Viral

Reads
569
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Viral

Jika teman sekolah memergoki dirinya berjualan donat di stasiun, pastilah mereka melempar tatapan sinis dan gumaman merendahkan: “Tuh kan, juara 1 nggak jadi apa-apa!”

Kalimat itu terus berdengung di kepalanya, bahkan ketika tangan Nayla sibuk menata kotak-kotak donat di atas meja setinggi perut. Dingin subuh masih menembus kulit, sementara wajahnya memasang senyum terpaksa, menyapa satu-dua penumpang yang lalu-lalang.

Belum ada yang melirik apalagi menghampiri mejanya. Berbeda dengan gerobak dimsum di sebelah yang bahkan ditunggui commuter sebelum buka. Biasanya begini. Dagangannya yang paling jarang dikerumuni orang, dibanding es teh atau gorengan. Padahal sudah 3 bulan ia berjualan. Kadang-kadang ia mengutuk diri sendiri, bahkan pekerjaan remeh seperti ini saja, dia tidak becus. Mungkin pantas saja dia terkena PHK 9 bulan lalu.

Maka Nayla sibuk menggulir situs lowongan kerja di ponsel. Sesekali ia menekan tombol apply. Ia berharap ada satu posisi staff akuntansi yang bisa menyelamatkannya dari rasa rendah diri yang tiap hari mengembang tak terkendali layaknya adonan ketumpahan ragi.

Namun pagi itu berbeda. Saat sinar matahari mulai merembes dan memercik jalanan, derap langkah orang-orang yang terburu-buru menuju stasiun justru berhenti di depan mejanya. Ponsel-ponsel terangkat, sekilas membidiknya. Seketika pelanggan mengerumuni dagangannya, membuat Nayla harus ekstra cekatan: tangannya sibuk memindahkan box donat yang sudah kosong, membuka box baru, memasukkan pesanan ke kotak plastik mika, mengambil plastik kresek, menyelipkan uang ke laci yang sudah nyaris penuh, lalu menyodorkan kembalian dengan senyum sekilas.

Tatapan kasihan dan senyum iba mengepungnya. “Semangat ya, Mbak,” ucap seorang perempuan muda sambil menerima pesanannya. Nayla mengangguk ragu, tersenyum tipis meski kepalanya berkabut.

Bisikan samar beradu dengan kemresek ketika ia menarik plastik, “Mbaknya kena PHK, ya?”

Refleks matanya membelalak, ia tak mengangguk ataupun menggeleng.

Suara klik kamera ponsel terdengar beberapa kali. Sekelebat bayangan seorang pemuda memotret mejanya, lalu menghilang ke arah peron. Si pemuda menunduk, mengetik cepat di ponsel. Dan entah kenapa, perasaan Nayla berdesir. Seolah-olah pagi itu, mejanya, donat-donatnya, bahkan dirinya sendiri, tengah jadi bahan pembicaraan.

“Donatnya, tiga Kak. Coklat semua.”

“Oke,” jawab Nayla singkat, tanpa menatap pembelinya. Tangannya mencomot donat dengan penjepit, memasukkannya satu per satu ke kotak plasik.

Saat tangan itu menerima pesanan, suara renyah yang familiar terdengar, “Heh, lo ga inget gue, Nay?”

Nayla mendongak. Seperti minyak panas yang tiba-tiba meletup saat dihujani air, rasa malu itu menyambar tanpa sempat ditahan. Orang itu Rafi, teman sekelasnya di SMA. Lelaki itu sering duduk di bangku belakang, dan pandai melempar celetukan yang mengundang tawa orang-orang.

“R-Rafi …?” suaranya nyaris bergetar.

“Gue ke sini terus loh, tapi baru nyadar ada lo,” Rafi nyengir, “Oh iya, gue kerja di agensi. Kalo pingin tahu tips ngonten, tanya aja yak!”

Nayla hanya terkekeh kaku, menahan gelisah yang merayap, “Haha … oke ….” Tangannya meremas kain lap di sampingnya, mencoba menutupi kegugupan.

See you, Nay!” Rafi melambaikan tangan singkat sebelum bergabung dengan barisan pekerja yang bergerak menuju tap gate stasiun.

Nayla kembali melayani pembeli walau ia mencium firasat buruk yang masih buram. Kepalanya menegang, terus berpacu merangkai banyak dugaan. Hingga akhirnya telinganya menangkap bisik-bisik seperti viral… TapTap dan kasihan…

Buru-buru ia menginstall aplikasi yang jarang ia gunakan sejak kehilangan pekerjaan, untuk menghindar dari unggahan teman yang sering membuatnya minder. Sementara ia menjepit donat dan memasukkannya ke kotak, tangan kirinya menekan-nekan layar. Di halaman notifikasi, sebaris username asing sempat mengunjungi profilnya, dan beberapa username menyebut akunnya di komentar. Ia menekan notifikasi itu, setelah mengatur semua akun media sosialnya ke mode pribadi.

Apa yang ia temukan membuatnya sesak.


Other Stories
Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Download Titik & Koma