Suffer Alone In Emptiness

Reads
956
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
suffer alone in emptiness
Suffer Alone In Emptiness
Penulis L.d Lustikasari

Epilog

Mahaesa Adinata S.Psi., M.Psi.
Tercetak pada ukiran kayu di atas meja kerja Esa. Diusapnya lekukan-demi lekukan yang tercetak di sana. Perlahan saja, sembari lelaki itu menghelai napas dalam. Seolah deretan kata itu mampu menyuntikan energi pada dirinya. Seolah dengan itu ia dapat menambah kekuatannya. Seolah benda itu mampu menyerap segala gundahnya.
Tanpa ia sadari, setitik air mata menggenang di sudut mata.
“Baiklah, aku sudah siap. Shi, doakan aku,” desisnya amat pelan. Bahkan semesta pun tidak mampu mendengarnya.
Mobil Esa berhenti tepat di halaman rumah mewah berpilar tinggi dengan taman luas yang rumputnya terpangkas rapi. Deretan bunga mawar warna-warni tampak semakin cantik sebab tengah kompak bermekaran bersama. Esa merendahkan kaca mobil ketika seorang security mendekat.
“Silakan, Pak. Ibu sudah menunggu di dalam.” Tampak ramah dengan aksen jawa yang cukup kental.
Sekali lagi, Esa mematut wajah pada spion tengah mobilnya. Memastikan dirinya baik-baik saja sebelum memastikan keadaan calon pasiennya. Saat lelaki itu beranjak dari dalam mobil, si security tampak tidak yakin dengan tampilan super casual-nya.
Kaus abu-abu polos yang dipadukan dengan celana jogger legam lengkap dengan sepatu kets monokrom, Esa lebih tampak seperti remaja yang akan hangout ketimbang seorang psikolog yang akan bertemu dengan pasiennya.
Esa tersenyum tipis. Satu orang telah terkelabuhi. Penyamarannya sukses.
Security itu membawa Esa pada sebuah ruangan serupa ruang tengah di lantai dua rumah itu. Seorang wanita paruh baya telah menantinya dengan gestur cemas. Wanita itu tersenyum, terdapat sedikit binar bahagia di wajahnya saat menyalami Esa. Ini bukan kali pertama mereka jumpa. Si ibu sempatberkunjung dan berkonsultasi di ruang praktek rumah Esa, sebelumnya.
Mata Esa segera menangkap pigura yang terpajang di dinding ruangan itu. Tampak besar dan mendominasi. Sebuah keluarga bahagia yang mendukung gerakan pemerintah bersemboyan dua anak lebih baik. Sepasang suami-istri yang duduk sembari tersenyum bahagia ke arah kamera, lalu dipeluk dua orang anak laki-laki dan perempuan dari belakang yang tersenyum tak kalah lebar.
Pada ekspresi sang ayah yang tampak bahagia dan berwibawa, pada ekspresi sang ibu yang tampak teduh, pada ekspresi adik perempuan usia remaja yang tersenyum renyah dan pada gestur wajah sang kakak lelaki yang tampak sayang dan mengayomi keluarga. Esa sulit membayangkan bahwa salah satu dari keluarga sesempurna mereka menderita penyakit psikologi.
Tidak banyak hal yang keduanya bicarakan, hanya basa-basi ringan saja. Sebab semuanya sudah mereka bincangkan saat si ibu mengunjungi tempat praktek Esa. Yang terpenting hari ini adalah Esa bertemu dan berinteraksi langsung dengan pasiennya.
Tak berselang lama, seorang laki-laki muncul dari balik tangga. Mengenakan setelan jas kantor yang masih amat rapi meski sudah lewat jam pulang kantor. Tipikal laki-laki perfeksionis yang selalu mengutamakan penampilan. Ia menenteng paper bag marun dengan pita merah muda yang sangat cantik. Apapun isinya jelas itu kado spesial untuk orang yang amat disayang.
“Hei Bim, sudah pulang. Sini sebentar, Ibu ingin kau berkenalan dengan kawan Ibu,” tegur wanita di samping Esa.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Memutar bola mata sembari mengerutu. “Bu, Bima tidak punya banyak waktu. Jam kantor menyita habis hari-hari Bima. Ibu kan tahu kalau gadis tersayangku sudah menunggu. Bima gak bisa biarin gadisku menunggu terlalu lama. Ia akan marah, Bu.”
“Ah, ayolah sweetheart, sebentar saja.” Dengan sabar dan penuh kasih.
Esa mengedarkan pandangan sekali lagi, ke sekeliling bingkai dan hiasan yang terpajang di ruangan itu.Memastikan kalau memang tidak ada foto pernikahan terpajang.
Sepertinya laki-laki itu memang tidak ingin mengecewakan gadisnya. Buktinya Bima tidak mengindahkan perkataan ibunya. Ia tetap melangkah gegas meninggalkan dua orang di ruang tengah itu menuju pintu kamar yang ada pada salah satu sudut ruangan.
Si ibu sudah ingin memanggil Bima sekali lagi, tapi kalah cepat dengan gerakan tangan Esa yang mengkode agar wanita itu membiarkan saja apapun yang ingin dilakukan Bima dengan gadisnya.
“Tapi—,” Si ibu menatap Esa putus asa.
Esa mendekat dan menyentuh bahu wanita itu. Menguatkan jiwa seorang ibu yang tengah putus asa. Tanpa bicara, hanya melalui tatapan mata Esa meyakinkan sang ibu. Bahwa ia profesional, ia bisa membantu anaknya.
Dari tempat keduanya duduk, Esa dapat melihat jelas Bima yang sedang melepas sepatunya untuk disimpan pada rak di sisi pintu kamar. Ia bisa melihat jelas Bima yang terus-menerus mematut diri di depan cermin besar sembari berbicara sendiri.
Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu amat manis. Dengan tangan menimang-nimang paper bag itu. Suara bariton laki-laki dan suara kenes perempuan bersahut-sahutan. Timbul tenggelam di antara percakapan monolog itu. Mengingatkan Esa pada kejadian 10 tahun lalu.
Si ibu mulai menangis tanpa suara di sisi Esa, yang ada hanyalah guncangan bahu yang tidak mampu ditahan.Menatap penuh harap lengkap dengan cucuranair mata ke pada Esa. Membuat sosok Shi yang polos, Shi yang kecil, Shi yang ringkih, Shi yang lemah itu hadir kembali. Merasuki benak Esa.
Esa sudah memprediksi hal ini. Maka lelaki itu sudah siap. Amat siap dengan guncangan apapun yang menhantam jiwanya. Sebab itu ia berbicara pada jiwa yang amat dirindunya itu dengan lembut dan penuh sayang. \"Shi, ini demi kamu. Demi janjiku padamu. Aku menyayangimu. Selalu.\"
Esa kini tahu, dirinya harus memulai dari mana untuk membantu pasiennya. Dan menguatkan hati wanita yang amat khawatir kehilangan buah hati yang amat disayanginya itu.
***

Other Stories
Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Download Titik & Koma