Dari Nol Hingga Nol
Hari-hari menegangkan telah berlalu. Kini seluruh murid kelas dua belas sedang pada masa pendinginan. Mereka tetap diharuskan datang ke sekolah, tetapi tidak melakukan pelajaran apapun lagi. Kerjaan mereka hanya absen, berkumpul bersama entah itu di kelas atau di kantin, dan membuat kenangan indah pada masa-masa akhirnya ini. Salah satu topik paling semangat dibahas oleh perkumpulan cewek-cewek kelas dua belas adalah soal pekerjaan dan married.
Seperti yang saat ini, di kelas XII IPS 2 cewek-ceweknya pada berkumpul membahas soal masa depan sambil makan camilan dari kantin.
\"Gue sih langsung berangkat ke Amerika setelah ini. Bokap gue akhirnya setuju gue mau lanjut kuliah di sana,\" ujar Desi dengan raut wajah sangat bahagia sekaligus terkesan angkuh.
\"Wiiiih! Keren banget temen gua! Gue sih mau kuliah di dalam negeri aja, tapi pastinya tempat kuliah yang favorite, ya.\"
Siswi dengan rambut pendek yang terkenal paling centil itu pun menghentikan pembicaraan mereka tentang kuliah. Dialah Ola Septina.
\"Udah-udah. Stop ngomongin soal kuliah. Ayolah belajar udah dua belas tahun, masa mau belajar lagi. Penat otak lo pada!\" ujarnya.
Siswi berkacamata ikut bersua. \"Tapi kan kuliah penting biar dapat kerjaan yang bagus. Bisa hidup enak.\"
\"Alah. Soal hidup enak mah gampang. Cari aja suami yang kaya. Udah deh jadi ikutan kaya,\" sahut Ola.
Siswi dengan bandu putih tiba-tiba berdiri dengan percaya diri. \"Siapa nih di antara kita yang married duluan? Yang pastinya sih bukan yang paling mau kuliah, ya. Hahah!\"
\"Ya pasti guelah,\" sahut Ola dengan percaya diri. \"Gue kan udah lama pacaran sama David. Dia pasti nikahin gue abis lulus sekolah!\"
Siswi dengan rambut panjang sedikit bergelombang yang sedari tadi mengunyah permen karet pun ikut menyela perdebatan mereka, namanya Rima.\"Udah deh, Ola. Lo jangan sok kepedean dulu. Lo sama David nggak ada apa-apanya kalau dibandingin hubungan gue sama Faldi yang udah bertahun-tahun. Dari SMP! Ecamkan tuh SMP!\" cetusnya dengan percaya diri.
\"Dih, si Faldi kan bukan dari kalangan orang kaya. Gimana mau langsung maried sama lo dia. Kerja dulu kali buat dapat modal hidup,\" cibir Ola bersedekap. Ola memang teman Rima yang paling julid dan sok iya. Pokoknya sok paling populer dan pasti menang dalam segala hal.
Rima berdecih. \"Gue sih nggak kayak elo, ya. Yang cuma nuntut enaknya doang dari cowok. Gue itu cewek idaman dan setia. Gue mau kok temenin dia dari nol sampai Faldi sukses. Lo liat aja kalau nanti kami sukses. Gue bisa buktiin!\"
\"Mau kita buktiin nggak siapa yang bakal nikah duluan?\" tantang Ola dengan senyuman miring. \"Gue sih udah pasti bakal dilamar David. Secara ya ... David cinta banget sama gue dan finansial dia udah oke. Youtuber gituloh, dari zaman sekolah udah banyak duitnya. Tapi gapapa sih kalau lo mau mulai dari nol sama Faldi. Kita buktiin aja. Bisa nggak lo berdua mulai dari nol. Itu juga kalau Faldi mau nikah sama lo habis lulus sekolah,\" ujar Ola tertawa bersama teman-temannya.
Rima mengepalkan tanganya erat-erat dengan tatapan murka pada Ola.\"Oke. Kita buktiin nanti. Gue pastikan Faldi bakal lamar gue di acara perpisahan sekolah nanti!\" cetus Rima sebelum pergi dari kelas bersama dengan kedua temannya.
***
Hubungan sepasang kekasih sudah seperti suami istri itu sepertinya sudah hal yang tak diherankan lagi pada zaman sekarang. Persis seperti yang terjadi pada Rima dan Faldi. Pulang sekolah Faldi ikut ke rumah Rima. Rima memasak untuknya dan mereka berdua makan bersama. Padahal di rumah sedang tak ada siapa-siapa.
\"Keasinan, ya?\" tanya Rima.
\"Enggak kok. Enak ini. Kamu kan makannya nggak pakek nasi, makanya asinnya kerasa,\" sahut Faldi sebelum menyeruput kuah mi instan di mangkuknya.
\"Kamu yang cuci piring, ya.\"
Faldi mengacungkan jari jempolnya tanda setuju.
Tiba-tiba Rima teringat tentang tantangan dari Ola untuknya. Ia merasa harus membahasnya sekarang dengan Faldi.
\"Fal, aku mau kita nikah setelah lulus sekolah. Kamu lamar aku saat perpisahan nanti,\" pinta Rima menatap kekasihnya dengan pasti.
Faldi yang saat ini sedang makan nyaris tersedak. Kupingnya tak salah dengar, kan?
\"Rima, kamu ngomong apaan sih. Mana bisa kayak gitu. Nikah pas baru banget lulus sekolah? Mau berumah tangga kayak gimana kita? Kerjaan aja belum punya,\" tolak Faldi.
Rima sontak saja mengerang kesal sambil mendekatkan tubuhnya hingga menyentuh meja makan. Ia tatap dengan tegas Faldi yang sedang makan di hadapannya.
\"Ya emang kenapa? Emang nikah harus kaya dulu? Udah terbukti ya, kalau nikah muda itu bukan suatu pilihan yang salah. Tengok ke belakang, begitu banyak orang tua dulu nikah muda dan menghasilkan kita-kita ini. Hubungan mereka awet, Sayang. Karena apa? Mereka punya cinta yang tulus. Seperti cinta aku ke kamu. Seperti cinta kita.\"
Faldi mengoyangkan jari telunjuknya seraya menegak beberapa kali air putih. Sedangkan Rima hanya berdecak. Ia sudah hafal sekali dengan sikap Faldi.
\"Kenapa? Kamu nggak mau nikah sama aku? Kamu pasti bakal bilang kita belum matang atah mental kita belum siap, kan? Emang nikah itu mau perang apa. Sayang, aku cuma mau ada yang ngejaga aku dan aku mau kamu benar-benar milik aku seutuhnya. Aku nggak mau ya, nasib kita kayak kakak kelas yang dulu. Bertahun-tahun pacaran, begitu kuliah ... Apa? BUBAR!\"
Faldi menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengembuskannya dengan perlahan. \"Gini, Sayang. Bukannya aku nggak mau nikah sama kamu. Bukannya aku nggak mau nurutin kemauan kamu. Tapi aku nggak punya modal sama sekali. Aku nggak punya tabungan buat ngelamar kamu. Emangnya mama kamu mau aku ngelamar nggak bawa apa-apa? Gimana juga nanti reaksi orang tua aku. Sudah pasti mereka protes dan nggak setuju. Soal ingin bersana dan ngejaga kamu, itu bener-bener udah kayak kewajiban aku. Aku bener-bener pengin selalu sama kamu, Rima. Nggak mau yang lain. Jadi kamu jangan khawatir. Aku pasti bakal nikahin kamu. Kerja dulu, cari uang, bisa ngontrak rumah paling enggak. Setelah itu? Aku nikahin kamu! Nggak nikah sama orang lain. Tapi kamu,\" tegas Faldi pada Rima.
Bukannya merasa tersentuh atau tenang, Rima justru semakin gerah dengan respons Faldi. Bukan ini jawaban yang ia ingin. Ia hanya ingin Faldi menyetujui kemauannya. Ia ingin Faldi juga berkeinginan menikah dengannya setelah lulus SMA.
Rima lantas berdiri dari kursinya. Ia tarik piring kotor di hadapan Faldi, lalu menuju wastafel. Tak ada omongan apapun, tapi Faldi tahu Rima sedang marah sekali dengannya. Mau tak mau, Faldi pun bangkit dari kursi untuk membujuk kekasihnya yang sedang marah.
\"Rima sayang, jangan marah, ya? Aku cuma mau yang terbaik buat kita. Aku mau nikahin kamu ketika kita sama-sama siap. Aku siap secara finansial dan kamu siap dengan mental bakal jadi ibu rumah tangga yang baik. Bagi aku yang penting finansial dulu. Dari pacaran juga aku bisa ngimbangin kamu. Aku bisa kelola emosi, bisa bantuin ibu di rumah, terus aku juga kan sudah kerja sambilan gitu. Secara mental mungkin aku lumayan, tapi finansial—\"
\"Kita mulai dari nol,\" sahut Rima berbalik badan menghadap Faldi yang seketika bungkam. \"Kenapa? Mulai dari nol kan juga banyak dilakukan oleh orang lain, Faldi. Mereka susah dulu, ngerintis usaha kecil bareng-bareng, dan akhirnya mereka bisa sukses dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Aku-mau-kita-seperti-itu,\" tukas Rima penuh penekaan.
\"Tapi kamu bakal hidup menderita. Kamu kan hobi jajan, Rima,\" sahut Faldi seraya terkekeh geli.
Rima ikut tertawa sambil mencubit perut Faldi. \"Iiih nyebelin! Pakek bawa-bawa kebiasaan suka jajan lagi. Ya aku nggak bakal mati juga kalau nggak jajan. Tapi kamu mau kan berjuang dari nol sama aku? Please, Sayang. Kita pasti bisa. Aku yakin.\" Rima menatap penuh harap pada pria di hadapannya yang mulai goyah.
\"Tapi ... gimana kalau kita nggak dapat restu?\"
Rima meraih kedua tangan Faldi sambil menatapnya dengan yakin dan penuh kasih sayang. \"Aku bakal lakuin apapun supaya orang tua aku bisa merestui kita. Kamu juga harus melakukan hal yang sama ya, Sayang? Inget, kalau kamu gagal yakinin orang tua kamu, berarti kamu nggak kuat cintanya ke aku. Kamu harus perjuangin, Sayang. Kalau nggak nikah pas lulus SMA, berarti kita udahan aja.\"
\"Ya ampun kok kamu ngomong gitu?\" protes Faldi panik sendiri.
Rima berbalik badan untuk melanjutkan kegiatan mencuci piringnya. \"Makanya kalau kamu nggak mau kehilangan aku, ngomong sama orang tua kamu. Malam ini juga!\"
Faldi menghela napas pasrah. Tak ada lagi yang bisa ia tentang dari kekasihnya yang begitu keras kepala.
\"Ya udah. Ntar malam aku coba ngomong sama orang tuaku.\"
Barulah Rima berbalik badan dan memeluk kekasihnya itu sambil tersenyum kegirangan.
***
Rima memberanikan diri untuk menghampiri ibunya yang sedang melihat pakaian di kasur. Gadis berambut pendek itu duduk di kasur dengan gelisah. Ia bingung dan ragu, bagaimana cara menyampaikan pada ibunya perihal keinginannya menikah setelah lulus SMA.
\"Kenapa kamu, Rim? Kayak gelisah banget. Udah nggak ujian lagi, kan? Tinggal nunggu acara perpisahan aja,\" tanya ibu Rima yang bernama Diyah.
\"A-anu, Ma. Eumm ... Rima ... Sebenernya Rima mau ....\"
\"Apa sih? Kamu mau apa?\" Bertambah penasaranlah Bu Diyah mendengar suara meragukan putrinya.
Rima berdecak dalam hati. Ia tak tahu akan sesulit ini mengatakan hal itu. Tadi dirinya sangat percaya diri. Sekarang? Rima terasa mati kutu sebelum bersua.
\"Rima mau nikah setelah lulus SMA,\" cetus Rima dengan cepat.
Bu Diyah melongo, tak percaya dengan ucapan putrinya yang tiba-tiba saja mengatakan soal pernikahan. Buru-buru Bu Diyah menarik lengan putrinya agar segera berdiri.
\"Eh, kenapa, Ma?\" tanya Rima panik sendiri ketika Bu Diyah meraba perutnya.
\"Kamu nggak lagi hamil kan, Rima? Jangan macem-macem kamu, ya! Awas aja kalau emang hamil beneran,\" lontar Bu Diyah menatap tajam putrinya.
Sontak saja Rima marah mendengar tuduhan tersebut. \"Astgahfirullah, Ma. Mama nuduh Rima hamil di luar nikah? Ma, Mama lagi fitnah anak sendiri tau nggak! Rima nggak serendah itu, Ma. Faldi juga nggak seberengsek itu.\"
\"Ya terus kenapa kamu ngomong mau nikah pas lulus SMA?\" balas Bu Diyah. \"Rima, di mana-mana orang ngomongin soal kuliah mau di mana, ambil jurusan apa, atau kerja di mana. Nggak kayak kamu! Ngomong mau nikah habis lulus SMA. Emang Faldi udah punya apa?\"
Rima berkacak pinggang, menatap tak terima ke arah ibunya yang mengungkit soal Faldi yang tak punya apa-apa. \"Emang pernikahan harus mandang si cowok punya apa, Ma? Rima mencintai Faldi dengan tulus tanpa pandang kekayaan atau apa yang dia miliki, Ma. Rima nggak pandang mahar apa atau uang yang diberikan Faldi berapa ke Rima, Ma. Rima cuma butuh cinta tulus Faldi dan kesetiaan Faldi pada Rima!\"
Bu Diyah geleng-geleng kepalanya saking tak habis pikir dengan mindset yang anaknya punya. \"Astaghfirullah ... Rima, kamu mikir nggak dengan ucapan kamu tadi? Berumah tangga nggak seindah dan semudah yang kamu pikirkan. Berumah tangga bukan soal cinta aja, tapi finansial itu sangat penting. Tanpa finansial, rumah tangga kamu nggak bakal bisa harmonis. Apa-apa sekarang pakai uang, Rima. Makan, minum, transportasi, biaya ini, biaya itu. Kalau Faldi nggak ada kerjaan yang mencukupi, bagaimana bisa kalian membangun rumah tangga impian. Kalian itu masih terlalu muda. Pikirannya cuma soal enaknya aja!\"
\"ARRRGHH!\" erang Rima dengan keras sambil mencengkram kepalanya. Matanya berapi-api menatap Bu Diyah. Ibunya tersebut terlihat syok melihat reaksi Rima yang sedemikian rupa mengerikannya.
\"Rima, Sayang, Mama cuma mau yang terbaik buat kamu. Mama nggak mau anak bungsu Mama ini hidup menderita. Kamu masih umu belasan tahun, Sayang. Kamu belum siap mental\"
\"Bagaimana dengan orang tua zaman dulu, Ma? Mama bahkan ngaku nikah usia enam belas tahun dan almarhum papa delapan belas tahun, kan? And see ... lihat apa yang terjadi sama mama dan papa. Kalian punya usaha sendiri, rumah, anak yang berkecukupan aja, dan mama bahagia. Lantas, kenapa aku nggak, Ma? Kenapa Mama nge-judge aku semudah itu? Bilang aku nggak siap mental, Faldi nggak punya apa-apalah,\" komentar Rima panjang lebar.
\"Itu zaman dulu, Rima. Zaman dulu beda dengan zaman sekarang. Sekarang anak muda lebih eksis, minim kesabaran, gampang frustrasi, dan masih pengin senang-senang. Beda sama dulu, beda banget. Jadi kamu nggak bisa sama-samain zaman dulu dan sekarang. Zaman Mama dan Zaman kamu ini beda, Rima.\"
\"Ah, bodo! Pokoknya Rima tetap mau nikah sama Faldi. Soal kerjaan Faldi, Mama nggak usah pikirin. Rima sama Faldi bakal mulai usaha dari nol. Kami bakal berjuang bersama hingga sukses. Saat itu Mama bakal terdiam dan nggak bakal asal nyeplos lagi. Rima dan Faldi bakal buktiin, Ma. Kami hanya perlu restu. Mumpung Rima masih minta, Ma. Jadi turutin aja. Itu tandanya Rima masih ngehormatin Mama.\"
Bu Diyah langsung terduduk di ujung ranjang dengan tatapan pasrah. Matanya berkaca-kaca karena dikalahkan oleh putri bungsu kesayangannya. Tak tahan, air mata itu pun menetes. Tapi buru-buru Bu Diyah menghapusnya.
\"Baiklah. Mama restui kamu nikah sama Faldi, Rima. Buktikan saja apa yang kamu anggap benar itu. Mama cuma mau bilang untuk terakhir kalinya sama kamu. Siapa tahu kamu bakal mikir lagi. Bahwa memulai dari nol nggak semudah itu. Kamu dan dia benar-benar harus satu. Saat kamu berjuang dan merasakan beratnya perjuangan itu, pada sata itu juga kamu bakal mikir betapa benarnya kata-kata Mama. Tapi gapapa, silakan menikah dengan Faldi setelah lulus SMA. Walau hati Mama nggak ikhlas, tapi Mama nggak mau kamu jadi anak durhaka ninggalin Mama demi nikah dengan Faldi tanpa restu,\" pungkas Bu Diyah kembali menghapus sejak air matanya.
Di sisi lain, ucapan Faldi juga mengejutkan kedua orang tuanya. Di ruang tengah dengan cahaya lampu temaram itu Bu Odah dan Pak Salman bersunggut. Mereka tak habis pikir dengan keputuran yang putra mereka ambil.
\"Faldi, jangan asal bicara kamu, Nak. Nikah nggak segampang itu. Kamu belum punya pekerjaan, Faldi. Kita berasal dari keluarga nggak mampu. Mau dikasih makan apa anak istri kamu nanti? Uang jujuran aja nggak ada, Faldi. Ya Allah ....\" Bu Odah tak sampai hati rasanya mengucapkan hal itu. Namun, beliau juga bingung harus mengatakan apa selain fakta itu. Berbeda dengan Pak Salman yang duduk diam dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Faldi mengacak rambutnya merasa gelisah. Mulutnya berdecak dengan kepala menunduk. Ia sudah menduga akan mendapatkan respons seperti ini.
\"Bu, kami bakal rintis usaha dari nol. Aku bisa kerja apa aja. Terus Rima katanya mau jualan juga di rumah. Dia bisa jualan online juga, Bu,\" kata Faldi memberikan pembelaan.
Bu Odah menggeleng. \"Merintis usaha itu sulit, Faldi. Kalian itu masih terlalu muda. Bukannya Ibu nggak percaya sama sekali dengan kemampuan kalian. Tapi ini perlu dipikirkan secara matang. Kalau habis tamat SMA ini juga kamu mau nikah sama Rima, kita ke sana bawa apa? Kita nggak punya tabungan. Duit habis buat makan sehari-hari aja, Nak. Jangan terbawa hawa nafsu. Kalau memang kalian berjodoh, pasti nikah akhirnya. Pikirkan baik-baik, Faldi. Ini demi masa depan kalian, masa depan anak kalian juga nanti.\"
Faldi tak menjawab. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi denga mata terpejam. Hatinya kesal, tetapi mulutnya tak bersua. Faldi takut pada ayahnya sedari dulu. Ia tak akan berani bicara panjang lebar jika sudah ada ayahnya di sekitarnya. Namun, tanpa diduga sang Kepala keluarga pun buka suara.
\"Kalau emang mau nikah habis lulus sekolah. Silakan. Bapak jual tanah satu-satunya yang ukurannya nggak seberapa di dekat empang. Gapapa. Nikah aja kalau mau nikah,\" ucap Pak Salman.
\"Pak, jangan sembarangan. Faldi nggak bisa nikahin anak orang gitu aja tanpa finansial yang bagus. Paling tidak dia itu punya pekerjaan, Pak,\" protes Bu Odah atas izin dari suaminya.
\"Biarkan saja, Bu. Daripada dia durhaka terhadap orang tuanya, lebih baik berikan apa yang dia mau. Bapak tidak mau keturunan kita ada yang menjadi pembangkang atau durhaka terhadap orang tua. Nanti kalau saat ujian itu tiba di hadapannya, dia bakal tanggung dan belajar dari ujian itu. Kalau belum merasa, mana tahu. Doakan aja yang terbaik, semoga pintu hidayah dari Allah selalu terbuka lebar untuk anak menantu kita,\" tutur Pak Salman mengundang perasaan pasrah di hati Bu Saodah da rasa senang di hati Faldi sendiri.
\"Terima kasih, Pak. Faldi nggak bakal nyusahin Bapak dan Ibu kalau di rumah tanggaku nanti kami diuji. Faldi janji nggak akan mengadu atau meminta bantuan soal keuangan. Kami akan merintis usaha dari nol. Rima juga punya komitmen besar untuk menemani Faldi dari titik terendah menuju kesuksesan,\" tutur Faldi dengan perasaan yang teramat bangga.
***
Tibalah acara perpisahan sekolah. Saat acara fashion show yang dilakukan berpasangan, Faldi tanpa diduga berlutut di hadapan Rima sambil menunjukkan sebuh cincin. Sonta saja keadaan sangat heboh. Banyak sekali teman-teman mereka yang berseru kegirangan sambil mengambil video moment berharga itu.
\"Rima Salsabila, yang sudah menemani aku dari masa SMP hingga akhir dari masa sekolah menegah atas ini. Di hadapan guru-guru dan teman-teman kita, aku melamar kamu untuk menjadi istri aku. Rima, maukah kamu mengawali masa dewasamu untuk menjadi pendamping hidupku? Aku ingin kita bersatu dengan ikatan yang sah dari usia awal dewasa hingga akhir hayat kita,\" ucap Faldi dengan sungguh-sungguh.
Sorak ramai terdengar saling bersahutan. Banyak para siswa dan siawi merasa iri dan terbawa perasaan. Ada juga yang geleng-geleng melihat aksi tersebut. Namun, mayoritas orang yang menyaksikan semua itu turut bahagia dan bersorak agar Rima menerimanya. Rima total salah tingkah, ia tak dapat mengatup bibirnya untuk berhenti tersenyum. Rahasanya bahagia sekali hingga jantungnya terus terpacu debgan cepat.
\"Ahmad Faldianyah, pacar aku yang paling aku cintai. Aku bersedia untuk menjadi pendamping kamu sekarang dan untuk selamanya. Aku mau jadi istri kamu.\"
Sorak kembali terdengar riuh. Faldi pun bangkit dari posisinya dan memasangkan cincin itu di jemari manis Rima. Faldi mengangkat tangan Rima yang memakaai cincin. Senyuman percaya dirinya terpatri sempurna.
\"Gue resmi tunangan sama Rima!\" serunya bangga. \"Bulan depan, datang ke acara pernikahan kami di rumahnya Rima. Kami akan melangsungkan akad sebulan lagi. Mohon doa restunya!\"
Hari itu menjadi momen paling membahagiakan bagi Rima. Akhirnya apa yang dia inginkan tercapai. Rima bangga menjadi orang yang pertama kali nikah setelah lulus sekolah.
Hingga tibalah hari yang paling ditunggu. Faldi dan Rima duduk di hadapan seorang penghulu dan wali nikah. Faldi mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan berani. Mereka saling berpelukan saat seruan sah terdengar dari para saksi nikah.
\"Makasih ya, Sayang. Kamu udah mengabulkan harapan terbesar aku. Menikah setelah lulus SMA. Aku nggak bakal khawatir kamu diambil orang lain lagi,\" ucap Rima ketika mereka duduk di pelaminan.
\"Sama-sama, Sayang. Bukan cuma kamu, tapi aku juga bahagia atas penikahan kita,\" sahut Faldi tersenyum hangat.
Seminggu pun berlalu. Kehidupan baru Faldi dan Rima dimulai di rumah kontrakan yang sederhana. Layaknya pasutri yang berbahagia, mereka sering tertawa dan bemesraan dengan bebas di rumah sendiri. Tak jarang mengumbar kebahagiaan lewat sosial media.
Tak hanya itu, seminggu setelahnya Faldi mendapatkan pekerjaan menjadi penjaga toko bangunan. Gajinya memang hanya dua juta perbulan, tetapi mereka begitu optimis uang segitu cukup untuk keperluan asal berhemat. Ditambah Rima juga sudah mulai buka usaha. Berjualan pakaian online dengan mendatangkan pakaian dari grosir termurah.
Satu bulan berlalu, mereka masih bisa menjaga keharmonisan rumah tangga dengan hidup saling hemat. Namun, pada bulan kedua mereka mulai mengeluh. Sore sekitar pukul lima Faldi pulang dari tempat kerjanya. Tubuhnya penat karena terus saja mengangkat ini dan itu di tempat kerja. Begitu membuka tudung saji, tak ada apa-apa di sana.
\"Ck, masak nggak sih tuh cewek,\" decak Faldi seraya berjalan menuju kamar mereka.
Rima baru saja selesai live untuk jualan bajunya. Wajah perempuan itu tak seceria biasanya. Terlihat lelah dan menahan kesal. Namun, Faldi tak peduli itu. Ia sangat lapar, haus, dan lelah. Seorang istri harus menyiapkan sajian untuk suaminya.
\"Sayang, kamu masak nggak sih? Meja makan sampai kosong gitu. Kopi pun kamu nggak ada bikin,\" protes Faldi.
Rima yang sedang menyusun baju-baju itu kendalam kerajang besae, lantas menoleh dengan tampak tak suka.
\"Kamu liat nggak aku baru aja selesai jualan? Capek tau nggak. Yang beli juga cuma dua orang. Kita sama-sama lapar. Aku juga belum makan. Bukannya bawain makanan dari luar, malah nuntut dimasakin,\" komentar Rima.
Tentu saja Faldi merasa tak terima. Hatinya tiba-tiba panas mendengar sahutan itu. \"Eh, nggak bisa gitu dong. Kamu kan istri. Peran istri itu yang ngurus rumah, masak, layani suami. Apa-apa tuh suami yang diutamain, bukannya kerjaan kamu, Rima!\"
\"Kok malah marah sih? Eh, Faldi. Kalau aku ngandelin gaji kamu token listrik nggak bakal kebeli. PDAM apalagi. Harusnya kamu terima kasih sama aku. Sebagai seorang istri mau berjuang nyari duit buat keluarga,\" balas Rima.\"Ya kan emang gajiku segitu. Emang aku kerja apaan bisa ngasilin uang sebanyak yang kamu mau, hah?!\"
\"Makanya kamu tuh nurut sama aku! Kita buka usaha aja sama-sama. Jualan di pinggir jalan aku jabanin. Dagang itu untungnya lebih banyak. Lebih baik merintis usaha daripada jadi karyawan. Usaha milik sendiri itu untungnya lebih gede, Fal. Tinggalin aja kerjaan kamu yang gajinya nggak seberapa itu. Dua minggu doang abis buat makan. Dua minggunya lagi makan apa? Angin?\"
Faldi meninju pintu sebelum pergi dari sana. Pemuda itu lantas menuju dapur untuk memasak sesuatu. Tapi ia bingung harus masak apa. Tak ada bahan makanan apapun. Kulkaa saja kosong, hanya terisi dengan air putih dan sirup.
Rima datang membawa dua bungkus mi instan ke dapur. Ia langsung menyalakan kompor dan mengambil panci.
\"Udah deh kamu mandi aja sana. Aku bikinin mi kuah nih. Ntar aku buatin teh hangat juga.\"
Faldi menyugar rambutnya seraya pergi dari dapur tanpa mengatakan apapun. Setelah Faldi sudah tak ada di dapur, diam-diam Rima menangis. Ia terisak kecil sambil menyiapkan bumbu mi instan ke dalam dua mangkuk.
\"Kenapa jadi gini sih. Baru dua bulan lebih nikah udah tengkar aja sama Faldi. Kalau aja masih pacaran, gue udah pasti ngambek nggak mau ketemu dia. Ini gue bisa apa? Mau kabur ke rumah orang tua gengsi. Apalagi ke rumah mertua yang nggak suka bahkan denger napas gue doang.\"
Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu. Faldi sudah mantap mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia memilih membuka usaha bersama Rima. Usaha yang mereka geluti kali ini adalah jualan risoles dan jus buah.
Usaha yang mereka rintis dengan modal dari penjualan cincin nikah itupun berjalan dengan lancar. Jualan bersama orang tercinta dengan diselingi canda tawa pun mewarnai hari mereka. Sebulan penuh penghasilan mereka lumayan. Pasutri itu pun bisa memutar modal untuk jualan satu bulan ke depan.
Namanya takdir, apapun itu tak bisa ditempis. Di samping gerbong jualan mereka ada tiga buah gerbong baru yang jua ikut berjualan. Gerbong pertama jualan gorengan termasuk risoles yang harganya cuma seribuan, lalu gerbong kedua jualan kentang goreng, dan gerbong ketiga menjual berbagai minuman dengan harta murah meriah. Baru hari pertama tiga gerbong itu berdiri di sana, separuh dari langganan risoles dan es milik Faldi dan Rima pun berpindah hati. Mereka lebih mencoba harga murah dan varian baru. Mau tak mau pasutri itu menelan kenyataan pahit, bahwa semakin hari omset mereka makin tipis.
Pulang dari berjualan, keduanya masuk ke dalam rumah dengan lesu sambil membawa masuk dagangan yang masih banyak. Faldi duduk di ruang tengah dengan tampang frustrasi dan Rima menuju dapur untuk menggoreng risoles di dapur. Selang beberapa menit, Rima membawa sepiring risoles dan dua piring nasi.
\"Pakai risol doang?\"
Rima mendelik pada suaminya. \"Ya terus? Mau pakek daging ayam? Beli sana kalau ada duitnya. Emang aku mau makan kayak gini kalau aja ada duit buat beli lauk!\"
\"Ya udah nggak usah marah-marah. Paling enggak kamu bikin sambel kek,\" ucap Faldi.\"Bikin sambel tuh perlu cabe, bawang, perbumbuan. Kamu liat tuh ke dapur. Kosong!\"
\"Ya salah kamu nggak beli perlengkapan dapur. Udah tahu pasti perlu tiap hari,\" balas Faldi.
Rima semakin panas mendengar sahutan Faldi yang terdengar juga terkesan emosi. \"Duit yang kamu kasih cukup apa, Faldi? Aku harus sisihkan buat bayar rumah, token, bayar PDAM. Pusing kepalaku! Mana usaha kita gagal terus. Kalau ginih nemenin kamu dari nol terus balik ke nol lagi. Kapan suksesnya!\"
Faldi lantas langsung berdiri dengan tampang kesal. Dadanya naik-turun saking bergejolaknya emosi di dalam dada.
\"Eh, Rima! Ini juga kemauan kamu, kan? Kamu yang maksa aku buat nikahin kamu setelah lulus SMA. Aku belum ada bekal apa-apa malah harus nikahin kamu. Pendidikan aku cuma tamat SMA, pekerjaan dapatnya yang gajinya sedikit. Coba aja aku nurut sama orang tua aku. Jadinya nggak kayak gini! Omong kosong kamu tuh yang bilang kita bisa berjuang dari nol. Tapi apa? Baru dua kali usaha gagal kamu udah ngeluh. Udah nyalahin aku. Mental kamu tuh masih cetek sok-sokan bilang mau mulai dari nol. Pikiran kamu tuh nol!\"
Usai menyuarakan isi hatinya, Faldi pergi dari rumah. Meninggalkan Rima yang menangis sendirian di ruang tengah. Perempuan itu nangis tersedu-sedu, begitu menyesal dengan keputusan yang ia ambil. Rima jadi teringat waktu tak sengaja melihat sosial media teman-teman yang dulu menantangnya pun masih sibuk kuliah dan bersenang-senang dengan masa mudanya. Rima benar-benar menyesal, ini semua karena egonya yang selalu ingin menang.
Sementara itu, Faldi memutuskan untuk nongkrong bersama teman-temannya di depan sebuah minimarket. Kedatangannya langsung disambut hangat.\"Widih! Temen kita yang udah laku duluan datang nih, Boss! Fal, gimana kabar lo? Tumben banget ngajakin nongkrong bareng,\" seru Hendi, teman akrab Faldi sejak SMA.
Faldi duduk di kursi usai tos dengan teman-temannya. \"Baik kok. Cuma lagi pusing aja. Biasalah, si Rima ngambek sama gue. Ya daripada gue pusing mending nongkrong bareng kalian. Ogah banget sampe berantem kek pasutri yang udah laam nikah. Baru juga beberapa bulan nikah. Malu sama tetangga.\"
\"Bener-bener. Mending kabur deh daripada berantem.\"
\"Eh, tapi jangan salah. Habis lo pulang dari sini, alamat lo tidur di luar, Bro. Hahaha! Tau cewek kan kalau lagi marah?\"
\"Ya udah gue nginep aja di kosan kalian. Ada yang ngekost, kan?\"
Aldi mengangkat tangan. \"Gue ngekost di dekat sini. Ke kosan gue aja ntar. Gampang. Jangan dibikin pusing masalah istri, Fal. Mending kita seneng-seneng di sini.\"
\"Eh, mau liat koleksi video terbaru gue kagak?\" tanya Hendi dengan seringai nakal.
Faldi geleng-geleng mendengar tawa melingking teman-temannya. \"Bener-bener ya lu, Hen. Kagak kapok-kapoknya nonton begituan. Katanya udah tobat. Tobat apa lo?\"
\"Tobat terus kembali maksiat!\" celetuk salah satu dari mereka mengundang tawa mereka semua.
Malam itu, Faldi benar-benar tak pulang. Ia bersenang-senang dengan temannya hingga larut malam. Bahkan ia menginap di kosan yang ditinggali oleh temannya Aldi.
***
Pagi sekitar pukul sembilan barulah Faldi pulang ke rumah. Begitu masuk ke dalam kontrakannya, Faldi melihat dua piring nasi dan risoles tadi malam masih ada di sana, mendingin. Dari sana perasaan Faldi sudah tak enak. Hingga ketika ia memasuki kamar, Rima sudah menunggunya dengan tampang yang sedang menahan amarah.
\"Baru ingat jalan pulang kamu, Fal? Bagus ya jam segini baru pulang. Aku istri kamu kecapean seharian jualan, nggak laku, terus nggak makan karena sebal sama kamu, malah kamu tinggalin gitu aja. Ke mana kamu semalaman ini?!\"
\"Aku tadi malam nongkrong bareng teman-temanku di depan minimarket sampai tengah malam. Habis itu baru nginap di kosan Aldi. Aku nggak berkeliaran ke mana-mana, Rima.\"
\"Enak kamu ya. Pikiran puyeng bisa nongkrong sama teman-teman kamu. Sedangkan aku? Aku sendirian di rumah nahan semuanya sendiri, Faldi! Kurang ajar ya kamu jadi suami,\" tunjuk Rima pada wajah suaminya dengan berlinang air mata.
\"Ya emang apa salahnya aku nongkrong? Wajar kok. Aku ini masih muda, Rima. Aku juga butuh hiburan. Keadaan kayak gini bukannya meratapi nasib kayak kamu! Tapi mencari hiburan biar pikrian plong,\" balas Faldi.
Rima langsung mendorong tubuh Faldi dengan kedua tengannya. \'\'Ya udah sana kamu pergi cari hiburan! SANA PERGI! BIAR AKU YANG NANGGUNG SEMUA! AKU YANG NGAJAK KAMU NIKAH! INI SEMUA MEMANG SALAH AKU! SALAH!\"
Faldi panik melihat Rima mengamuk. Buru-buru ia memeluk tubuh Rima agar wanita itu tak emang hancurkan barang-barang di sekitarnya. Faldi tak mengatakan apa-apa, tetapi rasa bersalah tiba-tiba menyelusup ke hatinya. Hingga ketika Rima tak berontak lagi, Faldi membawa Rima ke kasur dan menidurkannya.
\"Maafin aku, Rima. Bukan cuma kamu yang salah, aku juga salah. Sama-sama nggak bisa mengatasi rumah tangga dengan baik,\" ucap Faldi menunduk dalam. Ia duduk di pinggiran kasur sementara Rima menatapnya dengan lelehan air mata.
\"Yang buat aku makin frustrasi itu karena kehadiran dia nggak nggak tepat datangnya, Faldi. Dia hadir di saat kita dalam keadaan terpuruk kayak gini,\" ucap Rima dengan suara yang bergetar.
Faldi langsung menoleh, menatap Rima bingung tanda meminta penjelasan. \'\'Dia siapa, Rima? Siapa yang datang nggak tepat waktu?\"
\"Anak kita.\"
Faldi terkejut bukan main seraya melirik perut Rima. Faldi meremas rambutnya saking syoknya. Jadi ia akan menjadi seorang ayah sebentar lagi? Faldi menoleh lagi pada Rima dengan raut wajah yang bahagia. Ia langsung menciumi pipi dan kening istrinya dengan rasa terharu.
\'\'Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu bilang sekarang? Kalau gitu aku pasti nggak bakal jadi gini. Nggak bakal ninggalin kamu--\"
\"Kamu senang, Fal?\"
\"Yaiyalah aku senang. Kamu dan aku bakal jadi orang tua, Rima. Aku jadi ayah dan kamu jadi ibu. Siapa yang nggak senang coba,\" sahut Faldi gembira.
Rima membuang muka, membuat senyuman Faldi seketika luntur begitu saja. Sepertinya istrinya tersebut tidak dalam suasana hati gembira sepertinya.
\"Rima, kamu mikir apa? Kenapa kamu nggak senang gitu? Anak kita mau hadir ke dunia, Rima. Kamu harusnya seneng dong, bukannya sedih kayak gitu. Kayak nggak ada gairahnya sama sekali.\"
\"Aku nggak mau dia hadir sekarang,\" sahut Rima kembali menatap Faldi dengan tampang mulai tersulut emosi. \"Kamu masih menjadi pria pengangguran. Kita masih berada di titik nol dari awal pernikahan hingga sekarang. Aku nggak mau anakku hidup susah, Faldi. Aku pengin anak aku hidup kaya. Nggak kayak gini. Tinggal di kontrakan kecil, makan seadanya, apa-apa susah. Aku nggak mau!\" cetus Rima.
\"Astaghfirullah, Rima. Sadar dong kamu! Kok bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu, hah?!\"
\"Bodo! Keluar kamu! Aku nggak mau tidur bareng kamu malam! Keluar! Akh bilang keluar!\" usir Rima sambil mendorong tubuh Faldi dengan tangannya.
Faldi tak ingin melawan lagi. Ia tak ingin berdebat dengan Rima yang tengah hamil. Faldi pun memutuskan untuk pergi dari sana.
***
Beberapa bulan berlalu, kandungan Rima sudah membesar. Wanita itu tak dapat bekerja lagi untuk menemani Faldi. Kandungannya sudah berusia delapan bulan itu tandanya sebulan lagi ia melahirkan.
\"Sebulan lagi aku melahirkan,\" ucap Rima sambil mengulak sambail tanpa minat.
\"Aku tau,\" sahut Faldi yang duduk di kursi depan meja makan dengan tampang lelahnya sehabis pulang bekerja.
\"Gitu terus sahutan kamu. Uang buat ngelahirin mana? Udah berbulan-bulan kerjaan kamu cuma jadi kuli bangunan doang!\"
\"Ya kan cuma itu kerjaan yang duitnya lumayan. Kerjaan yang bagus duitnya nggak nyampe segitu, Rima. Aku ini cuma lulusan SMA. Inget itu! Mau ngarep gaji yang gede kayak gimana? Mau kerja jauh aja nggak memungkinkan. Punya motor aja butut gitu. Ingat kan kamu motor aku yang bagus dijual buat bayar rumah selama setahun?\"
Rima tak menyahut, tetapi tangannya yang memberontak. Semakin kasar dan nyaring suara ulekan itu hingga terdengar suara bantingan ulekan ke lantai. Faldi hanya menatap datar istrinya.
\"Aku mau pulang ke rumah Ibu! Lama - lama aku beneran stress sebelum melahirkan kalau sama kamu terus, Faldi!\"
\"Kamu mau mempermalukan aku? Apa kata keluargamu nanti kamu sampai pergi dari rumah? Alasannya apa? Nggak ada duit buat persalinan?\"
\"Ya emang itu kenyataannya. Aku udah nggak tahan. Menenin kamu dari nol dan sampai sekarang pun masih nol bikin aku muak, Faldi. Terserah kamu mau mikir gimana. Aku nggak sanggup lagi!\" Rima langsung meninggalkan dapur untuk segera berkemas mendatangi rumah ibunya.
Faldi meremas rambutnya dengan kedua tangan. Air mata frustrasinya meleleh begitu saja. Ia merasa gagal dan terhina. Ia gagal membuktikan bahwa ia bisa membahagiakan keluarganya dengan kerja kerasnya sendiri.
***
Kedatangan Rima ternyata disambut hangat oleh ibunya. Di ruang tengah, Rima bersimpuh di hadapan ibunya sambil menangis sejadi-jadinya. Ia menyuarakan penyesalannya atas apa yang telah terjadi.
\"Rima mohon ampun sama Mam. Rima udah nggak dengerin perkataan Ibu. Rima cuma mau kehendak Rima dituruti tanpa mau denger saran dan nasihat Mam. Maafin Rima, Ma. Rima nyesel. Ternyata Mama bener, berjuang dari nol itu nggak mudah. Rima nggak sanggup, Ma. Kami terus saja gagal dalam berusaha. Ditambah Faldi nggak punya pekerjaan yang layak karena cukup ngandelin ijazah SMA dan pengalaman kerja yang sedikit. Kebutuhan kami nggak tercukupi, motor Faldi dijual buat sewa rumah. Tiap malam cuma ngandelin satu lampu buat berhemat dan gunain air dengan hemat. Rima udah coba buat sabar dan terima semuanya, tapi Rima tetap nggak bisa, Ma!\"
\"Ssstt ... Rima ... bangun dulu, Nak. Duduk yang bener di sofa sini,\" pinta Bu Diyah.
Rima menggeleng. \"Sekarang Rima udah hamil delapan bulan. Sebulan lagi Rima bakal lahiran. Tapi suami nggak berguna macam Faldi itu nggak ada persiapan apapun! Dia nggak ada uang buat lahiran aku, Ma! Aku muak sama dia. Kau mau cerai aja. Aku nggak mau lagi sama dia.\"
\"Hei, nggak boleh ngomong gitu, Nak. Nggak baik ngomong soal perceraian. Kamu nggak tau aja Faldi sudah bekerja keras di usia mudanya. Kalian itu butuh saling memahami satu sama lain dan pandang sesuatu dengan mata yang lebih sehat. Jangan pandang sebelah mata. Mata kamu itu ketutup sama rasa egoisnya kamu dan mata Faldi ketutup oleh rasa benarnya yang dulu pernah menolak penikahan ini. Dia selalu nyalahin kamu kan atas pernikahan ini? Itu dia, dia pasti ngandelin itu. Padahal jalan satu-satunya bukan saling menyalahkan, tapi saling menguatkan satu sama lain,\" ujar Bu Diyah membuat Rima terdiam sambil sesekali terisak.
Bu Diyah membantu Rima duduk di sampingnya, lalu mengusap wajah anaknya yang penuh dengan air mata.
\"Rima, sebenarnya suami kamu itu pria yang bertanggung jawab. Setiap hari dia ke sini buat titip uang makannya. Dia dapat uang makan dari bekerja menjaga toko selama lima bukan sebesar dua pulih ribu, katanya kalau dia yang simpan bisa kepake. Terus pas dia kerja jadi kuli, dia nitip tiga puluh ribu setiap harinya. Sekarang uang yang Mama simpan lebih dari cukup untuk bersalin normal buat kamu. Dia nggak bilang ya sama kamu?\"
Rima sangat terharu mendengar hal itu. Ia sama sekali tah tahu soal itu.
\"Faldi nggak cerita, Ma,\" sahut Rima bergetar.
\"Itu karena dia nggak mau kamu khawatir atau kasihan sama dia. Bahwa tiap siang dia nggak makan demi kamu.\"
Tumpahlah tangisan Rima saat itu juga. Ia menangis tersedu-sedu penuh rasa menyesal. Ternyata Faldi sangat bertanggung jawab atas dirinya dan juga bayi yang ia kandung.
\"A-aku harus telepon Faldi, Ma. Aku mau minta maaf sama dia,\" ucap Rima seraya mengeluarkan ponselnya.
Sebelum Rima menelepon Faldi, ternyata suaminya lebih dulu menelepon. Buru-buru Rima menerima panggilan itu.
\"Selamat ulang tahun, Sayang.\"
Rima semakin keras menangisnya. \"S-sayang ... a-aku sayang kamu. Maafin aku.\"
\"Aku juga. Sayang Rima dan calon anak kita,\" sahut Faldi tersenyum.
Rima makin terisak mendengar sahutan lembut itu. Apalagi melihat Faldi juga ingin menangis.
\"Kenapa kamu nggak bilang selama ini sisihin uang makan siang kamu, Faldi? Aku ngerasa kayak istri durhaka yang nggak tau diri. Aku udah marah dan ngatain kamu. Sekarang aku ninggalin kamu. Maafin aku, Fal. Aku nyesel banget. S-susul aku ke rumah mama, Sayang. Aku pengin pulang. Aku pengin sama kamu,\" ucap Rima tak kuasa menahan tangisannya.
Faldi tersenyum senang. \"Iya. Aku jemput kamu sekarang, ya. Aku pesen taksi aja biar kamunya nyaman.\"
***
Satu tahun kemudian. Faldi sudah memiliki toko buah sendiri hasil bekerja sama dengan orang tuanya. Kehidupan keluarga kecilnya juga sudah cukup mapan dan harmonis. Apalagi ada sosok mungil yang lucu menemani keseharian mereka. Rima tak lagi sendirian di rumah. Ada Kinara—putrinya yang selalu menemaninya. Ketika Kinara tertidur, Rima menyempatkan diri untuk live promosi jualan pakaian miliknya. Kali ini usahanya cukup sukses, ada hasil yang memuaskan dari usaha yang ia geluti sejak tiga bulan terakhir ini.
Sore Minggu itu, Rima dan Faldi jalan-jalan di taman membawa Kinara yang berlari bahagia meski kadang masih terjatuh. Sambil memperhatikan putri mereka, Rima dan Faldi duduk di sebuah kursi panjang. Mereka mengobrol dengan lembut, sambil mengenang masa sulit mereka.\"Nggak nyangka, ya. Kita sekarang sudah lumayan berjaya. Usaha pakaianku udah lumayan rame. Usaha toko buah kamu juga, lumayan menghasilkan,\" ucap Rima.
\"Iya, Sayang. Semua itu berkat bantuan dari keluarga kamu dan juga keluargaku. Kalau nggak bantuan orang tua kita, kita bakal kekanak-kanakan banget jalanin rumah tangga,\" sahut Faldi merasa malu sendiri.
Rima tersenyum tipis sambil mengangguk setuju. \"Restu orang tua ternyata memang nomor satu, Yang. Sekarang mereka udah lahir batin restui kita. Makanya usaha kita bisa lancar. Udah ada peningkatan. Nggak nol terus kayak awal-awal kita nikah.\"
\"Ini jadi pelajaran buat kita. Biar nanti anak kita nggak ngikut orang tuanya. Nggak boleh buru-buru nikah kalau memang secara mental dan finansial yang mumpuni,\"sahut Faldi.
\"Tapi kamu pernah terbesit nyesel nggak sih nikah sama aku? Secara kan aku yang maksa kamy buat nikahin aku setelah tamat SMA?\" Rima bertanya sambil menatap lekat suaminya.
Faldi tersenyum, memandang penuh pada Rima. \"Nggak ada. Sumpah nggak ada. Aku nggak pernah nyesel nikah sama kamu. Yang ada aku yang kesel sama diri aku. Kenapa nggak bisa bahagiain kamu di awal pernikahan kita.\"
\"Aku juga nggak pernah nyesel. Cuma aku ... aku ngerasa bersalah aja nggak nurutin apa kata Mama. Maksa kamu nikahin aku juga.\"
\"Tapi ini takdir. Mana mungkin sesuatu berjalan di luar jalur takdir, kan?\" sahut Faldi. Ia merengkuh pundak Rima dengan lembut. \"Kamu cinta sama aku kan, Sayang?\"
Rima terkekeh. \"Yaiyalah. Pakek ditanya lagi.\"
\"Berarti boleh dong.\"
\"Apa?\"
\"Nambah anak lagi?\"
\"Faldiiii!\" Rima mengejar Faldi dengan gemas. Ia harus mencubit bibir suaminya itu.
Kinara ikut tertawa senang melihat kedua orang tuanya mengitarinya sambil berlagian gembira.
== TAMAT ==
Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...