Chapter 11: Kita Berdua Sudah Bertumbuh
Butuh waktu dua minggu yang terasa seperti dua tahun. Faris dan Reza tidak saling bicara. Reza membatalkan semua rencana taaruf dan Faris kembali ke rutinitasnya sebagai perantara. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Setiap hari, ia menghafal ulang filosofi hidupnya: Kepastian lebih mulia daripada Kerinduan.
Hingga suatu malam, Reza menelepon.
"Gue butuh lo, Ris. Lo harus dateng ke tempat gue sekarang."
Faris bergegas. Ia menemukan Reza duduk di lantai ruang tamunya yang mewah, dikelilingi oleh sketsa-sketsa desain interior Nayla, wajahnya tampak lelah, tetapi matanya lebih damai.
"Dia datang, Ris," kata Reza, suaranya tenang, bukan lagi marah. "Dia cerita semuanya. Dari awal sampai akhir. Tentang utang, tentang nama Nisa, tentang betapa hancurnya dia harus meninggalkan lo. Dia nggak memohon, dia nggak berdalih. Dia cuma cerita sambil menangis. Dia bahkan menceritakan perpisahan terakhir kalian di taman."
Reza mendongak menatap Faris. "Dia bilang, dia nggak akan menikah sama gue kalau gue nggak bisa menerima Nisa di dalam diri Nayla. Dia bilang, dia memilih gue karena gue adalah lembaran barunya, bukan karena dia nggak cinta lagi sama lo, tapi karena dia tahu lo sudah menempuh jalan yang berbeda. Dan dia bilang lo yang meyakinkan dia untuk memilih gue. Lo yang memaksanya untuk menjadi Nayla seutuhnya."
Air mata Reza mulai menetes. "Gue tahu, Ris. Gue tahu lo cinta sama dia. Dan gue tahu betapa sakitnya lo ngorbanin perasaan lo buat gue. Gue nggak akan pernah bisa membalasnya."
Faris duduk di samping Reza. "Gue nggak berkorban, Za. Gue memilih. Gue memilih lo, persahabatan kita, dan gue memilih kebahagiaan Nayla. Kalau dia kembali sama gue, dia akan selalu dihantui rasa bersalah ke kamu. Kalau dia bersama kamu, dia bebas. Kamu tulus, Za. Kamu lebih cocok sama Nayla yang sudah matang ini. Kamu adalah kepastian yang dulu gue gagal berikan."
Reza memeluk Faris, pelukan yang kikuk dan penuh emosi. "Gue terima Nayla, Ris. Gue terima Nisa. Gue akan jadi rumah untuk Nayla, dan gue akan jadi sahabat lo selamanya. Maafkan kebodohan gue."
Faris memejamkan mata. Dinding benteng yang ia bangun selama ini akhirnya runtuh, bukan karena direbut paksa, melainkan karena ia memilih untuk membukanya sendiri, membiarkan cinta yang tulus mengalir keluar dalam bentuk pengorbanan.
Proses pernikahan Reza dan Nayla berlanjut dengan cepat setelah badai itu mereda. Faris, kembali pada perannya yang sesungguhnya: sahabat terbaik. Ia membantu mengurus segala keperluan, memastikan Reza mendapat semua yang ia butuhkan. Ia menghindari Nayla, bukan karena benci, tetapi karena ia perlu menjaga jarak agar proses ikhlas-nya berjalan sempurna.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...