Chapter 04: Injil Para Netizen
Ada sebuah injil baru yang beredar di kampus. Injil ini tidak ditulis di atas perkamen suci, tapi di dinding toilet umum yang pesing, di kolom komentar yang kejam, dan dalam keheningan tebal yang kini menggantung di antara dua orang yang tadinya sahabat. Injil ini merupakan kitab suci para penebak, dan Tuhannya yang baru adalah aku.
Aku mempelajari doktrin-doktrinnya setiap hari. Berjalan di koridor Fakultas Ilmu Sosial dan Politik kini terasa seperti berpartisipasi dalam diorama sureal. Aku bukan lagi seorang mahasiswi; aku menjadi spesimen. Semua orang sebagai penonton yang telah membeli tiket, dan mereka datang untuk melihat pertunjukan kehancuranku. Tatapan mereka membentuk kekerasan yang paling sempurna; tidak meninggalkan memar, tapi menyebabkan pendarahan internal.
Teman satu kos, Maya, adalah salah satu penganut pertama yang paling taat. Kekejamannya lebih subtil, terbungkus kesalehan hipokrit. Dia mulai meninggalkan pamflet-pamflet kajian rohani di bawah pintu kamarku: “Jalan Kembali Menuju Cahaya,” atau “Menjaga Mahkota Kesucianmu.” Saat aku ada di kos, dia akan memutar lagu-lagu rohani dengan volume yang sedikit lebih keras dari biasanya—lantunan tentang pengampunan dosa yang terasa seperti tuduhan.
“Aku bukan cermin untuk kamu pecahkan agar bisa merasa dirimu lebih suci,” aku ingin berteriak ke wajahnya. Tapi suaraku terasa seperti aset yang telah disita.
Malam itu, di dalam kesendirian kamarku yang menyesakkan, aku membuka laptop. Aku membuat sebuah dokumen baru yang kosong. Aku harus mengeluarkannya. Semuanya.
Jari-jariku menghantam keyboard dengan gemetar.
Kenapa mereka lihat aku kayak gitu?
Kenapa Alya lari? Kamu lihat aku, Al. Aku tahu kamu lihat aku. Kenapa kamu lari?
MURAHAN.
Ditulis di dinding. DINDING TOILET. Siapa yang nulis itu? Siapa mereka? Tangan siapa yang ngetik komen-komen itu? Apa mereka ketawa saat melakukannya?
Daka di mana kamu? Katanya mau selesaiin? Ini nggak selesai. Ini baru mulai.
Dingin. Kenapa dingin sekali di kelas. Pak Sadewo lihat aku nggak? Dia sengaja ya? Sengaja?
Aku nggak bisa napas.
Aku berhenti mengetik, menatap layar yang penuh dengan racun mentah. Dadaku sesak. Ini tidak membantu. Ini hanya memindahkan kepanikan dari kepalaku ke layar. Ini bukan perlawanan; ini hanya jeritan di dalam toples kosong, menggema kembali ke telingaku sendiri.
Tidak.
Aku tidak akan memberi mereka kepuasan dengan melihatku hancur. Jika mereka ingin menjadikanku objek studi, baiklah. Tapi aku yang akan menjadi penelitinya. Aku yang akan menulis laporannya. Aku yang akan memegang pena.
Tanganku bergerak lebih tenang sekarang, lebih disengaja. Aku menghapus semua tulisan kacau tadi. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menemukan sudut pandang seorang jurnalis yang sedang meliput bencana, bukan korban yang tenggelam di dalamnya. Aku memberi nama dokumen itu dengan presisi:
Studi Kasus: Kematian Sosial K.A.
Aku mulai mengetik lagi. Kali ini, bukan dengan emosi, tapi dengan observasi. Data mentah dari nerakaku sendiri.
Hari ke-3 pasca-insiden
Aku masuk ke kantin. Alya duduk bersama tiga temannya di pojok, mereka tertawa. Aku berjalan ke arah mereka. Semakin aku dekat, tawa mereka semakin pelan, lalu mati. Saat aku tinggal dua meter dari meja, salah satu dari mereka tiba-tiba melihat jam. \"Eh, ada kelas!\" katanya, lalu buru-buru berdiri. Yang lain ikut-ikutan. Alya tidak berani menatap mataku. Mereka pergi, meninggalkan meja yang kosong. Aku berdiri di sana, di tengah kantin yang ramai, sendirian.
Hari ke-4
Ruangan kelas Etika Media terasa dingin pagi itu. Pak Sadewo, dosen yang biasanya ramah, hari ini memilih topik “Krisis Moral di Era Digital.” Setiap katanya terasa seperti ditujukan padaku, meskipun matanya tak pernah singgah. Tatapannya menyapu seisi ruangan, dari baris depan ke belakang, dari kiri ke kanan. Ia menatap Rina, lalu Budi, lalu mejaku… dan melompat. Seolah ada lubang hitam di tempatku duduk, serupa anomali gravitasi yang membelokkan cahaya dan pandangan. Aku mencoba menegakkan punggung, mengangkat dagu, mencari celah untuk ditatap. Sia-sia. Selama sembilan puluh menit, aku menjadi hantu di kursiku sendiri. Saat kelas usai dan ia berkata, “Jangan lupa isi presensi,” rasanya seperti ironi yang paling kejam. Bagaimana mungkin aku mengisi bukti kehadiran, jika selama satu setengah jam aku dibuat tidak ada?
Hari ke-5
Cahaya neon di toilet berkedip-kedip, membuat bayanganku menari dengan gelisah. Aku masuk ke bilik ketiga, butuh hening barang semenit. Saat pintu terkunci, mataku perlahan memindai grafiti-grafiti usang: nomor telepon, nama-nama band, gambar hati yang kikuk. Lalu aku melihat tulisan baru. Spidolnya masih terlihat segar, hitam pekat di atas cat yang mengelupas. “Cewek 32 detik itu anak Komunikasi. Murahan.” Waktu seolah berhenti. Kata-kata itu melompat dari dinding, berdenyut di depan mataku. Murahan. Kata itu bukan lagi sekadar tulisan. Ia menyerupai suara. Suara ribuan orang asing di kepalaku. Aku menyentuh dinding yang dingin, seolah ingin memastikan aku masih nyata. Mereka tidak hanya menontonku di layar. Mereka kini menulis epitafku di dinding toilet.
Menulisnya seperti ini adalah satu-satunya caraku untuk tidak gila. Ini adalah perlawanan. Jika mereka akan mengubahku menjadi cerita, maka aku yang akan memegang pena, yang menulis catatan kakinya sendiri.
Keheningan akan menjadi yang terburuk. Bukan makian dari akun anonim; itu hanyalah kebisingan. Yang benar-benar membunuh adalah keheningan dari orang-orang yang seharusnya bersuara. Diamnya seorang teman seakan menjadi persetujuan. Diamnya seorang kekasih adalah putusan. Diamnya sistem menjadi bukti bahwa kau memang sendirian.
Malam itu aku berdiri di depan cermin kamar mandi. Cahaya neon yang kejam menelanjangi semua warna dari wajahku. Aku menatap mata di pantulan itu, mencoba menemukan diriku. Tapi yang balas menatapku hanya sebuah avatar. Karikatur yang digambar oleh jutaan orang asing.
Aku menyentuh bahuku sendiri, kulitku terasa dingin, seperti milik orang lain.
“Ini tubuhmu,” bisikku pada perempuan di cermin itu. “Bukan opini mereka.”
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak yakin apakah aku mempercayai kata-kataku sendiri.
Other Stories
Dentistry Melody
Stella hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter gigi, bermain biola, dan bersama Ron ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...