Dipandang Sebelah Mata
Minggu pertama Nien menjadi siswi di International High School, Banyak yang di temuinya di sana. Banyak juga mata yang memandang rendah dirinya. Nien sadar kalau ia hanya seorang anak dusun yang beruntung bisa sekolah di sini. Tak ada yang mau berteman dengannya karena penampilan Nien yang kampungan, begitu mereka bilang.
Nien memang polos. Rambutnya yang panjang masih saja dikuncir dua seperti sewaktu di dusun dulu. Tas dan sepatunya pun tak bermerek seperti teman-temannya yang lain. Tak jarang pula Nien sering di-bully oleh mereka.
“Nien !!” teriak Sisi memanggil Nien dengan suara lantangnya. “Eh cupu ! Bengong aja, sini loe!” panggilnya menyuruh gadis itu mendekatinya.
Nien berjalan lunglai. Ia tahu Sisi dan temannya akan mem-bully-nya lagi seperti hari-hari kemarin. Tapi Nien mencoba bersabar. Ia sadar sebagai anak baru ia harus menyesuaikan diri.
“Ada apa, Si ?” tanya Nien menatap tajam gadis borju itu.
“Gue heran, kok lo bisa sekolah di sini? Lo kan dari kampung, emang siapa yang masukin lo di sekolah ini?” tanya Sisi, sinis.
“Aku dapat beasiswa,” Nien dengan kepolosannya menjawab Sisi.
“Ooo… jadi lo sekolah gratis di sini?” sela Riana, teman satu geng Sisi.
“Ya iyalah dia sekolah gratis di sini. Kalau nggak, mana bisa dia sekolah di sini. Secara, lo kan tahu di sini sekolah elite untuk anak-anak orang kaya?!” sambung Sisi.
“Iya aku tahu. Tapi aku nggak sembarangan masuk sekolah ini. Aku lolos dalam seleksi puluhan siswa sekolah lain,” papar Nien dengan wajah lugunya.
“Iya, gue tahu. Lo itu cuma modal kepintaran doang, tapi kalau lihat penampilan loe, hemm… nggak banget deh sekolah di sini!” celetuk Riana sambil mencibir pada Nien.
Nien hanya diam. Sesungguhnya hatinya menangis menerima penghinaan seperti ini. Tapi itu kenyataan yang harus dihadapinya. Dan ia harus tetap bersabar menerima semua itu.
“Kalau lo mau sekolah di sini, lo harus ikut aturan di sini. Lo harus nurut sama perintah kita-kita, kalau nggak, lo akan tahu akibatnya!” dengan geram Sisi menyenggol bahu Nien dengan bahunya.
“Dan lo harus ingat, nggak ada anak cupu di sekolah ini, apalagi dandanan kayak lo gini !” teriak Riana di depan wajah Nien seraya menepis sebelah ikatan rambut Nien dengan tangannya.
“Eh ya, kalau lo nggak kuat sama perlakuan kita, lebih baik lo cari sekolah lain aja deh, daripada lo bengek nanti !” Sisi kembali menghampiri Nien.
“Mending lo balik aja lagi ke kampung lo, ngangon bebek sana! Ha ha ha...” tawa Sisi dan Riana terdengar keras, membuat murid-murid yang lain melirik ke arah Nien.
Nien tetap diam. Ia tak boleh membantah atau melawan mereka. Ia sekolah di sini hanya untuk belajar, bukan bergaya bak model ternama. Nien terisak dalam hati. Ingat ucapan Ambunya dulu yang bilang kalau dia adalah anak orang tak punya. Harus tahu diri dan bisa menempatkan diri. Tak ada yang bisa disombongkan. Dan masih banyak ucapan Ambunya yang membuatnya tetap tegar dan bertahan.
******
Ini sebulan pertama Nien menjadi siswi di sekolah elite di bilangan Kemayoran ini. Tak ada yang berubah dari dirinya. Tetap culun, polos, cupu dan kampungan, itulah julukan dari teman-teman sekolahnya. Tiap hari berkendaraan angkot ke sekolah semakin membuat Nien menjadi bahan cibiran.
“Eh Nien, gue kasih tahu yah, lo kalau nggak mau jadi bahan ejekan mereka, loe harus berubah!” ucap Lena, cewe yang duduk di sebelah kursi Nien di kelas.
“Berubah gimana maksudnya?” tanya Nien polos.
“Ya berubah o’on ! Dandanan lo, bicara lo, semua harus diubah !” jelas Lena.
“Emang kenapa dengan aku?”
“Yee… dasar o’on nih anak! Kalau lo begini terus, selamanya mereka akan mem-bully lo! Emang lo mau diremehin mereka terus? Apalagi Sisi dan gengnya… mulutnya pedas banget!” Lena menatap tajam Nien dengan pandangan yang menyelidik.
Nien terdiam, Benar yang dikatakan Lena, Sisi dan gengnya sering kali mem-bully dirinya. Bahkan dengan seenaknya sering menyuruh Nien layaknya seorang kacung. Nien tak bisa berbuat apa-apa, ia sadar tak punya kemampuan untuk melawan mereka.
“Gimana caranya dong, Len ?” tanya Nien penasaran
Lena hanya melirik Nien. Gadis tinggi langsing ini juga terlihat borju seperti Sisi dan gengnya. Lena masih terbilang baik pada Nien. Ia masih mau bicara dengan Nien walau hanya sesekali.
“Sini gue bisikin!” panggil Lena memberi isyarat agar Nien mendekatinya. Lena membisikkan sesuatu di telinga Nien hingga gadis ini terbelalak.
Nien terpaku. Matanya melotot dengan mulut menganga mendengar sesuatu yang di bisikkan Lena. “Wooyy!! Kenapa bengong gitu sih, lo?” teriak Lena di depan wajah Nien. Sontak gadis itu tersentak mendengar teriakan Lena.
“Kamu bikin aku kaget aja, Len!”
“Mau nggak ikutin saran gue?” tanya Lena galak.
Lagi-lagi Nien terdiam. Di benaknya terkumpul beribu tanya tentang saran Lena. Haruskah ia seperti itu? Tapi kalau tidak, lalu dari mana ia bisa dapatkan uang yang banyak untuk merubah penampilannya?
“Wooyy… kelamaan lo mikirnya! Gitu aja pakai mikir beribu kali! Kalau lo mau, besok ikut gue jalan. Tapi kalau nggak mau..ya lo rasain aja terus di-bully sama Sisi dan gengnya. Udah ah, gue mau cabut dulu!”
Lena meninggalkan Nien di depan gerbang sekolah. Gadis lugu ini masih tak percaya temannya itu memberi saran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Haruskah aku seperti itu? tanyanya lagi dalam hati.
Seiring langkah kakinya, Nien masih saja berpikir tentang ajakan Lena. Hatinya mulai berjudi antara mau dan tidak. Separuh hatinya menolak tapi separuh hatinya lagi tak ingin terus mendapat perlakuan dan hinaan dari teman-temannya. Nien menarik ulur saran Lena. Diterima atau tidak. Diikuti atau diabaikan. Hatinya masih tak pasti untuk memutuskan semuanya.
******
Bel sekolah nyaring terdengar tepat saat Nien melewati pintu gerbang sekolah. Pagi ini ia kesiangan karena harus membantu Bi Titin menyiapkan dagangan kuenya. Kaki jenjangnya berlari kecil menuju ruang kelas.
“Heh cupu!” teriak suara lantang di belakangnya. Nien menoleh. Di lihatnya Sisi dan Riana jalan beriringan. Pasti mau ngerjain aku lagi! tebak Nien.
“Ngapain lo lari-lari kayak maling aja?” tanya Riana.
“Aku takut telat masuk kelas!” jawab Nien singkat.
“Lo lihat dong, masih lima belas menit lagi nih! Makanya pakai dong arloji, jangan pakai gelang karet! Ha ha ha…” Riana dan Sisi tertawa terbahak di depan Nien.
Nien tertunduk. Dilihatnya pergelangan tangannya yang tanpa arloji, hanya gelang mainan yang menghiasi tangan putihnya. Ditelannya ludah pahit. Haruskah aku dipermalukan seperti ini setiap hari? teriak Nien dalam hati. Segera ia melengos pergi meninggalkan Sisi dan Riana. Tapi dengan cepat tangan Sisi menarik tas lusuh Nien hingga tubuh gadis itu tertarik ke belakang.
“Heh mau ke mana, lo?” gadis itu berteriak lagi. “Emang udah gue izinin lo pergi apa?!” teriak Sisi.
“Ada apa lagi, Si? Kalian belum puas apa bikin malu aku?” tanya Nien dengan mata berkaca-kaca.
“Emang lo pantas dibikin malu. Soalnya lo emang malu-maluin! Ha ha ha…” tawa Sisi dan Riana terdengar amat nyaring. Banyak mata yang menoleh pada mereka.
Nien tertunduk dalam. Ada bulir bening yang mengembang di sudut matanya. Aku harus kuat. Aku nggak boleh cengeng! jerit Nien.
“Maaf, aku mau masuk kelas !” jawab Nien langsung meninggalkan Sisi dan Riana.
“Huu... dasar cupu lo! Udik, kampungan! Gaya lo masuk sekolah sini!”
“Sekali udik tetap aja udik. Mana bisa lo berubah jadi putri raja?! Cinderella kali. Hellooo… dongeng banget deh !”
“Lo tuh cocoknya jadi upik abu. Teman lo pantasnya tikus dapur! Ha ha ha…” ucap Sisi dan Riana bersahutan menertawakan Nien.
Nien terduduk lemas di kursinya. Kepalanya tertelungkup di antara lipatan tangannya. Kali ini Sisi dan Riana sudah amat mempermalukannya. Apakah aku harus mengikuti saran Lena agar dapat merubah diri hingga aku nggak lagi jadi bahan olokan mereka?
“Gue bilang juga apa? Lo bakal terus di-bully Sisi dan Riana kalau lo masih begini!” bisik Lena di telinga Nien.
Nien mengangkat kepalanya. Dilihatnya Lena sudah duduk di sampingnya. Tatapannya kosong ke arah Lena. Pikirannya melayang entah ke mana. Hatinya masih sakit dengan perlakuan Sisi dan Riana. Ia seperti ditelanjangi di depan orang banyak.
“Len, apa nggak ada cara lain?” tanya Nien. Lena menggeleng dengan mencibirkan bibirnya.
“Kalau lo mau… kalau nggak ya udah!” lanjutnya lagi meninggalkan Nien.
Hati Nien berkecamuk. Perang batin tak henti di hati dan pikirannya. Berat baginya mengikuti saran Lena, tapi untuk setiap hari di-bully Sisi dan Riana itu juga tak diinginkannya.
Gadis itu berjalan ke arah taman sekolah. Matanya mencari seseorang yang dapat membantu persoalannya. Lena di mana kamu? Nien terus mencari Lena. Niatnya untuk mengikuti saran Lena tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
“Lena!” panggil Nien sambil berlari kecil ke arah gadis itu. Lena menoleh sebentar ke arah Nien, lalu tatapannya kembali pada ponsel dalam genggamannya. “Aku… aku mau ikuti saran kamu!” lanjutnya terbata.
Lena menatap Nien seolah tak percaya. Dua garis halus mengukir di keningnya. “Lo benaran, serius?” tanya Lena.
Nien mengangguk cepat. Senyum menghiasi di bibir mungilnya. Dua kuncir kuda ikut berayun karena anggukan kepalanya. Matanya berbinar penuh harap. Gadis ini seolah begitu yakin dengan keputusannya.
“Tapi, aku lihat kamu dulu, yah ?”
“Terserah lo deh! Kalau gitu besok pulang sekolah lo ikut gue. Bawa baju ganti yah, tapi jangan yang norak!” ucap Lena.
Nien sekali lagi mengangguk. Sepertinya ia yakin dengan apa yang akan dikerjakannya. Gadis lugu ini tak mengerti apa yang akan terjadi kemudian. Isi kepalanya penuh dengan niat untuk merubah dirinya menjadi Nien yang baru. Semua itu perlu modal, yaitu uang. Dan itu harus didapatnya dengan bekerja, itu yang dikatakan Lena.
******
Nien menyendiri di sudut kamar yang dipenuhi anak-anak Mang Didin. Dipandanginya wajah-wajah mungil yang terlelap dalam tidurnya. Mereka hidup seadanya tapi tak pernah mengeluh. Mereka yang juga punya cita-cita sama seperti dirinya. Suatu saat nanti aku akan membalas kebaikan Mang Didin dan keluarganya, janji Nien dalam hati.
“Nien, kamu belum tidur?” suara Bi Titin tiba-tiba mengejutkannya. Di pandangnya wajah istri sepupu Ambunya itu dalam remang lampu kamar. Sungguh terlihat wajah yang penuh keikhlasan dari seorang istri.
“Belum, Bi,” jawab Nien pelan. “Belum ngantuk,” sambungnya lagi.
“Tidurlah, sudah hampir tengah malam. Jangan sampai kamu terlambat sampai sekolah,” Bi Titin mendekati Nien. “Gimana sekolahmu? Sudah sebulan kan kamu sekolah di sana? Sudah dapat pacar belum?” tanya Bi Titin menggoda Nien.
Gadis itu hanya tersenyum getir. Dipendamnya rasa sedih dalam hatinya. Bi Titin dan Mang Didin tak pernah tahu kalau ia mengalami hal yang tidak mengenakkan hati setiap hari di sekolahnya. Di-bully, dipermalukan, dihina sudah menjadi makanannya setiap hari. Nien menarik napas dalam. Ada sesak yang terus tertinggal jka ia mengingat semua itu.
“Kenapa bengong, Nien?” tanya Bi Titin yang sedari tadi memperhatikan Nien. “Ada masalah di sekolahmu?” lanjutnya.
Nien hanya geleng kepala. Wajahnya tertunduk menyembunyikan kesedihannya. “Nggak apa-apa, Bi. Aku hanya capek, setiap hari banyak tugas sekolah,” jawab Nien seraya mengelak dari pertanyaan Bi Titin.
“Ya sudah, sekarang kamu cepat tidur sana!” Bi Titin menyuruh Nien segera tidur. Ditinggalkannya Nien keluar kamar, sebelumnya sempat kepala Nien dibelainya.
Nien termenung sendirian. Kehidupan Mang Didin dan Bi Titin cuma seadanya. Rumah kontrakan mereka pun begitu kecil. Pernah suatu kali dirinya miris melihat Bi Titin yang kebingungan mencari uang pinjaman untuk berobat ke rumah sakit anaknya. Tapi tak satu pun tetangganya yang rela meminjamkan uang. Bahkan uang berbunga sekalipun. Tak ada yang memberi pinjaman karena mereka khawatir Mang Didin tak mampu membayarnya. Cuma cibiran dari mereka yang didapat.
Sama seperti dirinya yang sering mendapat perlakuan tak baik dari teman-temannya. Tak ada yang mau berteman dengannya. Semua mencibir, semua menghina, merendahkan. Apakah seperti ini hidup sebagai orang kecil? Beginikah hidup orang yang tak punya harta? Lalu, di manakah keadilan Tuhan? Nien mengembuskan napasnya perlahan.
Sisi dan Riana adalah mereka yang termasuk dalam manusia yang tak pernah mau menghargai orang lain. Sombong, angkuh dan tak peduli perasaan temannya sendiri. Sakit hati Nien jika mengingat semua itu. Tapi apa dayanya untuk melindungi diri? Tak ada kemampuannya untuk bertindak sesuatu.
Uang! Itulah yang berkuasa! Dengan uang seseorang dapat kehormatan dan martabat, bahkan kekuasaan. Dengan uang orang dapat melakukan apa pun yang mereka mau. Aku harus kerja seperti Lena. Apa pun itu harus kulakukan. Tapi apa yang harus aku lakukan?
“Len, sebenarnya aku kerjanya bagaimana sih?” tanya Nien suatu hari di sekolah.
“Kerjanya enak kok, nanti lo juga suka,” jawab Lena.
“Ya, kerja apa?” tanya Nien penasaran
“Nanti lo cuma nemanin makan, jalan-jalan karaokean atau yang lainnya deh!”
Yang lainnya apa itu? Tanya Nien dalam hati. Ia terus memandang Lena. Setiap perkataan Lena disimaknya dengan serius.
“Nanti lo nemani Om..,” Lena menghentikan ucapannya. Ia lupa kalau sekarang ia berada di sekolahan.
“Nanti lo nemani Om-Om. Buat mereka senang. Kalau lo beruntung lo akan dapat uang banyak dalam waktu singkat. Lo bakal hidup senang nantinya!” bisik Lena
“Berdua saja gitu sama Om-Om itu?” tanya Nien seolah tak prcaya.
“Iyalah berdua, masa satu RT?”
“Tapi aku nggak pernah berduaan sama lelaki, Len?”
“Udah, nanti juga lo bakal terbiasa, nyantai aja deh!” jawab Lena meyakinkan Nien.
Nien seperti kebingungan. Bagaimana mungkin ia bisa berduaan saja dengan lelaki yang belum pernah dikenalnya? Tapi Lena bilang ia akan dapat duit banyak hanya dengan kerja seperti itu. Apalagi jika ia mau memberikan yang lebih pada om-om yang akan ditemaninya. Apa yang harus ia berikan? Tanyanya polos.
“Len, apa alasanmu bekerja seperti ini sama dengan alasanku ? Apa dulu kamu juga dibully sama mereka ? Apa karena faktor ekonomi juga ?” Tanya Nien beruntun.
Lena melirik Nien. Wajahnya yang periang tiba-tiba muram. Ada raut kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya. Temannya itu seperti memendam sesuatu. Nien masih mengamati Lena yang tetap terdiam.
“Len?!” panggil Nien.
“Aku punya banyak uang untuk membeli apa pun yang aku mau. Tapi aku melakukan semua ini karena aku protes pada mereka!” sahut Lena.
“Mereka siapa?” tanya Nien semakin bingung.
“Mereka adalah keluargaku. Mereka cuma mementingkan diri sendiri. Egois! Tak ada yang memperhatikanku. Tak ada yang peduli padaku. Hanya Om Danu yang begitu perhatian dan sayang padaku. Itulah makanya aku rela memberikan apa pun yang Om Danu pinta,” jelasnya dengan mata yang mengembang.
Nien menghela napas panjang. Tak disangkanya Lena yang begitu periang sesungguhnya memendam kekecewaan. Dan imbas dari kekecewaaan itu adalah tingkahnya yang liar dalam pergaulan. Tak ada yang bisa menghalanginya untuk berbuat apa pun. Alasannya memang tak sama dengan dirinya. Lena anak orang berada. Orang tuanya sukses dan apa pun bisa Lena miliki. Tapi ia tak bahagia. Ia merasa sendirian di tengah limpahan harta orang tuanya.
Other Stories
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...