Melodi Nada

Reads
103
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Melodi nada
Melodi Nada
Penulis Ela Raniyati

4

Hari ini Sabtu, Melodi dan Nada libur. Mereka menghabiskan waktu libur dengan beberes rumah, sedangkan sang ibu sudah pergi ke ladang semenjak subuh. Melodi dan Nada membersihkan rumah sambil menyanyikan berbagai lagu. Tiba-tiba pintu rumah diketuk, Nada segera menuju pintu untuk membukanya.

“kak Gasen, kakak udah pulang?”, Nada terkejut dengan kedatangan Gasen secara tiba-tiba dan juga masih pagi.

“hehe iya Nad, aku libur”, ucap Gasen.

“silahkan duduk kak, aku panggilkan kakak”, Nada masuk kedalam rumah untuk memberitahu Melodi kedatangan Gasen.

Gasendra duduk dikursi rotan diteras rumah, ia memperhatikan halaman rumah yang begitu asri. Berbagai macam bunga mekar menampilkan berbagai warna, disisi kiri juga tumbuh subur beberapa macam sayur.

“kak Gasen, ada apa?”, Melodi duduk dikursi yang berbeda disebelah Gasen, diikuti dengan Nada yang duduk disebelah Melodi.

“eh iya Mel, aku libur dua minggu makanya pulang, hari ini kamu libur kan?”, ia menegakkan punggungnya dari sandaran kursi.

“iya kak, ini kan sabtu”, Melodi masih menatapnya penasaran.

“aku mau ngajak jalan boleh? Nada ikut aja sekalian”, Gasendra menatap Nada dan tersenyum.

“eh kakak sama kak Mel aja, aku ada tugas yang harus diselesaikan”, tolak Nada dengan sengaja karena ia tahu Gasendra ingin melakukan pendekatan kepada kakaknya.

“gapapa dek?”, Melodi tidek enak hati meninggalkan adiknya sendirian dirumah.

“gapapa kak, aman”, kemudian memasuki rumah.

“aku ganti baju dulu ya kak”, Melodi pun kembali masuk kedalam rumah untuk berganti pakaian.

Melodi dan Gasendra berboncengan dengan motor Gasen, tempat yang mereka tuju yaitu air terjun dikaki bukit. Tempatnya begitu indah, beberapa orang juga tampak sedang menikmatinya. Mereka duduk dibatu besar dipinggir sungai, bahkan ada yang mandi dibawah ait terjun langsung. Melodi dan Gasen memilih untuk duduk dibatu besar tepat disamping air terjun.

Mata melodi terus menatap kagum air yang mengalir dari ketinggian 10 meter didepannya. Sudut bibirnya perlahan tertarik membentuk senyuman, tangannya diangkat dan dimainkan didepan muka seakan bisa menyentuhnya secara langsung. Kakinya terus bergerak memainkan air mengalir dibawahnya. Kemudian perlahan tatapannya beralih kepada Gasen yang duduk disebelahnya.

Gasendra yang sedari tadi hanya menatap Melodi, tersenyum melihat setiap gerakan yang dilakukannya. Perasaan Gasendra semakin membuncah melihat cara Melodi menatapnya, matanya bulat sempurna, dagu lancip dan bibir mungil bewarna pink muda. Perlahan tangannya mendekati tangan Melodi, dan mulai menggenggamnya erat. Tatapan yang saling menatap kagum, dengan suara gemericik air mengalir membuat suasana semakin romantis. Gasendra dengan keyakinan penuh mengutarakan isi hatinya kepada Melodi, rasa yang berawal dari sebuah kekaguman atas kegigihan Melodi dalam berusaha perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.

“Melodi Nuansa Senja, aku sudah lama mengagumi gadis pemilik nama indah itu, dia yang selalu yakin akan mimpinya, gadis yang tidak pernah menyerah, bolehkah aku menjadi menjadi lembayung senjamu?”, tangan Gasendra menggenggam kedua tangan Melodi.

Melodi yang tidak menyangka akan pengutaraan perasaan oleh Gasen, hanya menatap bingung tanpa mengeluarkan suara. Ia masih mencerna kalimat yang disampaikan Gasen barusan. Genggaman tangannya dilepas perlahan, ia kembali menghadap ke arah air terjun.

“maafin aku kak, tapi aku merasa enggak pantas untuk itu”, cicitnya menunduk dalam.

“kenapa Mel?”, Gasen berusaha meraih tangan Melodi kembali.

“kita berbeda kak, aku takut nantinya kami bertiga menjadi sasaran kebencian lagi”, air mata sudah menggenangi pelupuk mata Melodi.

Gasendra meraih tubuh Melodi, membawanya kedalam dekapan hangatnya.

“aku akan selalu garda paling depan untuk kamu, aku enggak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti kamu, Nada, dan bu Gita, jadi beri aku kesempatan ya Mel? Aku ingin menemani setiap langkah kamu menuju impian itu Mel”, tangannya mengelus lembut punggung melodi yang bergetar karena menangis.

Perlahan Gasen memegang lengan Melodi untuk menatapnya, ia menatap dalam mata yang basah karena air mata. Tangannya perlahan terangkat menghapus sisa air mata disudut mata Melodi, dan kemudian mengelus lembut pipi mulus kemerahan itu. Melodi menunduk sejenak dan kemudian kembali menatap mata Gasen untuk mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanya kejujuran dan ketulusan. Perlahan kepalanya mengangguk pasti, ia menerima Gasen untuk menjadi kekasihnya. Perasaan bahagia tidak mampu Gasen bendung, ia kembali membawa Melodi kedalam pelulannya.

Hari demi hari telah terlewati, tidak terasa enam bulan berlalu. Melodi telah selesai melaksanakan ujian akhir, saat ini kegiatannya yaitu menolong sang ibu bekerja diladang. Tidak seperti temannya yang lain, mereka sedang sibuk memilih dan mendaftar ke perguruan tinggi yang mereka inginkan sedangkan Melodi tidak. Ia mengubur dalam mimpinya untuk mengenyam pendidikan diperguruan tinggi impiannya, karena faktor ekonomi keluarganya. Ia duduk dikursi teras rumah sambil mengayunkan kaki, matanya menerawang jauh ke langit tinggi. Diujung halaman ia melihat siluet Gasendra datang dengan setengah berlari, Melodi berdiri menanti kekasihnya.

“kenapa kak?”, alisnya bertaut.

“ada kabar gembira, akan ada kompetisi tv nasional mencari bakat, kamu ikutan ya sama Nada?”, Gasen menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan pengumuman.

Melodi membaca setiap detail pemberitahuan tersebut, binar matanya berubah menjadi sayu kembali menatap Gasendra. Ia tersenyum, namun tidak dengan matanya.

“kak ini audisinya dikota, aku bisa kak”, Melodi mencoba menolak dengan senyuman.

“jangan khawatirkan ongkosnya Mel, aku sama ayah yang akan antar kamu sama Nada langsung, aku juga udah izin sama ibu kamu jadi tinggal nungggu kesiapan kamu sama Nada”, jelas Gasen meyakinkan.

“ada apa kak?”, Nada tiba-tiba berdiri dibelakang Gasen dengan masih memaki seragam sekolah dan tas yang masih melekat dipunggungnya. Gasen kembali menceritakan semuanya kepada nada, tentu saja langsung disetujui Nada dengan bersorak gembira.

Setiap hari tiada hari tanpa latihan, mereka latihan distudio mini milik Gasen. Semua proses didampingi dan didukung penuh oleh Gasen, karena ia sangat yakin dengan bakat kakak beradik tersebut.

Melodi, Nada, Gasendra, dan pak Kades sedang dalam perjalanan menuju ke kota. Mobil dikemudikan oleh Gasen dengan ayahnya duduk disamping pengemudi. Sedangkan Melodi dan Nada duduk dikursi belakang, mereka berangkat sekitar pukul sebelas malam dan sampai pukul lima pagi. Mereka beristirahat sejenak ditempat makan, dan menuju tempat audisi pukul enam pagi.

Tibalah saatnya Melodi Nada untuk tampil, mereka benar-benar menampilkan yang terbaik yang mereka punya. Gasendra dan Pak Kades menunggu diruang tunggu dengan perasaan berharap semuanya berjalan seperti yang diinginkan. Beberapa waktu kemudian, kedua gadis tersebut keluar dengan ekspresi muka sumringah. Mereka lolos ke tahap berikutnya tampil distasiun tv diibu kota.

Sesampaikanya didesa, mereka disambut haru dan bangga oleh semua warga. Mereka sudah tidak sabar melihat Melodi Nada tampil ditelevisi satu bulan lagi. Tengah malam sekitar pulul sebelas, Gita nememui Melodi dikamar. Ia mengajak putri sulungnya untuk berbicara diruang tengah, ia tidak mau menganggu Nada yang sudah tidur pulas karena besok ia bersekolah.

Gita menyampaikan kegundahannya soal keberangkatan putrinya menuju ibu kota. Ia tidak memiliki uang sama sekali untuk keberangkatannya. Melodi mencoba menenangkan sang ibu dengan janji ia akan mencari uang untuk itu semua, Mel tidak mau sang ibu memikirkannya sendirian. Setelah berhasil meyakinkan Gita, mereka berdua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Keesokan harinya, Gasendra bersama Pak Kades datang kerumah Melodi. Gita yang sedang menjemur pakaian buru-buru menyudahinya dan mempersilahakan Pak Kades dan Gasendra untuk masuk. Ia segera memanggil Melodi yang sedang mencuci piring dibelakang.

“begini bu Gita, semalam kami mengadakan pertemuan warga dibalai desa, maaf kalau tanpa mengundang ibu, kami bermusyawarah agar Melodi dan Nada bisa berangkat ke Jakarta mengikuti kompetisi tersebut bu, hasilnya warga mengumpulkan uang cukup lumayan untuk ongkos dan pegangan mereka berdua selama berada disana, kami juga membelikan mereka ponsel agar bisa menghubungi kita jika ada kendala dalam hal apapun bu, ini terimalah”, jelas pak Kades sambil meletakkan paper bag berisi uang dan ponsel baru.

Gita tidak langsung mengambilnya, ia menatap Melodi, memeluknya erat dengan menangis haru. Ia tidak menyangka ternyata banyak orang yang menyayangi kedua putrinya. Selama ini kedua anaknya telah banyak menerima cacian bahkan hinaan tentang sebuah mimpi yang dibangunnya. Namun, sekarang semuanya membantu melancarkan perjalanan Melodi Nada menuju panggung impian itu. Ia mengusap air mata dipipinya, dan kembali menghadap pak Kades dan Gasendra.

“terimakasih banyak pak, sampaikan juga beribu terimakasih kami untuk semua warga Desa gandhewa, kami terharu dengan semua ini”, air mata Gita terus menetes membasahi pipinya.

“kami hanya ingin putri berbakat dari desa kita bisa mengharumkan nama Desa kita diluar sana bu”, Pak Kades tersenyum bangga.

“sekali lagi terimaksih banyak pak, kak Gasen , dan semua warga, terimakasih”, Melodi menghapus air mata dipipinya dengan punggung tangannya.

Hari keberangkatan Melodi dan Nada sudah tiba, semua warga melepasnya digerbang desa. Mereka ke bandara diantar Gasendra dan Bu Gita. Harapan besar semua warga desa bertumpu dipundak Melodi dan Nada, mereka bertekad untuk tidak mengecewakan.

Setelah melewati komptisi selama beberapa bulan, akhirnya Melodi dan Nada keluar sebagai pemenang. Semua mimpi menjadi nyata, kerja keras berbuah manis. Mereka tak kuasa menahan tangis mengingat semua lika-liku perjalanan menuju titik ini.

Melodi Nada mulai dikenal publik, mereka telah mengeluarkan satu buah album. Kehidupan mereka pun mulai berkecukupan, Melodi dan Nada membawa sang ibu untuk tinggal diibu kota bersama mereka. sekarang bu Gita tidak pernah lagi bekerja diladang hanya untuk sesuap nasi, ia hanya duduk manis menikmati hari tuanya.

Kesuksesan Melodi Nada dipanggung hiburan membuat kehidupan mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Melodi dan Nada juga tidak melupakan jasa warga kampung Gandhewa, mereka membangun dan memperbaiki beberapa fasilitas umum didesa Gandhewa. Mereka juga selalu membantu warga yang kesulitan, melalui pak Kades. Karena bagi keluarga bu Gita, mereka bisa seperti saat ini karena bantuan dari seluruh warga.

Semuanya telah berubah, Nada sekarang sudah duduk dibangku perkuliahan. Sedangkan Melodi sedang menyiapkan pernikahannya dengan Gasendra. Pernikahan mereka akan diadakan didua tempat, yaitu diibu kota dan juga didesa Gandhewa.

Acara pernikahan diibu kota berjalan dengan lancar, semua rekan kerja Melodi dan Gasendra hadir memenuhi gedung mewah yang didekor serba putih. Malam ini adalah acara resepsi didesa, pesta berjalan begitu meriah. Semua warga menikmati hidangan yang sengaja dipesan Melodi dalam jumlah yang luar biasa banyaknya, pesta diakhiri dengan pelepasan kembang api yang berwarna warni ke langit malam desa Gandhewa.


Other Stories
Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Download Titik & Koma