Mengapa Harus Diam?
“Jangan. Janganlah kau merindu. Sungguh ini berat, kau tak akan kuat. Cukup aku saja.” Baru saja aku mengupload foto jadul bersama keluarga Candy di akun Instagram-ku. Sengaja aku tandai mereka semua, agar tahu betapa rindunya aku terhadap mereka. Sebenarnya aku ingin mengupload foto berdua saja dengan Martin, tapi naluriku sebagai perempuan yang memiliki gengsi tinggi membatalkan niatku. Agnes yang kebetulan mungkin membuka Instagram langsung mengomentari fotoku, “Cieeeeee kangen, kangen sama siapa nih??” ledeknya. “Sama kalian dong!” jawabku. “Temen kita @Martin12 sombong banget deh sekarang, mentangmentang ada doi baru,” komen Rana. Membaca komen Rana membuatku tersenda. Hello… Doi baru? Maksudnya apa? Dia sudah punya pacar baru, gitu? Segera aku menghubungi Rana untuk memastikannya. “Ehh Ran, maksud kamu doi baru itu apa? Martin sudah punya pacar?” tanyaku. “Cieeeee... cemburu ya?” tanyanya. Lihat aja di Facebook-nya, kamu masih pakai Facebook nggak sih?” sambung Rana. Segera aku mengecek akun Facebook-nya untuk memastikan. Blar! banyak sekali foto-fotonya bersama Grace baik yang sedang pendidikan, maupun sedang di luar. Apakah itu yang dimaksud dengan Rana? Nasib baik, Martin sedang online, sekarang lantas aku langsung bertanya padanya, “Cieee, akhirnya jadian juga sama Grace,” isi chat-ku. Agak lama menunggu akhirnya dibalas juga, “Hahahahaha.” “Lho, kok ketawa doang?” tanyaku heran. “Gak papa sih,” jawabnya. Kali ini aku benar-benar kesal, setiap pertanyaanku tidak pernah dijawab dengan serius oleh Martin, “Ehhh… aku ini nanya, jawab dong!” seruku. “Kalo aku pacaran sama dia emang kenapa?” tanyanya. “Nggak papa, aku mau ucapin selamat,” jawabku polos. “Ya udah, ucapin aja,” katanya. Karena terkadung bete, aku memilih diam tak merespons lagi chat-nya itu. Semakin hari aku semakin gelisah, entah mengapa aku menginginkan Martin datang menemuiku. Sempat aku berpikir, mungkin aku salah menolak cintanya dia beberapa tahun lalu. Ahhh! Gila! Kenapa aku menjadi seperti ini, padahal aku mencintainya juga! Apakah ia tidak sadar? jangan-jangan benar kata orang, lelaki itu butuh kepastian bukan harapan. Aku ingin mengungkapkan, tapi jujur sangat malu rasanya. Oh Tuhan, kucinta dia, sayang dia, rindu dia, butuh dia. Bolehkah aku jujur? kali ini saja. 5
Other Stories
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...