Sinopsis
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh,
berbalut baju penuh noda. Apa yang lebih penting dari kehidupan keluarga
dibanding dengan kecantikan yang istimewa. Tak ada lagi kesempatan
berbalur wewangian.
Allahu akbar… Allahu akbar…
Azan subuh berkumandang dari ujung mushola kampungku. Aku baru
bangun setelah mama membangunkanku yang entah sudah berapa kali
membangunkan.
“Nada, Kana! Bangunnn!” teriak mamak membangunkanku dari arah
dapur. Mamak sudah berada di dapur jauh sebelum azan berkumandang.
Salat malam tak lepas ia tunaikan sebelum menghidupkan tungku di
dapur. Meski sudah ada kompor, mamak enggan meninggalkan warisan
leluhur, yang konon berakibat tidak baik. Mamak selalu bilang masakan
dari atas tungku lebih enak dibanding dengan masakan di atas kompor
maupun alat penanak nasi
Other Stories
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...