32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 14: Kekuatan Baru Bernama Sakti

Pertarungan terakhir dimulai beberapa bulan kemudian, hari ini, tepat pukul dua dini hari, diiringi oleh hujan deras yang menghantam jendela kamar kosku seperti ribuan jari yang mengetuk tak sabar. Tidak ada teriakan. Hanya sensasi basah yang hangat, dan tanda baca yang tak terbantahkan. Sebuah titik. Akhir dari babak kehidupan yang bernama “menunggu”. Saat air ketubanku pecah, rasanya semua kesunyian dan rasa sakit yang kupendam selama berbulan-bulan ikut tumpah ke lantai yang dingin.

Panik adalah reaksi pertama, memicu letupan singkat di sirkuit otakku. Tapi di bawahnya, ada sesuatu yang lain. Ketenangan lama yang aneh, seolah tubuhku, yang selama ini menjadi objek diskusi dan TKP, kini mengambil alih kendali dan berkata, “Tenang. Aku tahu caranya.” Orang pertama yang kuhubungi bukan dokter atau ambulans. Orang pertama yang kuhubungi adalah Alya.

Dia tiba sepuluh menit kemudian, basah kuyup, serupa badai kecil dari kesetiaan yang cemas. Matanya lebih panik dariku.

“Oke, oke, kita ke klinik sekarang,” katanya, mencoba terdengar tenang tapi gagal total. Dialah yang membantuku berjalan menuruni tangga, membawaku ke klinik bersalin kecil di ujung jalan yang direkomendasikan Farida—zona aman dari penghakiman, tempat yang tidak akan menanyaiku tentang status pernikahan.

Proses persalinan adalah perjalanan ke pusat rasa sakit, menjadi dialog yang brutal dengan tubuhku sendiri. Setiap kontraksi merupakan gelombang pasang yang menarikku ke bawah, ke dalam kegelapan. Dalam setiap puncak rasa sakit itu, fragmen-fragmen dari beberapa bulan terakhir muncul di benakku: seringai Reksa, wajah Daka yang lumpuh, komentar-komentar keji di Twitter, keheningan ibuku. Rasanya seolah aku sedang melakukan eksorsisme, mengeluarkan setiap racun itu dari tubuhku melalui setiap erangan. Tidak ada teori kritis atau analisis wacana yang bisa mempersiapkanku untuk kebenaran biologis yang fundamental ini.

Dan di sampingku, Alya adalah jangkarku di tengah badai. Dia tidak pernah melepaskan tanganku. Genggamannya adalah satu-satunya koneksiku pada dunia nyata. Dia menyeka keringat di dahiku, membisikkan kata-kata penyemangat yang tidak masuk akal tapi entah kenapa sangat kubutuhkan. “Ayo, Ran, lo lebih kuat dari ini,” katanya berulang kali, air matanya sendiri mengalir di pipinya. Dia bukan bidan, bukan pahlawan. Dia adalah sahabatku, yang pernah mengkhianatiku karena takut, dan malam itu, dia menebus semuanya dengan keberanian yang sunyi dan tak tergoyahkan.

“Dorong, Kirana! Sedikit lagi!” suara bidan terasa datang dari galaksi lain.

Aku mendorong. Aku mendorong dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Aku mendorong dengan semua amarahku pada Reksa, dengan semua kekecewaanku pada Daka, dengan semua kekuatan yang kutemukan di atas podium seminar. Aku mendorong keluar semua rasa sakit, semua rasa malu, semua penghakiman. Aku tidak sedang melahirkan seorang bayi. Aku sedang melahirkan kembali diriku sendiri.

Lalu, setelah perjuangan yang terasa abadi, ada kelegaan. Sebuah kekosongan yang tiba-tiba. Dan kemudian, suara.

Suara tangisan pertama seorang bayi. Melengking, penuh tuntutan, dan merupakan suara pertama di alam semesta-ku yang baru.

Mereka meletakkan tubuh kecil yang hangat dan licin itu di dadaku. Aku menatap wajahnya yang mungil dan merah, dan seluruh beban duniaku selama ini seolah menguap. Aku menangis. Bukan tangisan sedih atau marah. Tapi tangisan pasca-perang, tangisan seorang penyintas yang akhirnya tiba di daratan.

“Aku tidak tahu siapa yang lebih lahir malam itu,” aku akan menulis di jurnalku nanti. “Bayiku, atau diriku sendiri yang baru.”

“Siapa namanya, Bu?” tanya bidan dengan lembut.

Aku menatap putraku. Dia yang telah tumbuh di tengah badai. Dia yang menjadi alasan rahasiaku untuk terus berjuang. Dia adalah bukti hidup bahwa dari kehancuran, kehidupan baru bisa tumbuh. Aku tahu namanya sejak awal. Nama yang bukan harapan, tapi diagnosis.

“Sakti,” bisikku.

Bukan Sakti Prasetya. Bukan Sakti dengan beban nama keluarga mana pun. Hanya Sakti.

Namanya bukan nama ayahnya. Namanya adalah kekuatan yang ibunya kumpulkan selama jatuh. Dan saat aku memeluknya, aku tahu perangku di dunia luar belum usai. Tapi perang untuk tubuhku, untuk jiwaku, baru saja kumenangkan. Dan ini adalah kemenangan yang paling penting.


Other Stories
Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Download Titik & Koma