Jatuh Untuk Tumbuh

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Hujan

Hari ini, hujan turun dengan rintiknya yang membasahi semesta. Semua orang mulai bersorak sorai menyambut kehadirannya. Namun, beda denganmu. Tak kulihat garis bahagia dari wajah manismu. Sebaliknya, kau malah tertunduk lesu.
Apa kau tak suka hujan? Atau tak suka dengan basahnya? Atau jangan-jangan, kau tak suka dengan kenangan yang ikut turun bersama dengan derai rintiknya?
Kali ini kuberanikan untuk menatap penuh matanya, dan dia balik mentapku. Namun bedanya, dia membawa ikut serta air mata.
“Ada apa?” kutanya saat intensitas hujan perlahan mulai reda.
“Aku tidak suka hujan,” dia memalingkan wajahnya dari jendela yang basah.
“Apa salahnya hingga membuatmu tak suka?”
“Dia mengambil beberapa hal penting dalam hidupku.”
“Lalu apa dengan membencinya, kau mendapatkan kembali apa yang hilang darimu?” sekarang dia terdiam dan menatap penuh mataku.
“Tidak. Namun, untuk menyukainya setelah dia merampas habis apa yang kupunya, itu sesuatu yang mustahil aku rasa.”
“Tidak ada yang mustahil. Kau bisa, jika mau mencoba.”
“Apa yang aku bisa? Apa dengan berdamai dengannya, Ibuku sadar dari koma? Apa dengan berdamai dengannya, semua akan menjadi baik-baik saja?” kini dia mulai meninggikan ritme suaranya.
“Tapi kau juga tidak bisa menyalahkan hujan untuk keadaanmu sekarang.”
“Lalu, aku harus menyalahkan siapa? Tuhan?”
“Hujan telah banyak merampas hal indah dariku. Kecelakaan yang membuat Ibuku harus rela melepas tengkorak kepalanya, hingga Ayah yang mulai meninggalkan kami semua,” lanjutnya tersedu.
“Hujan hanya media pendukung saat cerita sedihmu bermula. Kau tidak bisa menyalahkannya, hanya karena dia hadir di saat yang tidak tepat.”
“Harusnya. Namun sangat sulit untuk mencintai kembali, apa-apa yang bisa menarik ulang rasa sakit hati.
Walaupun aku sadar sepenuhnya, bahwa hujan hanya media saat ceritaku bermula,” serunya sambil mengusap air dari sudut matanya.
Kutarik napas panjang dan memberanikan diri untuk duduk lebih dekat dengannya. Dia masih dalam posisi yang sama, mengusap matanya yang nanar, tersebab mengingat kembali kejadian yang terpaksa harus diputar ulang.
Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Bohong, jika aku berkata bahwa aku bisa mengerti perasaannya saat ini. Sebab, pada kenyataannya kita tidak bisa mengerti apa yang sedang seseorang alami, sebelum kita sendiri mengalami hal tersebut. Karena pada hakikatnya kita hanya bisa mengerti suatu kejadian dengan baik, jika kita sudah mengalaminya sendiri.
”Aku rindu mamah.,” ucap yang keluar dari bibir seorang gadis kecil, dengan banyak luka dihatinya. Dia memelukku dalam derai basah air matanya. Aku tak kuasa walau hanya bertanya “Apa kau baik-baik saja?”
Bukan salahnya jika iya meronta. Menurutku masalah ini cukup berat untuk anak seusianya. Di balik kelakuan yang suka seenaknya, dia tetap seorang bocah dengan masalah yang membuncah. Matanya bisa berbinar, namun bagaimana dengan hatinya? Gadis yang belum genap 14 tahun harus menerima kenyataan jika ibunya sakit parah dan ayahnya meninggalkan mereka.
“Jika rindu, peluk ia dalam erat doamu. Kupastikan dia akan mendengar, dan berterima kasih padamu.”
“Yang paling membuatku sedih, kenyataan bahwa aku belum bisa meringankan sedikit beban di pundaknnya.”
Jangan membenci sesuatu yang belum kau pahami. Karena mungkin yang kau benci adalah sesuatu yang dinanti oleh manusia di belahan bumi lain.
Sesuatu yang kau anggap tak berguna, terkadang sedang dinanti oleh yang lainnya. Mereka selalu bertanya, kapan kau akan melepaskannya.
Jadi, sebenarnya bukan dia yang tak berharga, hanya cara pikirmu saja yang kedaluwarsa. Sederhanakan saja standarmu dalam menilai manusia, benda atau yang lainnya. Aku yakin, hidupmu akan jauh lebih bermakna.

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Download Titik & Koma