Chapter 2: Kamu Pergi
15 tahun berlalu. Faris kini seorang pemilik usaha "Al-Mahabbah: Taaruf & Konsultasi Jodoh Syar'i," sebuah biro perantara taaruf yang tidak main-main. Di kalangan klien, Faris dikenal sebagai "Sang Pemersatu," dengan win rate perjodohan yang hampir sempurna. Ia menggabungkan pendekatan psikologis modern dengan prinsip-prinsip syariah yang ketat.
Kini Faris duduk di balik meja kerjanya yang selalu rapi—rapi dalam artian fungsional, bukan estetika. Tumpukan dokumen berisi profil calon pasangan, surat rekomendasi dari wali, dan catatan-catatan kecil tentang kriteria-kriteria ideal. Di usia tiga puluh tiga tahun, Faris memiliki hidup yang teratur, terpusat pada profesinya sebagai perantara taaruf. Bukan mak comblang biasa, ia menyebut dirinya "fasilitator takdir." Sesuatu yang ia jalani dengan keyakinan penuh, bahwa jalan menuju pernikahan haruslah dilalui dengan tawadhu dan akal sehat, bukan semata-mata gejolak rasa yang sering menipu.
Ia lajang, sebuah ironi yang sering menjadi bahan candaan, tetapi Faris tidak pernah merasa ada yang salah. Ia merasa hidupnya sudah lengkap: ia punya teman-teman yang baik, rutinitas ibadah yang terjaga, dan pekerjaan yang ia yakini sebagai ladang amal. Ia telah menemukan kedamaian dalam merelakan apa yang tidak ditakdirkan untuknya di masa lalu. Kedamaian itu, ia sadari, dibangun di atas fondasi yang rapuh: sebuah janji kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah lagi membuka hati pada ketidakpastian.
Ponsel Faris bergetar. Sebuah pesan dari Reza, sahabat karibnya sejak masa kuliah.
Reza: Besok jam 10 pagi, di tempat biasa. Harus rapi. Ini pertemuan serius, Ris. Gue nggak mau lu cuma pake kemeja flanel lusuh kayak biasa.
Faris tersenyum tipis. Reza, seorang arsitek sukses yang terbiasa dengan kemewahan, selalu mengkritik selera berpakaiannya. Reza adalah antitesis Faris; ekspresif, ambisius, dan selalu mengejar apa yang ia inginkan. Tapi di balik kritiknya, Faris tahu Reza adalah sosok yang paling menghargai prinsip hidupnya. Dan sekarang, Reza meminta bantuan Faris untuk mencarikan pasangan. Ini bukan sekadar tugas, ini adalah pembuktian kualitas pelayan takdir yang selama ini ia banggakan.
Keesokan harinya, Faris tiba di sebuah kafe berkonsep minimalis di selatan Jakarta, tempat yang dipilih Reza. Reza sudah duduk, tampak tegang namun antusias.
"Gimana, Ris? Udah lu sortir dari semua kandidat yang gue kasih?" tanya Reza tanpa basa-basi.
"Sudah. Ada satu nama yang paling menonjol, Za. Kriteria yang kamu minta—matang secara finansial, stabil secara emosi, dan memiliki visi dakwah—semuanya ada," jawab Faris sambil mengeluarkan sebuah map cokelat. "Namanya Nayla. Dia seorang desainer interior lepas. Punya bisnis e-commerce kecil-kecilan untuk barang-barang muslimah. Anak tunggal, dan walinya sudah setuju untuk proses taaruf ini."
"Nayla..." Reza mengulang nama itu, tampak meresapi. "Kenapa lo yakin banget sama dia?"
Faris membenarkan letak kacamatanya. "Dia bukan hanya cantik atau cerdas, Za. Dia punya aura ketenangan yang langka. Kedewasaannya terpancar, tapi dia tidak terlihat sinis terhadap hidup. Itu yang paling penting. Dia siap berjuang, bukan cuma menuntut. Dia adalah tipe wanita yang akan membangun rumah, bukan hanya tinggal di dalamnya."
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...