Bab 2
Di dalam taxi, Saras melihat ke arah jendela. Ingatannya kembali pada masa kecilnya.
“Nenek adalah sosok hantu pertama yang saya lihat,” kenangnya. “Namun saat itu saya tidak tahu arti hidup dan mati. Saya juga tidak tahu bahwa orang yang saya sayangi tidak akan bisa saya lihat selamanya.”
Dia teringat kembali pada masa sekolah dasarnya.
Koridor sekolah cukup ramai. Banyak murid mengobrol di pinggir koridor dan lalu lalang dengan aktifitas mereka sendiri. Saras berjalan di antara keramaian di koridor sambil membawa tas.
Saras melewati satu hantu murid berseragam yang kepalanya basah kuyup dan bocor, kemudian hantu Wanita Belanda yang memperhatikan Saras dari tangga.
“Semakin dewasa, dunia saya semakin sempit. Di setiap kedipan mata, bertambahlah mereka.”
Tiba-tiba sesosok tubuh muncul dari atas tergantung, seorang laki-laki kurus, membuat Saras jatuh terduduk karena kaget.
Orang-orang di sekeliling Saras ikut terkejut dan menatap Saras aneh, beberapa dari mereka menertawai Saras. Saras memberanikan diri melihat sosok yang tergantung itu. Sosok itu masih ada di depan Saras.
Salah seorang teman kelas Saras, Adit yang sama-sama berusia dua belas tahun menghampirinya dan membantu Saras berdiri.
“Kamu ngeliat mereka lagi ya?”
Saras mengangguk. Adit membantu mengambil buku Saras yang jatuh. Saras memperhatikan Adit yang juga memungut beberapa lembar kertas yang terjatuh dari dalam buku Saras.
“Adit satu-satunya orang yang memahami saya.”
Mereka akan saling bertukar makanan di waktu jam makan siang, mengunjungi rumah nenek yang tua dan besar, namun masih terkesan asri, belajar bareng di rumah Saras atau bermain sepeda bersama dengan Laras yang dibonceng Saras.
Keduanya sangat dekat.
Siang itu, Lidya sedang membuat kue kering, di atas meja makan sudah ada loyang kue kering buatan Lidya yang masih menyisakan beberapa kue. Tidak jauh dari Lidya, Laras yang sudah menginjak usia lima tahun sedang bermain dengan loyang yang masih berisi kue. Di depan Laras ada kotak musik milik Saras.
“Ma, besok harus bayar uang sekolah.”
Lidya yang masih sibuk hanya berdeham.
“Ma,” Saras memanggil lagi.
“Iya mama tahu. Nanti, ya, kalau pesanan yang kemarin sudah dibayar. Telat beberapa hari ‘kan masih enggak apa-apa.”
Saras menghela napas kesal.
Brak! Laras menjatuhkan satu loyang yang berisi kue.
“Laras! Tuh ‘kan mama bilang jangan main di sini! Liat tuh, tumpah semua ‘kan kue-kue mama!”
Laras menahan air matanya. Saras segera menggendong adiknya, membawanya pergi meninggalkan Lidya. Laras meminta kotak musik milik Saras juga dibawa. Saras segera mengambil kotak itu dan pergi bersama Laras.
Di dalam kamar yang dindingnya berlapis wallpaper bunga-bunga kecil juga banyak gambar dan hiasan hasil karya Saras, dia mendudukan Laras di tempat tidur dan meletakkan tasnya di meja belajar yang menghadap jendela yang hanya ditutupi vitrase putih transparan.
Saras merogoh tasnya mencari sesuatu. Dia mencoba mengingat-ingat sesuatu yang dicarinya, kemudian menjadi panik. Dia hendak keluar.
“Kakak mau ke mana?” tanya Laras.
“Buku Kakak ketinggalan di kelas, besok ada ulangan. Kakak pergi dulu, ya.”
Laras memegang baju Saras dengan tatapan memelas. Saras menatap adiknya, lalu menggendongnya.
Malam itu juga Saras dan Laras kembali ke sekolah. Laras membawa serta kotak musik milik Saras. Saras memarkirkan sepedanya di depan pos satpam yang dijaga seorang satpam bernama Tono.
“Terimakasih, Pak!”
Saras dan Laras berjalan di koridor yang sepi, beruntung lampu koridor masih menyala. Pada salah satu ruang kelas terdengar suara bisik-bisik, Saras tidak menoleh sedikitpun, dia abaikan keganjilan dalam kelas.
Saras membuka kelas yang remang-remang karena hanya mendapat pendaran sinar dari koridor. Dia coba nyalakan lampu namun tidak menyala. Mau tidak mau Saras jalan hati-hati menuju mejanya.
Saras mengambil buku yang ada di dalam laci mejanya, ketika kembali berdiri, seorang nenek berpakaian Jawa kisaran usia tujuh puluh tahun berjongkok di atas meja Saras sambil memakan sirih.
Dia mencoba acuh, namun nenek melirik ke arah Saras.
“Ndo….”
Saras melirik nenek, namun segera membuang muka.
“Tulung Eyang Nti, Ndo….”
Saras segera mengambil bukunya dan pergi.
Saras terkejut melihat koridor yang tidak sama seperti sebelumnya. Dia tidak lagi bisa berjalan lurus. Saras tiba-tiba terjatuh begitu juga kotak musiknya dan rusak.
Saras berusaha bangun dan mendongakkan kepala, sesosok pria botak dengan wajah pucat menyeringai di depan Saras. Sosok itu tidak memiliki lengan dan kaki, hanya badan saja, dia menggeliat.
Saras segera berdiri dan meraih tangan Laras. Mereka sudah memenuhi koridor dengan berbagai macam rupa. Ada yang berwujud manusia normal dan ada yang tidak, ada yang berbulu, berkuping caplang, bermata merah, gigi runcing dan sebagainya. Makhluk-makhluk ini hanya berdiri melihat Saras yang berjalan di antara mereka.
Arwah-arwah dan makhlus halus lainnya yang memenuhi koridor yang menyebabkan Saras berjalan tidak lurus karena menghindari ‘keramaian’ koridor. Para arwah dan makhlus halus itu berkomunikasi lewat batin, sehingga tidak satupun dari mereka membuka mulut.
“Dia bisa melihat kita,”
“Kita harus minta tolong sama dia,”
“Sepertinya dia bisa mendengar percakapan kita,”
“Kamu mau ke mana? Kamu harus bantu aku,”
Saras berbalik ke arah lain, menghindari mereka, tetapi hantu-hantu berbeda mulai berdatangan dari arah berbeda, ada lima hantu, salah satunya si hantu nenek yang tadi ada di kelas.
Saras segera berlari ke koridor lain.
Begitu sampai di rumah, Saras membawa Laras ke kamarnya, masih ketakutan atas apa yang dialaminya di sekolah.
“Kak Saras enggak apa-apa?”
“Kakak enggak apa-apa, kamu tidur, gih, sudah malam.”
Di kamar Saras, ketegangan masih terasa. Ia meletakkan tasnya dan duduk di kursi di depan meja belajar. Tiba-tiba jendelanya di ketuk dari luar. Saras mendekati jendela, membuka gorden, sudah banyak hantu di depan jendela. Buru-buru dia tutup gordennya
Saras mendengar suara-suara mereka di balik jendela.
“Dia tinggal di sini,”
“Kamu harus menolong kami,”
“Anak itu tinggal di rumah ini,”
Saras menutup kedua telinga dan matanya, berucap lirih pada dirinya sendiri, “Pergi … pergi … pergi … jangan ikuti aku! Pergi … pergi … pergi….”
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk Pundak Saras dari belakang. Saras berteriak kaget. Rupanya sang mama, Lidya, muncul di belakang Saras.
“Kamu kenapa?”
Saras menatap Lidya, menunjuk jendela. Lidya melihat ke arah jendela, lalu berjalan mendekati dan berniat membuka jendelanya.
“Jangan! Jangan dibuka!”
Lidya melihat Saras, kemudian langsung membuka jendelanya. Tidak ada apa-apa. Lidya menghela napas sedikit kasal dan menutup jendela kembali.
“Sudah malam, segera tidur.”
Lidya keluar kamar.
Saras menutup kedua matanya, menangis.
Di balik pintu, Lidya melihat Saras sendirian, kemudian menutup pintu. Lidya menghela napas berusaha kuat menghadapi Saras.
“Ibu tidak pernah tahu, apa yang saya alami. Kalaupun saya mengatakan yang sebenarnya, dia tidak akan percaya.”
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...