4. Sepanjang High Heels Merah Darah
Bagaimana mungkin, satu jati diri dapat membelah menjadi enam bagian yang tidak berhubungan satu sama lain. Seperti amoeba saja.
“Ampun, Ma. Amm…punnn! Shi janji, tidak nakal lag—” Kemudian sejuta kunang-kunang seperti bertengger di mata Shion sesaat sebelum semuanya terlihat gelap.
“Harus berapa kali Mama bilang Shi. Shiona? Harus berapa kali hah!!! Mama tidak suka anak nakal. Mama tidak suka anak mama menjadi pembangkang!”
“Shion, bereskan lego-legomu ini. Berceceran di lantai seperti ini, membikin mama pusing. Berapa kali Mama harus berkata, tolong jangan menyusahkan Mama!”
“Shi lihat ini! Kamu minum susu berceceran begini. Bikin lengket dan mengundang semut saja!”
“Berapa kali Mama bilang, jangan lari-lari di dalam rumah. Lihat nih guci kesayangan Mama jatuh!”
“Ampun, Ma. Amm…punnn! Amm…pun….” Shion kecil terbangun masih dalam posisi tangan dan kaki terikat tali di dalam bath tube. Gemercik air keran yang meluap dari dalam bathtube menyamarkan suara lirih Shion yang telah kehilangan sebagian besar tenaganya untuk bertahan hidup.
Siang itu mama menghukum Shion akibat kecerobohan gadis itu. Ia menghilangkan kotak bekal yang sudah menjadi tanggung jawabnya untuk dibawa pulang kembali ke rumah. Entah tertinggal di sekolah atau tertinggal di sport centre di mana ia menunggu mama olahraga sampai terkantuk. Shi benar-benar lupa.
Akibat kecerobohannya itu, Shion harus menerima hukuman yang sejatinya tidak layak untuk anak seusianya. Mama mengikat bocah perempuan itu dari pundak hingga ujung kaki dengan tali. Lalu melemparkan tubuh kecil Shion ke dalam bath tube yang berisi air.
“Anak nakal harus dihukum. Supaya jera. Kalau Shion tidak ingin Mama hukum Shion jangan pernah menjadi anak nakal atau membatah perkataan Mama.”
Shion harus bertahan di sana tanpa protes, mengeluh, apalagi menangis. Gadis kecil itu dipaksa untuk kuat. Menahan air dingin yang terus mengalir dari keran hinga berjam-jam lamanya. Sedikit saja mama melihat anak itu meneteskan air mata, maka hukumannya akan ditambah lebih lama lagi.
Tidak peduli wajah bocah malang itu memucat, tidak peduli bibir Shion membiru, tidak peduli kulit sang buah hatinya berkerut akibat menahan suhu dingin dalam rendaman air bathtube selama berjam-jam. Mama tidak peduli. Sebab Shion sedang dalam masa hukuman.
“Mama hanya ingin Shi menjadi anak yang kuat dan tidak cengeng. Anak mama harus bermental kuat dan tidak boleh menangis. Menangis hanya untuk orang-rang lemah. Shion harus belajar menjadi anak yang tidak lemah. Mengerti kan!”
Sayangnya rumah itu hanya dihuni oleh Papa yang nyaris tidak pernah bertemu Shion, Mama yang sakit jiwa dan Shion yang menjadi korbannya. Pembantu rumah tangga paruh waktu hanya datang seminggu tiga kali, itupun hanya untuk bersih-bersih tanpa menginap. Sopir Shion hanya disewa untuk antar-jemput gadis kecil itu saja tanpa pernah mengetahui isi rumah itu.
Di lain waktu Shion pernah dihukum Mama karena gadis itu menjatuhkan beberapa butir nasi dari tempatnya saat sedang sarapan. Tentu itu memicu amarah sang mama. Bagaimana mungkin Shion kecil bisa seceroboh itu?
Itu tidak hanya membikin meja kaca ruang makan yang mengilap menjadi kotor dan lengket. Tetapi juga membuat nasi itu sendiri terbuang sia-sia. Pertanda tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.
Shion yang sudah siap beraktifitas dengan seragam putih merahnya terpaksa harus alpa dari kelas dahulu. Sebab mama memberikan hukuman berupa menghabiskan menu sarapan berupa semangkuk garam. Dan setelah semangkuk garam itu berhasil Shion habiskan, barulah ia akan pergi sekolah.
***
“Cari siapa?” Seseorang yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu itu mengulangi pertanyaannya.
“Emm—, Shi…Shi….” Esa tergagu seketika.
Wanita itu tampak sedikit terkejut sebelum kemudian tersadar. “Shi, Shion maksudmu Nak? Kau mencari Shion?” tanya balik wanita itu dengan senyum sumringah.
Lantas membuka pintu lebih lebar lagi. Menampakkan sempurna tubuhnya dari atas hingga ujung kaki. Membuat Esa tidak bisa menahan keterkejutan hingga ternganga. Benar-benar tidak percaya.
Wanita itu berpostur kurus. Amat kurus. Dengan wajah yang tidak asing. Namun penampilannya benar benar bukan seperti sosok yang Esa kenal. High heels merah sewarna darah berpadu dengan mini dress senada dengan bagian dadanya terbuka. Berpadu dengan riasan wajah full coverage, tak luput sentuhan lipstick yang warnanya tak kalah merah. Benar-benar bukan sosok Shion yang tempo hari menolongnya membebat luka di UKS.
“Mari-mari masuk dulu, Nak,” ujar si wanita itu sembari merangkul Esa melangkah ke dalam. Sesekali ia mengibas rambutnya yang tergerai sembari berjalan kenes.
Esa benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Ia sebenarnya sedang masuk ke negeri dongeng yang diciptakan Shion atau apa, ia benar-benar tidak tahu. Yang ia tahu, wanita itu terus-menerus mengoceh.
“Tante sudah berkata pada anak itu agar ia sekolah saja. Tapi ia tidak mau mengindahkan ucapan Tante. Anak itu lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Bahkan makan saja ia enggan. Dari pagi ia hanya mengurung diri di kamarnya. Tidak mau berbicara dengan Tante. Dengan Daniel. Dengan Papa Johnson. Dan dengan siapapun.” Wanita itu berbicara amat cepat.
“Ta, Tante?” Sahut Esa terkejut. Masih tidak mengerti.
“Ya, kamu bisa memanggilku Tante Elsa, Nak.” Wanita itu mengerlingkan kedua mata yang berhias bulu mata super lentik. “Oh ya, kau suka spaghetti? Tante sedang memasak spaghetti Bolognese.”
Esa lantas dipersilakan untuk duduk di meja makan persegi berkapasitas empat kursi yang berada di tengah-tengah dapur. Dapur yang sempit untuk ukuran rumah sebesar dan semewah itu. Namun kitchen set dan perpaduan warna interiornya tidak bisa berbohong. Perabotan itu jelas barang-barang premium.
Anak laki-laki itu duduk dalam posisi menghadap ke arah Tante yang posisinya membelakanginya, sedang asik menumis masakan yang amat harum. Memerhatikan detail demi detail apa yang tersapu pandangannya. Seolah mencari jawaban atas apa yang ia alami kini.
Hal yang janggal adalah wanita itu berbicara seorang diri, seolah menempatkan Esa sebagai penonton untuk obrolan yang amat asik. Sesekali terdengar suara bariton laki-laki dewasa yang Tante Elsa sebut-sebut sebagai Richard. Namun Esa tidak melihat orang lain kecuali mereka berdua.
Lebih mencengangkan lagi, kedua suara bersahut-sahutan yang serupa dua orang berbeda jenis kelamin sedang terlibat obrolan serius itu berasal dari orang yang sama. Mulut Shion, maksud Esa mulut Tante Elsa.
Entah bagaiman jiwa tante-tante itu bisa masuk ke tubuh kecil dan mungil milik Shion dengan memaksakan penampilan seperti tante-tante metropolitan lengkap dengan riasan dan gerak-gerik yang amat meyakinkan. Apakah Shion sedang kesurupan?
Si Tante lantas menyajikan spaghetti bolognese sungguhan di hadapan Esa. Aromanya tercium amat harum memenuhi udara, membuat perut Esa yang lapar seketika memberontak. Namun ia kehilangan selera untuk menyuap.
Sedangkan sang tante bertopang dagu di hadapan Esa sembari tersenyum simpul. Seolah menanti anak laki-laki itu mencoba masakannya dengan penuh kasih sayang.
Ketika Esa mulai mengambil garpu, Tante tersenyum amat lebar sembari mengangguk-angguk kegirangan. Serupa peserta Master Chef yang menanti komentar juri mengenai menu masakannya.
Detik demi detik berlalu, sayangnya Esa tidak segera menyuapkan apapun ke dalam mulutnya. Remaja laki-laki itu justru mengenggam lemah garpu di tangan kanannya tanpa berniat mendekatkan pada pasta bersaus dengan aroma daging sapi cincang dan tomat yang begitu kentara di atas piringnya.
“Ayo cepat makan. Keburu dingin. Kau tunggu apa lagi!” komentar Tante Elsa lebih serupa bentakan ketimbang perintah.
Esa terkesiap dengan suara pedas wanita remaja yang memaksa berdandan dewasa di hadapannya. Melihat Shion dalam balutan gaya busana yang amat aneh itu, membuat selera makannya benar-benar lenyap.
Akibatnya, Esa tidak segera melakukan apa yang Tante Elsa perintahkan. Justru sebaliknya, ia malah menimang-nimang garpu di tangannya. Membuat darah tante Elsa mendidih.
“Ta, Tante—,” Panggil Esa ragu.
Tante Elsa yang emosinya gampang meledak-ledak itu sontak menaikkan alis sembari melotot tajam untuk merespon anak laki-laki di hadapannya. Baginya Esa tak lebih dari anak nakal yang tidak mau mengindahkan perintahnya.
“Di, di mana Shion.” Demi menanyakan itu Esa sampai menahan napas. Takut bercampur khawatir. Namun rasa penasaran dalam dirinya memaksa untuk berani.
Sosok Shion yang mengaku sebagai tante Elsa itu terdiam sejenak sebelum menghelai napas kasar. Matanya yang melotot semakin membulat. “Kau benar-benar ingin tahu di mana Shion? Kau benar-benar ingin tahu di mana teman sekolahmu itu!!!”
Esa tersentak. Terkejut dengan sosok wanita di hadapannya yang mendadak amat temperamental. Gerakannya benar-benar amat gesit dan tak terduga.
“Baik! Ikut Tante!” Kata si tante langsung menggenggam lengan Esa dan memaksa remaja laki-laki itu untuk berjalan mengikutinya tanpa tedeng aling-aling.
Wanita itu membawa Esa berjalan cepat menyusuri anak tangga menuju ke lantai dua dan berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar. Lalu mengeluarkan sebundel kunci yang amat banyak jumlah dan ragamnya. Jemarinya yang lentik dengan kuteks kuku merah cekatan mengambil salah satu kunci untuk dijodohkan ke daun pintu. Sepertinya sudah hafal di luar kepala dengan kunci-kunci yang ada di seluruh penjuru rumah besar itu.
Ketika pintu itu terbuka, Esa membeku di tempatnya berdiri. Menyaksikan dengan ngeri detail-demi detail kamar yang tampak temaram dari arah luar itu. Dadanya mendadak berdegub kencang. Anak laki-laki itu tidak menyangka bahwa teman sekolahnya yang mendapat predikat aneh dari kawan-kawan sekolahnya memiliki kehidupan jauh lebih aneh dari yang mampu anak seusianya bayangkan.
Sejak awal Esa telah menduga bahwa ada yang tidak beres dengan kehidupan gadis kurus yang selalu memakai seragam sekolah kebesaran itu. Namun sayangnya kapasitas Esa tidak mampu mengukur setidakberes apa kehidupan gadis remaja itu.
Kini Esa telah terlanjur masuk ke dunia ketidakberesan itu, ia tidak yakin bisa keluar dari rumah besar itu dengan selamat. Esa pikir hal seperti itu hanya terjadi pada film-film psikopat yang acap kali ia tonton dari kaset bajakannya, namun ternyata di dunia nyata hal serupa benar-benar nyata adanya.
Detik berikutnya Esa merasakan seperti benda tumpul menghantam bahunya dengan suara debuman mengerikan sebelum akhirnya semuanya tampak gelap oleh kunang-kunang yang hinggap di matanya.
***
Setiap anak pasti memiliki benda transisi selama masa pertumbuhan. Suatu objek yang seolah hidup dan menghabiskan waktu kanak-kanak bersamanya. Dalam hal ini Shi kecil memiliki Tedy. Sebuah boneka beruangyang awalnya berwarna putih tulang. Namun seiring berjalannya waktu dan seringnya benda itu terlibat dalam keseharian Shi kecil, warnanya kian gelap. Kecokelatan dan kumal.
Sebuah boneka yang Shi peroleh saat menemani Mama berbelanja. Dulu, saat kedua orang tua gadis itu masih bersatu. Bukan tipikal boneka mewah pula mahal. Hanya boneka biasa yang semua toko mainan akan pasti menjualnya. Tapi Shi amat menyayangi boneka itu hingga titik terobsesi.
Ke mana pun Shi pergi si Tedy pasti menemani. Jika Shi kecil tidur, Tedy akan tergeletak di sisinya atau tengah dipeluk gadis itu. Jika Shi kecil diantar ke daycare, Tedy pasti ada di ranselnya. Bahkan saat gadis kecil itu makan, harus ada ruang kosong di dekatnya untuk Tedy ditempatkan.
Bahkan hingga kini, di usia Shion yang menginjak remaja, si kumal Tedy masih setia menemaninya. Tedy adalah sumber kekuatannya kala sedang takut. Tedy adalah sahabat setianya yang tidak akan pernah meninggalkan gadis itu. Tedy adalah tempat ia mencurahkan segala isi hati dan akan selau mendengarkan apa yang Shi katakana. Si kumal Tedy, segalanya bagi Shion.
Hingga waktu terus bergulir. Detik-detik berganti. Hari-hari berganti. Papa yang tidak pernah kembali. Mama yang memutuskan untuk merajut benang rumah tangga dengan orang baru. Untuk kali pertama Shion benci Tedy. Amat membencinya.
Untuk kali pertama laki-laki bertubuh jangkung dan sedikit tambun itu mengenalkan diri di hadapan Shion. Mama meminta Shion memanggil laki-laki itu dengan sebutan ayah. Laki-laki paruh baya itu memiliki tatapan sinis yang tajam dan memuakkan.
Semenjak menikah lagi Mama jarang sekali pulang. Hanya beberapa kali dalam sepekan untuk mengecek kondisi rumah dan tentu saja gadis kecilnya yang mulai beranjak dewasa. Memastikan segala hal yang diperlukan gadis itu terpenuhi.
Shion tidak keberatan dengan hal itu. Bahkan jika sang Mama menghabiskan tujuh malam dalam seminggu di rumah suami barunya Shion sama-sekali tidak keberatan. Gadis itu sudah terbiasa hidup sendirian dalam labirin kesepian di rumah itu. Sejak kecil gadis itu sudah terbiasa mengurusi segala hal yang ia perlukan sendiri.
Berita baiknya, mama tidak lagi sempat memerhatikan inci demi inci perbuatan Shion. Tentu itu bermakna hukuman keji yang menurut mama mampu menghapus dosa gadis kecil itu berkurang intensitasnya. Meskipun tidak sepenuhnya hilang.
Namun sepertinya Semesta tidak berpihak pada gadis malang itu. Sebab penyiksaan fisik dari Mama hanya bertansformasi menjadi penyiksaan dalam bentuk lain yang lebih keji dan menyakitkan. Terutama untuk jiwa gadis yang masih terlalu belia itu.
Shion benci mengingat ini, tapi ia tidak mampu mengenyahkan tatapan sinis dan tajam laki-laki yang memaksanya melakukan hal-hal mengerikan saat mama tidak ada. Dengusan napas hangat yang beraroma alkohol seperti mematri di dalam ingatan gadis itu dengan sempurna.
“Diam! Jangan sesekali berteriak! Atau kulaporkan Mamamu!” Laki-laki itu berbisik hingga wajahnya merapat di telinga kecil Shion.
“Lepaskan bajumu! Cepat!” Shion menggeleng keras. Ingin sekali mendorong tubuh berlemak yang menindihnya. Namun tenaga gadis itu tidak ada seperempatnya dari si predator yang sialnya suami mama.
“Coba melawan!” Singutnya.
Shion benar-benar tidak berani membuka mata. Ia terlalu takut menatap mata tajam itu. Ia terlalu takut Mama memberikan hukuman yang mengerikan. Ia terlalu takut membayangkan keadaan yang dialaminya kini. Tapi predator itu benar-benar sakit jiwa.
Detik berikutnya Shion sampai mebelalakan matanya lebar-lebar demi sebuah hadiah atas penolakan gadis lemah itu. Sebuah sentuhan dari mata pisau lipat yang tajam mengenai lengan kiri Shion. Menyayat lembut dan amat perlahan kulit pucat gadis itu. Seolah si pelaku ingin Shion merasakan mili demi mili perihnya logam tajam menembus kulit.
Tentu saja Shion siap memekik sekeras-kerasnya. Mengaduh sejadi-jadinya. Tapi tangan besar dan kokoh itu sudah terlanjur membekap kuat mulut mungil Shion. Bersamaan dengan itu, ekor mata Shion menangkap keberadaan si Tedy. Dengan tangan kanan yang bebas, ia gunakan untuk meraih Tedy yang berada di atas meja seberang tempat tidurnya. Pada momen itu Shion berharap Tedy mampu menolongnya. Otot jemari gadis itu sampai mengeras demi meraih Tedy.
Apalah daya, Tedy hanya sebuah boneka. Benda mati yang hanya bisa menyaksikan. Tidak peduli berapa banyak darah yang merembes dari lengan Shion yang tersayat. Tidak peduli berapa banyak bulir air mata yang menetes dari sudut mata Shion. Tidak peduli sekeji apa kekerasan fisik dan psikis yang Shion derita.
Tedy hanya mampu menyaksikan dengan tatapan kosong. Dan itu yang membuat Shion amat benci pada Tedy. Boneka beruang kumal yang dahulu amat ia sayangi hingga titik terobsesi.
Other Stories
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...