Salahkah Membela Prinsip?
Nayla tengah mengemas kotak-kotak donat ke tas. Gerakannya lebih lincah dari biasanya, sebab nanti sore ia diundang interview tahap akhir. Ia tak menyadari derap langkah dan obrolan tumpang tindih mendekat. Tiga orang laki-laki, semuanya berpakaian kaus dan jeans hitam. 1 yang berdiri di tengah, menggenggam segepok uang warna merah muda. Dua lainnya mengangkat ponsel, bersiap merekam.
“Nay, katanya kamu lulusan akuntansi, beasiswa lagi. Tapi sekarang udah hampir setahun jobless ya?! Ayah kamu juga lagi stroke, kan?” sambar suara lantang. Nayla hampir melompat mendengarnya. Berpasang-pasang mata mengepung, seakan berusaha membongkar kehidupannya. Lelaki itu mengibas-ngibas segepok uang, “Mau 50 juta nggak?”
Dengan cepat Nayla mengenali itu Alex, kreator konten yang terkenal suka bagi-bagi uang jutaan rupiah ke orang-orang yang membutuhkan, dengan syarat sudah follow akunnya. Usianya setahun lebih muda darinya, tapi sudah punya bisnis restoran dan rumah. Nayla mengenalnya dari kolom opini di media tentang dampak buruk dari kreator seperti itu. Tak jauh dari belakang mereka, beberapa anak remaja mendekat sambil menunjuk-nunjuk rombongan kecil itu.
Nayla membayangkan dirinya bisa menghajar Alex. Namun ia hanya berkata “Nggak.”
“Jangan malu-malu gitu,” Alex tertawa, “100 juta mau nggak?”
Terdengar celetukan,
buat saya aja uangnya Mas!
Saya udah follow Mas loh!
“Nggak,” jawabnya dengan nada menekan. Hembusan napas di balik masker tiba-tiba terasa lebih panas dari biasanya. Ia cepat-cepat berjalan menjauh. Derap langkah berdentam-dentam mengejarnya, terdengar mengancam seperti barisan tentara. Beberapa orang di sekitar stasiun mengikuti mereka dengan ponsel terangkat.
“Eh, rezeki jangan ditolak.”
Nayla menghentikan langkah. Sejenak ia memikirkan kata-kata yang tepat. Kemudian ia berbalik dan menurunkan maskernya agar ucapannya terdengar jelas, “Kalau caranya mendapatkan rezeki itu merendahkan martabat saya, saya berhak nolak,” ia menambahkan, “Yang kalian lakukan itu cuma ambil untung dari penderitaan orang lain.
“Kok lo negative thinking sih?!” suara Alex tiba-tiba meninggi. Ia maju selangkah, “Apa salahnya bagi-bagi duit?!”
Apa yang Nayla lontarkan selanjutnya adalah ledakan petasan yang selama ini tertimbun di gudang pikirannya, “Kalo gitu, kenapa harus direkam?! Oh iya, biar dapet views sama endorselah!” wajahnya memerah dan urat lehernya menegang, “Lo sadar gak, penderitaan orang lo jadiin ladang duit?!”
“Lah, lo pikir ngonten tuh gampang? Coba lo bikin konten kayak gue, gue ga yakin bakal FYP!” bentakan Alex mengalahkan riuh sorak dari kerumunan, “Cabutlah, ngapain bantuin orang yang gak mau dibantu?!”
Rombongan Alex menjauh, meninggalkan Nayla yang berusaha menenangkan napasnya.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...