Ingin Menyelamatkan Diri
Friezka terpaku melihat rumah Lena yang ada di depan matanya. Lena saat ini benar-benar menjdi orang kaya, padahal ia pernah tinggal di rumah susun bersama dirinya. Tapi Friezka ingat tujuannya ke rumah ini dan segera memencet bel.
Lena membukakan pintu dengan muka masam. “Sepertinya dia nggak senang dengan kedatangan gue,” batin Friezka.
“Lo lagi, ngapain lo ke sini?”
“Hmmm… ngapain ya? Ya pasti minta bayaran lah.”
“Bayaran apa lagi? Lo kan kemarin udah gue bayar lunas.”
“Itu kan kemarin, sekarang gue minta bayaran lagi.”
“Enak aja. Gue nggak akan bayar lo lagi.”
“Ya udah gue bilang aja ke polisi bahwa pembunuh Nien sebenarnya itu lo.”
Friezka membalikkan badan hendak pergi meninggalkan rumah Lena. Namun tiba-tiba Lena menahan tangan kirinya. “Oke, gue akan bayar lo. Please, jangan bocorin rahasia gue. Lo mau minta berapa?”
“Nggak banyak kok, cuma 500 juta.”
“Oke. Masuk dulu yuk, gue mau ambil uangnya di kamar.”
Friezka masuk ke rumah Lena. Ia duduk di sofa. Matanya terus memandang Lena yang katanya mau masuk ke kamar. Tapi Friezka punya firasat buruk.
“Lena… Lena, jalan pikiran lo udah ketebak. Sebelum lo nyingkirin gue, gue yang akan lebih dulu nyingkirin lo!”
Tiba-tiba mata Friezka tertuju pada sebuah kamar yang tidak jauh dari ruang tamu. Hati kecilnya mengatakan kamar itu adalah kamar Lena. Friezka bangkit dari tempat duduk lalu mengendap-endap melangkahkan kaki menuju kamar itu.
Sesampai di kamar, ia melancarkan aksinya mencari barang bukti yang bisa menjebloskan Lena ke penjara. Pertama-tama ia mencari di laci meja, namun tak ada satupun barang yang bisa dijadikan barang bukti. Pencarian berlanjut ke lemari, untung lemari tak dikunci. Di lemari pun hanya ada pakaian-pakaian Lena saja. Pencarian terakhir di tempat tidur, di sana ia menemukan sebuah buku diary bersampul biru muda.
Friezka berpikir mungkin buku diary itu satu-satunya barang bukti yang bisa menjebloskan Lena ke penjara. Kalau Lena sudah masuk penjara, otomatis ia terbebas dari tuduhan.
“Maafin gue harus melakukan ini ke lo, Lena. Lo emang sahabat gue, tapi itu dulu sebelum lo berubah, sekarang lo musuh gue. Gue ingin menyelamatkan diri gue sendiri,” ucap Friezka sebelum meraih buku diary Lena.
Ia lalu memasukkan buku diary itu ke tasnya kemudian kabur meninggalkan rumah Lena lewat jendela yang ada di kamar.
Riana, gue sudah berhasil dapet buku diary Lena nih. Gue yakin banget buku diary ini bisa menjebloskan Lena ke penjara. Terus gue mesti ngapain lagi?
Send
Friezka mengirim pesan tersebut ke nomor Riana.
Tak lama ada balasan dari Riana.
From : Riana
Sekarang lo antar buku diary itu ke rumah lama Lena. Lo tau kan rumh lama Lena? Tapi sebelum lo antar, lo bungkus dulu buku diary itu make kotak dan dilapisi kertas koran. Jangan lupa di atasnya tulis kalimat “To : Letnan Arief dan Detektif Tiga Serangkai.”
Ia mengangguk pasti, siap melaksanakan apa yang diperintahkan Riana barusan.
Other Stories
Jjjjjj
ghjjjj ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...