32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Prolog

Aku akan mencoba mengingatnya dengan akurat, meskipun aku tahu ingatan serupa dengan seorang kurator yang tidak bisa dipercaya. Ia memajang apa yang ia suka, dan membuang sisanya ke gudang seperti surat cinta yang sudah usang. Tapi aku harus mencoba. Karena jika kau tidak merebut hak narasi atas ceritamu sendiri, orang lain akan dengan senang hati menuliskannya untukmu. Dan percayalah, dalam versi mereka, kau tidak akan pernah jadi pahlawan, atau setidaknya manusia tanpa dosa.

Semua ini dimulai, seperti kebanyakan tragedi di abad ke-21, dengan cahaya dingin dari sebuah layar.

Bukan cahaya matahari pagi yang menjanjikan pengampunan, bukan juga cahaya keemasan dari lampu kafe yang membuat semua orang tampak lebih menarik. Cahaya itu memancar dari layar ponsel Daka, yang ia sandarkan pada tumpukan buku teks—monumen kertas dari ambisi kami, yang ironisnya justru menjadi nisan bagi kepolosan kami. Cahaya itu, setitik cahaya merah kecil yang berkedip, menyelinap di antara kami selayaknya mata ketiga. Menjadi entitas digital yang tak diundang dalam momen analog yang paling manusiawi.

Kami merekamnya.Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku bisa merasakan penghakimanmu melintasi halaman ini.

"Dua anak muda bodoh," mungkin begitu katamu, "yang mengorbankan masa depan untuk nafsu sesaat."

Kau salah.

Atau, setidaknya, kau tidak memahami gambaran besarnya. Kami melakukannya bukan karena kami bodoh. Kami melakukannya justru karena kami merasa paling pintar.

Kami adalah Kirana dan Daka. Dua mahasiswa yang berpikir telah menemukan celah dalam sistem. Kami percaya kami bisa menciptakan artefak yang murni, ruang aman dalam bentuk data, yang kebal dari dunia luar yang sinis dan gemar menghakimi.

Merekam momen itu menjadi satu-satunya tindakan paling tulus yang bisa kami pikirkan. Di dunia yang terobsesi dengan kepalsuan, kami ingin satu bukti otentik bahwa kami pernah hidup. Bahwa keintiman kami bukanlah dosa, melainkan kepercayaan yang radikal.

"Ini untuk kita doang, ya," kata Daka waktu itu. Suaranya lembut, terbungkus dalam keyakinan naif seorang anak yang masih percaya monster di bawah ranjang akan hilang jika ia menarik selimut hingga ke dagu.

"Nggak akan ke mana-mana."

Aku percaya padanya. Bukan karena aku naif, tapi karena pada usia dua puluh satu, kau sangat ingin percaya bahwa cinta bisa menjadi semacam negara merdeka yang berdaulat atas hukumnya sendiri. Kau ingin percaya bahwa duniamu yang kecil, yang kau bangun dengan susah payah bersama satu orang lain, memiliki kekebalan diplomatik dari kekacauan dunia luar.Kemudian video itu bocor.

Mereka bilang itu cuma 32 detik. Mereka bohong. 32 detik adalah waktu yang cukup untuk jantungmu berhenti lalu dipaksa berdetak lagi. 32 detik untuk mengubah namamu menjadi tagar, tubuhmu menjadi tontonan gratis. Aku tahu, karena aku merasakannya. Setiap detik.Lalu aku belajar pelajaran pertama yang paling brutal dari era digital: Internet tidak peduli pada niat baikmu. Internet tidak peduli pada konteks. Internet hanya peduli pada konten.

Duniaku tidak lagi menjadi milikku. Ia menjadi utas viral diTwitter, bahan tertawaan di grupWhatsApp, dan tontonan di ponsel orang-orang asing di dalam gerbong kereta yang padat. Tubuhku, yang tadinya kuanggap rumah, kini menjadi properti publik yang bisa dijeda, diperlambat, dan diperbesar sesuka hati. Jari-jari mereka mengetik vonis lebih cepat di saat hati nurani mereka tertidur.

"Pasti ceweknya yang gatel minta direkam."

"Moral gen-Z emang udah ancur."

"Kasian orang tuanya, anaknya jadi tontonan gratis."

Tak seorang pun bertanya, “Siapa yang menyebarkan ini tanpa izin?” Tak seorang pun bertanya, “Mengapa aku merasa berhak menonton ini?” Jauh lebih mudah memang, menyalahkan perempuan di dalam video daripada menyalahkan jutaan orang yang dengan rakus mengklik tombol putar.

Jadi, aku menulis ini bukan untuk meminta maaf. Aku juga tidak menulis ini untuk memohon pengampunan.

Permintaan maaf hanyalah untuk mereka yang bersalah, dan pengampunan menjadi hak prerogatif Tuhan dan mereka yang tidak tahu cerita lengkapnya.

Aku menulis ini sebagai seorang jurnalis yang melakukan investigasi di lokasi kejadian perkaranya sendiri. Aku menulis ini untuk menyusun ulang kepingan-kepingan narasiku yang mereka pecahkan. Ini bukan kisah tentang seorang korban. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi setelah bel berbunyi dan semua orang pulang. Ini tentang bagaimana caranya tetap berdiri, ketika dunia telah memutuskan bahwa kau layak dihancurkan.

Karena dalam 32 detik itu, aku dan Daka tidak sedang berbuat dosa. Kami hanya sedang saling mengingat, sebelum dunia datang dan memaksa kami untuk lupa.

Dan ini, upaya keras kepalaku untuk mengingat kembali.


Other Stories
Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Download Titik & Koma