Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
514
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

Orientation : No Cameras, All Heat



Pagi. Kamera vlog menyorot helm hijau di depannya—naik Gojek menuju restoran. Jalanan padat. Klakson bersahut-sahutan. Motor zig-zag, truk kontainer merayap. Suara pedagang lontong sayur di trotoar bersaing dengan klakson ojek online “Tiinnn-tiinn!”

GOJEK DRIVER (setengah teriak, melawan bising): “Bekasi—pagi begini, kayak rebus mie instan, Mas. Airnya penuh, kuahnya panas, orangnya numpuk.”

LUKAS (tertawa, keringat menetes): “Full… ya, like noodle pot. No escape.”

DRIVER (senyum miris, fokus setir): “Kami kerja mulai jam lima subuh sampai malam. Kalau macet—habis bensin sebelum habis tenaga. Tapi ya… asal anak bisa sekolah, perut kenyang, semua jadi ringan.”

Lukas menatap keluar: gedung baru berdiri di samping rumah reyot, papan reklame bersaing dengan jemuran baju. Tangannya menggenggam erat gulungan pisau di ransel.
Gojek berhenti di depan restoran. Lukas turun, tersenyum kepada driver.

LUKAS (tersenyum): “Terima kasih, Pak. Jaga kondisi badan, ya.”

DRIVER (angkat tangan, singkat): “Good luck kerjanya, Chef.”

Vlog — Depan restoran, pagi. Kamera menghadap jalan. Lalu-lalang motor, klakson, teriakan pedagang sarapan. Lukas ada di frame, kemeja sederhana, ransel di punggung.

Good morning from Bekasi—the city that wakes up earlier than my alarm and louder than my playlist.”

Kamera geser ke jalan, driver ojek menarik napas panjang, tukang nasi uduk sibuk membungkus, pekerja kantoran bergegas dengan mata setengah terpejam.

Look at this—everyone is already running, carrying today on their shoulders. Some carry helmets, some carry laptops, some carry… just hope the traffic will move.”
(tertawa kecil)

Kamera kembali ke wajahnya. Nada lebih hangat, tulus.

I know it’s tough. Early shifts, long hours, heat, noise. But hey—if you’re watching this before work… may your coffee be strong, may your Boss be kind, and may your shoes survive the day.”

Lukas mengangkat gulungan pisau dari ransel, seperti bersulang.

As for me—orientation day. Kitchen rules, hot stoves, no cameras inside. But before I walk through that door, I just want to share one thing, you’re not alone. We’re all clocking in somewhere, chasing something. So… let’s make today kinder, sharper, and maybe a little tastier.”

Ia menutup vlog dengan senyum lebar, lalu melangkah ke arah pintu restoran.

Wish me luck. And if the heat doesn’t kill me—see you after service.”

Kantor — rapi, aroma kopi. Maya/HR dengan map; Arman/Head Chef tegap.

MAYA: “Lukas? Selamat pagi. Ini kartu akses, locker 27, dua uniform, tiga apron. Grooming, kuku pendek, tanpa perhiasan, rambut tertata.”

ARMAN: “Mengingatkan kembali, ponsel di loker saat service. NDA ditandatangani dulu. Tidak ada perekaman di area kerja.”

MAYA: “Shift 10.00–16.00, 17.30–23.00, rotasi.”

LUKAS: “Siap.”

ARMAN: “Bagus. Nadia akan antar ke dapur. Saya diskusi dulu dengan Ibu Maya—lalu menyusul untuk uji rasa.”

Pintu diketuk.

Koridor → dapur. Pintu ayun. Stainless berkilat, dengung exhaust, desis minyak.

NADIA: “Layout, kiri garde manger, tengah sauté & grill, kanan pastry. Depan pass. Yang berdiri di pass: suaranya hukum. Allergen station—kacang merah/kuning, dairy biru, gluten hijau. Pisau–talenan terpisah, fryer khusus allergen selalu minyak baru. Salah—keluar line.”

Lewat walk-in chiller; embun menggigit. Label rapi, FIFO ditulis tebal.

Kita FIFO, bukan YOLO. Cek suhu, tanggal. Belajar nama supplier lokal.”

Masuk area kerja. Sari/Sous Chef menyodorkan serbet.

SARI: “Pegangnya begini. Serbet itu teman panas, bukan sapu tangan patah hati.”

LUKAS (senyum): “Kalau patah hati, nanti kita tumis bareng.”

Tawa kecil. Bimo/Line Cook menyentil wadah garam.

BIMO: “Hey kamu, warga campuran, jangan bikin plating molor. Di sini waktu gampang ngamuk.”

LUKAS: “Kalau waktu ngamuk, kita kasih dessert.”

Bel service ting.

Other Stories
2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Download Titik & Koma