Sinopsis
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung
hitam, berbincang agak keras dengan putrinya yang sudah menjadi
seorang istri sekaligus ibu.
“Dia jodoh yang sudah menemanimu selama lebih dari lima tahun
ini, Alisa!” tegas Ibu pada Alisa yang membuat Alisa sempat ragu mau
menjawab apa.
“Tapi dia egois, Bu. Dia tidak pernah memprioritaskan Alisa. A-alisa mau
pisah darinya, Bu!” jawab Alisa sambil terbata dan menunduk, sedari tadi
mencoba menahan air matanya yang menggenang.
“Maksudnya, kamu mau minta cerai dengan Taufik hanya gara-gara dia
menyuruhmu berhenti bekerja? Ibu pikir, bukan dia yang egois, tapi ....”
“Tapi apa? Ibu mau menyalahkan Alisa? Ibu selalu membela Mas Taufik
yang sudah jelas-jelas tidak pernah mau membahagiakan Alisa, anak
Ibu sendiri!” Alisa terpaksa bernada tinggi untuk mengimbangi Ibunya,
akhirnya bulir bening di sudut matanya tumpah juga.
Setahu Alisa, selama ini Ibunya selalu membela dan menyayangi Taufik,
betul-betul menganggap Taufik seperti anak kandung sendiri. Padahal
Alisa tahu laki-laki itu bersikap biasa saja pada Ibu, bahkan kadang seperti
menganggap orang lain, bukan mertua. Ibu selalu bilang pada Alisa,
bahwa suami harus dihormati. Karena kedudukannya sangat tinggi.
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...