The Stranger In The Cafe
Aku selalu percaya bahwa kesunyian adalah satu-satunya teman setia yang kumiliki. Di balik kaca café yang berembun, aku duduk sendirian dengan laptop terbuka, mencoba menenggelamkan diri dalam angka, strategi, dan rencana bisnis. Dunia luar melihatku sebagai sosok yang sempurna—CEO muda dengan segalanya dalam genggaman. Tapi di dalam diriku, ada monster yang tak pernah tidur.
Hari itu hujan turun pelan, meninggalkan aroma tanah basah yang samar terbawa angin. Café kecil ini selalu jadi tempatku bersembunyi dari keramaian kota. Tidak ada yang tahu aku sering ke sini. Dan kurasa tidak ada yang perlu tahu.
Sampai dia datang.
“Kalau aku boleh menebak,” suara lembut itu tiba-tiba terdengar, memecah lamunanku. “Kamu pasti tipe orang yang selalu pesan Americano, tanpa gula.”
Aku mengangkat wajah. Seorang wanita berdiri di depanku—aku tidak tahu sejak kapan ia berdiri di sana. Rambutnya terurai sederhana, wajahnya nyaris tanpa riasan, tapi ada sesuatu pada sorot matanya. Tajam, namun hangat. Seolah-olah ia sudah mengenalku lebih lama daripada siapapun.
Aku mengerutkan kening. “Dan kalau aku bilang salah?”
Dia tersenyum tipis, lalu duduk di kursi kosong di hadapanku tanpa diminta. “Kalau salah, aku akan traktir kamu kue paling manis di sini. Tapi aku yakin aku benar.”
Entah kenapa aku tidak langsung mengusirnya. Biasanya aku tidak suka orang asing menembus ruang pribadiku. Tapi ada aura berbeda dari wanita ini. Misterius. Mengganggu. Sekaligus… menarik.
Aku melirik gelas di mejaku. Americano, tanpa gula.
“Kelihatannya tebakanmu bagus.” Aku meneguk kopi itu pelan, mencoba menutupi rasa heran. “Tapi aku penasaran, bagaimana kamu tahu?”
Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapku lekat-lekat. “Orang yang selalu memilih kopi pahit biasanya punya dua kemungkinan: pertama, mereka benar-benar pecinta kopi. Kedua, mereka terbiasa menelan pahitnya hidup.”
Aku terdiam. Sekejap, kata-katanya terasa menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya.
Dia terkekeh kecil, seolah sadar reaksiku. “Tenang saja. Itu cuma tebakan lucu. Jangan terlalu serius.”
Aku ingin tertawa, tapi entah kenapa tidak bisa. Sebaliknya, aku merasa sedang diurai, lapis demi lapis. Wanita asing ini… siapa dia sebenarnya?
“Kalau begitu giliran aku.” Aku menegakkan badan, mencoba membalik permainan. “Boleh aku tebak tentangmu?”
Dia mengangkat alis, tersenyum tipis. “Silakan.”
Aku berpikir sebentar. “Kamu tipe orang yang suka membuat orang lain penasaran. Kamu masuk ke hidup orang tiba-tiba, bikin teka-teki, lalu pergi sebelum mereka bisa menemukan jawabannya.”
Untuk pertama kalinya sejak duduk, dia tidak langsung membalas. Senyumnya mengendur, tatapannya meredup sesaat—lalu kembali seperti semula. “Mungkin tebakanmu ada benarnya.”
Aku mencondongkan diri. “Atau mungkin memang itu yang sedang kamu lakukan padaku sekarang.”
Dia tidak menjawab. Hanya menyesap cappuccino yang entah sejak kapan ada di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Diam. Hanya detak jam di dinding dan suara hujan di luar. Tapi diam itu tidak canggung. Justru sebaliknya—terasa dalam.
“Kenapa aku?” Aku akhirnya bertanya.
Dia menoleh lagi, tatapannya menancap tepat ke mataku. “Karena aku melihat sesuatu di balik matamu. Sesuatu yang tidak semua orang bisa lihat.”
Aku merasakan sesuatu bergetar di dadaku. Ingin bertanya lebih jauh, tapi mulutku kelu.
Dia tersenyum samar, lalu bangkit. “Aku harus pergi. Terima kasih untuk tebakan tadi.”
Aku refleks berdiri. “Tunggu, siapa namamu?”
Dia berhenti sejenak, menatapku sekali lagi, lalu menggeleng. “Buat apa nama? Bukankah lebih seru kalau kita tetap saling menebak?”
Dan begitu saja, dia berjalan keluar café.
Aku berdiri mematung, menatap punggungnya menghilang di balik tirai hujan. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, bukan karena kopi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dilihat. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai pewaris, bukan sebagai lelaki dengan reputasi. Tapi sebagai diriku.
Dan entah kenapa, aku tahu ini bukan pertemuan terakhir.
Hari itu hujan turun pelan, meninggalkan aroma tanah basah yang samar terbawa angin. Café kecil ini selalu jadi tempatku bersembunyi dari keramaian kota. Tidak ada yang tahu aku sering ke sini. Dan kurasa tidak ada yang perlu tahu.
Sampai dia datang.
“Kalau aku boleh menebak,” suara lembut itu tiba-tiba terdengar, memecah lamunanku. “Kamu pasti tipe orang yang selalu pesan Americano, tanpa gula.”
Aku mengangkat wajah. Seorang wanita berdiri di depanku—aku tidak tahu sejak kapan ia berdiri di sana. Rambutnya terurai sederhana, wajahnya nyaris tanpa riasan, tapi ada sesuatu pada sorot matanya. Tajam, namun hangat. Seolah-olah ia sudah mengenalku lebih lama daripada siapapun.
Aku mengerutkan kening. “Dan kalau aku bilang salah?”
Dia tersenyum tipis, lalu duduk di kursi kosong di hadapanku tanpa diminta. “Kalau salah, aku akan traktir kamu kue paling manis di sini. Tapi aku yakin aku benar.”
Entah kenapa aku tidak langsung mengusirnya. Biasanya aku tidak suka orang asing menembus ruang pribadiku. Tapi ada aura berbeda dari wanita ini. Misterius. Mengganggu. Sekaligus… menarik.
Aku melirik gelas di mejaku. Americano, tanpa gula.
“Kelihatannya tebakanmu bagus.” Aku meneguk kopi itu pelan, mencoba menutupi rasa heran. “Tapi aku penasaran, bagaimana kamu tahu?”
Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapku lekat-lekat. “Orang yang selalu memilih kopi pahit biasanya punya dua kemungkinan: pertama, mereka benar-benar pecinta kopi. Kedua, mereka terbiasa menelan pahitnya hidup.”
Aku terdiam. Sekejap, kata-katanya terasa menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya.
Dia terkekeh kecil, seolah sadar reaksiku. “Tenang saja. Itu cuma tebakan lucu. Jangan terlalu serius.”
Aku ingin tertawa, tapi entah kenapa tidak bisa. Sebaliknya, aku merasa sedang diurai, lapis demi lapis. Wanita asing ini… siapa dia sebenarnya?
“Kalau begitu giliran aku.” Aku menegakkan badan, mencoba membalik permainan. “Boleh aku tebak tentangmu?”
Dia mengangkat alis, tersenyum tipis. “Silakan.”
Aku berpikir sebentar. “Kamu tipe orang yang suka membuat orang lain penasaran. Kamu masuk ke hidup orang tiba-tiba, bikin teka-teki, lalu pergi sebelum mereka bisa menemukan jawabannya.”
Untuk pertama kalinya sejak duduk, dia tidak langsung membalas. Senyumnya mengendur, tatapannya meredup sesaat—lalu kembali seperti semula. “Mungkin tebakanmu ada benarnya.”
Aku mencondongkan diri. “Atau mungkin memang itu yang sedang kamu lakukan padaku sekarang.”
Dia tidak menjawab. Hanya menyesap cappuccino yang entah sejak kapan ada di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Diam. Hanya detak jam di dinding dan suara hujan di luar. Tapi diam itu tidak canggung. Justru sebaliknya—terasa dalam.
“Kenapa aku?” Aku akhirnya bertanya.
Dia menoleh lagi, tatapannya menancap tepat ke mataku. “Karena aku melihat sesuatu di balik matamu. Sesuatu yang tidak semua orang bisa lihat.”
Aku merasakan sesuatu bergetar di dadaku. Ingin bertanya lebih jauh, tapi mulutku kelu.
Dia tersenyum samar, lalu bangkit. “Aku harus pergi. Terima kasih untuk tebakan tadi.”
Aku refleks berdiri. “Tunggu, siapa namamu?”
Dia berhenti sejenak, menatapku sekali lagi, lalu menggeleng. “Buat apa nama? Bukankah lebih seru kalau kita tetap saling menebak?”
Dan begitu saja, dia berjalan keluar café.
Aku berdiri mematung, menatap punggungnya menghilang di balik tirai hujan. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, bukan karena kopi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dilihat. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai pewaris, bukan sebagai lelaki dengan reputasi. Tapi sebagai diriku.
Dan entah kenapa, aku tahu ini bukan pertemuan terakhir.
Other Stories
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...