Viral

Reads
569
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Yang Orang Sering Remehkan

Cahaya matahari belum menyelimuti jalanan sepenuhnya. Nayla berjalan kaki, menghirup udara yang masih segar, menuju minimarket dekat stasiun. Wajahnya tak lagi ia sembunyikan di balik masker dan topi.

“Cie, jadi juragan,” sapa Rafi, melempar cengiran. Ia mendorong kopi botolan ke arah temannya, “Nih, kopi. Tapi makan dulu, ntar sakit perut.”

“Amiin. Makasih,” Nayla tersenyum samar, meletakkan satu kotak pesanan temannya itu di meja, lalu ikut duduk di kursi.

Sudah lima hari sejak dirinya berhenti berjualan sementara di stasiun, karena pesanan online menyita waktunya. Ia jadi bahan pembicaraan lagi. Namun kini banyak orang yang mendukung pendapatnya. Itu sedikit mengobati hatinya dari kekecewaan membaca hujatan dari followers Alex yang juga sama banyaknya.

Deru motor kurir kini berdatangan ke rumah setiap pagi, bergantian mengambil bertumpuk-tumpuk kotak donat di teras, mengantarnya bahkan sampai keluar kota. Ia bersyukur pesanan tetap berdatangan, walau ia menjelaskan prosesnya sedikit lebih lama, karena di siang hari ia membantu Ibu merawat Bapak di rumah sakit. Video review donatnya bermunculan, ada yang merasa puas dengan teksturnya yang tidak kempes walau ditekan, ada juga yang memberi saran variasi toppingnya ditambah. Nayla bahkan akhirnya membuat akun media sosial Aroma Bahagia, untuk mengunggah kegiatannya sesekali.

Setelah 1 gigitan donat, temannya menyesap kopi botolannya. Tiba-tiba ia bercerita, “Gue jadi inget. Lo tau nggak, kakak gue, cewek, juga dulu dilayoff. Dia Graphic Designer di start up.”

Kedua alisnya bertaut, “Serius?”

“Iya. Mukanya depresi banget, soalnya cari kerjaan baru, nggak dapet-dapet. Sempet kerja lagi 3 bulan, eh berhenti gara-gara dia lembur mulu tapi ga dibayar. Habis itu dia coba jualan online, jualan kaos kata-kata lucu, dia design sendiri. Sama kayak lo, di awal malu-malu promoin jualannya,” Rafi mengedikkan bahu, “Padahal ngapain malu, lo yang bikin produknya sendiri, pake tangan lo sendiri, pamerinlah. Gue bantu Kakak bikin konten sama packing. Lama-lama, makin banyak yang pesan. Akhirnya bisa tuh, hidup dari situ.”

“Dia kan ex-start up, harusnya gampang dong cari kerjaan baru?” ujarnya, kali ini nadanya ringan, walau terselip jejak getir. Masih ada keinginan untuk menghabiskan hari-hari di antara deretan komputer dan suara mekanis printer, mengerjakan apa yang ia pelajari saat kuliah. Bukan duduk bersila memakai kaus dan celana pendek, dengan sesekali tangan yang pegal melubangi donat satu persatu.

“Nggak juga, lo tau sendiri negara ini emang rada-rada. Tapi, bagusnya kakak gue jadi bisa ngerjain apa yang dia suka. Nggak diatur-atur bos lagi, uang kos bisa ditabung buat yang lain.” Ia berhenti sebentar, “Jadi ya, gue gak ngerti deh, kenapa orang nganggap remeh jualan? Jualan kan juga kerja. Lo manage diri lo, manage stok bahan, waktu, cash flow, macem-macem. Malah pusingnya double. Soalnya, lo bos merangkap karyawan.”

Nayla menunduk. Ucapan barusan lebih menyentuh dari yang ia mau akui, “Orang-orang lihatnya nggak gitu.”

“Yaudah biarin, netizen kan hobi julid, postingan harmless juga dijulidin. Kalau julid dibayar, udah pada kaya tuh netizen.”

Sesaat, mereka tergelak.

Rafi berdiri, “Ya udah, gue duluan, ya.”

Dari jauh, suara kereta terdengar memanjang. Sepintas, ia mengingat bayangan dirinya dulu: menggendong tas ransel warna coklatnya di depan, menggenggam kartu kereta di tangan kanan, mengantri di tap gate, berlari-lari kecil menuju peron, sebelum akhirnya berdesak-desakan di kereta. Dulu ia adalah bagian dari itu semua. 


Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil

Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Download Titik & Koma