Boneka Sempurna

Reads
62
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 2, Pintu Yang Terkunci

Keesokan harinya, Abrian tidak ingin keluar dari rumah. Hatinya masih sakit, dan matanya membengkak. Dia mencoba membaca buku, tetapi pikirannya terus melayang pada kejadian semalam. Pintunya tiba-tiba diketuk.

Tok! Tok!

"Abrian, ini Morzak," suara kakaknya terdengar dari balik pintu. "Ayah dan Ibu sudah berangkat ke tempat kerja. Aku mau ke toko buku. Kau mau ikut?"

Abrian tidak menjawab. Dia tahu tawaran ini hanya basa-basi. Morzak adalah orang yang akan bersemangat pergi ke toko buku hanya untuk membeli buku pelajaran baru, bukan buku fiksi seperti Abrian.

"Aku perlu kau mengambilkan buku di kamarku. Bukunya ada di meja belajarku, judulnya The Art of War," lanjut Morzak. "Kunci cadangan ada di dalam pot bunga di depan pintu."

Abrian menghela napas. Dia tahu ini adalah cara Morzak untuk menunjukkan dominasinya. Dia adalah 'kakak yang baik' yang meminta adiknya untuk melakukan sesuatu. Dengan langkah gontai, Abrian mengambil kunci dan membuka pintu kamar Morzak.

Morzak tidak main-main. Kamarnya terkunci. Begitu masuk, Abrian terkejut melihat seberapa rapi kamar Morzak. Tidak ada satu pun barang yang berantakan. Namun, ada yang aneh. Sebuah lukisan besar tergantung di dinding, lukisan yang Abrian tidak pernah lihat sebelumnya. Lukisan itu seolah menutupi sesuatu.

Abrian mengambil buku yang ada di meja Morzak. Dia hendak keluar, tetapi rasa penasaran menguasai dirinya. Dia mendekati lukisan itu. Abrian tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh pigura lukisan itu. Tepat saat itu, ponsel Morzak berdering di samping Abrian.

"Halo?" kata Morzak di ujung telepon. "Ya, sebentar lagi. Aku akan segera ke sana."

Abrian mendengar suara Morzak yang terburu-buru. Setelah menutup telepon, Morzak berteriak dari luar, "Abrian, aku akan segera pergi. Aku buru-buru. Tunggu aku di mobil!"

Abrian tidak menjawab. Dia tahu ini kesempatannya. Dia kembali menatap lukisan itu. Seolah ada energi aneh yang memanggilnya. Abrian akhirnya mencoba mengangkat lukisan itu. Ada sebuah pintu kecil di baliknya yang tersembunyi. Pintu itu terlihat sudah lama dan memiliki lubang kecil untuk kunci.

"Apa ini?" bisik Abrian pada dirinya sendiri.

Tangannya gemetar saat ia menempelkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara dari dalam. Abrian tidak tahu apa yang ada di balik pintu ini, tetapi ia yakin Morzak tidak ingin dirinya mengetahui semua ini. Ia pun mencoba membuka pintu itu, berharap ia menemukan sesuatu di dalam.


Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil

Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Download Titik & Koma