Ruangan Yang Mencekik
Sejak memasuki ruangan 10 menit lalu, Nayla merasa Bu Ririn, user yang mewawancarainya terlihat acuh tak acuh. Setelah melempar pertanyaan, Bu Ririn akan menatap ponsel dan mengagumi kuku-kukunya yang berkutek merah muda, sambil bersandar di kursi. Saat Ibu berpakaian blus satin merah muda itu akhirnya mencondongkan tubuhnya, ia berkata dengan mata menyipit dan senyum manis dibuat-buat.
“Jadi, Nayla… prestasi kamu bagus, pengalaman juga oke. Tapi maaf yaaa, sayangnya perusahaan sekarang enggak lihat nilai di atas kertas.“
Refleks bahunya naik dan terasa kaku, “Maksud Ibu?”
“Ini kamu, kan?” Layar menampilkan video dirinya membentak Alex tadi siang, diambil dari jauh. Video dimulai dari ketika ia menyebut Alex memanfaatkan penderitaan orang lain, “Saya bukannya mau nyudutin yaaa. Di sini kamu kayak gampang emosian. Ini di tempat umum loh, kok kamu marah-marah gitu, ke orang yang niat bantuin kamu? Kalau nanti kamu ngadepin tekanan, gimana? Meledak-ledak juga?”
Nayla mengerjap-ngerjap, “Dia tiba-tiba mendatangi saya, Bu, sambil sebut-sebut keadaan keluarga saya, cenderung mempermalukan malah. Saya awalnya menolak halus, tapi karena mereka mengejar, saya menegur mereka.”
Bu Ririn menopang dagu, menatapnya, “Buktinya ada, nggak?”
Nayla menelan ludah. Seperti air dalam teko yang mendidih di pojok ruangan, gelembung-gelembung frustrasinya pecah sebentar lalu tenggelam lagi.
“Lagipula, opini saya valid. Konten kreator seperti dia mewajarkan mental malas dan meminta-minta.”
“Aduuuh Nayla, serius banget sih kamu. Apa salahnya membantu? Orang lain jadi termotivasi. Yang nerima juga senang,” ujar Bu Ririn, mengibas-ngibas tangannya, “Saya kasih tahu yaaa. Di sini kita butuh orang yang bisa ngontrol emosi, bukan yang gampang ke-trigger. Kamu ngerti, kan?”
Rahangnya mengeras, menahan rasa cemas yang mengaduk-ngaduk kepalanya, “Ngerti, Bu.”
Bu Ririn tersenyum remeh, “Yaaa, semoga kamu belajar dewasa. Oke, kalau gitu. Tunggu kabarnya, ya.”
Nayla tersenyum kecut, mengucap terima kasih, dan pergi keluar tanpa menyapa Annisa. Pesan dari Alya muncul:
Lo kenapa nolak duitnya sih Kak? Diterima kan nggak ada ruginya!
Ia tak membalas apapun.
Other Stories
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...