Part 4 Hilangnya Harga Diri Dan Jati Diri
Sepeda yang aku naiki pada saat kejadiaan tersebut juga mengalami sedikit kerusakan sehingga di butuhkan perbaikan terlebih dahulu untuk bisa di bawa kembali. Aku yang masih kecil dan tidak mendapatkan izin lagi untuk bersepeda oleh ibu ku akhirnya menjalani berbagai kegiatan dengan tidak menyentuh sepeda.
Setelah cukup lama dari kejadian itu, aku iseng untuk mencoba melihat kondisi sepeda ku apakah bisa di perbaiki seadanya oleh diri ku sendiri atau memang harus di bawa ke tempat yang lebih mengerti sepeda, dalam artian tempat yang memang bisa memperbaiki sepeda rusak. Ternyata setelah aku lihat, sepeda itu bisa di betulkan sendiri oleh diri ku dan tidak perlu untuk di bawa ke tempat perbaikan sepeda.
Setang sepeda yang tidak lurus akibat kecelakaan membuat diri ku bisa memperbaikinya sendiri dengan sedikit tenaga untuk kembali meluruskan setang sepeda tersebut. Setelah sepeda ku telah usai di perbaiki dengan sebisa ku, akhirnya aku kembali membawa sepeda lipat kesayangan ku saat sedang bermain.
Fyi aja, sepeda itu bisa ku beli lantaran hadiah uang yang diberikan oleh orang-orang saat menjeguk ku ketika baru saja di sunat termasuk hadiah uang dari keluarga sendiri. Pada saat bermain, aku membawa sepeda keluar meskipun hanya duduk dan ngobrol saja dengan teman-teman.
Aku yang tidak bisa diam dan mudah bosan memilih untuk duduk di atas sepeda sendiri ketika teman teman yang lain duduk diam di atas tempat yang terbuat dari semen. Entah mengapa, secara tiba-tiba ide ku yang lain muncul begitu saja. Ide yang keluar waktu itu adalah aku yang berkeinginan untuk bisa mengangkat ban sepeda pada saat ke dua kaki berada di atas pedal gowes.
Pertama kali mencoba hal itu, aku langsung kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Tapi diri ku yang sigap, membuatnya tidak jadi jatuh sepenuhnya dan masih bisa di tahan. Kala itu teman ku yang melihat akan tingkah ku itu langsung membuat ku panik dengan cara mengatakan bahwa kelakukan tersebut yang baru saja di lakukan itu akan di laporkan kepada orang tua ku.
Mendapatkan ancaman itu dan sudah pastinya takut, akhirnya aku lebih memilih duduk yang benar dengan teman-teman lainnya. Setelah itu, aku menjalani aktivitas seperti biasanya namun tidak dengan menaiki sepeda. Sepeda itu aku simpan begitu saja di dalam rumah dan tidak pernah ku bawa keluar lagi.
Ada sedikit berbeda rasanya pada saat aku melakukan aktivitas saat itu. Aku mendapatkan ejekan dari teman teman saat itu lantaran gigi susu ku yang patah setengah. Mereka meledek ku dengan sebutan "Gigi Patah" dan memanggil ku dengan sebutan "Gipat" dan juga "Gigi". Orang-orang yang mengejek ku waktu itu adalah teman sendiri.
Kejadian itu masih berada di bulan puasa. Pada saat shalat tarawih, teman-teman ku mengejek dengan sebutan itu. Awalnya aku menganggap hal itu adalah candaan biasa saja dan aku mencoba untuk masih bisa memberikan respon dengan candaan meskipun merasakan hal lain di dalam hati.
Sampai akhirnya ada sekumpulan anak kecil yang tidak jauh dan teman ku langsung menghasut sekumpulan anak kecil yang saat itu berada di dekatnya untuk ikut mengejek ku dengan sebutan "Gigi Patah". Akhirnya anak-anak kecil itu pun ikut mengejek ku dengan sebuat "Gigi Patah". Mereka meneriaki ku dengan sebutan itu. Ketika aku mendekat, mereka langsung menjauh seolah aku adalah sesuatu yang menyeramkan.
~Bersambung~
Setelah cukup lama dari kejadian itu, aku iseng untuk mencoba melihat kondisi sepeda ku apakah bisa di perbaiki seadanya oleh diri ku sendiri atau memang harus di bawa ke tempat yang lebih mengerti sepeda, dalam artian tempat yang memang bisa memperbaiki sepeda rusak. Ternyata setelah aku lihat, sepeda itu bisa di betulkan sendiri oleh diri ku dan tidak perlu untuk di bawa ke tempat perbaikan sepeda.
Setang sepeda yang tidak lurus akibat kecelakaan membuat diri ku bisa memperbaikinya sendiri dengan sedikit tenaga untuk kembali meluruskan setang sepeda tersebut. Setelah sepeda ku telah usai di perbaiki dengan sebisa ku, akhirnya aku kembali membawa sepeda lipat kesayangan ku saat sedang bermain.
Fyi aja, sepeda itu bisa ku beli lantaran hadiah uang yang diberikan oleh orang-orang saat menjeguk ku ketika baru saja di sunat termasuk hadiah uang dari keluarga sendiri. Pada saat bermain, aku membawa sepeda keluar meskipun hanya duduk dan ngobrol saja dengan teman-teman.
Aku yang tidak bisa diam dan mudah bosan memilih untuk duduk di atas sepeda sendiri ketika teman teman yang lain duduk diam di atas tempat yang terbuat dari semen. Entah mengapa, secara tiba-tiba ide ku yang lain muncul begitu saja. Ide yang keluar waktu itu adalah aku yang berkeinginan untuk bisa mengangkat ban sepeda pada saat ke dua kaki berada di atas pedal gowes.
Pertama kali mencoba hal itu, aku langsung kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Tapi diri ku yang sigap, membuatnya tidak jadi jatuh sepenuhnya dan masih bisa di tahan. Kala itu teman ku yang melihat akan tingkah ku itu langsung membuat ku panik dengan cara mengatakan bahwa kelakukan tersebut yang baru saja di lakukan itu akan di laporkan kepada orang tua ku.
Mendapatkan ancaman itu dan sudah pastinya takut, akhirnya aku lebih memilih duduk yang benar dengan teman-teman lainnya. Setelah itu, aku menjalani aktivitas seperti biasanya namun tidak dengan menaiki sepeda. Sepeda itu aku simpan begitu saja di dalam rumah dan tidak pernah ku bawa keluar lagi.
Ada sedikit berbeda rasanya pada saat aku melakukan aktivitas saat itu. Aku mendapatkan ejekan dari teman teman saat itu lantaran gigi susu ku yang patah setengah. Mereka meledek ku dengan sebutan "Gigi Patah" dan memanggil ku dengan sebutan "Gipat" dan juga "Gigi". Orang-orang yang mengejek ku waktu itu adalah teman sendiri.
Kejadian itu masih berada di bulan puasa. Pada saat shalat tarawih, teman-teman ku mengejek dengan sebutan itu. Awalnya aku menganggap hal itu adalah candaan biasa saja dan aku mencoba untuk masih bisa memberikan respon dengan candaan meskipun merasakan hal lain di dalam hati.
Sampai akhirnya ada sekumpulan anak kecil yang tidak jauh dan teman ku langsung menghasut sekumpulan anak kecil yang saat itu berada di dekatnya untuk ikut mengejek ku dengan sebutan "Gigi Patah". Akhirnya anak-anak kecil itu pun ikut mengejek ku dengan sebuat "Gigi Patah". Mereka meneriaki ku dengan sebutan itu. Ketika aku mendekat, mereka langsung menjauh seolah aku adalah sesuatu yang menyeramkan.
~Bersambung~
Other Stories
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...