Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
514
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

Home, Then Bali


Vlog — Bali, golden hour. Angin asin, ombak kecil. Lukas di frame bareng Aji, Nisa, Rangga; orang tua Nisa & Rangga tersenyum malu-malu off-cam.

Day off. Bali breath. Bawa dua ‘intern’ dan manajernya.” (melirik orang tua, bercanda)

IBU NISA (off-cam, bercanda): “Aku jaga mic-nya aja Chef, bukan anaknya.”

AJI: “Potong gaji, Bu. Hahaha—”

Tawa pecah kecil.

Lower-third pop-up: Nisa — tiny vlogger

NISA (maju, super gemas)

Hai, teman-teman internet! Ini Nisaaa! Kamera jangan goyang, mulut jangan marah, hati jangan pelit senyum. Klik like—kalau nggak mau, klik senyum aja. Kali ini Nisa bikin vlog bareng Kak Lukas dan temanku, Rangga.”

Rangga mengangkat sketchbook: gambar mereka semua di pantai.

RANGGA: “Ini pemandangan di sini, bersama orang-orang yang kusayang.”

LUKAS (tersenyum ke Rangga): “Always cute.”

LUKAS (ke kamera): “Kita sapa kru—lagi break, dengan izin. No kitchen, just hello.”

Tap—livestream split-screen. Bekasi, bangku belakang. Sari, Bimo, Ani, Pak Darto, Rico melambaikan tangan. Arman muncul separuh frame—angkat jempol, mundur, senyum tipis.

RICO (Bekasi): “Live dari bangku suci—jam istirahat.”

SARI: “Tolong bilang ke laut: tunggu giliran gue ke sana.”

BIMO: “Kirimin cewek Bali, Bro.”

ANI: “Kak Lukas, jangan lupa oleh-olehnya.”

PAK DARTO: “Kursi sudah kinclong… saya nyusul, Mas.”

LUKAS: “Update singkat, crew?”

RICO: “Semuanya aman terkendali.” (semua menoleh ke Arman; Arman mengangguk pendek. Sinyal menyisakan senyum.)

Split-screen ditutup. Kembali ke Bali.

LUKAS (VO singkat, gambar pantai):

Friday went viral, but stayed human. Tamu eksklusif di Jumat makan seperti biasa—lalu membantu dengan tenang. Meja mengingat nama; kamera mengingat aturan.”

Lukas merangkul ringan dua bocah itu.

Next Friday, same chairs. For now—Bali for breath.”

NISA & RANGGA (bareng, teriak kecil): “Bekasi for home!”

Ombak menyapu kaki. Tawa. Cut to black.

Interior — ruang kantor sunyi (malam).

GM duduk sendiri. Mengetik singkat, mencetak. Amplop bermeterai disegel rapi: “Confidential — For Mr. Hashimoto.”

GM membuka laci: ada beberapa slip transfer bertanggal Jumat, memo “Kitchen Appreciation / Community Fund.”

Ia menatap kursi pojok pada CCTV FOH—kosong, tenang.

Insert cepat—tanpa wajah:

Sebuah payung tua disandarkan rapi di kursi pojok; sebuah tangan berkerut menata amplop di bawah piring kecil. Cut back ke GM. Ia menutup laci. Hening, lalu senyum tipis.

Fade out.

Title card: “Friday Table — keep it fair, keep it kind.”


Other Stories
Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Download Titik & Koma