Rasa Yang Mengganggu
Malam ini seharusnya sama saja seperti malam-malam lain. Secangkir kopi hitam yang masih mengepul di mejaku, lampu ruang kerja redup, dan laptop terbuka dengan puluhan laporan yang menunggu tandatanganku. Tapi pikiranku sama sekali tidak di sini.
Bayangan wajah itu terus menari di kepalaku. Senyumnya yang nakal, tatapannya yang seolah menembus dinding pertahananku, bahkan teka-teki konyolnya yang entah kenapa membuatku defensif.
Sial. Kenapa aku jadi seperti ini?
Aku akhirnya mengeluarkan ponsel dan mengetik singkat kepada satu-satunya orang yang cukup dekat untuk kuceritakan hal seperti ini: Ardan, sahabatku sejak kuliah.
Tidak lama, panggilan video masuk. Ardan muncul dengan senyum lebarnya, menatapku penuh penasaran.
“Apa lagi yang bikin CEO muda kita ini gelisah? Lagi patah hati ya?” suaranya ringan tapi menusuk.
Aku mendengus. “Gue nggak patah hati.”
“Oh ya? Lalu kenapa ekspresimu kayak orang yang ditinggal pacar?” Ardan menyipitkan mata, pura-pura serius.
Aku menghela napas panjang. “Ada seorang cewek… yang aku temui beberapa kali.”
Ardan menahan tawa sebentar, lalu meledak. “Apa? CEO dingin kita akhirnya kepikiran juga sama cewek? Siapa dia? Model? Artis? Atau pegawai café yang berhasil bikin lo meleleh?”
“Dia bukan siapa-siapa,” jawabku cepat. “Aku bahkan nggak tahu namanya.”
Ardan meledak tertawa lebih keras lagi. “Jadi biar gue tebak. Dia dateng, ngomong sesuatu, terus pergi seenaknya? Dan sekarang lo gelisah gara-gara merasa… kehilangan?”
Aku mengerutkan alis. Tepat. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.
“Kenan, serius deh. Lo CEO muda yang bisa dapet siapa aja, tapi yang lo pikirin orang asing yang nggak mau kasih tau namanya?” Ardan menepuk meja di layar ponsel.
“Diam, Ardan,” gumamku, separuh kesal.
“Tapi jujur, ini seru sih. Lo penasaran, dan itu manusiawi,” tambahnya sambil masih tertawa kecil.
Aku menatap layar lama-lama, tapi senyum itu tidak menenangkan. Aku malah merasa semakin gelisah.
Ardan menatapku tajam, seolah membaca pikiran yang tak ingin kukatakan. “Kalau gitu, cari tau aja. Lo punya akses, koneksi, duit. Apa susahnya menemukan satu cewek?”
Aku menelan ludah. Kata-katanya benar.
Sudah cukup aku dibuat gusar. Jika wanita itu pikir bisa muncul seenaknya dan pergi tanpa jejak, dia salah besar. Aku tidak akan membiarkan rasa penasaran ini terus mengusikku.
Aku ingin tahu siapa sebenarnya wanita itu. Dari mana ia datang. Dan kenapa seolah ia bisa menembus semua dinding yang selama ini kubangun.
Dan kali ini… aku tidak akan membiarkannya pergi tanpa jawaban.
Bayangan wajah itu terus menari di kepalaku. Senyumnya yang nakal, tatapannya yang seolah menembus dinding pertahananku, bahkan teka-teki konyolnya yang entah kenapa membuatku defensif.
Sial. Kenapa aku jadi seperti ini?
Aku akhirnya mengeluarkan ponsel dan mengetik singkat kepada satu-satunya orang yang cukup dekat untuk kuceritakan hal seperti ini: Ardan, sahabatku sejak kuliah.
Tidak lama, panggilan video masuk. Ardan muncul dengan senyum lebarnya, menatapku penuh penasaran.
“Apa lagi yang bikin CEO muda kita ini gelisah? Lagi patah hati ya?” suaranya ringan tapi menusuk.
Aku mendengus. “Gue nggak patah hati.”
“Oh ya? Lalu kenapa ekspresimu kayak orang yang ditinggal pacar?” Ardan menyipitkan mata, pura-pura serius.
Aku menghela napas panjang. “Ada seorang cewek… yang aku temui beberapa kali.”
Ardan menahan tawa sebentar, lalu meledak. “Apa? CEO dingin kita akhirnya kepikiran juga sama cewek? Siapa dia? Model? Artis? Atau pegawai café yang berhasil bikin lo meleleh?”
“Dia bukan siapa-siapa,” jawabku cepat. “Aku bahkan nggak tahu namanya.”
Ardan meledak tertawa lebih keras lagi. “Jadi biar gue tebak. Dia dateng, ngomong sesuatu, terus pergi seenaknya? Dan sekarang lo gelisah gara-gara merasa… kehilangan?”
Aku mengerutkan alis. Tepat. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.
“Kenan, serius deh. Lo CEO muda yang bisa dapet siapa aja, tapi yang lo pikirin orang asing yang nggak mau kasih tau namanya?” Ardan menepuk meja di layar ponsel.
“Diam, Ardan,” gumamku, separuh kesal.
“Tapi jujur, ini seru sih. Lo penasaran, dan itu manusiawi,” tambahnya sambil masih tertawa kecil.
Aku menatap layar lama-lama, tapi senyum itu tidak menenangkan. Aku malah merasa semakin gelisah.
Ardan menatapku tajam, seolah membaca pikiran yang tak ingin kukatakan. “Kalau gitu, cari tau aja. Lo punya akses, koneksi, duit. Apa susahnya menemukan satu cewek?”
Aku menelan ludah. Kata-katanya benar.
Sudah cukup aku dibuat gusar. Jika wanita itu pikir bisa muncul seenaknya dan pergi tanpa jejak, dia salah besar. Aku tidak akan membiarkan rasa penasaran ini terus mengusikku.
Aku ingin tahu siapa sebenarnya wanita itu. Dari mana ia datang. Dan kenapa seolah ia bisa menembus semua dinding yang selama ini kubangun.
Dan kali ini… aku tidak akan membiarkannya pergi tanpa jawaban.
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...