Melodi Nada

Reads
103
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Ela Raniyati

3

Hari yang ditunggu Melodi dan Nada pun tiba, saat ini mereka sedang bersiap-siap dibelakang panggung bersama pengisi acara lain. Semua persiapan telah lengkap, hanya tinggal menunggu giliran mereka untuk naik ke panggung. Tidak lama pembawa cara memanggil nama keduanya untuk tampil. Melodi menarik nafas dalam dan mulai memetik gitarnya, alunan melodi yang indah pun menghipnotis semua penonton. Nada mulai mendekatkan mic ke bibirnya, dan lantunan lirik mulai terdengar memenuhi ruangan balai desa.

Senja yang datang di ujung langit
Hadirkan jingga yang cemerlang
Seperti hangatnya sang mentari
Ku tersenyum menikmatinya

Kuukir semua mimpi-mimpiku
Dalam angan-angan yang indah
Ku berjuang dari rasa sakit
Sirnakan ragu di hatiku

Seperti camar, ku \'kan terbang menembus awan
Bebaskanku dari rasa takut
Ku berdoa semoga hal baik akan tiba
Dan bahagia s\'lalu bersamaku

Ubah sedih menjadi senyuman
Untuk harimu yang lebih cerah (uh-uh)
Biarkan waktu mengajarkanmu
\'Tuk wujudkan semua mimpimu

Aku terbangkan harapan menembus langit
Ku percaya hati \'kan menuntunku
Mimpiku ini akan jadi nyata
Dan bahagia selalu ada

Seperti camar, ku \'kan terbang menembus awan
Bebaskanku dari rasa takut
Ku berdoa semoga hal baik akan tiba
Dan bahagia s\'lalu bersamaku

Aku terbangkan harapan menembus langit
Ku percaya hati \'kan menuntunku
Mimpiku ini akan jadi nyata
Dan bahagia selalu ada

Dan bahagia selalu ada

Dan bahagia selalu ada

Lirik terakhir dinyanyikan Nada membuat semua penonton berdiri sambil bertepuk tangan, kecuali Anggi dan Nara yang menatap sinis kearah panggung. Namun itu tidak membuat mental Melodi dan Nada menjadi ciut, bahkan menjadi cambuk untuk mereka semakin semangat mewujudkan mimpi.

Semua cara telah terlaksana dengan baik, semua pengisi acara dikumpulkan dibelakang panggung oleh beberapa panitia termasuk Gasendra. Mereka membagikan kompensasi untuk setiap pengisi acara.

Hari ini, kedua kakak beradik itu kembali bersekolah seperti biasanya. Mereka mengikuti pelajaran dengan fokus. Saat jam istirahat, Melodi dan Nada dipanggil keruang kepala sekolah. Nada menggenggam erat tangan sang kakak, ia takut jika telah melakukan kesalahan hingga dipanggil menghadap kepala sekolah. Tangan Melodi mengelus lembut tangan Nada, seakan mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. Melodi mengetuk pelan pintu ruangan kepala sekolah yang sedikit terbuka.

“silahkan masuk”, terdengar sahutan dari dalam.

Mereka berdua masuk dengan berusaha menetralkan jetak jantung yang menggila didalam dada masing-masing.

“permisi bu, ibu memanggil kami?”, Melodi bertanya dengan sopan.

Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dengan hijab bewarna soft bluenya tersebut tersenyum, berdiri lalu menutup laptop dihadapnnya.

“silahkan duduk”, titahnya sambil berjalan menuju sofa ditengah ruangan.

“terimakasih bu”, Melodi dan Nada duduk saling berdekatan.

“kalian tahu kenapa ibu panggil kesini?”, matanya menatap Melodi dan Nada secara bergantian.

Melodi dan Nada menggeleng bersamaan, hal itu membuat senyum Bu Wati merekah.

“ibu sudah melihat video kalian saat tampil diacara balai desa sabtu kemarin, dan ibu ingin kalian mewakili sekolah untuk ikut kontes menyanyi tingkat provinsi yang akan dilaksanakan bulan depan, apakah kalian bersedia?”, Bu Wati menatap penuh harap.

Melodi dan Nada terkejut, mereka saling tatap dengan raut wajah terkejut sekaligus bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Kemudian beralih menatap kepala sekolah yang masih menunggu jawaban mereka.

“kami bersedia bu”, mereka menjawab dengan serentak.

“baiklah, ibu percaya sama kalian berdua, nanti pak Deri akan membimbing kalian selama latihan, silahkan temui dia habis ini”, jelas Bu Wati lagi.

“baik bu, terimakasih, kami permisi dulu bu”, Melodi berdiri dan menunduk sopan, lalu mereka berlalu keluar ruangan. Tujuan mereka selanjutnya yaitu menemui pak Deri diruangan guru.

Nada melompat gembira, ia tidak menyangka akan mendapat kesempatan mewakili sekolah ke ajang provinsi. Ia melangkah riang sepanjang koridor menuju ruangan guru. Melodi hanya tersenyum melihat kebahagiaan sang adik.

Terimakasih Ya Tuhan, selalu memberi jalan terbaik untuk kami. Semoga ini juga bagian dari langkah untuk kami bisa semakin dekat dengan tujuan, karena kami percaya pasti ada jalan dalam setiap niat baik.

Nada menarik tangan Melodi yang hanya berdiri menatapnya sambil tersenyum. Tangannya menggandeng lengan sang kakak untuk menemui pak Deri.

“permisi pak, disuruh kepala sekolah menemui bapak”, tutur Melodi sopan.

“oh iya bapak sudah diberitahu, sekarang kita hanya akan menjadwalkan latihan kalian yaitu sepulang sekolah selama satu jam, bagaimana?”, Pak Deri tersenyum.

“baik pak, kami bersedia”, Melodi mewakili menjawab.

“bagus, kita mulai dari besok ya, kalian tidak perlu membawa bekal dari rumah karena semua disediakan sekolah”, jelas Pak Deri lagi.

“baik pak, terimaksih, kami permisi pak”, pamit Melodi dengan sopan, yang dibalas anggukan oleh Pak Deri.

Malam harinya saat makan malam, Nada menceritakan semuanya kepada sang ibu. Ia bercerita dengan semangat yang menggebu, Melodi hanya menyimak sambil mengunyah makanannya. Sesekali ia tertawa melihat ekspresi Nada yang begitu menggemaskan diamatanya.

Hari demi hari berlalu, Melodi dan Nada selalu latihan dengan giat sepulang sekolah. Mereka juga kembali berlatih saat mengembala kambing. Begitulah hari-hari yang dilewati oleh dua gadis manis tersebut. Semangat mereka untuk mewujudkan mimpi tidak pernah pudar, walaupun sang tante masih sering melontarkan kata-kata yang tidak pantas untuk menghina mereka. Terkadang beberapa orang tetangga yang terhasut tante Anggi pun ikut mencibir mimpi mereka. Namun, Gita selalu memberi semangat dan dukungan untuk anak-anaknya agar fokus ke hal yang ingin diraih tanpa mempedulikan hal yang membuat mereka mundur.

H-1 kompetisi, Melodi, Nada dan Pak Deri dikumpulkan diruang kepala sekolah sebelum berangkat menuju kota tempat diadakannya kompetisi. Bu Wati memberi beberapa wejangan untuk Melodi dan Nada, dan juga untuk Pak Deri selaku pendamping. Mereka akan berangkat menggunakan mobil operasional sekolah. Tepat pukul satu siang, mobil melaju meninggalkan sekolah. Perjalanan menuju kota menghabiskan waktu kurang lebih lima jam perjalanan. Tempat penginapan sudah diatur oleh pihak sekolah, dan juga biaya selama mereka mengikuti kompetisi.

Jam enam sore mobil memasuki sebuah penginapan, memang tidak terlalu luas namun sangat asri. Gedung tempat perlobaan juga tidak terlalu jauh dari tempat mereka menginap. Setelah menurunkan semua barang bawaan, Pak Deri menyuruh Melodi dan Nada langsung beristirahat. Besok adalah hari mereka menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki, oleh karena itu semuanya harus fit dengan istirahat yang cukup.

Keesokan harinya, Melodi dan Nada sudah duduk dikursi peserta. Sedangkan Pak Deri duduk dikursi guru pendamping, namun ia selalu memberi semangat lewat tangannya sambil tersenyum. Jantung Melodi dan Nada mulai berdegup kencang disaat nama peserta pertama yang tampil dipanggil oleh MC. Nada mulai merasa tidak karuan, kepercayaan dirinya tiba-tiba menguap hilang saat beberapa peserta tampil dengan begitu epic. Melodi yang menyadari kegundahan sang adik, menggenggam erat tangannya menyalurkan kehangatan. Ia mengelus lembut pundak Nada.

“kita pasti bisa dek, selama ini kita sudah berusaha, sekarang hanya tinggal menampilkan kemampuan terbaik yang kita miliki”, ia menatap Nada dan tersenyum lembut.

Nama mereka berdua dipanggil lantang oleh pembawa acara. Melodi dan Nada berdiri, berjalan penuh percaya diri menuju panggung. Melodi menghirup nafas dalam dan mulai memetik senar gitarnya, tepuk tangan riuh menyambut penampilan mereka. Nada menatap Pak Deri sekilas yang dibalas dengan senyum dan anggukan olehnya. Nada mendekatkan mic ke bibir dan mulai bernyanyi.

Tepuk tangan kembali riuh saat petikan terakhir senar gitar Melodi. Mereka mengucapkan terimakasih sambil membungkukkan badan, lalu berjalan turun meninggalkan panggung. Pak Deri langsung menghampiri kedua muridnya dengan bangga, lalu memberi dua jempol untuk mereka.

Acara perlombaan selesai pada sore hari, sedangkan pengumuman hasil terbaik dilaksanakan esok hari. Pak Deri kembali ke penginapan, sedangkan Melodi dan Nada meminta izin untuk berjalan ke beberapa sudut kota. Pukul delapan malam mereka kembali ke penginapan dengan membawa beberapa makanan dan juga oleh-oleh untuk ibu serta sekolah.

Pagi hari sekitar pukul delapan, semua peserta sudah hadir digedung perlombaan untuk menerima pengumuman pemenang. Semuanya merasakan dag dig dug yang luar biasa, tak terkecuali Melodi dan Nada. Mereka takut akan mengecewakan pihak sekolah yang telah mempercayakan mereka sebagai perwakilan. Pembawa acara mulai memanggil nama dari lima besar terbaik, setiap nama yang terpanggil telah menaiki panggung. Melodi dan Nada semakin deg degan karena saat ini pembawa acara telah mengumumkan peringkat tiga. Nama Melodi dan Nada disebutkan pada peringkat dua, mereka bersorak bahagia dan segera berjalan menaiki panggung. Pak Deri yang berdiri dikursi para guru tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya, ia merasa sangat bangga dengan prestasi kakak beradik tersebut yang berhasil mengharumkan nama sekolah ditingkat provinsi. Mereka kembali ke daerah sekitar pukul sebelas siang, dan sampai pukul empat sore. Gita menyambut kepulang kedua putrinya dengan sangat gembira, ditambah dengan kabar gembira kemenangannya.

Keesokan harinya, Melodi dan Nada disambut meriah disekolah. Mereka menerima ucapan selamat dari guru dan sesama siswa, foto mereka memegang piala juga terpajang didinding sekolah. Semuanya merayakan kemenangan Melodi dan Nada, kecuali Nara yang merasa iri dan jengkel.

Other Stories
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Testing

testing ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Download Titik & Koma