Chapter 16: Pengakuan Dosa Di Bilik Pendosa
Kehidupan dengan Sakti adalah ritme. Ritme napasnya yang lembut, ritme tangisnya yang menuntut, ritme jantungku yang kini berdetak ganda untuk kami berdua. Dunia di luar kamar kosku yang sempit ini terasa jauh, seperti siaran radio dari frekuensi yang tidak lagi kutangkap, kebisingan statis dari planet lain.
Sampai suatu sore, planet lain itu datang dan mengetuk pintuku.
Aku sedang menimang Sakti yang rewel saat ketukan itu terdengar. Ketukan yang ragu-ragu, tapi memiliki berat otoritas. Aku membuka pintu, dan jantungku seolah berhenti sejenak. Di depanku berdiri Bu Erna. Ibunda Daka dan Reksa. Arsitek dari sebagian besar rasa maluku.
Dia tampak seperti sebuah anomali di depan pintu kamarku yang catnya mengelupas. Pakaiannya yang rapi dan jilbabnya yang disetrika licin adalah artefak dari dunia lain, dunia di mana citra adalah segalanya. Dia hanya berdiri di sana, matanya tidak menatapku, tapi tertuju pada buntalan di dalam dekapanku.
“Boleh saya masuk?” tanyanya. Suaranya tidak lagi sedingin es atau setajam silet seperti yang kuingat. Suaranya terdengar… rapuh. Seperti kertas tua.
Aku minggir, membiarkannya masuk. Aku melakukannya bukan karena sopan santun, tapi karena rasa ingin tahu seorang jurnalis yang dingin. Secara refleks, aku memeluk Sakti sedikit lebih erat, menjadi perisai hidup untuk melindungi kami dari aura perempuan ini.
Dia masuk dan berdiri canggung di tengah ruangan, matanya memindai sekeliling. Tumpukan popok bersih, tumpukan buku Teori Kritis-ku yang belum tersentuh, ranjang yang berantakan. Ini adalah potret kehidupanku yang baru: ekosistem dari kekacauan yang fungsional.
“Daka bilang anaknya laki-laki,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Lalu matanya terpaku pada Sakti, yang kini telah berhenti menangis dan menatapnya dengan mata bulatnya yang polos, yang belum belajar cara menghakimi. Sesuatu di wajah Bu Erna pecah. Kekerasan yang selama ini menjadi topengnya retak, dan di baliknya aku melihat sesuatu yang lain. Aku melihat seorang perempuan yang ketakutan.
Dia duduk di satu-satunya kursi di kamarku tanpa kuminta. Keheningan berlangsung lama, begitu tebal hingga terasa seperti bisa disentuh.
“Saya hamil Daka saat belum menikah,” katanya tiba-tiba. Kalimat itu keluar begitu saja, sebuah pengakuan dosa yang melompat dari bibirnya tanpa izin. “Keluarga saya orang terpandang. Keluarga ayahnya juga. Mereka bilang saya aib. Mereka suruh saya gugurkan.”
Aku hanya diam, mendengarkan. Aku berubah menjadi alat perekam.
“Saya kabur dari rumah,” lanjutnya, matanya menatap kosong ke dinding. “Selama dua bulan saya tinggal di kota lain, sendirian. Setiap hari saya berpikir untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri hidup saya, dan hidup anak yang bahkan belum saya rasakan tendangannya.” Dia menarik napas, getarannya terlihat jelas. “Saya.. saya takut waktu itu… sangat takut. Sama seperti kamu.”
Dia akhirnya menatapku. Di matanya tidak ada lagi penghakiman. Hanya ada refleksi dari penderitaan yang sama, yang dipisahkan oleh dua generasi. Studi kasus tentang trauma yang diwariskan.
“Saat saya dengar tentang videomu, tentang kehamilanmu… semua ketakutan itu kembali. Saya tidak membencimu, Nak,” katanya, dan kata “Nak” itu terasa aneh dan menyakitkan. “Saya benci pada diriku sendiri yang dulu. Saya melihatmu, dan saya marah karena kamu harus melalui neraka yang sama, tapi di depan mata semua orang. Kemarahan saya pada dunia, saya lampiaskan padamu. Itu salah. Saya tahu itu salah.”
Dia tidak meminta maaf. Karakternya tidak akan pernah serendah itu. Tapi pengakuannya adalah sesuatu yang lebih dalam. Itu adalah jembatan yang dibangun di atas reruntuhan luka yang sama.
“Saya tidak ingin kamu hidup dalam ketakutan seumur hidup,” bisiknya. “Seperti saya.”
Aku menatap perempuan di hadapanku. Dia bukan lagi monster. Dia hanyalah korban lain dari sistem yang sama, yang mengajarkan perempuan untuk menelan rasa malu mereka sampai menjadi racun. Racun yang kemudian tanpa sadar mereka wariskan kepada perempuan lain. Dia adalah mata rantai sebelum aku.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menggeser posisi Sakti dalam pelukanku. Bu Erna melihat gerakan itu, lalu dia berdiri.
“Saya permisi,” katanya pelan.
Saat dia berjalan keluar, untuk pertama kalinya aku melihat punggungnya yang biasanya tegak seperti pilar, kini terlihat sedikit membungkuk oleh beban dari sebuah rahasia yang telah ia pikul selama puluhan tahun.
Pintu ditutup, meninggalkan aku dan Sakti dalam keheningan. Tidak ada yang berubah. Rasa sakit yang dia sebabkan tidak hilang begitu saja. Tapi peta pertarunganku baru saja digambar ulang secara fundamental. Musuhku ternyata memiliki wajah yang jauh lebih rumit, lebih tua, dan lebih menyedihkan dari yang pernah kubayangkan. Musuhku, ternyata, adalah sebuah warisan.
Other Stories
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Kk
jjj ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...