Bab 8 - Berakhir
“Alhamdulillah selesai,” ucap Sari.
Ember besar yang baru saja dia buang airnya, segera dia telungkupkan. Reflek dia memegang pinggang sambil meregangkan otot tubuhnya. Lelah mendera. Tulang-tulang terasa ngilu. Ditambah jari jemarinya yang sedikit perih, akibat kandungan keras dalam sabun colek murahan.
“Sudah selesai, Mak?” Raka bertanya seraya mendekat. Hanya sebuah penekanan, sebab dia sebenarnya sudah mendengar ucapan Sari. Pun dia melihat semua perabotan telah selesai dicuci.
Sari mengangguk. Melempar sebaris senyum.
“Mamak capek ya?” Mata Raka menelisik gurat wajah sang ibu. “Kayak nggak tega aku cuma ngeliatin Mamak dari tadi. Tapi kalo bantu Mamak, nanti diomelin."
"Maafin aku ya, Mak. Nggak bisa bantu.” Suara Raka memancar ketulusan.
“Nggak apa-apa….” Sari mengulas senyum. “Ayok kita siap-siap pulang.”
“Alhamdulillah… akhirnya bisa keluar dari sini.” Raka bertepuk tangan pelan-pelan. Wajahnya yang juga terlihat lelah, menyeringai lebar. “Banyak nyamuk di sini, Mak. Mana nggigitnya sakit. Kayak tajem itu mulutnya nyamuk.”
“Jangan mengeluh dong, nanti berkahnya berkurang.” Sari mengelus kepala Raka.
Raka terkekeh malu.
“Terima kasih ya, anak gantengnya Mamak… sudah bersabar nungguin Mamak.”
“Iya, Mak. Aku—”
“Sari!”
Suara kencang Bu Dewi terdengar dari arah dalam. Membuat Raka dan Sari mematung seketika. Hanya dua pasang mata mereka yang saling memberi kode penuh arti.
“Ya, Bu,” jawab Sari. Namun dia tidak segera masuk. Dia bicara terlebih dahulu kepada Raka. “Kamu tunggu Mamak di luar ya.”
“Sudah boleh ke depan warung, Mak? Tapi kan masih ada Bu Dewi.”
“Sudah boleh dong, kan warung sudah tutup.”
“Sari!” Suara Bu Dewi bertambah kencang. Ada nada tidak sabar dalam seruan tersebut.
“Ya, Bu.” Sari tergopoh mendekat. Mendapati Bu Dewi dengan tampilan yang sudah siap untuk pulang.
“Malah ngobrol. Ini sudah malam, aku capek tau!” sungut Bu Dewi.
“M-maaf, Bu. Itu—”
“Ngurusin anakmu dulu? Kerja kalau bawa anak ya begitu itu!” tukas perempuan tambun tersebut.
Sari menunduk.
Bu Dewi berdecak kesal sambil merogoh tas. Lalu dia mengulurkan uang lima puluh ribu. “Nih, upahmu hari ini.”
“S-semua i-ini?”
“Iya.”
“S-serius, Bu?” Mata Sari membesar. Dalam hatinya menjerit senang.
“Iya, buat kamu semua,” sahut Bu Dewi mantap. “Tiga puluh upahmu. Terus yang dua puluh anggap saja hadiah terakhir.”
Bu Dewi berdiri, merapatkan jaketnya, lalu memakai helm. Dia sudah melangkah, saat menyadari Sari masih terpaku di tempatnya. “Heh, ayo! Aku mau kunciin warungnya!”
“T-tadi Ibu bilang apa? T-terakhir?” Sari mendesis. Dipandangnya uang berwarna biru yang baru saja dia syukuri.
“Cepet, Sari! Aku nggak punya banyak waktu untuk ngobrol. Aku sudah kepengen istirahat.” Bu Dewi melangkah menuju pintu keluar.
Dan saat dia melihat Raka di luar, yang juga tengah melihat ke arahnya. Bu Dewi pun sengaja menaikkan nada bicara. “Iya, ini hari terakhir kamu. Mulai besok nggak usah kerja di sini lagi, saya nggak mau jadi penjahat untuk anak kamu.”
“Bu…. Tolong….” Sari mengejar langkah Bu Dewi. Meraih tangan sang majikan, tetapi Bu Dewi cepat menepis.
“Sudahlah, Sari. Jangan drama-drama.” Bu Dewi memandang Sari dengan tatapan dingin. “Aku ini pedagang kecil-kecilan, untungku juga nggak seberapa. Semakin hari warung ini semakin sepi. Semua gara-gara anakmu.”
Bu Dewi bergerak. Mulai menutup pintu dan menggemboknya.
“Bu Dewi, saya mohon… pertimbangkan lagi.” Sari menahan tangis.
“Ya, Bu Dewi… saya nggak akan ke sini lagi,” ucap Raka menambahkan.
Bu Dewi hanya menghela napas. Dia memandang Raka.
“Tolong, Bu….” Raka mendadak berlutut.
Bu Dewi tampak berpikir keras. Sementara Sari mulai berlutut juga.
Detik berlalu, ketiganya hanya saling memandang dalam diam.
Ember besar yang baru saja dia buang airnya, segera dia telungkupkan. Reflek dia memegang pinggang sambil meregangkan otot tubuhnya. Lelah mendera. Tulang-tulang terasa ngilu. Ditambah jari jemarinya yang sedikit perih, akibat kandungan keras dalam sabun colek murahan.
“Sudah selesai, Mak?” Raka bertanya seraya mendekat. Hanya sebuah penekanan, sebab dia sebenarnya sudah mendengar ucapan Sari. Pun dia melihat semua perabotan telah selesai dicuci.
Sari mengangguk. Melempar sebaris senyum.
“Mamak capek ya?” Mata Raka menelisik gurat wajah sang ibu. “Kayak nggak tega aku cuma ngeliatin Mamak dari tadi. Tapi kalo bantu Mamak, nanti diomelin."
"Maafin aku ya, Mak. Nggak bisa bantu.” Suara Raka memancar ketulusan.
“Nggak apa-apa….” Sari mengulas senyum. “Ayok kita siap-siap pulang.”
“Alhamdulillah… akhirnya bisa keluar dari sini.” Raka bertepuk tangan pelan-pelan. Wajahnya yang juga terlihat lelah, menyeringai lebar. “Banyak nyamuk di sini, Mak. Mana nggigitnya sakit. Kayak tajem itu mulutnya nyamuk.”
“Jangan mengeluh dong, nanti berkahnya berkurang.” Sari mengelus kepala Raka.
Raka terkekeh malu.
“Terima kasih ya, anak gantengnya Mamak… sudah bersabar nungguin Mamak.”
“Iya, Mak. Aku—”
“Sari!”
Suara kencang Bu Dewi terdengar dari arah dalam. Membuat Raka dan Sari mematung seketika. Hanya dua pasang mata mereka yang saling memberi kode penuh arti.
“Ya, Bu,” jawab Sari. Namun dia tidak segera masuk. Dia bicara terlebih dahulu kepada Raka. “Kamu tunggu Mamak di luar ya.”
“Sudah boleh ke depan warung, Mak? Tapi kan masih ada Bu Dewi.”
“Sudah boleh dong, kan warung sudah tutup.”
“Sari!” Suara Bu Dewi bertambah kencang. Ada nada tidak sabar dalam seruan tersebut.
“Ya, Bu.” Sari tergopoh mendekat. Mendapati Bu Dewi dengan tampilan yang sudah siap untuk pulang.
“Malah ngobrol. Ini sudah malam, aku capek tau!” sungut Bu Dewi.
“M-maaf, Bu. Itu—”
“Ngurusin anakmu dulu? Kerja kalau bawa anak ya begitu itu!” tukas perempuan tambun tersebut.
Sari menunduk.
Bu Dewi berdecak kesal sambil merogoh tas. Lalu dia mengulurkan uang lima puluh ribu. “Nih, upahmu hari ini.”
“S-semua i-ini?”
“Iya.”
“S-serius, Bu?” Mata Sari membesar. Dalam hatinya menjerit senang.
“Iya, buat kamu semua,” sahut Bu Dewi mantap. “Tiga puluh upahmu. Terus yang dua puluh anggap saja hadiah terakhir.”
Bu Dewi berdiri, merapatkan jaketnya, lalu memakai helm. Dia sudah melangkah, saat menyadari Sari masih terpaku di tempatnya. “Heh, ayo! Aku mau kunciin warungnya!”
“T-tadi Ibu bilang apa? T-terakhir?” Sari mendesis. Dipandangnya uang berwarna biru yang baru saja dia syukuri.
“Cepet, Sari! Aku nggak punya banyak waktu untuk ngobrol. Aku sudah kepengen istirahat.” Bu Dewi melangkah menuju pintu keluar.
Dan saat dia melihat Raka di luar, yang juga tengah melihat ke arahnya. Bu Dewi pun sengaja menaikkan nada bicara. “Iya, ini hari terakhir kamu. Mulai besok nggak usah kerja di sini lagi, saya nggak mau jadi penjahat untuk anak kamu.”
“Bu…. Tolong….” Sari mengejar langkah Bu Dewi. Meraih tangan sang majikan, tetapi Bu Dewi cepat menepis.
“Sudahlah, Sari. Jangan drama-drama.” Bu Dewi memandang Sari dengan tatapan dingin. “Aku ini pedagang kecil-kecilan, untungku juga nggak seberapa. Semakin hari warung ini semakin sepi. Semua gara-gara anakmu.”
Bu Dewi bergerak. Mulai menutup pintu dan menggemboknya.
“Bu Dewi, saya mohon… pertimbangkan lagi.” Sari menahan tangis.
“Ya, Bu Dewi… saya nggak akan ke sini lagi,” ucap Raka menambahkan.
Bu Dewi hanya menghela napas. Dia memandang Raka.
“Tolong, Bu….” Raka mendadak berlutut.
Bu Dewi tampak berpikir keras. Sementara Sari mulai berlutut juga.
Detik berlalu, ketiganya hanya saling memandang dalam diam.
Other Stories
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...