32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 03: Ledakan Di Dasar Kesunyian

Kehancuran tidak selalu datang dengan suara gemuruh. Terkadang, ia datang sebagai getaran sunyi dari ponsel di dalam saku, di tengah kelas Sosiologi Media yang begitu membosankan hingga rasanya kau bisa mendengar sel-sel otakmu sendiri mati satu per satu.

Pagi itu terasa normal dengan cara yang hampir mencurigakan. Aku duduk di baris ketiga dari belakang, mencatat seadanya sambil berfantasi tentang bencana alam skala kecil—sekadar cukup untuk membatalkan sisa kelas. Pak Banyu sedang menjelaskan teori panopticon Foucault dengan semangat yang berlebihan untuk jam sembilan pagi. Konsep tentang sebuah penjara tak terlihat, di mana kita berperilaku baik hanya karena ilusi bahwa kita selalu diawasi. Ironisnya, sebentar lagi aku akan belajar bahwa Foucault salah.

Aku merasakan ada yang aneh di udara, dengan disonansi frekuensi rendah yang belum bisa kuidentifikasi. Alya, yang biasanya duduk di sebelahku dan menjadi rekan konspirasi dalam mengirimi meme tentang dosen, hari ini memilih kursi di barisan lain. Dekat pintu. Seolah menyiapkan jalur pelarian. Dia menunduk menatap buku catatannya dengan intensitas seorang pemecah kode, padahal aku tahu isinya hanya lirik lagu dan gambar-gambar bunga matahari yang anatomisnya salah. Dia menghindariku. Dan perasaan itu menusuk seperti serpihan kaca kecil di bawah kulit.

Lalu ponselku bergetar. Notifikasi Twitter. Di bawah meja, terlindung dari tatapan Pak Banyu yang mahatahu, aku membukanya.

Akun itu bernama @KepoAjaSih, dengan foto profil telur pecah—simbol anonimitas pengecut yang universal. Ia telah menyebutku dalam sebuah balasan.

Tweetnya berbunyi: Ini ceweknya @KiranaAzzahra bukan sih? Mukanya mirip bgt sama video #32detik yang lagi rame.

Jantungku tidak berhenti berdetak. Rasanya lebih buruk. Ia terasa seperti ingin dicabut dari tempatnya, diremas, lalu dimasukkan kembali, semuanya dalam sepersekian detik. Di bawah tulisan itu, ada video. Kualitasnya buruk, goyang, seolah direkam dari layar lain dalam kepanikan. Aku tidak perlu menekan tombol putar. Memoriku sudah memutarnya untukku.

Aku mengenali cahaya temaram dari lampu tidurku yang murah. Aku mengenali poster The Smiths di dinding kamarku yang sedikit miring. Aku mengenali cara bahuku bergerak saat aku tertawa. Aku mengenali cara tangan Daka menyentuh leherku. Setiap detail terlihat seperti pengkhianatan.

Tidak. Matikan. Tolong matikan.

Napas. Kenapa aku tidak bisa napas?

Mata. Mata di mana-mana. Mereka melihat. Dindingnya bergerak mendekat. Suara Pak Banyu... hentikan suara itu. Dingin. Kenapa dingin sekali?

Dan kemudian, seperti refleks yang terlatih, otakku mengambil alih. Sang jurnalis dalam diriku mulai menyusun laporan kerusakan.

Suara Pak Banyu yang sedang bicara tentang “pengawasan sebagai bentuk kekuasaan” berubah menjadi dengung nyamuk di telinga. Ruangan kelas yang tadinya pengap tiba-tiba terasa seperti vakum, dan aku mengambang di tengahnya. Udara di ruangan terasa habis, terhisap ke dalam layar ponsel di tanganku.

Di bawah meja, tanganku yang lain mencengkeram lututku sendiri, begitu keras hingga kuku-kukuku terasa akan patah. Mencari pegangan di dunia yang baru saja runtuh.

Kita tidak hancur karena merasa diawasi. Kita hancur saat kita benar-benar diawasi, saat momen paling privat kita diubah menjadi data, di-render menjadi konten, dan diputar ulang oleh orang asing untuk hiburan mereka.

Kelas selesai. Aku tidak ingat bagaimana aku membereskan buku-buku. Aku berjalan keluar seperti zombi, dan dunia di luar pintu terasa berbeda. Koridor kampus yang biasanya ramai kini terasa seperti panggung yang disorot lampu. Setiap tatapan menjadi kamera. Setiap bisikan jelmaan mikrofon. Aku melihat Alya bergegas pergi ke arah yang berlawanan, setengah berlari.

Saat itulah aku sadar. Pengkhianatan pertama bukanlah bocornya video itu. Pengkhianatan pertama tak lain dari sahabatmu yang memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri saat kau baru mulai tenggelam.

Aku menelepon Daka. Panggilanku langsung masuk ke pesan suara.

Aku mengiriminya pesan: Taman belakang. Sekarang. Ini darurat.

Dia datang lima belas menit kemudian, dengan napas terengah dan wajah yang lebih pucat dari mayat di buku anatominya.

“Ada apa?” tanyanya, tapi matanya yang panik sudah memberitahuku bahwa dia tahu persis ada apa.

Aku tidak sanggup bicara. Kata-kata terasa seperti pecahan beling di tenggorokanku. Aku hanya menyodorkan ponselku padanya.

Dia menatap layar itu, dan aku melihat warna perlahan terkuras dari wajahnya. Dia tidak terlihat seperti seorang pengkhianat. Dia terlihat seperti seorang arsitek yang baru saja menyaksikan gedung yang ia rancang dengan penuh cinta, runtuh menjadi debu di depan matanya.

“Ini… ini nggak mungkin,” bisiknya. “Ran, aku bersumpah demi Tuhan… aku nggak pernah…”

“Laptopmu,” kataku, suaraku datar dan asing, seolah milik orang lain. “Siapa. Yang. Pegang.”

“Nggak ada… cuma Reksa sempat pinjam sebentar… tapi aku—”

“Tapi apa, Ka?”

“Aku… aku nggak tahu, Ran. Aku nggak tahu.”

Dia tidak memelukku. Dia tidak menggenggam tanganku. Dia hanya berdiri di sana, lumpuh oleh rasa bersalahnya sendiri, mengucapkan mantra-mantra kosong seorang pria yang ketakutan. “Aku akan cari tahu,” “ini pasti ada solusinya,” “tenang dulu.” Dia ingin memperbaiki, tapi dia bahkan tidak tahu apa yang rusak. Dia pikir yang rusak adalah situasi. Dia tidak mengerti. Yang rusak adalah aku. Yang hancur adalah kami.

Dia pergi tak lama setelah itu, berjanji akan \"membereskan ini\", meninggalkan aku sendirian di bangku taman yang dingin. Dia pikir dia pergi untuk berperang, tapi yang kurasakan hanyalah: dia baru saja meninggalkanku di medan perang, tanpa senjata.

Malam itu, di kamarku—tempat yang tadinya menjadi surga kini resmi menjadi lokasi kejadian perkara—aku membuka kembali tautan itu. Video 32 detik. Fragmen dari masa lalu yang kini telah menjadi parasit yang membajak seluruh masa kiniku. Mereka bilang, waktu menyembuhkan semua luka. Kebohongan yang indah.

Waktu tidak menyembuhkan apa-apa. Ia hanya memberimu lebih banyak ruang untuk mengingat.

Dan jejak digital, tidak seperti ingatan, tidak pernah pudar. Ia abadi.


Other Stories
Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Download Titik & Koma