Bab 9 – Palsu
“Sudahlah, cari kerjaan lain saja, Sar. Aku sudah nggak cocok sama kamu,” ujar Bu Dewi. Setelah itu dia segera naik ke motornya, dan laju dengan cepat.
Sari menutup wajah, air matanya tumpah secara spontan.
“Mak, maafkan aku, Mak… gara-gara aku semua jadi begini.” Raka pun mulai menangis.
“Huff….” Sari menghela napas. Bergegas menghapus air mata yang terlanjur membasahi kedua pipinya.
Perlahan dia bangkit. Tangannya terulur pada Raka. “Ayo, Ka. Kita pulang.”
“Maafkan aku, Mak.” Raka ikut berdiri sembari terisak.
“Bukan kesalahan kamu.”
**
“Mamak kenapa diam saja dari tadi?” Raka menoleh.
Perjalanan panjang dari warung Bu Dewi ke rumah, yang biasanya mereka lalui dengan penuh semangat, mendadak menjadi muram.
“Bingung ya, Mak? Nanti kita makannya gimana? Uang dari Bu Ratna kan cukup untuk bayar kontrakan doang ya, Mak?” ujar Raka lagi.
Sari tersenyum. “Iya, Mamak bingung… Mamak juga sedih, tapi Mamak sedang berusaha menerima.”
Raka mengernyit. Tampak tidak paham.
“Raka… di dunia ini kita akan banyak menemukan kejadian-kejadian yang tidak sesuai sama kemauan kita. Misal kayak Mamak masih mau kerja, tapi Bu Dewi nggak mau Mamak kerja di situ.”
“Memang Bu Dewi itu jahat ya, Mak,” tukas Raka.
Sari berderai sumbang. “Mamak sedih, tapi Mamak nggak marah sama Bu Dewi. Kan itu warungnya Bu Dewi, ya memang Mamak yang harusnya mengikuti aturan Bu Dewi kan?”
Raka mengangguk, meski air mukanya masih tampak bingung.
“Hari ini kita sama-sama belajar untuk menerima. Biar pun kita sedih, kecewa atau marah... Bu Dewi tetap nggak akan bolehin Mamak kerja di warungnya lagi. Jadi lebih baik kita belajar menerima kenyataan itu."
Raka kembali mengangguk. Terlihat mengerti dengan yang diucapkan sang ibu.
"Daripada marah-marah, mending kita berpikir gimana caranya biar kita dapat uang dari tempat lain.” Sari berusaha tersenyum lebih lebar. “Raka paham kan maksudnya?”
“Ya, Mak… nggak boleh dendam sama Bu Dewi,” jawab Raka polos.
Sari terisak. Dia raih tangan Raka. Dan dalam sekejap mereka berpelukan.
Tangis tumpah.
Hati Sari menjadi sangat nelangsa. Dia merasa memaksa anaknya menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun sepertinya itu adalah jalan satu-satunya mempersiapkan Raka menjadi manusia yang dapat meraih masa depan cerah.
“Mulai besok kita mulung bareng lagi,” kata Sari riang seraya melepas pelukan.
“Serius, Mak?” Wajah Raka berseri. “Kayak dulu sebelum Mamak kerja di warung Bu Dewi?”
“Iya, Sayang…. Pokoknya kita harus berusaha sebisa kita. Selalu ada jalan asal kita mau berusaha.”
“Eh, kayak yang dibilang Bu Guru di sekolah aku, Mak.”
Sari menggandeng tangan anaknya, lalu mulai membawanya melangkah. “Oh, ya? Bu Guru bilang apa?”
“Katanya aku harus terus berusaha sebaik mungkin, pasti nanti Allah menolong aku.”
"Pintar!" Sari tertawa.
Raka ikut tertawa.
“Jadi bener nanti Allah akan tolong kita, Mak? Kita jadi kaya raya?” Raka bicara setelah tawanya memudar.
“Ya bukan begitu. Allah menolong dengan memberi kita jalan, dan Alalh hanya mau menolong orang yang mau berusaha.” Sari menggenggam erat telapak tangan Raka. “Paham nggak?”
Raka hanya menyeringai. Tampak tidak paham tetapi terkesan malu untuk mengakuinya.
“Intinya, Raka harus nurut apa kata Mamak ya.”
“Oh kalau itu, iya, Mak. Kan aku cuma punya Mamak di dunia ini.”
Tawa menguar manis dari mulut mereka berdua.
Meskipun setelah sampai di rumah, Sari diam-diam menangis sambil mandi. Nekat mengguyurkan air dingin berkali-kali ke kepalanya. Meluruhkan optimisme palsu yang tadi dia perlihatkan kepada anaknya.
Siapa pun tahu, jaman sekarang ini mengais rupiah bukanlah hal yang mudah.
Sari pernah berjualan gorengan, tetapi tidak laku. Berjualan kue, sama saja tidak laku. Sebelum bekerja di warung Bu Dewi, dia sudah puluhan kali mencari pekerjaan. Dan tidak ada satu pun yang mau memperkerjakan dirinya.
“Ya Allah, apa benar ada pertolongan-Mu?” Tangan Sari gemetar menggerakkan gayung.
Air dingin menimpa kepalanya dengan cepat. Lalu luruh bersama air matanya.
Sari menutup wajah, air matanya tumpah secara spontan.
“Mak, maafkan aku, Mak… gara-gara aku semua jadi begini.” Raka pun mulai menangis.
“Huff….” Sari menghela napas. Bergegas menghapus air mata yang terlanjur membasahi kedua pipinya.
Perlahan dia bangkit. Tangannya terulur pada Raka. “Ayo, Ka. Kita pulang.”
“Maafkan aku, Mak.” Raka ikut berdiri sembari terisak.
“Bukan kesalahan kamu.”
**
“Mamak kenapa diam saja dari tadi?” Raka menoleh.
Perjalanan panjang dari warung Bu Dewi ke rumah, yang biasanya mereka lalui dengan penuh semangat, mendadak menjadi muram.
“Bingung ya, Mak? Nanti kita makannya gimana? Uang dari Bu Ratna kan cukup untuk bayar kontrakan doang ya, Mak?” ujar Raka lagi.
Sari tersenyum. “Iya, Mamak bingung… Mamak juga sedih, tapi Mamak sedang berusaha menerima.”
Raka mengernyit. Tampak tidak paham.
“Raka… di dunia ini kita akan banyak menemukan kejadian-kejadian yang tidak sesuai sama kemauan kita. Misal kayak Mamak masih mau kerja, tapi Bu Dewi nggak mau Mamak kerja di situ.”
“Memang Bu Dewi itu jahat ya, Mak,” tukas Raka.
Sari berderai sumbang. “Mamak sedih, tapi Mamak nggak marah sama Bu Dewi. Kan itu warungnya Bu Dewi, ya memang Mamak yang harusnya mengikuti aturan Bu Dewi kan?”
Raka mengangguk, meski air mukanya masih tampak bingung.
“Hari ini kita sama-sama belajar untuk menerima. Biar pun kita sedih, kecewa atau marah... Bu Dewi tetap nggak akan bolehin Mamak kerja di warungnya lagi. Jadi lebih baik kita belajar menerima kenyataan itu."
Raka kembali mengangguk. Terlihat mengerti dengan yang diucapkan sang ibu.
"Daripada marah-marah, mending kita berpikir gimana caranya biar kita dapat uang dari tempat lain.” Sari berusaha tersenyum lebih lebar. “Raka paham kan maksudnya?”
“Ya, Mak… nggak boleh dendam sama Bu Dewi,” jawab Raka polos.
Sari terisak. Dia raih tangan Raka. Dan dalam sekejap mereka berpelukan.
Tangis tumpah.
Hati Sari menjadi sangat nelangsa. Dia merasa memaksa anaknya menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun sepertinya itu adalah jalan satu-satunya mempersiapkan Raka menjadi manusia yang dapat meraih masa depan cerah.
“Mulai besok kita mulung bareng lagi,” kata Sari riang seraya melepas pelukan.
“Serius, Mak?” Wajah Raka berseri. “Kayak dulu sebelum Mamak kerja di warung Bu Dewi?”
“Iya, Sayang…. Pokoknya kita harus berusaha sebisa kita. Selalu ada jalan asal kita mau berusaha.”
“Eh, kayak yang dibilang Bu Guru di sekolah aku, Mak.”
Sari menggandeng tangan anaknya, lalu mulai membawanya melangkah. “Oh, ya? Bu Guru bilang apa?”
“Katanya aku harus terus berusaha sebaik mungkin, pasti nanti Allah menolong aku.”
"Pintar!" Sari tertawa.
Raka ikut tertawa.
“Jadi bener nanti Allah akan tolong kita, Mak? Kita jadi kaya raya?” Raka bicara setelah tawanya memudar.
“Ya bukan begitu. Allah menolong dengan memberi kita jalan, dan Alalh hanya mau menolong orang yang mau berusaha.” Sari menggenggam erat telapak tangan Raka. “Paham nggak?”
Raka hanya menyeringai. Tampak tidak paham tetapi terkesan malu untuk mengakuinya.
“Intinya, Raka harus nurut apa kata Mamak ya.”
“Oh kalau itu, iya, Mak. Kan aku cuma punya Mamak di dunia ini.”
Tawa menguar manis dari mulut mereka berdua.
Meskipun setelah sampai di rumah, Sari diam-diam menangis sambil mandi. Nekat mengguyurkan air dingin berkali-kali ke kepalanya. Meluruhkan optimisme palsu yang tadi dia perlihatkan kepada anaknya.
Siapa pun tahu, jaman sekarang ini mengais rupiah bukanlah hal yang mudah.
Sari pernah berjualan gorengan, tetapi tidak laku. Berjualan kue, sama saja tidak laku. Sebelum bekerja di warung Bu Dewi, dia sudah puluhan kali mencari pekerjaan. Dan tidak ada satu pun yang mau memperkerjakan dirinya.
“Ya Allah, apa benar ada pertolongan-Mu?” Tangan Sari gemetar menggerakkan gayung.
Air dingin menimpa kepalanya dengan cepat. Lalu luruh bersama air matanya.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...