Hatiku Mendekat-mu
Lima hari aku dan Ivana menghabiskan waktu di tanah suci Mekah. Kalau boleh jujur, di sinilah tempat yang paling berkesan dari enam keajaiban dunia yang telah aku kunjungi dalam waktu dua puluh lima hari.
Aku sungguh bersyukur karena apa yang pernah aku impikan yakni dalam pekerjaan tapi aku bisa menjalankan ibadah Umroh dan ini menjadi kenyataan.
Aku yang sudah terbiasa dengan kehidupan metropolitan dengan dandanan ala artis tiba-tiba di tanah suci seakan menemukan hidayah. Atau karena rasa tertekan akan gagalnya pernikahan aku dengan Dimas maka aku merasa tiba-tiba ingin selalu mendekat pada Sang Pencipta.
Semalam aku mengadu pada Allah dalam doa malam terpanjang di tanah suci yang aku jalani. Aku menangis dan memohon ampunan atas sikapku selama ini. Mungkin saja aku telah melakukan kesalahan pada orang lain dan aku tidak merasa itu adalah hal yang salah.
Aku juga meminta jawaban pada Allah yang terbaik akan masalah yang harus datang di saat aku akan melakukan pernikahan yang merupakan penyempurna seluruh ibadahku.
Sungguh aku bukannya bermaksud naif! Tapi memang Allah jugalah yang membolak-balikkan persaan hati manusia sampai manusia itu sadar apa yang terbaik, walau mungkin dirasa sangat berat.
Aku memasrahkan pada Allah akan pernikahanku dengan Dimas yang di ujung tanduk. Tiba-tiba merasa mendapat kekuatan dan kepasrahan untuk menyerahkan yang terbaik akan hidupku pada Allah.
Sungguh aku seperti tengah melakukan kaleidoskop akan hidupku yang lalu sampai tiba-tiba merasa sangat malu atas kejadian menemukan diriku yang tidur dengan mantanku, Rifky.
“Ya Allah ampunilah aku, semua tak akan terjadi bila aku menjadi manusia yang bersabar. Seandainya aku tidak mendekati Rifky lagi, tentu saja aku masih bisa menyelamatkan kehormatanku. Seandainya waktu itu aku bersabar menunggu Dimas menjemputku atau sebaliknya aku tidak terlalu tergantung untuk selalu minta pertolongan apalagi dengan orang yang seharusnya aku jauhi. Rifky sudah menyakiti aku tapi kenapa aku dibutakan untuk masih saja mendekatinya. Aku menyesal Allah... dan sekarang aku tidak mau lagi jauh dari perintah-Mu. Aku akan memperbaiki sikap aku yang selama ini terlalu sembrono.”
***
“Yakin kamu berhijab! Kamu nggak akan ngerasa kepanasan nanti di Itali dengan pakaian kamu yang sekarang mendadak rapat!” Ivana mengomentari aku yang berusaha tenang dengan pakaian hijab hari pertamaku.
Tapi entah kenapa aku merasa lebih bisa tenang dan bahkan sabar dengan keringat yang mengucur di balik kerudungku. Aku tak menyangkal walau AC pesawat yang mengantar kami dari King Abdul Aziz ke bandar udara Leonardo da Vinci hampir lima jam cukup dingin, nyatanya aku yang terbiasa dengan pakaian terbuka tapi sekarang memutuskan menutup aurat merasakan kepanasan.
Aku tiba-tiba merasa heran untuk pertama kalinya Ivana sepertinya tidak terlalu suka dengan keputusan yang aku ambil.
Ya, memang hari ini aku memutuskan berhijab sepertinya sangat mendadak, tapi aku yakin dengan kata hatiku. Sepertinya aku harus berubah dengan diberi kesempatan melakukan ibadah Umroh dengan segala kemudahan dan fasilitas.
Aku juga yakin di awal pasti akan berat dengan keputusan hijabku, pasti akan ada pandangan negatif termasuk dengan Dimas yang menyukai aku dengan penampilan yang sangat feminim dan sesekali seksi selama ini. Apa kata Dimas? Apakah dia akan menganggap aku sok alim setelah tragediku tidur dengan Rifky?
Aku memang menyukai baju-baju seksi, tapi entah kenapa setelah menjalankan Umroh dan aku lebih mendekatkan diri beberapa hari kemarin pada Allah, menyempatkan untuk jujur pada-Nya kalau ternyata aku sungguh sangat jauh dengan-Nya. Sepertinya memang Allah jugalah dengan rahman-Nya menyadarkan aku untuk menjadi manusia lebih baik.
Bahkan sekarang aku tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi di depanku, yang terjadi dan seharusnya terjadi maka terjadilah.
Aku sudah menyerahkan hidupku sepenuhnya pada Allah. Sungguh ini adalah hidayah-Nya untuk aku berhijrah.
Aku juga tahu hijrah itu sangat berat dan penuh tantangan, tapi aku bertekad setelah menyaksikan enam keajaiban dunia aku juga tersadar, bahwa aku adalah manusia yang lemah dan tak berdaya apapun tanpa-Nya. Aku memutuskan sepenuhnya untuk kembali pada jalan yang di-ridhoi dan sesuai dengan perintah-Nya.
***
Dan terbukti Ivana untuk pertama kalinya sepertinya malah kecewa dengan perubahan aku yang menutup aurat.
“Kamu sungguh nggak asyik deh! Hanya gara-gara Umroh saja sekarang kamu jadi manusia aneh!” Ivana bereaksi keras saat kaget aku berhijab dan akan tetap memakai jilbab walau harus meliput ke Itali.
“Devi lo nyadar gak sih! lo jadi jelek dengan baju jubah kaya gitu... ih lo apa-apaan sih? Fine! Kalau mau berubah nanti saja deh kalo sampai di Indonesia! Kita sekarang mau ke Italia, kita bisa pakai baju seksi tanpa harus dicibir seperti di Indonesia kamu malah menyia-nyiakan saatnya bebas berekspresi. Kampungan ah! Lo nggak kaya Devi yang gue kenal deh! Devi yang seksi, modis dan nggak kalah dengan Syahrini,” Ivana nyerocos tanpa koma dan titik.
“Nggak Ivana, kali ini aku serius banget! Aku mau berubah. Bukan hanya karena Umroh yang baru saja Allah kasih kesempatan padaku, tapi aku lebih memikirkan langkah aku ke depan adalah aku tidak mau jadi Devi yang kemarin-kemarin. Devi yang ceroboh dan jauh dari Allah. Aku ingin berubah dan inilah aku yang sekarang.”
Sungguh aku tidak tahu kekutan dari mana untuk pertama kali ini aku menantang kemauan Ivana dan aku merasa sangat sedih akan sikap sahabatku.
Tapi aku berdoa semoga Ivana juga akan mendapat hidayah seperti aku. Sesuatu yang menggerakkan hati untuk takut pada Allah dan melanggar aturan-Nya.
“Maafkan aku Ivana... kamu sepertinya sangat kecewa dengan perubahan aku yang sangat mendadak...”
Lima jam yang sangat menyiksa karena Ivana memasang wajah jutek setiap melihat aku yang kepanasan. Padahal aku juga memakai hijab tapi modern dan pastinya nggak kampungan seperti yang dikatakan Ivana tadi dengan amarah.
Dengan baju rok panjang biru muda dipadukan dengan lengan panjang rok juga berwarna salem, kerudung biru muda syar’i aku malah merasa nyaman, walau jujur masih saja aku berkeringat. Buktinya Hasan dan Adi tadi sangat bersyukur dengan penampilan baruku dan terang-terangan mereka mengatakan aku dengan hijabku ini tampak lebih anggun dan cantik. Berkali mereka mengucap ‘Subhanallah’ tanpa memedulikan Ivana yang tampak keki.
Cobaan aku dengan Ivana sepertinya berlanjut, karena sesampainya di Bandara Leonardo da Vinci, Ivana langsung mengganti bajunya dengan tank top.
Kulit Ivana yang putih tampak memesona bak pualam sementara aku tetap bertahan dengan baju jilbabku.
Sempat tergoda untuk mengikuti Ivana, tapi entah kenapa aku tak punya nyali untuk melanggar janjiku yang akan berubah.
“Ih males banget deh liputan terakhir! Seharusnya ini menjadi liputan yang paling menyenangkan Devi. Kamu ingat film Eat, Pray dan Love-nya Julia Roberts di Itali dengan makanan yang beragam terbuat, cowok-cowoknya yang sangat ganteng, busana yang bebas dan kita juga bisa berbuat sesuka hati kita. Bahkan aku ingin berkencan dengan cowok Itali. Kamu nggak ngiler Devi? Cowok Itali, Devi! Please deh! Mereka sangat romantis! Dimas lewat!” Ivana mencoba merayuku agar mengikuti gaya dia.
“Nggak! Aku nggak tertarik lagi Ivana untuk hal-hal seperti itu. Sekarang yang jadi prioritasku secepatnya meliput akhir perjalanan 7 keajaiban dunia, pulang ke Indonesia dengan report travelling ini dan menyelesaikan masalahku dengan Dimas,” kataku tegas dan tampak wajah Ivana yang memerah. Pasti dia sangat kesal karena aku sepertinya mendadak alim dan keras kepala.
“Huh terserah kamu sajalah, kamu sangat aneh! Mendadak jadi sok alim! Aku yakin Dimas akan bersyukur putus dengan kamu Devi!” Ivana malah jadi menyerang dengan ucapannya.
“Aku sudah tidak peduli lagi dengan Dimas, kalaupun Dimas memutuskan untuk meninggalkan aku... hmmm itu karena Allah menunjukkan dia memang bukan jodoh terbaik buatku,” jawab aku santai.
Aku yakin sekali dengan jawabanku kali ini, karena aku sudah berdoa akan jodoh yang terbaik saat malam terakhir meninggalkan tanah suci, dan aku yakin sekali Allah Maha Pendengar dan Allah yang tahu siapa pria terbaik yang akan menjadi imamku.
Kalaupun itu bukan Dimas dan Rifky sekalipun sungguh sekarang tak berarti apa-apa lagi buatku. Termasuk tuduhan Dimas akan Ivana yang diperkirakan bekerja sama dengan Rifky untuk menggagalkan pernikahanku dengan motif yang sampai sekarangpun aku sama sekali tak mengerti.
Ivana adalah sahabat terbaik dari SD, hanya saja kenapa dia harus sangat marah gara-gara aku memutuskan berhijab mendadak. Harusnya dia tahu kalau hidayah datang bisa kapan saja.
Other Stories
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...