lihat aku yang masih saja sibuk dengan roti buatan Mama di meja makan.
Aku segera berlari kecil ke mobil Ivana setelah pamitan pada Mama-Papa. Mobil Ivana lumayan harum kali ini. Biasanya cewe yang satu ini selalu pakai pengharum mobil yang bikin aku mabuk menciumnya. Mobil Ford sporty merah milik Ivana melesat kencang. Tak heran dalam waktu kurang dari sejam kami sudah sampai di bandara.
Kulihat Dimas sudah berdiri gelisah di pintu pemberangkatan ke Jogja. Wajahnya sudah berbaur cemberut yang tak sedap.
“Sorry, tapi aku nggak telat, kan?” tanyaku dengan senyum semanis mungkin.
“Hampir...” jawabnya singkat.
“Van, gue pergi dulu yah. Doain semua lancar di sana,” tukasku sambil memeluk Ivana. Duuhh… udah kayak mau pergi jauh aja pakai sedih gini.
“Ingat Dev, jangan lewat di depan arca itu yah! Gue khawatir banget nih?” bisik Ivana yang bikin aku jadi merinding. Aku hanya mengangguk. Terharu juga. Senangnya punya sahabat seperti Ivana yang selalu mengkhawatirkan temannya. Lalu aku dan Dimas meninggalkan Ivana yang masih memandang kami memasuki ruang boarding pass.
***
Pukul 09.35.
Pesawat Garuda Airlines tepat mendarat di Bandara Adi Sucipto, Jogjakarta. Aku menghela napas panjang. Sambil menarik koperku yang cukup lumayan besar, aku berjalan di samping Dimas, calon suamiku. Entah sudah berapa lama aku nggak menginjakkan kaki di kota seni ini.
“Selamat datang di Jogja, Devi. Mari kita mulai petualangan ini,” sambutku dalam hati.
“Kita mau nginap di mana, Dev?” tanya Dimas.
“Di Malioboro aja deh, di Jalan Dagen. Di sana banyak hotel lumayan murah. Jadi kita bisa ngirit. Lumayan kan bisa kita pakai buat yang lain?” jawabku. Dimas hanya mengangguk. “Bagus… nurut,” gumamku dalam hati.
Dari bandara kami naik taksi menuju Malioboro. Sepanjang perjalanan, aku tak hentinya memperhatikan sisi jalan. Dimas yang kulihat sibuk dengan gadget-nya tampak serius sekali. Besok petualangan kami di 7 keajaiban dunia akan dimulai. Hari ini akan kupakai untuk mengitari Malioboro sepuasku, sekaligus belanja barang murah di Pasar Bringharjo.
Uang saku dari si bos cukup lumayan besar. Ditambah lagi uang ganti rugi atas uang DP foto praweed yang batal di Bandung.
“Menang banyak kayaknya nih!” seruku sambil terkekeh dalam hati. Kulirik lagi Dimas yang masih saja asyik dengan gadget-nya. Hemm… kebiasaan buruk, aku jadi seperti di cuekin!
Mobil taksi tepat berhenti di hotel Sri Wedari, di Jalan Dagen. Untung saja kami kebagian kamar, karena cuma tersisa tiga kamar lagi yang kosong. Semua kamar sudah di booking sekolah SMU dari Jakarta yang mengadakan study tour di Jogja.
Aku menaiki anak tangga satu-satu. Letih juga dapat kamar di lantai 2. Tapi mau bilang apa lagi, daripada capek mutar-mutar cari penginapan, keluhku.
“Hey, mau ke mana, Dim?” tanyaku pada Dimas yang mau masuk ke kamarku.
“Lho, bukannya aku juga tidur di sini?” tanyanya pura-pura bego.
“Nanti tiga bulan lagi kalau kita udah nikah baru boleh tidur sekamar!” sahutku. Dimas tersenyum. Aku tahu dia hanya menggodaku.
“He he he… aku juga tahu kale,” jawabnya sambil nyengir.
Aku melengos masuk kamar. Rasanya yang kubutuhkan hanya rebahan di kamar sambil angkat kaki ke atas. Istirahat sejenak karena malamnya aku berencana untuk keliling Malioboro dengan Dimas. Menikmati lesehan sembari dengarin alunan musik yang dibawakan pengamen jalanan. Wuuih... romantis pastinya.
***
Malam mulai menjambangi waktunya. Aku mengetuk kamar Dimas yang tepat di sebelah kamarku.
Tok tok tok…
“Dimas,” panggilku.
“Masuk aja, nggak dikunci!” sahut Dimas dari dalam kamar.
Aku membuka perlahan pintu kamarnya. Kulihat Dimas tengah sibuk dengan kamera SLR-nya di atas tempat tidur.
Sreet... cekrek !
Secepat kilat kamera itu mengambil gambarku. Aku terperangah dengan ulah Dimas yang tiba-tiba saja memotretku. Ada senyum kemenangan di wajah Dimas karena dia sudah berhasil mengambil gambarku yang seadanya.
“Apa-apaan sih kamu, Dim?” teriakku sambil mulutku manyun.
“He he he.. nggak apa-apa kali. Nih lihat, lebih natural tanpa pake pose,” sahut Dimas menunjukkan kameranya padaku. Aku bergumam dalam hati, “Hemm... cakep juga gue difoto nggak sengaja gini!”
“Ayo deh, kita jalan. Udah laper nih!” ajakku.
“Sabar bentar, gue beresin kameranya dulu. Besok kan kita mulai petualangannya?” jawab Dimas seraya mengerlingkan matanya padaku.
Aku dan Dimas mulai menyusuri Malioboro. Seperti biasa banyak pedagang di sepanjang jalannya. Benar-benar ciri khas Jogja. Nggak bisa dibilang ke Jogja kalau nggak mampir di Malioboro, begitu semua orang bilang.
Dan musik pun dimulai ketika aku dan Dimas baru saja duduk di warung lesehan. Pengamen jalanan memainkan lagu Jogjakarta-nya Katon Bagaskara. Sebentar kemudian pelayan sudah membawakan burung dara bakar kesukaanku dan Dimas. Rintik hujan mulai turun perlahan.
Shiit !!
Kenapa ingatanku kembali pada beberapa tahun yang silam saat aku masih pacaran dengan Rifky? Masa di mana aku masih dengan kegilaanku hingga nekat pergi dengan Rifky hanya untuk menikmati malam di Malioboro. Untung tak ada yang terjadi di sana. Kami masih waras dan beriman untuk mencegah hal yang negatif terjadi.
“Hooyy! Kenapa jadi ngelamun gitu sih?” tanya Dimas yang membuyarkan lamunanku.
“Ish… ngagetin aku aja!” kataku sambil refleks menepuk bahu Dimas.
“Makanya jangan ngelamun. Mikirin apa sih? Udah tahu pacarnya ada di sini?”
Aku hanya diam. Bahaya kalau Dimas sampai tahu kalau aku lagi teringat Rifky. Ho ho, pasti saja dia cemburu. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk cepat melupakan orang yang pernah kita cintai. Apalagi Rifky yang sudah begitu banyak menyisakan kenangan manis. Dan Dimas mengkhawatirkan itu.
Other Stories
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Gm.
menakutkan. ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...