Chapter 22: Epilog: Pagi Yang Biasa (karena Itu, Luar Biasa)
Ada kemewahan yang tidak pernah diajarkan di kelas filsafat mana pun, kemewahan yang baru kau sadari nilainya setelah kau hampir kehilangan segalanya: kemewahan sejati dari pagi yang membosankan.
Pagi ini salah satunya. Aku bangun bukan karena mimpi buruk atau getaran notifikasi panik. Aku bangun karena Sakti, yang kini sudah berusia dua tahun dan menganggap hukum gravitasi sebagai saran, bukan aturan, sedang mencoba menaklukkan sofa seperti seorang pendaki Everest yang kekurangan oksigen. Dia menoleh padaku, tertawa—pemicu ledakan kebahagiaan murni—lalu menjatuhkan dirinya dengan aman ke tumpukan bantal yang sengaja kutaruh di sana.
Aku membuat kopi. Sambil menunggu air mendidih, aku melirik ponsel di atas meja.
Kebiasaan lama, tapi dengan tujuan berbeda. Bukan lagi refleks patologis untuk melihat siapa yang membenciku hari ini, melainkan sekadar menyapu berita pagi.
Sebuah judul berita melintas:
Mahasiswi Alami Perundungan Daring Massal Usai Video Pribadinya Viral.
Sesaat. Hanya sesaat, sendok di tanganku bergetar sedikit. Ada sengatan dingin yang akrab merayap di tulang punggungku, gema dari ruangan kelas yang tiba-tiba terasa vakum. Napasku tercekat sepersekian detik. Lalu, aku menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan menghembuskannya perlahan.
Gema itu surut. Ia bukan lagi badai, hanya riak air di kejauhan. Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Perang di luar sana bukan lagi urusanku pagi ini. Aku punya pertempuran yang lebih mendesak: negosiasi alot tentang apakah brokoli bisa dianggap sebagai mainan atau makanan. (Spoiler: menurut Sakti, selalu mainan).
Di sudut ruangan, buku-buku Foucault dan Butler kini secara harfiah menjadi fondasi kaki meja yang goyang.
\"Ma..ma…ma..ma,\" panggil Sakti, menunjuk lukisan abstrak karyaku di dinding. Lukisan pertama yang kubuat setelah bertahun-tahun. Warnanya memyerupai medan perang: biru tua dan abu-abu yang pekat, tapi di tengahnya ada percikan-percikan kuning dan jingga yang nekat dan tak mau kalah.
Aku tersenyum, menghampirinya dan mengangkatnya ke dalam pelukanku. \"Itu kuning,\" kataku sambil menunjuk percikan itu. \"Tandanya mataharinya tetap terbit, meskipun langitnya lagi kelabu.\"
Dia sepertinya puas, lalu perhatiannya beralih pada seekor cicak di langit-langit. Dan aku berpikir, mungkin seperti inilah caraku akan menceritakan semuanya padanya suatu hari nanti. Bukan sebagai kisah horor, tapi sebagai lanskap. Lukisan yang rumit, dengan bagian-bagian yang gelap dan menyakitkan, tapi selalu ada percikan cahaya jika kau tahu di mana harus mencari.
Sorenya, kami pergi ke taman. Taman yang sama, yang pernah menjadi museum traumaku. Sekarang, ia hanyalah taman.
Sakti berlari-lari mengejar gelembung sabun. Tawanya lepas dan nyaring. Aku duduk di bangku, memperhatikannya, merasa seperti seorang penonton di barisan paling depan dari pertunjukan terbaik di dunia.
Lalu, dari kejauhan, aku melihatnya. Daka.
Dia hanya berdiri di sana, bersandar pada sebatang pohon. Ini adalah ritual diam-diam kami. Mungkin sebulan sekali, dia akan datang hanya untuk melihat putranya dari jarak yang aman. Dia menepati janjinya. Dia tidak menjadi hantu. Dia menjadi seorang penjaga mercusuar yang sabar, menjaga kapal yang tidak akan pernah bisa ia naiki.
Sakti, dalam kegembiraannya, berbalik dan tanpa sengaja melihat ke arah Daka. Baginya, dia hanyalah orang dewasa lain. Sakti tersenyum lebar dan, dengan kepolosan murni, dia melambaikan tangannya.
Aku melihat Daka membeku. Lalu, senyum yang paling tulus dan paling menyakitkan yang pernah kulihat, terukir di wajahnya. Dia mengangkat tangannya, membalas lambaian itu dengan pelan. Kemudian, seperti hantu yang sopan, dia berbalik dan berjalan pergi.
Aku menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang tiba-tiba ingin jatuh. Bukan air mata kesedihan. Air mata karena memahami kerumitan hidup yang luar biasa.
Aku memanggil Sakti. Dia berlari ke arahku dan memeluk kakiku. Aku mengangkatnya, memeluknya erat, mencium aroma rambutnya yang berbau matahari dan tanah.
Dunia tidak pernah memberiku akhir yang bahagia seperti di film-film. Tidak ada pernikahan. Tidak ada keluarga yang utuh secara konvensional. Tapi saat aku berdiri di sana, di taman itu, dengan putraku di dalam pelukanku, dan dengan pemahaman yang tenang tentang semua hantu di masa laluku, aku sadar aku mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Aku mendapatkan kedamaian.
Dan kedamaian, ternyata, bukanlah tentang ketiadaan badai. Tapi tentang kemampuan untuk berdiri tegak saat hujan turun, merasakan getar sesaat di tanganmu dan tetap bisa menuang kopi, lalu menatap lukisan hidupmu yang rumit, dan tahu bahwa kau adalah percikan kuning nekat yang menolak untuk padam.
Other Stories
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...