BAB 4 JATUH DAN BANGKIT LAGI
Pagi itu, Azzam membuka notifikasi di ponselnya dengan hati berbunga. Seorang pelanggan baru memesan 20 kaos sekaligus untuk komunitasnya. Jumlah yang belum pernah ia dapat sebelumnya.
“Han! Kita dapat order besar!” seru Azzam dengan mata berbinar.
Farhan yang sedang menyeruput kopi hampir tersedak. “Serius? Dua puluh kaos? Wah, ini kesempatan emas, Zam. Kita bisa nunjukkin kualitas kita.”
Dengan semangat, Azzam segera menghubungi supplier kain yang direkomendasikan seorang kenalan. Ia mentransfer hampir semua sisa modal yang ia punya.
Mimpi yang Patah
Beberapa hari kemudian, pesanan kain datang. Namun saat dibuka, Azzam tertegun. Bahan kain kasar, warnanya pudar, bahkan ada beberapa sobekan.
“Ya Allah…” Azzam memegang kepalanya. “Ini… ini nggak mungkin dipakai.”
Farhan ikut memeriksa. “Astaga, Zam. Kita ditipu. Uangnya nggak mungkin balik lagi.”
Azzam terduduk lemas. “Aku udah bayar hampir semua modal. Gimana aku harus jelasin ke pelanggan? Mereka pasti kecewa. Mereka mungkin nggak akan percaya lagi sama kita.”
Hari itu, untuk pertama kalinya Azzam merasa benar-benar ingin menyerah.
Malam yang Berat
Malamnya, Azzam duduk di kamar kos yang remang. Tumpukan kain cacat itu tergeletak di pojok ruangan, seolah menertawakannya.
“Kenapa semua terasa sulit sekali? Baru mulai, sudah jatuh seperti ini…” bisiknya dengan suara parau.
Telepon dari Farhan masuk.
Farhan: “Zam, jangan patah semangat dulu. Kita masih bisa cari jalan.”
Azzam: “Han, aku capek. Aku mikir, mungkin Nadia benar. Aku cuma mimpi terlalu tinggi. Aku bukan siapa-siapa.”
Farhan: “Dengar aku. Kamu memang bukan siapa-siapa sekarang. Tapi bukankah itu alasan kenapa kamu harus terus jalan? Supaya suatu hari, kamu bisa jadi seseorang?”
Azzam terdiam. Kata-kata Farhan menusuk sekaligus menyadarkan.
Cahaya dari Nasihat Ayah
Malam semakin larut. Azzam akhirnya menghubungi ayahnya di kampung. Suara ayahnya serak tapi hangat.
“Zam, Ayah dengar usaha kamu kena masalah?”
“Iya, Yah… aku ditipu. Rasanya sia-sia semua.”
“Nak, kamu ingat waktu kecil kamu belajar naik sepeda? Kamu jatuh berkali-kali, berdarah-darah. Tapi akhirnya bisa, kan? Usaha juga begitu. Kalau jatuh, bukan berarti berhenti. Justru jatuh itu tanda kamu sedang belajar.”
Air mata Azzam mengalir. “Jadi aku harus terus jalan, Yah?”
“Iya, Nak. Jangan berhenti hanya karena sekali jatuh. Luka itu bukan akhir, tapi awal dari langkah yang lebih kuat.”
Bangkit Lagi
Keesokan harinya, Azzam memutuskan untuk jujur kepada pelanggannya. Ia menelpon langsung ketua komunitas yang memesan.
“Mas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Supplier kami mengecewakan. Saya nggak bisa kirim kaos sesuai waktu yang dijanjikan. Tapi saya janji, saya akan ganti dengan kualitas lebih baik, meski saya harus rugi.”
Awalnya, ia takut dimarahi. Namun, ketua komunitas itu justru menjawab dengan tenang:
“Mas Azzam, saya hargai kejujuranmu. Saya akan tetap menunggu. Jangan kecewakan kami ya.”
Ucapan itu seperti bensin yang menyulut semangatnya kembali.
Dengan modal pinjaman kecil dari Farhan, Azzam mencari supplier baru yang lebih terpercaya. Ia lembur seminggu penuh, bahkan tidur hanya dua jam sehari. Hasilnya? Pesanan 20 kaos itu akhirnya selesai dengan kualitas jauh lebih baik.
Ketika pesanan dikirim, pelanggan puas dan bahkan merekomendasikan Azzam ke komunitas lain.
Luka yang Menjadi Guru
Malam itu, Azzam menatap kain sisa yang gagal di pojok kamarnya. Ia tersenyum getir.
“Terima kasih sudah membuat aku jatuh. Karena kalau bukan karena luka ini, aku nggak akan belajar bangkit.”
Ia menulis sebuah catatan di bukunya:
“Kegagalan bukan alasan untuk berhenti, tapi alasan untuk tumbuh lebih kuat.”
Di titik itu, Azzam sadar: perjalanan masih panjang, tapi ia sudah melewati salah satu ujian terberatnya.
“Han! Kita dapat order besar!” seru Azzam dengan mata berbinar.
Farhan yang sedang menyeruput kopi hampir tersedak. “Serius? Dua puluh kaos? Wah, ini kesempatan emas, Zam. Kita bisa nunjukkin kualitas kita.”
Dengan semangat, Azzam segera menghubungi supplier kain yang direkomendasikan seorang kenalan. Ia mentransfer hampir semua sisa modal yang ia punya.
Mimpi yang Patah
Beberapa hari kemudian, pesanan kain datang. Namun saat dibuka, Azzam tertegun. Bahan kain kasar, warnanya pudar, bahkan ada beberapa sobekan.
“Ya Allah…” Azzam memegang kepalanya. “Ini… ini nggak mungkin dipakai.”
Farhan ikut memeriksa. “Astaga, Zam. Kita ditipu. Uangnya nggak mungkin balik lagi.”
Azzam terduduk lemas. “Aku udah bayar hampir semua modal. Gimana aku harus jelasin ke pelanggan? Mereka pasti kecewa. Mereka mungkin nggak akan percaya lagi sama kita.”
Hari itu, untuk pertama kalinya Azzam merasa benar-benar ingin menyerah.
Malam yang Berat
Malamnya, Azzam duduk di kamar kos yang remang. Tumpukan kain cacat itu tergeletak di pojok ruangan, seolah menertawakannya.
“Kenapa semua terasa sulit sekali? Baru mulai, sudah jatuh seperti ini…” bisiknya dengan suara parau.
Telepon dari Farhan masuk.
Farhan: “Zam, jangan patah semangat dulu. Kita masih bisa cari jalan.”
Azzam: “Han, aku capek. Aku mikir, mungkin Nadia benar. Aku cuma mimpi terlalu tinggi. Aku bukan siapa-siapa.”
Farhan: “Dengar aku. Kamu memang bukan siapa-siapa sekarang. Tapi bukankah itu alasan kenapa kamu harus terus jalan? Supaya suatu hari, kamu bisa jadi seseorang?”
Azzam terdiam. Kata-kata Farhan menusuk sekaligus menyadarkan.
Cahaya dari Nasihat Ayah
Malam semakin larut. Azzam akhirnya menghubungi ayahnya di kampung. Suara ayahnya serak tapi hangat.
“Zam, Ayah dengar usaha kamu kena masalah?”
“Iya, Yah… aku ditipu. Rasanya sia-sia semua.”
“Nak, kamu ingat waktu kecil kamu belajar naik sepeda? Kamu jatuh berkali-kali, berdarah-darah. Tapi akhirnya bisa, kan? Usaha juga begitu. Kalau jatuh, bukan berarti berhenti. Justru jatuh itu tanda kamu sedang belajar.”
Air mata Azzam mengalir. “Jadi aku harus terus jalan, Yah?”
“Iya, Nak. Jangan berhenti hanya karena sekali jatuh. Luka itu bukan akhir, tapi awal dari langkah yang lebih kuat.”
Bangkit Lagi
Keesokan harinya, Azzam memutuskan untuk jujur kepada pelanggannya. Ia menelpon langsung ketua komunitas yang memesan.
“Mas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Supplier kami mengecewakan. Saya nggak bisa kirim kaos sesuai waktu yang dijanjikan. Tapi saya janji, saya akan ganti dengan kualitas lebih baik, meski saya harus rugi.”
Awalnya, ia takut dimarahi. Namun, ketua komunitas itu justru menjawab dengan tenang:
“Mas Azzam, saya hargai kejujuranmu. Saya akan tetap menunggu. Jangan kecewakan kami ya.”
Ucapan itu seperti bensin yang menyulut semangatnya kembali.
Dengan modal pinjaman kecil dari Farhan, Azzam mencari supplier baru yang lebih terpercaya. Ia lembur seminggu penuh, bahkan tidur hanya dua jam sehari. Hasilnya? Pesanan 20 kaos itu akhirnya selesai dengan kualitas jauh lebih baik.
Ketika pesanan dikirim, pelanggan puas dan bahkan merekomendasikan Azzam ke komunitas lain.
Luka yang Menjadi Guru
Malam itu, Azzam menatap kain sisa yang gagal di pojok kamarnya. Ia tersenyum getir.
“Terima kasih sudah membuat aku jatuh. Karena kalau bukan karena luka ini, aku nggak akan belajar bangkit.”
Ia menulis sebuah catatan di bukunya:
“Kegagalan bukan alasan untuk berhenti, tapi alasan untuk tumbuh lebih kuat.”
Di titik itu, Azzam sadar: perjalanan masih panjang, tapi ia sudah melewati salah satu ujian terberatnya.
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Test
Test ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...