Bab 4 – Beban Yang Bertambah
Pindah rumah seharusnya jadi awal yang baru, tapi bagi Alisa, rumah baru justru seperti jeruji yang tak kasat mata. Hari-hari berjalan tak sesuai ekspektasi.
Ia tidak lagi tinggal di rumah nenek yang sempit, tapi tetap saja bangun lebih pagi, tidur paling larut, dan mengurus segala hal. Bedanya, sekarang tak ada satu pun orang yang benar-benar melihatnya.
Pagi itu, seperti biasa, Alisa sudah berada di dapur sebelum matahari naik. Piring kotor semalam masih berserakan. Dengan gerakan gesit, ia merapikan meja makan, mencuci gelas, dan mengelap sisa saus yang menempel di meja.
Air dingin menggigit tangannya, tapi pikirannya justru melayang pada deadline tugas kuliah yang belum selesai.
Kirana berjalan sambil menguap, langsung duduk di kursi makan. Mungkin mulutnya hanya diam, tapi Alisa tahu isi hatinya, "Oh enak ya ada Kak Alisa, aku tinggal duduk aja,” ucapnya sambil membuka ponsel.
Alisa tersenyum tipis, menahan perih di dada. Ia ingin berkata "bisa nggak sekali aja kamu cuci piringmu sendiri?" Tapi suara itu hanya bergema di kepalanya.
Siang harinya, selepas kuliah, Alisa pulang dalam keadaan letih. Di ruang belakang, cucian sudah menumpuk. Seragam sekolah Alira, Kirana dan Arina ada di paling atas, bercampur dengan pakaian ayah dan Bu Ratna.
“Lis, sekalian ya dicuci,” kata Bu Ratna yang sedang bersiap pergi.
“Tapi Bu… Alisa ada tugas kuliah,” ucap Alisa ragu.
“Sebentar aja. Kamu kan lebih telaten. Lagi pula anak-anak masih kecil, nggak mungkin disuruh nyuci,” kata Bu Ratna sambil mengenakan kerudungnya.
Kata-kata itu menggema di kepala Alisa. Masih kecil? Ia terdiam, matanya kosong menatap cucian yang menumpuk.
Ingatannya terlempar jauh. Saat umur delapan tahun, tubuhnya kurus kecil, ibunya sudah tiada. Tak ada yang bilang dirinya “masih kecil.” Tak ada yang membebaskannya dari tugas rumah.
Sejak hari itu, ia yang mencuci baju ayah, ia yang belajar menyetrika dengan tangan gemetar, ia yang menyalakan kompor hanya untuk sekadar memasak telur goreng.
Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Bagaimana mungkin Bu Ratna menyebut Kirana dan Arina “masih kecil,” padahal satu sudah SMP, satu lagi SMA? Mereka bahkan jauh lebih besar daripada dirinya ketika pertama kali dipaksa mengurus dunia sendirian.
Hatinya berbisik getir. "Kalau dulu aku bisa, kenapa mereka tidak? Kenapa aku lagi yang harus menanggung semuanya?"
Kata-kata itu tajam menusuk, seolah tanggung jawab seluruh rumah otomatis jatuh ke pundaknya. Ia menunduk, lalu merendam cucian itu. Air sabun membuat jemarinya kering dan perih.
Alira pulang sekolah, melihat kakaknya jongkok di samping ember. “Kak, biar aku bantu, ya.”
Alisa menggeleng pelan. “Nggak usah, Ra. Kakak bisa.” Padahal di hatinya, ia ingin sekali ada yang membantu.
Malam itu, Alisa duduk di meja belajar. Buku-buku kuliah terbuka, laptop menyala. Tapi fokusnya buyar saat suara dari ruang tengah terdengar jelas, Kirana dan Arina mengadu pada ibunya.
“Bu, Kak Alisa tuh suka lama banget kalau nyuci. Jadi baju aku kadang nggak kering,” kata Kirana.
“Iya, Bu,” sambung Arina, “kadang Kak Alisa juga jutek. Kalau kita minta tolong, kayak marah gitu.”
Suara Bu Ratna menyusul, agak pelan tapi jelas sampai ke telinga Alisa.
“Ya sudah, nanti Ibu bilangin. Tapi kalian juga sabar. Kak Alisa kan memang begitu orangnya.”
Alisa terdiam. Tangannya berhenti di atas keyboard. Dadanya sesak. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada lelah di tangannya.
"Setelah semua yang aku lakukan… bukannya terima kasih, malah komentar. Padahal kalau pekerjaan ini disuruh ke anak-anakmu sendiri, apa mereka bisa."
Ia ingin sekali mengeluarkan isi hatinya sekali saja, tapi yang terjadi justru air matanya menetes. Ia merasa seolah jadi orang asing di rumah itu, bukan kakak, bukan teman, hanya mesin yang mengerjakan semua.
Ia tidak lagi tinggal di rumah nenek yang sempit, tapi tetap saja bangun lebih pagi, tidur paling larut, dan mengurus segala hal. Bedanya, sekarang tak ada satu pun orang yang benar-benar melihatnya.
Pagi itu, seperti biasa, Alisa sudah berada di dapur sebelum matahari naik. Piring kotor semalam masih berserakan. Dengan gerakan gesit, ia merapikan meja makan, mencuci gelas, dan mengelap sisa saus yang menempel di meja.
Air dingin menggigit tangannya, tapi pikirannya justru melayang pada deadline tugas kuliah yang belum selesai.
Kirana berjalan sambil menguap, langsung duduk di kursi makan. Mungkin mulutnya hanya diam, tapi Alisa tahu isi hatinya, "Oh enak ya ada Kak Alisa, aku tinggal duduk aja,” ucapnya sambil membuka ponsel.
Alisa tersenyum tipis, menahan perih di dada. Ia ingin berkata "bisa nggak sekali aja kamu cuci piringmu sendiri?" Tapi suara itu hanya bergema di kepalanya.
Siang harinya, selepas kuliah, Alisa pulang dalam keadaan letih. Di ruang belakang, cucian sudah menumpuk. Seragam sekolah Alira, Kirana dan Arina ada di paling atas, bercampur dengan pakaian ayah dan Bu Ratna.
“Lis, sekalian ya dicuci,” kata Bu Ratna yang sedang bersiap pergi.
“Tapi Bu… Alisa ada tugas kuliah,” ucap Alisa ragu.
“Sebentar aja. Kamu kan lebih telaten. Lagi pula anak-anak masih kecil, nggak mungkin disuruh nyuci,” kata Bu Ratna sambil mengenakan kerudungnya.
Kata-kata itu menggema di kepala Alisa. Masih kecil? Ia terdiam, matanya kosong menatap cucian yang menumpuk.
Ingatannya terlempar jauh. Saat umur delapan tahun, tubuhnya kurus kecil, ibunya sudah tiada. Tak ada yang bilang dirinya “masih kecil.” Tak ada yang membebaskannya dari tugas rumah.
Sejak hari itu, ia yang mencuci baju ayah, ia yang belajar menyetrika dengan tangan gemetar, ia yang menyalakan kompor hanya untuk sekadar memasak telur goreng.
Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Bagaimana mungkin Bu Ratna menyebut Kirana dan Arina “masih kecil,” padahal satu sudah SMP, satu lagi SMA? Mereka bahkan jauh lebih besar daripada dirinya ketika pertama kali dipaksa mengurus dunia sendirian.
Hatinya berbisik getir. "Kalau dulu aku bisa, kenapa mereka tidak? Kenapa aku lagi yang harus menanggung semuanya?"
Kata-kata itu tajam menusuk, seolah tanggung jawab seluruh rumah otomatis jatuh ke pundaknya. Ia menunduk, lalu merendam cucian itu. Air sabun membuat jemarinya kering dan perih.
Alira pulang sekolah, melihat kakaknya jongkok di samping ember. “Kak, biar aku bantu, ya.”
Alisa menggeleng pelan. “Nggak usah, Ra. Kakak bisa.” Padahal di hatinya, ia ingin sekali ada yang membantu.
Malam itu, Alisa duduk di meja belajar. Buku-buku kuliah terbuka, laptop menyala. Tapi fokusnya buyar saat suara dari ruang tengah terdengar jelas, Kirana dan Arina mengadu pada ibunya.
“Bu, Kak Alisa tuh suka lama banget kalau nyuci. Jadi baju aku kadang nggak kering,” kata Kirana.
“Iya, Bu,” sambung Arina, “kadang Kak Alisa juga jutek. Kalau kita minta tolong, kayak marah gitu.”
Suara Bu Ratna menyusul, agak pelan tapi jelas sampai ke telinga Alisa.
“Ya sudah, nanti Ibu bilangin. Tapi kalian juga sabar. Kak Alisa kan memang begitu orangnya.”
Alisa terdiam. Tangannya berhenti di atas keyboard. Dadanya sesak. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada lelah di tangannya.
"Setelah semua yang aku lakukan… bukannya terima kasih, malah komentar. Padahal kalau pekerjaan ini disuruh ke anak-anakmu sendiri, apa mereka bisa."
Ia ingin sekali mengeluarkan isi hatinya sekali saja, tapi yang terjadi justru air matanya menetes. Ia merasa seolah jadi orang asing di rumah itu, bukan kakak, bukan teman, hanya mesin yang mengerjakan semua.
Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...