32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 17: Kabar Dari Balik Reruntuhan

Satu bulan pertama kehidupan Sakti adalah penangguhan realitas. Kabut indah yang terdiri dari kurang tidur, tangisan di tengah malam, bau bedak bayi yang manis dan asam, dan perasaan cinta yang begitu besar hingga terasa seperti organ baru yang tumbuh tanpa izin di dalam tubuhku. Dunia di luar kamar kos kami terasa tidak nyata, seolah semua drama dan peperangan digital yang pernah mendefinisikan hidupku itu terjadi di planet lain, di abad yang lain.

Hingga suatu pagi, saat aku sedang terlibat dalam pertempuran epik melawan seorang diktator mungil yang menolak makan bubur alpukatnya, sinyal dari planet lain itu berhasil menembus atmosfer benteng kecilku. Sebuah notifikasi email.

Pengirimnya: Daka Prasetya. Jantungku berdebar kencang, sinyal refleks otot dari kehidupan yang dulu, seperti tentara yang masih merasakan getaran bom bahkan setelah perang usai. Aku ragu sejenak, lalu membukanya.

Ini bukan pesan WhatsApp yang panik. Ini bukan permintaan maaf singkat yang ditulis terburu-buru. Ini adalah disertasi. Tesis akhir tentang kegagalannya sendiri. Panjang, terstruktur, dan ditulis dengan ketenangan yang jauh lebih menyakitkan daripada amarah mana pun.

Subjek: Sebuah Penjelasan, Bukan Permintaan Maaf

Isi email itu, yang kubaca sambil menahan napas, adalah sebagai berikut:

Kirana,

Aku menulis ini bukan untuk meminta maaf, karena aku tahu kata itu sudah kehilangan nilainya, seperti mata uang dari negara yang sudah bangkrut. Aku juga tidak menulis ini untuk memintamu kembali, karena aku tahu—dan aku terima—bahwa jembatan itu telah terbakar habis, dan akulah yang memegang korek apinya.

Aku menulis ini karena kau pantas mendapatkan lebih dari sekadar keheninganku yang pengecut. Aku telah membaca tulisanmu. Aku telah mendengar pidatomu. Kau adalah seorang pejuang. Sementara aku, aku adalah seorang penonton yang berdiri di garis aman. Tidak ada diagnosis yang lebih akurat dari itu.

Selama ini aku bertanya-tanya mengapa aku begitu lumpuh. Jawabannya, ternyata, cukup sederhana dan jelek: aku lebih takut pada kekecewaan ibuku daripada kehilanganmu. Aku lebih takut pada citra keluarga yang runtuh daripada hatimu yang hancur. Ini adalah kebenaran yang tidak bisa dipercantik, dan aku harus hidup dengannya setiap hari.

Aku tidak akan pernah pantas jadi ayah. Aku tahu itu. Seorang ayah seharusnya menjadi pelindung, dan aku gagal dalam tugas paling dasar itu bahkan sebelum dimulai. Tapi biarkan aku mencoba menjadi sesuatu yang lain: seorang lelaki yang bertanggung jawab.

Aku tidak memintamu untuk menerimaku kembali ke dalam hidupmu. Aku hanya meminta satu hal: izinkan aku bertanggung jawab untuk Sakti. Aku tidak tahu seperti apa bentuknya. Mungkin hanya mengirimkan biaya bulanan tanpa nama. Mungkin hanya diizinkan melihatnya dari jauh setahun sekali. Kau yang membuat peraturannya. Aku akan mematuhi semuanya tanpa negosiasi.

Aku hanya tidak ingin Sakti tumbuh dan berpikir bahwa ayahnya adalah hantu. Biarkan dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang pengecut, ya, tapi pengecut yang setidaknya mencoba belajar mencintai dengan cara yang benar, meskipun sudah sangat terlambat.

Hormatku,

Daka

Aku membaca email itu tiga kali. Otak jurnalisku secara otomatis melakukan dekonstruksi. Aku mencatat pilihan katanya yang hati-hati, subjeknya yang merupakan sebuah tesis, dan ketiadaan absolut dari pembelaan diri. Aku mencatat pengakuannya yang brutal dan jujur.

Ini bukanlah Daka yang kukenal. Ini adalah versi baru dari dirinya. Versi yang telah melewati apinya sendiri dan keluar dengan kesadaran penuh akan setiap inci bekas lukanya.

Air mata menetes dari mataku, jatuh ke layar ponsel yang sedikit lengket karena bubur alpukat. Aku tidak menangis karena sedih. Aku juga tidak menangis karena terharu. Aku menangis karena tragedi. Tragedi tentang betapa dewasanya kami berdua sekarang, kedewasaan yang harus kami bayar dengan masa depan kami yang hilang.

Aku menatap Sakti, yang sudah tertidur pulas di pangkuanku, tidak menyadari bahwa nasibnya sedang diperdebatkan dalam keheningan kamar kos. Pertanyaan Daka bukan lagi tentang aku dan dia. Pertanyaan itu adalah tentang arsitektur naratif anak ini. Cerita apa yang ingin kuberikan padanya? Cerita tentang seorang ibu pahlawan yang berjuang sendirian melawan dunia? Atau cerita yang lebih rumit, lebih jujur, tentang dua orang yang hancur, yang mencoba, dengan cara mereka yang kikuk dan tidak sempurna, untuk membangun sesuatu yang utuh bagi putra mereka dari balik reruntuhan?

Aku tidak membalas email itu. Belum.

Aku hanya menutup ponselku, memeluk Sakti lebih erat, dan membiarkan keheningan di dalam kamar menjawab pertanyaanku sendiri. Jawaban itu belum ada. Tapi untuk pertama kalinya, aku bersedia untuk membuka berkas kasusnya.


Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Download Titik & Koma