32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 15: Tubuh Geografis

Ada leksikon baru yang harus kupelajari setelah Sakti lahir, dan leksikon ini tidak ada dalam silabus Teori Kritis mana pun. Kata-kata abstrak seperti ‘hegemoni’ dan ‘patriarki’ yang dulu terasa begitu penting, kini digantikan oleh kata-kata konkret yang menuntut perhatian segera: ‘kolostrum’, ‘bedong’, ‘gumoh’. Alam semesta-ku yang dulu berputar mengelilingi deadline tugas dan teori-teori besar, kini beroperasi pada siklus tiga jam yang primal dan tak bisa ditawar: menyusui, mengganti popok, menidurkan, lalu ulangi. Reduksi alam semesta yang ternyata membahagiakan.

Dunia di luar sana mungkin masih berperang atas namaku. Mungkin ada thread Twitter baru, atau podcast yang tetap menganalisis pidatoku seolah itu adalah Naskah Laut Mati. Aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Ponselku lebih sering dalam mode pesawat, layarnya gelap. Notifikasi paling penting dalam hidupku sekarang adalah isak tangis pelan dari boks bayi di sebelah tempat tidurku, alarm biologis yang mengalahkan semua urgensi digital.

Dini hari itu, sekitar pukul tiga, saat kota sedang sunyi-sunyinya dan hanya para pembuat dosa dan ibu baru yang terjaga, aku duduk di kursi, menyusui Sakti. Cahaya remang dari lampu jalanan masuk lewat jendela, membelah ruangan. Aku menatap wajahnya yang mungil, matanya terpejam, mulutnya bekerja dengan keseriusan seorang profesional. Dan aku memikirkan tentang geografi tubuhku.

Ini adalah teritori yang sama. Tanah yang pernah diinvasi, dianalisis, dan dipetakan oleh orang asing. Mereka telah mempretelinya, memberinya label, mengubahnya menjadi bahan diskusi. Tapi sekarang, teritori yang sama ini, yang telah direbut kembali, sedang melakukan keajaiban paling alami di dunia. Ia menjadi sumber kehidupan. Ia adalah makanan, kenyamanan, dan seluruh dunia bagi manusia kecil ini.

Paradoks kosmik itu begitu dalam, begitu luar biasa, hingga aku hanya bisa tersenyum dalam kegelapan. Kalian bisa mengambil 32 detik dari tubuhku, pikirku dalam monolog sunyi yang kutujukan pada hantu-hantu di masa lalu. Tapi kalian tidak akan pernah bisa mengambil momen ini. Ini milikku.

Alya datang keesokan paginya, membawakan sekantong bubur ayam dan setumpuk gosip kampus yang tidak kuminta.

“Produser acara talk show pagi itu nge-DM lo lagi,” katanya sambil menunjukkan layar ponselnya. “Mereka nawarin ‘wawancara eksklusif’. Katanya, mau mengangkat ‘kisah inspiratifmu’.”

Aku melirik pesan itu. Kata ‘inspiratif’ ditulis dengan tebal, menjadi upaya untuk memoles dan mengemas traumaku menjadi produk yang aman dikonsumsi sebelum jam sembilan pagi. Mereka ingin menjual versiku yang sudah disanitasi, diselipkan di antara resep masakan dan tips fesyen.

Aku menggeleng. “Bilang ke mereka aku lagi sibuk,” kataku, lalu menatap Sakti yang tertidur di pelukanku. “Sangat sibuk dengan proyek dekolonisasi tubuhku sendiri.”

Alya tersenyum. Dia mengerti. Pertarunganku bukan lagi di panggung publik. Pertarunganku kini adalah membangun sebuah negara berdaulat yang hanya terdiri dari dua warga negara.

Saat kami bersiap pulang dari klinik bersalin, aku melihatnya.

Aku sedang menggendong Sakti, berjalan pelan di koridor, saat mataku menangkap sesosok figur yang berdiri di ujung lorong, di dekat pintu keluar. Daka.

Dia hanya berdiri di sana, tidak bergerak. Dia tidak mencoba mendekat. Dia tidak memanggil namaku. Dia hanya menatap, dan dari jarak ini pun aku bisa melihat kehancuran di wajahnya. Dia tidak menatapku. Dia menatap buntalan kecil di dalam dekapanku. Dia menatap putranya.

Mata kami bertemu selama sepersekian detik. Tidak ada kata yang terucap. Tapi aku mengerti segalanya dalam tatapan itu. Tatapan seorang pria yang akhirnya mengerti dan menerima posisinya dalam peta. Dia adalah sang ayah biologis, tapi dia bukan bagian dari keluarga ini. Dia adalah kehadiran, sekaligus ketiadaan. Catatan kaki dalam cerita kami.

Lalu, seolah memenuhi sebuah janji yang tak terucap, dia berbalik dan berjalan pergi, menghilang di balik pintu.

Aku tidak merasa marah. Aku tidak merasa sedih. Aku hanya merasakan kelelahan historis yang dalam, kelelahan seorang sejarawan yang melihat tragedi yang tak terhindarkan telah mencapai kesimpulannya yang logis.

Malam itu, kembali di kamar kosku, tempat yang dulu menjadi lokasi kejadian perkara, kini telah menjadi tempat suci. Suara yang terdengar bukan lagi gaung dari masa lalu yang menyakitkan, tapi suara napas lembut seorang bayi.

Aku memeluk Sakti. Alam semesta-ku telah menyusut seukuran makhluk kecil ini. Dan di dalam dunia yang sempit itu, aku menemukan kedamaian yang lebih luas dari samudra mana pun. Perang di luar sana bisa menunggu. Di sini, di dalam benteng kecil yang terbuat dari pelukan dan bau bedak bayi ini, kami aman. Kami telah menang.


Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma