2
Jam dinding menunjukkan pukul 05.00 WIB, Melodi menggeliat dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang mengenai matanya. Perlahan duduk dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, kemudian membangunkan Nada yang masih pulas. Melodi menuju dapur untuk membantu sang ibu menyiapkan sarapan.
“hari ini masak apa bu?”, Melodi menguncir rambutnya dengan karet kecil bewarna hitam.
“ayam bakar sisa semalam gapap ya nak? Masih ada, nanti ibu rebuskan sayur bayam”, Gita masih sibuk mencuci sayur.
“iya gapapa bu, aku suka kok”, Melodi tersenyum dan menyeduh tiga gelas teh hangat.
Nada berjalan dari arah kamar dengan mata yang masih mengantuk. Ia duduk dimeja makan dan langsung meminum teh yang dibuat Melodi. Semalam ia kurang tidur karena merasa sangat antusias untuk tampil dibalai desa. Nada merebahkan kepalanya ke meja dan kembali tidur. Melodi yang melihat hal tersebut langsung membangunkan adiknya dan menyuruhnya segera mandi.
“kalian mandi dulu saja, setelah itu kita sarapan, soalnya nasi masih ibu masak”, jelas Gita.
“baik bu”, Melodi menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Melodi keluar dari kamar dengan seragam sekolah lengkap. Sedangkan Nada masih tidur, ia kemudian membangunkan sang adik dengan manarik paksa tangannya.
“dek cepat mandi, nanti kita telat”, terus menarik Nada.
“iya kak, iya”, berdiri dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai.
Melodi dan Nada berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda peninggalan ayahnya. Mereka berboncengan dengan Nada yang menyetir. Perjalanan pagi ini terasa sangat menyenangkan. Sesampainya disekolah mereka langsung menuju kelas masing-masing.
Sepulang sekolah Melodi dan Nada kembali melakukan aktivitas mengembala kambingnya dikaki bukit. Hari ini Melodi membawa gitar sang ayah, karena mereka akan sekalian latihan untuk tampil dibalai desa. Gitar mulai dipetik oleh jari Melodi, menghasilkan suara yang sangat indah. Perlahan Nada mulai mengatur nafas untuk bernyanyi diiringi musik Melodi. Hingga sore menjelang, Melodi dan Nada masih asik dengan kegiatannya. Hingga lirik terakhir yang dinyanyikan Nada berakhir, mereka kembali kerumah dengan kambing kesayangan mereka yang bewarna hitam.
Makan malam sudah terhidang diruang tengah, karena mereka selalu makan disana dari semenjak sang ayah masih hidup. Kata ayahnya supaya bisa sambil menonton televisi, itulah kebiasaan yang mereka lakukan hingga saat ini walaupun sang ayah telah tiada. Berbagai cerita tercurahkan ketika mereka makan bersama, mulai dari kegiatan sekolah hingga kegiatan latihan sambil mengembala kambing. Gita akan sangat bahagia mendengar setiap kisah yang disampaikan putrinya, ia akan selalu tersenyum melihat setiap gerakan anak-ananya dalam bercerita.
Setelah makan malam selesai, Melodi dan Nada akan mengerjakan tugas sambil menemani sang ibu menonton televisi. Mereka tahu jika hal itu merupakan kebiasaan ayah semasa hidup bersama ibu, jadi mereka tidak ingin sang ibu merasa kesepian setelah ayah meninggal dunia.
Hari ini sekolah Melodi dan Nada libur, karena para guru mengkuti beberapa acara diluar sekolah. Kedua kakak beradik tersebut memanfaatkan waktu dengan latihan mempersiapkan diri untuk tampil sabtu besok. Mereka memulai kegiatan latihan diteras rumah, sedangkan sang ibu pergi bekerja ke ladang.
Beberapa lagu sudah mereka mainkan, dan memutuskan untuk istirahat sejenak. Nada masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum, sedangkan Melodi tetap duduk diteras sambil menyenandungkan nada yang mereka mainkan tadi. Sebuah tepukan dibahu Melodi berhasil membuatnya berbalik karena terkejut, ia menemukan sang tante yang sedang berdiri tanpa tersenyum.
“astaga tante, aku kira apaa”, Melodi mengelus dadanya pelan.
“lebay banget sih kamu, mbak Gita mana? Kalian kok enggak sekolah?”, Anggi berbicara dengan Melodi namun matanya jelalatan kearah dalam rumah.
“ibu ke ladang pak Dito tante, kami libur karena guru ada kegiatan”, Melodi menjawab dengan sopan.
“ooo, ini kalian ngapain dari tadi nyanyi terus?”, Anggi mulai kepo.
“kami dapat undangan dari pak Kades untuk menjadi salah satu pengisi acara dibalai desa hari sabtu tante”, jelas Melodi.
“untuk ngisi acara? Kalian berdua? Kenapa enggak ajak Nara sekalian? Dia kan sepupu kalian, enggak ada rasa kompak sama saudara sendiri, kalian sama aja seperti ibu kalian, pengennya mau maju sendiri”, Anggi berbicara dengan menatap tajam Melodi.
“maksud tante apa ngomong begitu?”, tiba-tiba Nada datang dari dalam rumah dengan emosi, ia sedari tadi berdiri dibalik pintu mendengar percakapan antara kakak dan tantenya.
“kenapa jadi bawa-bawa kita? Dan soal Nara, kalau mau maju ya usaha sendiri dong jangan mengandal orang lain”, amarah Nada mulai tersulut namun berusaha ditenangkan Melodi.
“kamu tidak ada sopan santun ya bicara sama orang tua, jangan sombong jadi orang, udah miskin gaya selangit, mimpi mau jadi penyanyi terkenal, cih ngaca deh kalian”, Anggi pun tersulut emosi dan mulai menghina keponakannya.
“TANTE STOP, sekarang tante pergi dari rumah kami, SEKARANG”, bentakan Melodi membuat Anggi langsung pergi walaupun dalam keadaan masih marah.
Sepeninggal Anggi, Melodi menenangkan sang adik yang masih tersulut emosi. Ia bisa menerima jika hanya mereka yang direndahkan, bahkan itu sudah hal biasa yang mereka dapatkan dari adik ibunya tersebut. Namun kata-kata Anggi yang merendahkan Gita langsung membuat darah Nada mendidih, ia sangat benci jika ada yang menyakiti ibunya. Hinaan miskin sudah mereka rasakan semenjak sang ayah masih ada, hingga sekarang tidak ada bedanya bahkan semakin menjadi-jadi.
Melodi meminta sang adik untuk tidak memberitahu ibunya tentang masalah tante Anggi yang datang kerumah. Hal itu demi hati Gita agar tidak semakin terluka, ia sudah sangat sering menerima caci makian dari sang adik. Kebencian Anggi terhadap Gita berawal dari pernikahan Gita dengan Galih, ayah Melodi dan Nada. Ternyata Anggi sudah lama diam-diam menyukainya, namun ternyata Galih mencintai Gita hingga mereka menikah. Anggi tidak terima, ia menganggap sang kakak merebut Galih darinya. Hingga saat ini kebencian itu tidak hilang, bahkan semakin menjadi-jadi karena bakat keponakannya yang melebihi anaknya. Anggi akan selalu mencari celah untuk bisa menjatuhkan keluarga Gita.
Sore hari Melodi dan Nada mulai berjalan menuju kaki bukit membawa kambing mereka. Tali diikatkan ke pohon kecil, dan kambingnya mulai memakan rumput dengan sangat lahap. Melodi dan Nada mulai mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka mulai latihan. Sebuah pohon yang memiliki daun cukup rindang menjadi pilihan, mereka duduk dan bersandar dibatang besarnya. Saking rindangnya tidak ada cahaya matahari yang berhasil lolos diantara daun pohon tersebut. Petikan gitar melodi dimulai saat ia memejamkan mata, sedangkan Nada mulai menarik nafas untuk mulai bernyanyi.
Lirik terakhir berhasil Nada selesaikan dengan sempurna, perlahan ia membuka mata dan tersenyum menatap sang kakak. Melodi yang ditatap Nada melirik sekilas dan meletakkan gitarnya, kemudian ia memeluk adiknya erat. Tangis mereka pecah ketika saling berpelukkan, semua beban yang selama ini mereka rasakan seakan ditumpahkan dalam tangis dan pelukkan.
“kita harus selalu semangat ya dek, kakak yakin suatu saat nanti pasti kita akan berada ditempat yang kita impikan selama ini”, Melodi mengelus lembut punggung Nada yang masih sesegukan dalam pelukannya.
Hari sudah semakin sore, mereka memutuskan untuk pulang. Diperjalanan mereka bertemu Gita dan pulang bersama. Nada bersorak gembira melihat sang ibu membawa satu ekor ikan Nila besar pemberian dari pak Dito. Riqusan ikan goreng langsung meluncur dari mulut kakak beradik tersebut, dan diiyakan Gita sambil tersenyum.
Sesampainya dirumah Gita dan Melodi langsung menuju dapur untuk mengolah ikan yang mereka bawa, sedangkan Nada memasukkan kambing kedalam kandangnya dibelakang rumah. Tidak membutuhkan waktu lama ikan goreng telah terhidang dimeja makan, lalu Melodi pamit untuk mandi terlebih dahulu. Setelah selesai, Melodi meminta sang ibu untuk segera mandi karena sudah hampir gelap.
Tidak lama mereka semua telah berkumpul diruang tengah untuk makan bersama.
“enak banget ikannya bu”, puji Nada dengan mengacungkan jempolnya.
“syukurlah kalau enak sayang, kalian harus makan yang banyak ya”, senyum Gita merekah melihat kedua putrinya makan dengan lahap.
Setelah selesai makan, Melodi dan Nada mengambil buku pelajaran masing-masing dan mulai belajar sambil menemani sang ibu.
“bagaimana latihan kalian untuk hari sabtu?”, Gita menatap kedua putrinya yang masih fokus ke buku masing-masing.
“kita siap bu, kita akan selalu berusaha semaksimal mungkin”, Melodi menatap Gita dengan semangat.
“bagus, ibu selalu mendo’akan yang terbaik untuk putri ibu yang tersayang”, senyum Gita masih terus menghiasi bibirnya.
“makasih bu”, jawab Melodi dan Nada serentak.Other Stories
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...