32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 10: Gaung Jawaban

Beberapa minggu setelah artikelku meledak dengan tagar #SuaraKirana, aku hidup dalam limbo. Dunia tidak lagi terbelah menjadi dua; ia pecah menjadi sirkus empat-arena yang bising.

Arena pertama adalah para pendukung: emoji hati berwarna-warni di kolom komentar, dukungan yang terasa hangat tapi jauh, seperti tepukan tangan dari seberang stadion. Arena kedua adalah para pembenci: mereka yang berharap aku lenyap dari muka bumi, kebencian yang terasa tajam, personal, dan sangat dekat.

Lalu arena ketiga, yang paling aneh, adalah para pemulung. Aku melihat sebuah headline di portal gosip: “Teman SMA Buka Suara: Kirana Memang Dikenal ‘Gampang Akrab’ Sejak Dulu.” \"Teman SMA\" yang dimaksud adalah perempuan yang tidak pernah kuajak bicara lebih dari lima menit. Sejarah pribadiku kini menjadi bahan baku untuk fiksi murahan mereka.

Dan arena keempat, yang paling sinis, adalah para kapitalis oportunis. Sebuah brand sabun pemutih mengirimiku email, menawarkan kerja sama sebagai duta kampanye #BeraniBersinar. Mereka ingin menggunakan ceritaku tentang direndahkan untuk menjual produk yang didasarkan pada gagasan bahwa perempuan baru berharga jika kulitnya lebih terang. Dukungan mereka terasa seperti penjara baru dengan terali berlapis emas.

Aku bukan lagi korban atau pahlawan; aku telah menjadi komoditas. Dan aku masih sendirian di tengah pasar malam yang hiruk pikuk ini.

Pada hari Rabu, di antara semua kebisingan itu, sebuah email masuk. Pengirimnya: Dr. Lisa Pramesti. Dosen yang dikenal dengan julukan “Naga Merah” karena rambutnya yang menyala dan reputasinya yang akan membakar argumen terlemahmu di depan kelas.

Subjek emailnya singkat: Tulisan Anda di Suara.

Isinya lebih singkat lagi:

Kirana, saya sudah membaca. Jika Anda punya waktu dan berkenan, saya ingin mengobrol di ruangan saya sore ini. Ruang 402.

Panggilan dari otoritas yang berbeda. Bukan dekanat yang menghakimi, bukan \"teman\" yang menjual cerita, bukan brand yang mau membeli. Ini undangan dari naga. Aku tidak tahu apakah aku akan diberi wejangan atau akan dilahap hidup-hidup.

Saat aku bercermin, kemeja flanelku terasa sedikit lebih ketat, pengingat bahwa tubuhku sedang membangun masa depan, sementara dunia sedang sibuk menghakimi dan mengkomodifikasi masa laluku. Aku sudah lelah merasa takut. Jadi, aku datang.

Ruangan Dr. Lisa adalah sebuah arsenal. Dindingnya dipenuhi amunisi intelektual: Simone de Beauvoir, bell hooks, Judith Butler. Di atas mejanya ada mug dengan tulisan “Well-behaved women seldom make history”—filosofi dalam bentuk keramik.

“Silakan duduk, Kirana,” katanya tenang. Dia tidak berbasa-basi. “Tulisanmu itu granat. Kamu melemparnya tepat ke sarang mereka.”

Aku hanya bisa mengangguk.

“Mereka pasti panik sekarang,” lanjutnya sambil tersenyum tipis. “Sistem ini, terutama yang patriarkis, punya mekanisme kekebalan tubuh. Saat ia mendeteksi benda asing—seperti suara perempuan yang jujur dan tidak minta maaf—ia akan menganggapnya sebagai virus dan menyerangnya habis-habisan.” Dia menatapku lurus. “Dan kamu, dalam 3.200 kata, berhasil menjadi virus yang paling berbahaya: virus yang menolak untuk merasa malu.”

Dia lalu bercerita. Bukan menggurui, tapi seperti seorang jenderal yang menunjukkan peta pertempuran. Dia bercerita tentang bagaimana sepuluh tahun lalu, dia hampir dipecat karena tuduhan hoaks yang sengaja disebar saat dia vokal mengkritik kasus kekerasan seksual di kampus.

“Mekanismenya selalu sama,” katanya, “hanya mediumnya yang berubah. Pertama, isolasi. Kedua, permalukan. Ketiga, bungkam. Mereka ingin kau percaya bahwa kau satu-satunya orang ‘rusak’ di dunia ini. Tapi kau tidak sendirian, Kirana. Kau hanya yang paling baru dalam antrean panjang.”

Aku mendengarkan, dan rasanya seperti seseorang baru saja menyalakan lampu di ruangan gelap. Aku tidak lagi melihat penderitaanku sebagai tragedi personal. Aku melihatnya sebagai pola. Taktik usang.

“Mereka tidak membencimu karena kau merekam video itu,” kata Dr. Lisa, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Mereka membencimu karena kau berani menulis tentangnya. Kau mengambil narasi mereka, merampasnya, dan membakarnya di depan mata mereka.”

Sebelum aku pergi, dia menuliskan sebuah nama dan nomor telepon di secarik kertas. “Ini kontak LBH yang biasa menangani kasus kekerasan digital. Simpan saja.” Dia menatapku tajam. “Dalam perang, kau harus tahu di mana letak persenjataanmu.”

Aku menerima kertas itu. Rasanya lebih berat dari sekadar kertas. Itu adalah harapan yang taktis.

Saat aku berjalan keluar dari ruang 402, koridor kampus masih terlihat sama. Tatapan-tatapan itu masih ada. Tapi sesuatu di dalam diriku telah berubah. Mereka bukan lagi serangan personal. Mereka hanyalah data. Gejala dari penyakit sistemik yang baru saja kudapatkan diagnosisnya. Aku tidak lagi merasa seperti seorang prajurit yang bertempur sendirian.


Other Stories
Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma