Dari Luka Menjadi Cahaya

Reads
894
Votes
12
Parts
11
Vote
Report
Dari luka menjadi cahaya
Dari Luka Menjadi Cahaya
Penulis Bayu Alfianur

Bab 5 API DARI LUKA

Hari itu, Azzam baru saja selesai mengantar pesanan ke pelanggan tetapnya. Badannya lelah, bajunya basah oleh keringat, tapi hatinya cukup tenang. Meski belum banyak, usaha kecilnya mulai mendapat tempat.

Namun, ketenangan itu runtuh seketika saat ia membuka ponselnya. Sebuah pesan WhatsApp dari grup SMA membuat dadanya sesak.

Rani (teman SMA): “Guys, jangan lupa ya! Besok hadir di resepsi pernikahan Nadia & Reza. Lokasi di hotel bintang lima, jam 7 malam. Dresscode formal.”

Azzam terdiam. Tangannya bergetar memegang ponsel. Nama itu Nadia kembali menusuk hatinya.

“Jadi… besok dia benar-benar menikah,” gumamnya pelan.

Luka yang Kembali Terbuka

Malam itu, Azzam duduk di meja kecil di kamarnya. Sketsa-sketsa desainnya terbuka di laptop, tapi pikirannya tak bisa fokus. Bayangan wajah Nadia terus muncul. Senyum manis yang dulu membuatnya berjuang, kini berubah menjadi luka yang menusuk.

Farhan tiba-tiba menelpon.

Farhan: “Zam, kamu udah lihat undangan di grup?”
Azzam: (diam sejenak) “Udah… jadi dia beneran nikah sama Reza.”
Farhan: “Zam, kamu nggak perlu datang kalau itu bikin kamu sakit. Nggak ada gunanya melukai diri sendiri.”
Azzam: (menarik napas panjang) “Nggak, Han. Aku nggak akan datang. Bukan karena aku takut, tapi karena aku nggak mau jadi tamu di perayaan luka aku sendiri.”

Farhan terdiam. Ia tahu, sahabatnya itu sedang menahan perih yang luar biasa.

Doa di Malam Sepi

Pukul 2 dini hari, Azzam terbangun. Hatinya gelisah. Ia mengambil air wudhu, lalu duduk di atas sajadah. Suara hujan rintik-rintik di luar kamar seolah ikut menemani.

“Ya Allah…” ucapnya lirih dengan air mata mengalir.
“Wanita yang selama ini aku cintai sudah memilih jalan hidupnya. Aku kehilangan dia… tapi aku yakin Engkau tidak pernah mengambil sesuatu kecuali untuk memberi yang lebih baik. Jangan biarkan luka ini jadi racun, tapi jadikan api yang membuat aku lebih kuat.”

Tangisnya pecah, tapi ada ketenangan aneh yang meresap di dadanya.

Hari Pernikahan

Keesokan harinya, berita pernikahan Nadia tersebar di media sosial. Foto-foto mewah, gaun putih indah, senyum Nadia di samping Reza yang gagah dengan jas mahal.

Azzam melihatnya sebentar, lalu menutup ponsel. Dadanya perih, tapi ia memilih menunduk dan kembali bekerja.

“Kalau aku terus menatap ke belakang, aku nggak akan pernah bisa maju,” katanya pada diri sendiri.

Api yang Menyala

Malam itu, setelah semua pesanan selesai, Azzam duduk di kursi plastik di kamarnya. Ia menatap catatan yang ia tulis sebelumnya:

“Kegagalan bukan alasan untuk berhenti, tapi alasan untuk tumbuh lebih kuat.”

Azzam menggenggam pulpen erat-erat, lalu menulis kalimat baru di bawahnya:

“Aku ditinggalkan bukan karena aku tidak berharga. Aku ditinggalkan karena aku harus belajar menjadi berharga dengan caraku sendiri.”

Malam itu, ia kembali menelpon ayahnya di kampung.

Azzam: “Yah, hari ini Nadia menikah dengan Reza.”
Ayah: (hening sejenak) “Ayah tahu itu berat untukmu, Nak. Tapi ingat, bukan berarti kamu kalah. Kadang Tuhan mengambil orang dari hidup kita supaya kita bisa melihat siapa sebenarnya yang pantas menemani kita.”
Azzam: (suara bergetar) “Jadi aku harus tetap kuat, Yah?”
Ayah: “Bukan hanya kuat. Kamu harus buktikan bahwa luka ini bisa jadi cahaya. Biar suatu hari, kamu bisa tersenyum melihat ke belakang dan berkata: ‘Aku berhasil, justru karena aku pernah jatuh.’”

Azzam meneteskan air mata. “Terima kasih, Yah. Doakan aku.”


Tekad Baru

Malam semakin larut, tapi mata Azzam justru menyala dengan semangat baru. Ia kembali membuka laptop, melihat sketsa desain yang sempat ia abaikan. Kali ini, ia menggambar sebuah hoodie dengan tulisan besar di bagian belakang:

“From Pain to Power.”

Ia menatap hasil sketsa itu lama, lalu tersenyum tipis.

“Mulai hari ini, aku akan menjadikan luka ini bahan bakar. Aku akan buktikan… aku bisa berdiri, bahkan tanpa siapa pun di sisiku.”

Di tengah rasa perih, lahirlah api baru yang akan menuntunnya menuju cahaya.





Other Stories
Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Download Titik & Koma